
Andrew masih terduduk di kursi tunggu yang berada di depan kamar perawatan Leon sambil memijat-mijat kepalanya yang pening. Hari ini, kemarahannya semakin menjadi pada Cheryl setelah melihat apa yang terjadi pada putra semata wayangnya, Leon. Di mata Andrew, wanita itu telah melakukan kesalahan besar dengan tidak mematuhinya untuk diam di rumah dan menemani Leon. Ia malah pergi ke Bandung tanpa seizinnya dengan alasan ada pekerjaan.
Untuk membuktikan hal itu, Andrew menghubungi manager Cheryl dan ternyata Cheryl pergi bukan untuk suatu pekerjaan melainkan untuk merayakan ulang tahun salah seorang kenalannya di sebuah area golf. Mungkin itu yang membuat Cheryl pulang dengan mengenakan pakaian golf nya. Untuk kesekian kalinya, Andrew benar-benar merasa dikecewakan. Namun apa boleh buat, ia hanya bisa mengepalkan tangannya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri sebagai bentuk kemarahan.
Seorang wanita berusia senja menghampiri Andrew, mengusap punggungnya yang melengkung karena memikul beban berat, lantas duduk di samping pria itu. Andrew tidak menoleh, ia masih memejamkan matanya, mencoba memahami apa sebenarnya menjadi keinginan Cheryl. Semakin ia pikirkan, ia semakin tidak paham.
“Kamu jangan kesel sendiri gini Drew, kamu kasih paham lah itu si Cheryl. Masa dia begitu lalai sama anak sendiri?” Kalimat itu menjadi kalimat pertama penambah kegundahan Andrew. “Dulu, walau pun papah kamu ngasih Mamah kemudahan dengan menyediakan banyak pelayan di rumah, Mamah gak pernah tuh ngalihin tanggung jawab tentang anak dan suami ke orang lain. Lah istri kamu, dia malah pergi diam-diam tanpa izin kamu di saat anak lagi sakit. Istri dan ibu macam apa yang kayak gitu?” Widi berdecik sebal, tidak habis pikir dengan tingkah menantunya.
“Mamah merasa, makin hari Cheryl tuh gak bisa dikendalikan. Sikap dia sama Mamah makin gak sopan, gak ada rasa hormat apalagi rasa bersalah setelah mengusir adek kamu keluar dari rumah. Dia juga makin gak nurut sama kamu. Kalau di pikir-pikir, Mamah nyesel punya mantu kayak dia. Percuma cantik dan artis terkenal kalau tingkahnya kayak gitu. Masak gak bisa, beres-beres rumah gak bisa, ngurus kamu gak bisa dan ngurus Leon juga lalai. Masih mending Anjani lah di banding dia,” ungkap Widi tiba-tiba. Matanya menatap nanar poster cuci tangan yang menempel di dinding.
Baru kali ini Andrew menoleh pada sang ibu, yaitu saat wanita itu menyebut nama Anjani dengan penuh sesal. “Mamah kok tiba-tiba kangen ya, sama Jani. Harus Mamah akui kalau dia jauh lebih baik dari Cheryl. Mamah nyesel pernah bersikap gak adil sama Jani,” Wanita itu meneruskan rasa bersalahnya.
“Mah,” jeda Andrew. Ia tidak mau lagi mendengar nama Anjani lagi, karena hal itu mengingatkannya pada mimpi buruk yang pernah ia alami. Hingga saat ini, ia tidak bisa melupakan tatapan mata terakhir Anjani sebelum wanita itu terjatuh ke laut karena mendapat tendangan di tangan dan wajahnya oleh Cheryl.
“Akh, sial!” dengus Andrew seraya mengusap wajahnya kasar.
Harus Andrew akui kalau setelah menikah dengan Cheryl, hidupnya jauh lebih berantakan. Seperti yang dikatakan Widi barusan, Cheryl tidak bisa memenuhi fungsinya sebagai seorang istri. Wanita itu hanya partner ranjang yang baik bagi Andrew dan sekarang, ia sudah merasa muak dengan semua tingkah Cheryl itu.
“Mamah ngerasa, kalau kamu bisa dapat perempuan yang lebih baik dari istri kamu sekarang. Paling tidak, kalau perempuan itu pergi dari hidup kamu, Carissa akan mau pulang ke rumah.” Itu kalimat pamungkas Widi seraya menepuk bahu putranya kemudian berlalu. Ia tidak peduli sama sekali pada gejolak perasaan putranya yang sedang mencari muara.
Andrew hanya bisa terdiam, tertunduk dalam memikirkan semuanya. Hening, tidak ada lagi yang berbicara di sekitarnya, tetapi isi kepalanya sangat berisik, membuat laki-laki itu mengcengkram rambutnya sendiri dengan kesal. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” batinnya.
***
Sebuah pertemuan di atur oleh Kelvin, untuk mempertemukan Jharna dengan seorang manager artist. Wanita bertubuh mungil itu bernama Dina, seorang manager artist yang direkomendasikan oleh teman lama Kelvin. Mereka masih berbincang santai di sebuah café aesthetic bertema vintage ditemani suara musik galau yang bercerita tentang cinta. Dina masih melihat-lihat contoh kontrak yang Jharna miliki dan bentuk kerja sama yang artisnya ini inginkan.
“Okey, aku bersedia jadi manager kamu. Profil kamu bagus dan sangat professional,” ungkap Dina seraya tersenyum menatap wajah cantik Jharna.
“Wah, syukurlah. Jadi, mulai hari ini kita berteman bukan?” Jharna mengulurkan tangannya pada Dina. Lihat senyumnya yang cerah itu.
