
Hari-hari belajar mengajar pun telah di mulai, Rasya dan Heru pun sama-sama tetap fokus dengan study nya masing-masing. Apalagi Rasya harus dapat mempertahankan prestasinya jika ia tetap ingin menerima beasiswa dan bisa melanjutkan sekolah di SMA Terpadu. Sedangkan Heru sebagai anak semata wayang keluarga Adiguna pun harus menunjukkan esistensinya sebagai calon penerus perusahaan ayahnya.
Di dalam kelas.
"Ashadiya Rasya, kamu adalah anak berprestasi di sekolahmu dulu, menjuarai olimpiade matematika dan juga menjuarai karya ilmiah remaja tingkat Nasional. Tahun ini akan diadakan olimpiade dari berbagai ilmu pengetahuan, kamu berminat mencalonkan diri?" kata bu Asna selaku wali kelas Rasya.
"Saya tentu saja berminat Bu, tetapi saya kan baru saja masuk kelas X, dan pastinya olimpiade tingkat SMA jauh berbeda dengan tingkat SMP, saya bahkan belum sebulan belajar di sini Bu" Jawab Rasya.
"Iya, kamu benar, kamu mungkin untuk tahun ini bisa ikut belajar dengan kakak tingkatmu dulu untuk tahun ini, hitung-hitung untuk persiapanmu di olimpiade tahun depan" Jawab Bu Asna lagi.
"Baik Bu, saya akan berusaha yang terbaik" jawab Rasya.
"Nanti setelah jam pulang sekolah, kamu bisa menemui Aryo sebagai ketua Ekskul matematika di ruangan bimbel, saya akan menginformasikan padanya untuk keikutsertaanmu dalam proses pembelajaran diluar jam sekolah" kata Bu Asna.
"Baik Bu" jawab Rasya.
"Wah Sya, gw fikir kita akan menghabiskan masa SMA ini dengan bersenang-senang, rupanya kamu masih akan terus berkutat dengan buku-buku tebal itu sepanjang hari" kata Risma berbisik.
"Iya Ris, gw kan masuk sini lewat jalur prestasi, jadi ini konsekuensinya, lagian semua ini demi masa depan gw yang lebih baik" jawab Rasya.
"Terus semangat ya Sya, gw yakin lo bisa" kata Risma menyemangati.
Sementara cowok-cowok teman sekelas Rasya langsung terpesona mendengar perbincangan Rasya dengan bu Asna.
"Udah cantik, pinter lagi, idaman gw banget sih" kata salah seorang teman pria Rasya di kelas.
"Iya, gw harus dapetin dia" kata pria lainnya.
Mereka kemudian melanjutkan belajar sampai waktu istirahat tiba, bel pun berbunyi treeettt... treeeettt..
"Hore...!!" teriak anak-anak. Rasya, Tata dan Risma pun berjalan ke arah kantin.
Sesampainnya di kantin.
__ADS_1
"Hai Rasya, kenalin gw Daniel" kata salah satu pria mengajaknya berkenalan.
"Iya, gw Rasya" jawab Rasya singkat tak memperdulikan anak itu.
"Minggir-minggir, biarin wanita spesial ini duduk di sini" jawabnya lagi sambil mempersilahkan Rasya dan temen-temannya duduk dihadapannya. Rasya pun malah jadi canggung karena pria itu tak henti-hentinya menatapnya.
"Ngapain sih lo Dan, mandangin Rasya begitu dari tadi" kata Risma sambil memukul bahu Daniel untuk menyadarkannya.
"Apaan sih lo Ris, ganggu gw aja. Lagian lo punya temen secantik ini gak pernah juga dikenalin sama gw" kata Daniel lagi.
"Lo kenal dia Ris" Tanya Rasya.
"Ya kenal lah, dia kan adiknya kak Sisi si mantannya kak Heru, dia ni juga pas MOS sekelas sama gw" jawab Risma yang membuat Rasya dan Tata kaget. Rasya pun langsung tersedak karena saat Risma bicara ia sedang meminum jus.
