
"Hari ini keputusan akan ku buat, ya Tuhan beri aku kekuatan. Bagaimanapun aku mencintai kak Heru, tak mungkin bisa ku melukai hati sahabatku. Apa yang harus ku lakukan" batin Rasya.
"Sya, gw mohon jangan buat gw kecewa lagi, gw masih ingin mempercayai lo, gw cinta sama lo, jangan permainkan hati gw begini, pliss buat keputusan yang benar" batin Heru yang mulai gelisah karena jam pelajaran hari ini akan segera berakhir dan Rasya tak melakukan apapun untuk mempertahankan hubungan mereka.
"Ada apa dengan Heru, apa yang mereka bicarakan kemarin, aku melihat Rasya menangis dari kejauhan, tapi aku hanya bisa memandang dari jauh, semoga Heru menyadari kekeliruannya pada Rasya. Aku rela Tuhan, jika memang Heru bersungguh-sungguh dengan Rasya" batin Aryo.
"Hmmm.. kali ini Lo dan Rasya akan berakhir Her, lo akan balik lagi kepelukan gw, ha ha ha.. Si cewek kampungan itu gak akan menyetujui syarat lo itu, karena gak mau sahabatnya tau dan sedih, untung gw tau rahasia ini dari kakanya Risma, kalo si anak itu suka abis sama lo Her, beruntung banget gw emang" batin Sisi yang bahagia merasa dia akan menang sebentar lagi.
Jam pulang sekolahpun tiba, semua siswa pun berhamburan menuju rumahnya masing-masing.
"Lo bareng kak Aryo lagi ya, tuh orangnya udah nungguin" kata Risma.
"ii..iya Ris" jawab Rasya
"Beruntungnya ditungguin pangeran" kata Tata lagi. Mereka bertiga pun menghampiri Aryo
"Kok lo pucet banget Sya, lo sehat-sehat aja kan" tanya Aryo pada Rasya. Aryo sangat mengkhawatirkan keadaan Rasya sehingga ia tak sabar melihatnga dan memasyikan sendiri jika Rasya baik-baik saja.
"Duh perhatiannya kak Aryo jadi memeleh akuuu" kata Risma.
"Iya Nih, aku gak ditanyain juga kak?" ledek Risma lagi.
"Apaan sih kalian ini, udah kak ga usah di ladenin, Rasya sehat kok" jawab Rasya.
"Hai semua, eh Aryo lo disini juga, syukurlah jadi sekalian lo bisa denger kalo ada yang mau Rasya bilang ke kita semua, iya kan Sya?" kata Heru yang datang dengan Sisi.
"i...iyaaa" kata Rasya gugup.
"Jadi ada apa ini, gw penasaran,cepetan dong bilangnya" kata Sisi lagi mendesak Rasya bicara.
"Sya?" tanga Heru. Namun Rasya tetap diam.
__ADS_1
"Sya, ada apa, tenang aja kita ada disini semua, lo bilang aja apa yg mau lo sampaikan" kata Risma yang khawatir Rasya tertekan oleh Sisi.
"Sya, kalo lo gak bisa ngomongnya, biar gw yang bicara sama semua disini, jadi Rasya sama..." kata Heru belum selesai langsung dipotong oleh Rasya.
"Sama kak Aryo, iya aku suka sama kak Aryo" kata Rasya membuat semua orang kaget.
"Syukurlah, kita setuju kok, ya kan Ta" kata Risma pada Tata.
"Aa..aku permisi duluan" kata Rasya berlari meninggalkan mereka semua karena tak tahan air mata yang ia bendung rasanya ingin tumpah.
"Sya.. tunggu yaa.., Rasya malu kali kak, kita duluan nyusul dia ya" kata Risma dan Tata pergi menyusul Rasya.
"Pukk.. puuk.. pukk" suara tepuk tangan Heru.
"Hebat lo Ar, selamet ya, cinta lo berbalas, gw gak akan gangguin hubungan kalian, semoga bahagia" kata Heru sambil menepuk pundak Aryo dan pergi bersama Sisi. Aryo hanya diam membisu.
"Ada apa sama lo Sya, kenapa lo harus bilang kesemua orang kalo lo suka sama gw? kenapa gw ragu kalo itu memang perasaan lo yang sebenarnya, gw yakin lo beneran cinta sama Heru, lalu kenapa lo bilang begitu, apa karena ancaman Sisi? ah gw harus nemuin dia sekarang" kata Aryo mengejar Heru dan Sisi.
