
Heru dan Daniel bersama petugas pengawas CCTV menncari-cari rekaman CCTV kejadian tadi pagi saat Rasya dan Sisi berkelahi, disitu terlihat jelas bahwa Sisi yang terlebih dahulu mendekati Rasya dan memulai perkelahian, selain itu juga mereka mencari beberapa rekaman CCTV lainnya saat Rasya diperlakukan semena-mena oleh Sisi dan teman-temannya saat harus membawakan tas-tas mereka, kejadian dikantin dan banyak lainnya.
"Oh iya kak, ada yang pas sama aku, waktu itu kak Sisi sengaja nabrakin dirinya ke Rasya sampai dia jatuh, tanggal berapa ya itu, hmm.. pas jadwal ada latihan persiapan olimpiade, ya bener" kata Daniel mencoba mengingat-ingat kejadian itu. Heru pun langsung meletakkan kalender meja dihadapannya dan menandai hari- hari dimana ada jadwal latihan olimpiade matematika.
"Dimana tempatnya?" tanya Heru
"Lapangan Basket, Rasya lagi dijalan mau ke ruangannya Kak Aryo" kata Daniel lagi. Setelah beberapa kali membuka rekaman histori pada tanggal-tanggal yang mungkin, akhirnya mereka menemukan rekaman CCTV itu.
"Yang ini?" tanya Heru.
"Iya, itu kak Sisi sengaja buat Rasya Jatuh sampai kotor begitu soalnya kan abis ujan jadi lantainnya basah dan kotor" jelas Daniel lagi.
"Coba teruskan pak, ikutin arah mana Rasya, takutnya kak Sisi mengganggu Rasya lagi pas aku diusir pergi" kata Daniel. Rekaman CCTV pun mengarahkan Rasya pergi keruangan Aryo dan mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi didalam, hanya dapat melihat Heru yang tiba-tiba datang kesana juga sebentar dan pergi. Heru pun jadi mengingat kejadian itu saat ia melihat Aryo dan Rasya terlihat sangat mesra. Aryo memberikan saputangannya untuk membersihkan baju Rasya yang kotor.
"Coba liat CCTV pas di parkiran motor Pak, ditanggal segitu" kata Heru tiba-tiba jadi penasaaran dengan apa yang sebenarnya terjadi hari itu, ia heran mengapa saat Rasya keluar ruangan dan menuju arah Parkiran tidak ada Aryo bersamanya. ia benar-benar ingin melihat apakah Aryo yang telah memberikan bunga itu pada Rasya hingga membuat Rasya tersenyum-senyum sendiri seperti yang ia lihat waktu itu.
"Ngapain kak, itu aja buktinya udah cukup, di parkiran gak ada apa-apa" kata Daniel.
"Sok tau deh kamu, kita lihat dulu baru ambil kesimpulan, kamu kan yang bilang tadi kita telusuri Rasya hari itu kemana saja sapa tau kakakmu itu mengganggunya lagi di parkiran" kata Heru yang makin penasaran apa yang terjadi sebenarnya pada hari.
"Percaya deh sama aku kak" kata Daniel lagi seakan ingin menyembunyikan sesuatu.
"Tolong Pak segera, kita harus segera mengumpulkan banyak bukti" kata heru kepada petugas CCTV itu.
"Baik Den" jawab petugas itu. Disana terlihat ada Daniel yang sedang menyelipkan setangkai bunga dengan secarik surat di sela stang motor Rasya lalu buru-buru pergi.
"Kamu?!!!" tanya Heru. Heru sangat kaget saat mengetahui bahwa bunga itu bukan dari Aryo melainkan dari Daniel.
"Eiiits.. iya kak, aku itu minta maaf atas perbuatan kak Sisi makanya aku kasih dia bunga dan sedikit gombal bercandaan biar hatinya terhibur" kata Daniel lagi.
"Cemburu ya kak, salahnya suka sama pacar temennya sendiri, inget kak, Rasya itu pacarnya kak Aryo" kata Daniel ngeledekin Heru.
"Kamu ini, ternyata kamu ya yang suka metikin bungga di kebun belakang sekolah, tangkep dia pak, dia nih suka maling taneman" kata Heru sambil menempeleng kepala Daniel. Ia sebenarnya merasa sangat senang karena saat itu ternyata memang benar yang dikatakan Rasya maupun Aryo bahwa mereka tidak pernah mengkhianatinya dibelakangnya. Namun, seketika kebahagiannya hilang saat mengingat bagaimana Rasya mengatakan sendiri dihadapannya bahwa ia mencintai Aryo dan saat Aryo mengatakan Cintanya pada Rasya di ulangtahunnya itu dan saat menyadari Rasya kini telah menjadi milik Aryo.
"Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa hatiku mengatakan dia juga mencintaiku?" batin Heru.
__ADS_1
"Ayo kak, kita kekantor Polisi sekarang bebasin Rasya" kata Daniel lagi.
"Ok deh, coba telpon si Tata sama Risma, mereka udah selesai belum" kata Heru lagi.
"Iya kak, ini Tata barusan WA mereka udah nunggu di tempat tadi" kata Daniel yang sedang membuka pesan di ponselnya itu.
"Mama... Papa..." kata Rasya lari dalam pelukan kedua orangtuanya itu.