"Permisi, gw duluan ya, gw ada urusan lain" kata Rasya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Duh si Kak Sisi sama Adiknya ni sama aja ya nyebelin" gumam Rasya di perjalanan menuju kearah kelasnya. Tiba-tiba Heru sudah ada dihadapannya dan sedang berjalan menuju kearahnya.
"Sayang, gw tunggu di tempat biasa" bisik Heru saat berpapasan dengan Rasya. Rasya pun hanya mengangguk. Ia pun tak lama berbalik arah menuju perpustakaan dimana ruangan Heru berada. Rasya dan Heru sengaja berjalan berjauhan karena mereka sepakat untuk merahasiakan hubungan mereka saat ini.
Di ruangan Heru.
"Ada apa kakak sayang?" tanya Rasya yang melihat Heru memijit-mijit kepalanya sendiri.
"Agak pusing nih adikku sayang, banyak tugas tadi, pijitin dong" jawab Heru dengan wajah memelas.
"Siap kakak" kata Rasya lagi dan langsung memijit kepala Heru sebisanya.
"Kakak denger dari Aryo kalo kamu mau ikut bimbel buat olimpiade matematika ya?" tanya Heru memastikan.
"Iya nih kak, disuruh sama bu Asna tadi. Kok kakak udah tau aja sih?" tanya Rasya kembali
"Ya tahu lah, tadi Aryo lagi sama kakak pas bu Asna nyampirin buat ngomongin tentang itu" kata Heru menjelaskan.
__ADS_1
"Iya kak, itu apa hampir tiap hari ya bimbelnya kak?" tanya Raya.
"Enggak sayang, paling seminggu 1-2 kali aja, tapi kan kita jadi makin lama waktu ketemuannya dengan adanya bimbel" jelas Heru.
"Emang kakak ikutan juga" tanya Rasya.
"Iya lah, kekasihmu ini kan juga pinter, tapi kakak latihannya buat olimpiade debat english" kata Heru lagi.
"Oh begitu, ini tahun terakhir kakak ikutan ya, tahun depan kan kakak sudah lulus" kata Rasya dengan nada sedih.
"Iya, makanya kita harus memanfaatkan waktu kebersamaan kita sekarang, karna tahun depan kita bakal LDR" kata Heru lagi.
"Kakak rencananya mau kuliah dimana nanti" tanya Rasya penesaran.
"Awalnya sih kakak mau ke Oxford university tapi itu dulu sebelum ada kamu, sekarang kakak takut jauh dari kamu Dek" kata Heru lagi.
"Jauh banget kak, tapi itu kan salah satu Universitas terbaik, sayang banget kalo di sia-sia in, kalo aku mah ngayal aja enggak mau kesana kak" jawab Rasya.
"Kenapa, kamu berprestasi, kamu pasti bisa, coba aja dulu nanti susul kakak kesana" kata Heru
"Enggak kak, meskipun dapat beasiswa biaya disana pasti cukup mahal, aku yang penting bisa kuliah aja udah bersyukur kak. Keluargaku bukan orang terpandang seperti keluarga kakak, aku hanya...." belum selesai Rasya bicara Heru langsung memotong pembicaran.
"Husst.. gak boleh ngomong begitu, setiap orang berhak sukses dan bermimpi, yang penting kita lakuin yang terbaik sekarang" kata Heru lagi.
"Baik Kak". Jawab Rasya.
"Udah jam masuk kelas yuk kita balik ke kelas" kata Heru.
"Iya kak"
"Much"* cium Heru ke pipi Rasy.
"Kakak ini..." kata rasya tersipu malu.
__ADS_1
"Nanti pulang sekolah kakak tunggu di ruangan Aryo ya" kata Heru.
"Okeee" jawab Rasya. Merekapun kemmbali ke kelasnya masing-masing.