Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Lawan tak sebanding


__ADS_3

“Menurutku mending ambil. Iya kan, Vin?” kalimat penuh keyakinan itu melucur dari mulut Amilny sesaat setelah Jharna menceritakan tawaran yang ia terima untuk tampil di salah satu stasiun televisi.


Saat ini mereka sedang berkumpul di beranda belakang klinik sambil menikmati kudapan untuk menemani secangkir kopi. Mereka sengaja berkumpul untuk membahas rencana Jharna berikutnya.


Jharna ikut menoleh pada Kelvin yang sedari tadi masih terdiam, mempertimbangkan banyak hal terutama kenyamanan Jharna yang tampak gelisah.


“Tapi hostnya Cheryl,” ucapan Jharna terdengar menggantung. Ia menggigit bibirnya dengan gelisah, menunggu benar masukan dari Kelvin.


“Ya menurutku sih gak masalah. Kamu kan judulnya mau balas dendam. Justru ini tuh saatnya kamu nunjukkin pencapaian kamu selama ini. Bayangin aja, dalam waktu beberapa bulan aja, kamu udah membintangi enam iklan dengan rating tertinggi. Muka kamu di pajang di mana-mana dan Dina bilang beberapa hari ke belakang kamu dapat tawaran main film. Apa coba yang harus kamu takutkan saat bertemu wanita itu? Dia bukan walan yang sebanding buat kamu, kamu unggul Jharna.” Amilny menggenggam tangan Jharna dengan erat, untuk menguatkan wanita itu.


“Mereka menggunakan kamu untuk naikin rating acara mereka, maka kamu pun harus menggunakan acara ini sebagai ajang untuk meningkatkan popularitas kamu. Sama-sama di untungkan. Kalau kamu takut ketemu sama perempuan itu, tenang, aku sama Mas Bobby pasti dateng buat nemenin. Kelvin juga, aku yakin dia gak akan diem aja.” Lagi Amilny menyenggol Kelvin yang hanya terdiam.


“Vin, kok diem aja sih?” Bobby ikut bersuara, lelaki ini terlalu dalam berpikir.


“Hem, gak apa-apa. Gue cuma mikirin kenyamanan Jharna aja. Perasaan gue agak was-was aja karena baru kemaren suaminya maksa Jharna untuk sesuatu hal yang gak pantas dan sekarang acara televisi istrinya ngundang Jharna. Agak aneh gak sih?” tanya Kelvin yang menatap Jharna dengan sangsi.


“Iya juga sih. Masa suami istri gak kompak gitu? Apa mungkin istrinya gak tau kalau suaminya berniat main belakang?” Amilny balik bertanya.


“Bisa jadi. Gak semua rahasia istri diketahui suami dan gak semua rahasia suami di ketahui istri.” Bobby bantu menegaskan, mengangguk-angguk yakin dengan pikirannya sendiri.


“Maksud kamu, ada rahasia kamu yang gak aku tau?” Amilny langsung menoleh dan menatap suaminya dengan kesal.


“Eehh,.. bukan gitu. Salah ngomong ya aku,” Bobby menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


“TAU AKH!” Amilny jadi kesal pada suaminya. Ia memalingkan wajahnya dari Bobby yang telah menanamkan rasa curiga.


“Jangan marah dong, aku kan cuma bikin pengandaian, bukan berarti aku yang begitu. Lagi pula kita lagi bahas pasangan jahat itu, masa kita yang berantem?” Bobby mencoba menenangkan istrinya. Merangkul wanita itu dari samping lalu mengecup pelipisnya.


“Tau akh!” lagi Amilny mengibaskan rangkulan suaminya. “Gak usah ngomong sama aku untuk sementara, sekarang kita bahas masalah Jharna aja.” Amilny lebih memilih menatap Jharna dengan lekat.


Jharna hanya tersenyum kecil, merasa jadi orang ketiga di antara pasangan ini.

__ADS_1


“Amilny benar, sebenarnya ini bisa jadi kesempatan yang bagus. Kenapa enggak di coba. Toh ini acara live, aku yakin Cheryl gak akan ngelakuin hal jahat sama kamu di depan kamera. Gimana pun dia pasti menjaga imagenya.” Akhirnya Kelvin kembali bersuara.


“Waahh, akhirnya bunyi juga itu ujaran penyemangat. Jadi gimana Jharna?” Amilny kembali bertanya dengan penasaran.


Jharna menghela napasnya dalam, menatap tiga orang yang berada di dekatnya. Lantas ia menghembuskan napasnya dengan lega, setelah yakin dengan keputusannya.


“Okey, aku akan ikuti acara itu,” putus Jharna pada akhirnya.


“Good, itu baru wanita hebat! Kita hubungi Dina sekarang dan lanjut belanja. Setelah itu kita ke salon buat menyempurnakan penampilan kamu. Kita banting perempuan itu di depan banyak fansnya.” Amilny berujar dengan semangat. Ia sampai mengepalkan tangannya untuk menyemangati Jharna. Rasanya seperti ia yang ingin balas dendam.


“Hahahaha... iya Kak. Kak Amilny semangat banget,” timpal Jharna.


“Iya dong, aku suka menumpas kejahatan. Yuk kita berangkat sekarang, biarkan para lelaki ini berpikir. Termasuk Kelvin, jangan sampe dia ngikutin jejak temennya yang nyebelin itu.” Amilny segera beranjak dari tempatnya. Ia menarik tangan Jharna dan mengajaknya pergi tanpa permisi pada Kelvin.