"Bisa dong Ar, tumben lo mau ngobrol sama gw" kata Sisi lagi.
"Yasudah, gw duluan" kata Heru pergi.
"Apa yang lo lakuin sama Rasya?" tanya Aryo.
"ha ha ha, kok lo jadi nuduh gw gini sih? bukannya lo seneng, lo suka juga kan sama tuh cewek? gw cuman bantuin kalian aja" kata Sisi.
"Rasya gak mungkin bilang begitu tanpa sebab" kata Aryo lagi.
"Memang, Heru sama tu cewek selama ini sudah punya hubungan, tapi si cewek kampung ngerahasiain itu dari kita semua, wajar kan kalo Heru curiga, lagian dia juga deket sama lo. trus Heru minta si cewek kampung milih dia apa elo, dan si cewek kampung akhirnya milih elo. Trus salah gw dimana?" kata Sisi lagi.
"Awas ya, kalo ini semua permainan lo!" ancam Aryo
__ADS_1
"Mending lo kejar tuh pasangan lo itu, keburu berubah fikiran lo nangi dia" ledek Sisi lagi dan pergi meninggalkan Aryo.
"Tontonan yang menarik di hari ini, rasain lo cewek kampung" batin Sisi.
"Benarkah itu?" gumam Aryo lalu berlari mengejar Rasya. Namun, Rasya sudah tidak terlihat lagi di area sekolah. Aryo sangat bahagia jika ternyata cintanya berbalas. Heru pun telah melepaskan Rasya. Ia ingin sekali menemui wanita pujaannya itu untuk mengungkapkan perasaannya juga, bahwa ia juga mencintainya.
Sesampainya di rumah Rasya masuk ke kamar dan mengunci pintu, ia menangis berderu2 sambil menutupi wajahnya dengan guling agar suara tangisnya tak terdengar sampai keluar.
"Apa ini Tuhan, aku baru pertama kali jatuh cinta dan menginginkan seseorang, tapi mengapa cinta ini harus berakhir dengan kepedihan yang dalam, bahkan aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada siapapun saat ini. Kak Heru, mengapa kau tak bisa memahami perasaanku ini" batin Rasya.
"Hari ini, kamu sudah memilih sahabatku untuk kau cintai. Ini mungkin lebih baik terjadi dari pada kamu bertahan padaku tanpa Rasa. Aryo pria yang baik, kamu pasti akan bahagia dengannya. Ini pelajaran berharga bagiku, selama ini aku tak pernah menganggap wanita berharga, semua orang mengejarku dan aku campakkan begitu saja, sekarang saat aku mencintai seorang wanita, ia ternyata tak menginginkanku" batin Heru yang sedang duduk di sofa ruangannya. Ia malas pulang ke rumah karena hatinya sedang kacau.
"Rasya lagi apa ya, dia pasti canggung karena pengakuannya tadi, aku WA saja lah" batin Aryo sambil mengirimi pesan yang berisikan "Syaaaaaa??"
Ponsel Rasya pun berbunyi dan ia segera melihat isi pesan Aryo dan membalasnya "*Iya kak".
" Lagi apa*?" balas Aryo lagi
"Lagi tiduran" balas Rasya.
"Ngak usah canggung, anggep saja gw gak denger apa-apa tadi, gw paham keadaan lo" kata Aryo menenangkan Rasya agar suasana mereka mencair.
"Iya kak, maaf ya" balas Rasya yang mengira Aryo tau jika ia terpakaa bicara seperti tadi untuk menutupi sesuatu.
"Iyaa.. biarkan mengalir aja, kakak mencoba ngertiin kamu" balasan Aryo.
"Iyaaa kak, Rasya mau istirahat dulu ya" jawab Rasya
"Iya Sya, met istirahat" Aryo membalas isi pesan Rasya samb senyum-senyum.
"Ah dia masih saja canggung, biarkan saja lah, pasti dia masih merasa malu" batin Aryo lalu meletakkan ponselnya di meja dan tiduran sambil memeluk gulingnya bahagia bagai anak kecil yang mendapat mainan baru.
__ADS_1