
Pintu rumah terbuka pelan-pelan dengan seseorang yang mengintip untuk melihat kondisi di dalam rumah. Tidak ada siapapun di sana. Sepertinya Kelvin ada di kamarnya, karena suaranya pun tidak terdengar. Jharna segera masuk dan menutup pintu pelan-pelan.
“Baru pulang?”
“Astaga!” Jharna terhenyak kaget saat suara Kelvin terdengar jelas di belakangnya. Ia langsung berbalik dan terlihat sosok Kelvin yang berdiri sambil bersidekap di anakan tangga.
“Viinn,….” Jharna merengek dengan wajah pucatnya. Tubuhnya langsung membungkuk, membuang napas lega.
“Sorry, kaget ya?” Kelvin malah terkekeh dengan wajah iseng itu.
“Iyaaa. Aku pikir kamu di atas,” Jharna masih mengusap-usap dadanya yang berdebar kencang.
“Aku baru turun. Dia nganter kamu?” Kelvin berjalan dengan santai menuju sofa dan terduduk di sana. Ia melihat kedatangan Jharna dan Andrew dari balkon kamarnya.
“Hem,” Jharna mengangguk pasti.
Kelvin ikut mengangguk, ia memandangi Jharna sambil memeluk bantal sofa. Lantas memalingkan wajahnya setelah melihat sendiri ekspresi Jharna yang terlihat senang. Entah mengapa, ini menyesakkan dada Kelvin.
Jharna segera menghampiri Kelvin dengan wajahnya yang ceria itu, lantas terduduk di samping lelaki itu dan tidak henti memandangi Kelvin, membuat Kelvin akhirnya menoleh lagi seraya menopang kepalanya dengan tangan yang mengepal.
"Jadi gimana?" Walaupun kesal mereka pulang bersama, Kelvin tetap ingin tahu perkembangan usaha Jharna untuk mendekati keluarga Sanjaya.
“Kamu tau Vin, aku seneng banget.” Lihat mata Jharna yang membulat, apa sesenang itu bertemu dengan sang mantan?
__ADS_1
“Karena?” Kelvin sedang berusaha menyiapkan hatinya dan jantungnya agar tidak lepas.
“Andrew sepertinya suka sama aku. Aku rasa, aku berhasil menarik perhatiannya.” Benar bukan, Jharna sebahagia itu. Akh, jantung Kelvin rasanya jatuh begitu saja ke dasar perutnya dan membuatnya mual saat mndengar Jharna menyebut nama mantan suaminya. “Lalu aku harus minta maaf sama kamu,” lanjut wanita yang menggantung kalimatnya seraya menatap mata Kelvin dengan berbinar-binar lengkap dengan bibirnya yang tersipu.
“Karena?” Kelvin sudah sangat siap kalau Jharna mengatakan dia berpikir untuk bersama Andrew lagi. Tunggu, benarkah?
“Aku bilang sama Andrew kalau aku tinggal sama calon suami aku. Maksud aku sih supaya bikin dia ngerasa tertantang gitu. Tadi aja dia kayak emm, gimana ya? Dia kayak pengen banget deket sama aku. Kamu gak apa-apa kan?” tanya Jharna seraya meraih lengan Kelvin dan menggenggamnya dengan erat.
Kelvin melirik tangannya yang di genggam Jharna lantas tersenyum kecil. "Kenapa harus pegangan tangan sih? Kan aku tambah sakit," batin Kelvin.
“Kamu seneng, berhasil narik perhatian dia?” Dengan hati yang pedih Kelvin menanyakan hal itu. Rasa gemas yang membuncah di dadanya karena Jharna mengakuinya sebagai calon suami, mendadak hilang bersamaan dengan begitu nyatanya rasa bahagia Jharna saat mengatakan berhasil menarik perhatian sang mantan suami.
“Seneng banget.” Lihat matanya yang begitu berbinar. Jantungnya menggebu karena berhasil mendapatkan perhatian yang selama ini tidak pernah ia dapatkan. “Karena dengan begitu, aku akan dengan mudah mainin perasaan dia. Aku akan membuat dia berpaling dari Cheryl dan membuat laki-laki itu paham kalau tidak semua hal bisa dia miliki meski terasa sangat dekat. Aku juga ingin membuat Cheryl sadar, kalau seorang peselingkuh selamanya hanya akan menjadi seorang peselingkuh yang tidak pernah merasa puas. Kesetiaan itu mahal dan gak akan pernah di miliki oleh orang murahan seperti mereka.” Sorot mata Jharna berubah tajam. Ada banyak kebencian yang kini terlihat di matanya.
Kelvin cukup kaget dengan perubahan ekspresi Jharna. Ia pikir wanita itu akan terus tersenyum seperti tadi. Andai saja Jharna tahu kalau yang sedang ia mainkan bukan hanya perasaan Andrew dan Cheryl, melainkan juga perasaan seseorang yang lengannya saat ini ia genggam dengan erat.
“Lalu apa kamu sendiri bisa mengendalikan perasaanmu saat berhadapan dengan mereka?” Satu pertanyaan ini lolos meluncur dari mulut Kelvin. Ia ingin mengukur seberapa dalam perasaan Jharna pada sang mantan suami.
