Pelampiasan Cinta Remaja

Pelampiasan Cinta Remaja
Bab 28 Sisi terkapar


__ADS_3

"Hei kamu, cewek kampungan, betingkah banget lo ya udah jadi pacar Aryo, masih deketin Heru" kata Sisi sambil menoel pundak Rasya dengan kasar hingga ia hampir tersungkur.


"Apasih maksud kak Sisi?" tanya Rasya yang masih bingung atas tuduhan Sisi kepadanya.


"Plaakk, Lo ngundang Heru makan-makan ke Rumah lo, lo fikir gw gak tau" bentak Sisi dan menampar wajah Rasya dengan keras hingga meninggalkan bekas merah. Rasya pun berteriak kesakitan. Sisi mengetahui kabar itu dari unggahan media sosial Risma yang berisikan foto mereka sedang makan siang di rumah Rasya. Sisi yang melihat itu merasa sangat kesal karena upayanya membuat Heru membenci Rasya seakan sia-sia, mereka masih terlihat dekat dan kompak. Bahkan Heru dan Aryo pun yang awalnya bermusuhan kini telah akrab kembali.


"Auuuugh, kak Sisi apaan sih, kakak ga bisa seenaknya gini memperlakukan orang lain !" bentak Rasya yang mulai kesal atas semua tindakan Sisi padanya yang makin lama kian menjadi.


"Plaaaaak... apa berani lo sama gue" kata Sisi lagi dengan tamparan keduanya mendarat di pipi Rasya. Rasya menjadi marah karena Sisi kini mulai berani menganiaya fisiknya. selama ini ia menahan semua tindakan Sisi karena masih bisa ia tahan, namun kali ini, Rasya merasa perbuatan Sisi harus ia balas.


"Iya, gw berani, lo fikir bisa seenaknya sama gw, gw bukan lagi anak kecil bodoh yang bisa lo giniin, Plaaaaak.." Rasya pun menampar wajah Sisi degan sangat keras, bahkan jauh lebih keras daripada tamparan Sisi padanya. Sisi pun tersungkur ke tanah dan Rasya seperti orang khilaf menjambak Rambut Sisi sesuka hatinya.


"Cukup!! gak akan ada lagi orang yang boleh menyakiti gw, selama ini gw diem dan lo makin menjadi, gw sudah berjanji dengan diri gw sendiri, gw takkan membiarkannya terluka karena orang lain seperti lo" kata Rasya di sela serangan dalam kemarahannya.


"Beraninya lo, lo akan tau akibatnya berurusan sama gw" kata Sisi di sela-sela pertarungannya dengan Rasya. Mereka berdua terus saling menjambak dan mencakar, Rasya menindih tubuh Sisi dan menjambaknya dengan keras Sisi pun tidak berkutik atas perlakuan Rasya yang seperti orang kesurupan. Anak-anak berkumpul dan mencoba melerai pertikaian mereka.


"Rasya, Sisi" hentikan!! kata Bu Sulis sambil menarik paksa Rasya agar mengentikan tindakannya. Sedangkan Sisi terkulai lemas dengan wajah dan Rambut kucal, ada beberala bekas sakaran di legam di lengan dan pipinya.


"Ayo anak-anak segera gotong Sisi ke UKS!" perintah bu Sulis


"Baik Bu" jawab beberapa anak dan langsung memapah Sisi yang lemas tak berdaya.


"Rasya ikut ibu ke kantor" perintah Bu Sulis.

__ADS_1


Rasya pun mengikuti Bu Sulis ke Kantor Bimbingan konseling bersama Bu Sulis.


"Rasya kamu tau apa kesalahan kamu? ibu benar-benar kecewa" kata Bu Sulis kepada Rasya. Rasya menunduk saja tak menjawab.


"Rasya!! kamu dengar apa yang Ibu tanyakan? bagaimana bisa seorang anak yang Ibu kenal sangat santun dan berprestasi melakukan hal bodoh seperti ini!!" bentak Bu Sulis yang sangat kecewa dengan perbuatan Rasya pada Sisi, selama ini ia sangat menyukai Rasya, karena selain pintar, Rasya juga sangat sopan dan santun kepada semua orang, ia tidak menyangka, anak itu kini menyerang dan menganiaya orang lain hingga lemas tak berdaya.


"Maafin Rasya. Bu, Rasya khilaf melakukan itu!" jawab Rasya singkat sambil menunduk. Bagaimanapun perbuatannya memang telah salah dan ia juga menyesal telah membalas Sisi begitu berat hingga musuhnya itu terkapar lemas.


"Coba ceritakan kronologinya. Ibu tak akan marah jika kamu mau berkata jujur" pinta Bu Sulis sambil memegang kedua pundak Rasya untuk menenangkannya.


Sedangkan Aryo, Heru, Risma dan Tata yang mendengar perkelahian antara Rasya dan Sisi langsung berlari mencari keberadaan Rasya, mereka semua sangat khawatir, apalagi saat tau Sisi yang menjadi lawan Rasya, Sisi sudah dikenal sangat Arogan dan kasar, ia salah satu wanita paling berkuasa dan suka berbuat semaunya sendiri.