__ADS_1
“Tentu saja, kita berteman.” Dina segera membalas uluran tangan Jharna kemudian mereka berpelukan dengan akrab. Kelvin ikut tersenyum melihat Jharna yang begitu mudah dekat dengan managernya. Sepertinya kepercayaan diri wanita ini sudah meningkat dan ia mulai bisa percaya pada orang lain.
“Okey, boleh aku tau tawaran kerjasama buat kamu saat ini apa aja?” tanya Dina yang penasaran. Ia sempat di beritahu kalau ada banyak tawaran kerjasama dari berbagai macam brand terkenal untuk Jharna.
“Ada di email dan messangerku, sebentar.” Jharna mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Dina.
“Itu email pribadimu?”
“Iya, apa ada masalah?” Jharna terlihat kaget.
“Nggak, hanya aja akan lebih baik kalau kita buat email khusus untuk kerjaan. Jangan pake email kamu, supaya lebih mudah mengeceknya. Gimana pun email pribadi kamu adalah kehidupan pribadi kamu, aku gak mau mengganggunya.” Dina berusaha bersikap professional.
“Ya, aku setuju. Sebaiknya kamu punya email sendiri untuk masalah kerjaan,” Kelvin ikut menambahkan.
“Eem okey kalau gitu.” Jharna mengangguk setuju.
“Ya, bro?” jawab Kelvin saat menjawab panggilan dari Bobby. Ia pergi ke belakang café dan terduduk di salah satu kursi, tempat ini cukup tenang dan tidak ada suara musik yang mengganggu panggilannya.
“Lo di mana?” tanya pria di sebrang sana.
“Di café, ada apa?”
“Sama Jharna?” tembak Bobby.
“Hem,”
“Udah bisa gue tebak sih,” timpal Bobby seraya cengengesan. “Ngedate lo?” tanya pria itu lagi.
“Kagak anjir, gue nemenin dia ketemuan sama calon managernya.”
__ADS_1
“Ooohh, kiraain udah ada progress buat hubungan lo.” Bobby masih menggoda sahabatnya.
Kelvin hanya tersenyum, memang belum ada progress berarti untuk hubungannya dengan Jharna. Hanya saja mereka sudah tidak terlalu canggung. “Lo ada apa sih nelpon gue? Cuma buat ngeledekin gue?” tanya Kelvin, ia tahu persis keisengan sahabatnya.
“Hahahaha… ya salah satunya. Tapi ada hal lain sebenernya yang mau gue tanya sama lo,” laki-laki itu seperti sengaja menggantung kalimatnya.
“Apaan?” Rasa penasaran Kelvin memang di tunggu oleh Bobby.
“Kerja bareng gue yuk, gue mau buka spresialis bedah plastik di rumah sakit gue. Gue pengen lo join,” kalimat Bobby kali ini terdengar serius.
Kelvin tidak langsung menimpali, ia terlihat gelisah mendengar ajakan itu. Sejujurnya tangannya sudah mulai gatal ingin bercengkrama lagi dengan pisau bedah, tetapi rasa takut dan ragunya masih terlampau besar.
“Emang bakal ada yang percaya sama gue?” tanya Kelvin dengan lemah.
“Ada lah. Sekarang aja udah banyak kenalan gue yang nanyain dokter bedah plastik yang bagus dan bisa praktek di tempat gue. Prospek lo bagus bro,” Bobby terdengar begitu bersemangat.
“Ya itu karena kenalan lo percaya sama lo, belum tentu mereka mau kalau tau dokternya adalah gue. Nggak dulu lah, gue gak mau ngerusak karir lo,” ujar Kelvin dengan putus asa.
“Lo apaan sih anjir, gak ada ceritanya lo ngerusak karir gue. Gue udah nyiapin buat bantu pengurusan ulang surat izin lo dan katanya bisa asalkan lo punya bukti yang valid. Kejadian itu udah beberapa tahun lalu, orang-orang pasti udah lupa. Lagi pula, masalah itu cuma berkembang di Singapore, di sini kayaknya gak ada yang tau tuh. Lagian ya, lo udah punya bukti yang nunjukkin kalau lo gak bersalah. Masalah lo sekarang itu hanya tinggal masalah trauma lo aja. Lo jangan berkecil hati lah bro, hasil kerjaan lo nyata. Noh liat Jharna, dia seciamik apa sekarang, padahal dulu mukanya hancur banget, banyak luka-lukanya. Tapi lo bisa nyembuhin dia dan ngasih dia kebahagiaan baru.” Bobby berusaha menyemangati.
Kelvin tampak terdiam beberapa saat, ia masih memikirkan ucapan Bobby. Beberapa kalimat Bobby yang memang benar adanya, tetapi bangkit dari trauma dan menumbuhkan rasa percaya diri itu tidak semudah yang Bobby katakan. Perlu usaha dan keyakinan.
“Lo mau kan Vin? Anggap aja ini sebagai awal hidup lo yang baru. Jharna udah berani melangkah menghadapi masalahnya karena dia punya support system yang bagus, yaitu lo. Kenapa nggak lo ngelakuin hal yang sama? Gue yakin Jharna juga bakal ngedukung lo. Jangan tanya kalau soal gue, gue pasti dukung. Ayo bro, jangan sembunyi lagi. Jangan siksa diri lo sendiri,” bujuk Bobby dengan penuh kesungguhan.
Kelvin menghela napasnya dalam kemudian menghembuskannya pelan. Ada sejumput rasa takut yang masih mengisi hatinya. Ia sadar benar kalau dunia itu sempit dan yang membuat sempit itu adalah kesalahan di masa lalunya.
“Gue perlu waktu,” ucap Kelvin kemudian. Ia masih harus benar-benar memikirkan masalah ini, paling tidak ia harus mendengar pendapat Jharna.
****
__ADS_1