"Kamu gak papa kan Nak?" tanya Mamanya sambil memperhatikan anaknya dari atas hingga bawah takut terjadi sesuatu dengan puteri kesayangan mereka itu.
"Tidak Ma, tak usah khawatir" kata Rasya.
"Bagaimana Mama tidak khawatir, kamu ada disini, mama rasanya tidak bisa bernafas, sungguh sesak melihat kamu harus mendapatkan cobaan seperti ini" kata Mama Rasya.
"Tenanglah Ma, Rasya baik-baik saja" kata Rasya lagi menenangkan orangtuanya itu. Mereka saling melepaskan kerinduan seakan sudah lama tak bertemu.
"Kak Aryo, makasih ya" kata Rasya saat melihat Aryo ada disana untuk selalu mendampinginya. ia pun melihat-lihat sekeliling untuk mencari kedua sahabatnya dan juga Heru yang tak nampak sedikitpu sejak tadi pagi.
"Iya Sya, kamu cari siapa?" kata Aryo memperhatikan Rasya seakan sedang mencari seseorang.
"Tata sama Risma ?"tanya Rasya.
"Oh begitu, terimakasih ya Pak" kata Rasya lagi.
"Maafkan Bapak, kamu mingkin harus disini dulu untuk beberapa hari kedepan, kami sedang mencari cara agar bisa membebaskan kamu" kata Pak Doni lagi.
"Terimakasih Pak, Bapak tak perlu minta maaf, Rasya yang salah, bagaimanapun ini tetap kesalahan dan Rasya akan menerima hukumannya" kata Rasya dengan tabah.
"Jam besuk habis, silahkan kembali" kata penjaga disitu.
"Nak, Mama tak kuasa melihatmu disini, tapi mama juga tak punya daya membebaskanmu" kata Mamanya Rasya yang bersandar pada bahu suaminya itu.
"Iya sayang, Papa akan pergi saat ini juga untuk memohon kepada keluarga tuan Maheswara untuk bisa membebaskanmu, atau bahkan jika harus menjadi pelayan mereka sekalipun" kata Papa Rasya.
"Jangan Pa, berjanjilah Papa tidak akan meminta ataupun memohon apapun kepada keluarga tuan Mahes untuk Rasya" kata Rasya sambil menggenggam kedua tangan Papanya"
__ADS_1
"Tapi Nak?" kata Papanya Rasya sangat berat hati mendengar permintaan anaknya itu.
"Silahkan Nona Rasya, kembali" kata petugas kemudian mengarahkan Rasya kembali ke sel tahanan.
"Rasyaaaa.... Rasyaaa Pah, tangis mama Rasya pun pecah saat ia harus meninggalkan anaknya itu sendirian dal sel tahanan.
"Yang sabar Ma" kata suaminya menenangkan.
"Mari saya antarkan pulang Pak, Bu" kata Aryo.
"Kamu segera pulang saja kerumah, orangtuamu pasti khawatir mencarimu, apalagi kabar kejadian disekolah hari ini sudah menyebar di stasiun televisi, nanti orangtua Rasya akan bapak antarkan pulang" kata Pak Doni kepada Aryo
"Baiklah Pak, Aryo pamit ya Pak, Bu" kata Aryo lalu menyalimi satu persatu sebelum ia pergi.
"Mari Pak, Bu, naik mobil saya akan saya antar" kata Pak Doni.
"Iya Pak" jawab orangtua Rasya.
"Tunggu-tunggu, apakah benar ini orangtua dari tersangka kasus penganiayaan nona Sisi Maheswara? Apa alasan putri anda sampai melakukan kekerasan fisik seperti itu? Mohon penjelasannya sebentar" serbu reporter saat melihat mereka semua.
"Untuk saat ini semua akan diproses sesuai jalur hukum, kami akan segera menyelesaikan ini dan menginformasikan kalian kembali, mohon biarkan kami pulang beristirahat" kata pengacara kepada awak media yang berkerumun.
Mobil pun terus melaju dan tak menghiraukan lagi pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan reporter pada mereka. Sementara Sisi yang sedang menonton TV dikamarnya sedang tertawa bahagia melihat kejadian ini yang diliput di TV dan seketika menjadi trending di sosmed, banyak sekali yang mendoakan kesembuhannya dan menghujat Rasya yang dinilai sangat kejam dan semena-mena terhadap oranglain.
"Rasain lo cewek kampung, mulai sekarang nama lo yang baru mau bersinar itu udah gw tenggelemin kedasar laut menjadi kenangan" gumam Sisi disela tawanya.
"Sisi, anak Mami udah gak sakit lagi?" tanya Maminya yang baru masuk kekamr anaknya itu dan mendapati anaknya sedang tertawa bahagia.
"Enggak dong Mi, makasih ya Mi, berkat Mami Papi, Sisi jadi cepet sembuh, apalagi ngeliat cewek kampungan itu sekarang lagi di penjara, Sisi bener-bener bahagia" kata Sisi.
"Anak Mami ya, jadi kejam gini sih sama orang, tapi memang pantes sih, lagian tuh gadis m=berani-beraninya buat anak Mami sampai lecet begini. kata Mami Sisi
__ADS_1