"Sisi!!! Mana Rasya" tanya Aryo saat sampai di ruang UKS dan sambil melihat-lihat sekeliling ruangan dan hanya melihat Sisi yang sedang tidur dengan kondisi memar dimana-mana ditemani beberapa temannya. Sisi tak menjawab pertanyaan Aryo dia hanya diam dan memandangi Heru yang berada disamping Aryo dengan tatapan memelas, ia sangat berharap Heru memperhatikannya saat melihat kondisinya yang sangat buruk atas perlakuan Rasya.


"Kalian ini, pergi sana, kasian Sisi yang jadi korban, dia yang malah di marahin juga, mau cari cewek kampungan ganas itu, dia diruangan BK, biar dipenjarain tuh sekalian !" bentah salah seorang sahabat Sisi membela temannya itu, ia sangat iba melihat Sisi yang sampai menangis seperti itu dalam kesakitannya.


"Jangan asal ngomong ya, Rasya gak mungkin ngrlakuin itu tanpa sebab, gw kenal dia dan gw tau siapa Sisi !" kata Risma membela sahabatnya, ia kesal mendengar tuduhan yang di lontarkan untuk memojokkan sahabatnya itu.


Mendengar hal itu, mereka langsung pergi ke Ruang BK untuk mengetahui keadaan Rasya.


"Sya lo ga papa kan?" kata Risma datang lalu memeluk erat Rasya yang sedang duduk diruangan itu sendirian.


"Iya gak papa" jawab Rasya dan membalas pelukan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sya, kamu beneran gak papa sayang?" tanya Aryo lagi.


"Gak papa kak, Rasya baik-baik aja" kata Rasya. Heru tak menanyakan apapun pada Rasya, ia hanya mengambil nafas panjang karena lega setelah memperhatikan sekujur tubuh Rasya tak ada yang terluka hanya ada memar sedikit di bagian pipi gadis itu saja. Rasya pun menatap Heru heran atas Heru yang menatapnya tajam tanpa berkedip namun tqk mengatakan apapun. Heru yang menyadari Rasya balik menatapnya jadi grogi dan berpura-pura mengalihkan pandangannya.


"Tolonglah Pak, Rasya tidak bersalah, ia hanya membela dirinya" kata Bu Sulis mengobrol dengan pak Doni selaku kepala sekolah yang baru hadir di ruangan itu.


"Kalian kenapa ada disini semua, apa kalian juga mau ikut di hukum dengan teman kalian ini ?" tanya pak Doni saat melihat Heru, Aryo dan 2 siswa wanita lainnya yang ia belum tau namanya yang tak lain Risma dan Tata.


"Rasya gak bersalah pak, saya akan menjaminnya, pasti Sisi yang memulainya fuluan, Sisi sering mengganggunya" jelas Aryo membela kekasihnya itu, ia tak ingin Rasya sampai mendapati masalah karena ini.


"Iya, Bapak tahu. Selama ini memang Sisi kerap kali mengganggu siswa lain, tapi Pak Maheswara tak akan diam saja melihat anaknya sampai babak belur seperti ini. Rasya bisa saja dipenjarakan oleh kejadian ini" kata Pak Doni yang juga mengkhawatirkan nasif Rasya. Pak Maheswara adalah ayah Sisi dan Daniel yang juga merupakan salah satu orang paling terpandang dan berkuasa di kota itu. Ia memiliki perusahaan besar dan mempekerjakan ribuan orang. Maka dari itu, tak ada yang berani melakukan apapun pada anak-anaknya meski kadang mereka yang memulai keributan lebib dulu karena takut berurusan dengan keluarganya.


"Apa yang harus kita lakukan Pak?" tanya Risma.


"Rasya mungkin harus meminta maaf pada Sisi dan memohon padanya agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan" kata pak Doni yang kehabisan cara untuk menghentikan kejadian ini agar tidak sampai ke ranah hukum.


"Tidak Pak, saya siap jika harus di hukul dari pada meminta maaf dan memohon padanya" kata Rasya dengan tegas.


"Iya, tapi Sisi bukan dari keluarga biasa-biasa saja Nak, mereka bisa memutar balikkan fakta dan menyewa pengacara terkenal, dan masa depanmu akan terancam jika kamu harus menerima hukuman yang tidak kamu lakukan" jelas Bu Sulis


"Tidak Bu, jika saya mengalah dan memohon sekarang, maka akan semakin banyak anak lain yang akan diperlakukan dengan buruk lagi oleh Sisi karena ia merasa memiliki hak atasku dan mereka semua" kata Rasya.


"Bapak akan memikirkan cara untuk mengatasi hal ini, tetapi kita harus bergerak cepat sebelum Sisi melaporkan pada keluarganya" kata Pak Doni lalu keluar ruangan itu untuk menemui Sisi di ruang UKS.

__ADS_1


"Aku harus melihat kondisi anak itu dan memikirkan langkah terbaik untuk semuanya" gumam Pak doni dalam langkahnya.


__ADS_2