“Bisa.” Wanita itu menjawab dengan yakin. “Perasaan aku udah mati bersamaan dengan tenggelamnya seorang Anjani, Vin. Gak ada yang tersisa dari wanita itu. Yang dia hadapi sekarang adalah seorang Jharna, seorang wanita yang terlahir kembali hanya untuk menghancurkan hidupnya. Aku bisa tersenyum lebar pada orang-orang itu, selebar luka yang pernah mereka berikan. Aku bisa bersikap sangat baik sama mereka, sebaik cara mereka menghancurkanku. Gak ada yang tersisa, selain dendam yang harus aku balaskan.” Jharna berujar dengan tegas. Kalimat panjang itu membuat bulu kuduk Kelvin meremang. Ada perasaan senang mendengar penegasan Jharna, akan tetapi hatinya ikut meringis dan takut melihat rasa sakit yang begitu jelas terlihat di mata bulat Jharna.
Kelvin tidak berani berkomentar, ia sadar benar nasihat apapun yang akan ia berikan pada Jharna, tidak akan masuk pada pikiran wanita itu. Seperti tulang rusuk yang tidak bisa lurus, Kelvin hanya bisa mengasihi wanita itu dengan caranya sendiri.
“Lantas, apa yang harus aku lakukan sekarang? Menunjukkan kemesraan kita di depan mereka?” Kelvin iseng bertanya. Untuk sementara mungkin ia harus mengikuti keinginan wanita ini sambil menjaganya. Ia tidak mau Jharna berjalan terlalu jauh.
__ADS_1
“Tentu. Kita harus memikirkan banyak ide dalam hubungan kita yang nanti bisa kita pamerkan sama Andrew dan Cheryl. Kita harus kompak menceritakan, kapan kita pertama bertemu, terus kebersamaan kita seperti apa. Lalu, apa yang kita sukai dan pasangan kita nggak sukai. Termasuk panggilan sayang yang bikin mereka cemburu. Dengan begitu, aku yakin Andrew akan merasa semakin tertantang mendekatiku. Saat itu, aku akan memainkan perasaannya. Membuat dia jatuh cinta sama aku, setelah itu akan aku buat dia patah hati sampai merasa gak mau hidup lagi. Aku juga ingin membuat dia mengakui kalau dia membunuh Anjani. Tapi, untuk memikirkan semua itu, aku butuh tenaga. Jadi, untuk sekarang, kita makan dulu yuk Vin?” Jharna menarik tangan Kelvin agar laki-laki itu berdiri.
“Boleh. Tapi apa boleh ajakannya kita mulai dengan ajakan yang mesra? Bukankah kita harus berlatih?” Kelvin mencoba menjahili Jharna.
Jharna tersenyum kecil mendengar ide Kelvin. Menurutnya ini ide yang menarik. Wanita itu pun segera menegakkan tubuhnya lalu tersenyum kecil pada Kelvin. “Yang, makan yuukkk… aku laper, mau di suapin….” rengek Jharna yang membuat Kelvin mengacak rambutnya kasar. Sorot mata Jharna yang berbinar itu menyeretnya hingga nyaris tenggelam. “Itu pilihan pertama, ini pilihan kedua,” ujar wanita itu seraya menyiapkan dirinya. Kelvin paham, rupanya wanita ini sedang berakting. “Ayaaaaang, ayoo makaaann. Aku laper, cuapin yaaa…” ujar Jharna lebih manja lagi.
“Hahahahaha….” Kelvin malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Jharna. “Cukup Jharna, itu menggelikan,” Kelvin sampai memegangi perutnya karena tawanya yang begitu nikmat.
“Iissh, malah ketawa. Aku tuh lagi latihan tau, menurut kamu gayaku mending yang mana? Tegas tapi manja, atau kolokan?” tanya Jharna, benar-benar butuh saran.
“Hahahaha… yang pertama aja, cukup yang pertama. Yang kedua rasanya aku mau muntah,” sahut Kelvin yang masih tertawa-tawa.
“Hahaha… jahat kamu Vin. Tapi bener juga sih, aku juga geli ngomongnya.” Jharna mengakui perasaannya sendiri. “Ya udah, lain kali kita nonton film romantis bareng, kita liat gaya mana yang cocok kita pamerkan sama duo siluman itu,” imbuh Jharna dengan ekspresi wajah yang mendelik saat menyebut duo siluman.
“Hahahha… okey, nanti kita cari referensi. Tapi sekarang, kita makan dulu yuk yang? Mikir kan perlu energi.” Kelvin iseng menggoda Jharna lagi, jujur kali ini ia bukan sedang latihan. Ia segera berdiri tegap, memberikan lengannya pada Jharna.
“Ayok Yang,” dengan senang hati Jharna melingkarkan tangannya di lengan kokoh Kelvin. Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Kelvin tersenyum dalam hati, ternyata seorang Jharna tetaplah seorang wanita yang polos. Karena itu ia harus menjaga wanita ini agar tidak terjebak dalam permainannya sendiri.
“Ayaaaaang laapeeerrr….” Lagi Jharna merengek kolokan.
“Astaga, mau aku gigit tangan kamu?” Kelvin sudah memegangi tangan Jharna.
“Hahahaha… jangan dong.” Jharna malah tertawa, membuat Kelvin tidak bisa memalingkan wajahnya dari wajah yang sangat cantik itu saat tertawa.
__ADS_1
“Aku bagian dari permainan ini dan aku menikmatinya. Aku berharap, walau aku mendapat peran figuran di permainan ini, di hidupnya aku bisa menjadi pemeran utama,” batin Kelvin seraya memandangi wajah Jharna dari samping.
****