Jharna menoleh sejenak pada Kelvin dan Bobby. Dua laki-laki itu mengangguk paham. Tentu, harus paham.


****


Jharna masih mematut dirinya di depan cermin. Wajahnya sedang di rias oleh seorang penata rias profesional. Rambut panjangnya di buat lurus dengan poni pendek di atas alisnya. Riasanya tipis saja, hanya bagian bibirnya yang sengaja di beri gincu berwarna merah cerah, terlihat kontras dengan kulit wajahnya yang putih dan bercahaya. Fokus riasannya memang pada sepasang bibir Jharna yang mempesona saat tersenyum dan berbicara.


“Hahaha... udah dong. Emang gak keliatan?” Jharna balik bertanya pada wanita yang sedang memakaikan mascara untuk melentikan bulu matanya.


“Enggak. Aku mikirnya sekitar sembilan belasan. Kayak anak SMA apalagi didandani kayak gini,” wanita itu tulus memuji, sambil menatap sepasang Jharna yang jernih dan bulat dengan bulu matanya yang lentik.


“Bisa aja. Nggak lah, aku udah 25 tahun.” Jharna mengakui dengan sebenarnya.


“Udah siap nikah dong ya...” goda wanita berkerudung navy tersebut.


“Do’akan aja yaa....” Hanya itu timpalan Jharna yang tidak mau terlalu mengumbar masalah pribadinya.


Sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatian Jharna dan penata rias. Seorang wanita tersenyum sinis pada sosok Jharna yang baru selesai berdandan. Ia berjalan dengan gemulai, menghampiri Jharna tanpa menurunkan tangannya yang bersidekap.

__ADS_1


“Masih berdandan?” tanya wanita itu dengan ketus. Lirikan matanya jelas merendahkan


“Iya,” Jharna segera berdiri, bersikap seramah mungkin pada wanita itu.


Jharna mengulurkan tangannya, tetapi Cheryl hanya menatapnya dengan sinis. Enggan untuk membalas uluran tangan Jharna. Terpaksa Jharna menurunkan kembali tangannya yang tidak di sambut baik oleh Cheryl.


Wanita yang mengenakan dress berwarna maroon itu melirik penata rias, mengusir wanita itu secara tegas lalu memilih duduk di salah satu kursi dan menatap bayangan wajahnya di cermin. Penata rias itu sadar untuk pergi dan meninggalkan Cheryk berdua saja dengan Jharna.


Sepeninggal penata rias, Cheryl mengambil sisir untuk menyisir rambutnya yang ikal bergelombang. “Gue udah sebelas tahun di dunia hiburan, gue udah bisa membaca artis mana yang akan bertahan lama dan artis mana yang hanya akan bertahan satu musim saja.”


Mata sinis Cheryl menatap Jharna dari pantulan kaca. Ia mengeluarkan lipsticknya dan memolesnya kembali dengan lebih tebal lalu mengerucutkan bibirnya seperti mengecup. “Kalau mau jadi artis yang bertahan lama, jangan suka cari sensasi apalagi dengan mendekati suami orang lain. Terlihat sekali murahannya,” imbuh wanita itu yang menopang dagunya dengan kedua tangannya yang bertumpuk. Ia melihat wajahnya dari sisi kiri dan kanan, tampak cantik sempurna.


“Wah, mba Cheryl sangat baik. Makasih udah mau ngasih saya banyak nasihat. Saya sangat tersentuh,” Jharna menyahuti dengan singkat. Ia tahu persis kalau wanita ini sedang menyindir dirinya. Sayangnya wanita ini lupa, kalau kata-kata itu lebih cocok untuk dirinya sendiri.


Cheryl hanya tersenyum sinis. Ia beranjak kembali dari tempatnya, menghampiri Jharna dan berdiri di belakang Jharna sambil menatap bayangan wajah Jharna di cermin. Sedikit merunduk untuk berbisik pada wanita di hadapannya.


“Bedakan antara memberi nasihat dengan memberi peringatan. Jangan terlalu polos, oh tidak, jangan terlalu begok,” bisik Cheryl yang tersenyum sinis pada Jharna. Jharna tidak menimpali, ia hanya balas tersenyum lebih lebar dari Cheryl dan menatap bayangan wanita itu lebih tajam.


Senyum Cheryl pun pudar. Ia sudah mengangkat tangannya, rasanya ia ingin menjambak rambut Jharna yang sudah tersisir rapi dan tampak berkilauan.


“Oh kalian di sini?” tanya sebuah suara yang terdengar di pintu. Cheryl segera menoleh dan tersenyum pada Dina, manager Jharna. Tatapannya penuh rasa ketidaksukaan pada siapapun yang mengganggu kesempatannya untuk mengintimidasi Jharna.


“Suruh artismu bersiap, sepuluh menit lagi kita mulai. Jangan terlihat tegang dan norak di depan kamera. Ingat, ini acara berkelas,” ucap Cheryl dengan sinis.


Dina hendak menimpali, tetapi ia melihat Jharna mengepalkan tangannya dan gelengan kepala sebagai isyarat untuk diam. Tidak ada gunanya menimpali ucapan wanita itu.


Akhirnya Dina pun hanya terdiam, menghampiri Jharna dan memberikan sebotol air mineral permintaan artisnya. Merasa tidak ada perlawanan, Cheryl pun melenggang pergi meninggalkan Jharna dengan penuh rasa menang.


“Kamu kok diem aja sih?” tanya Dina sesaat setelah Cheryl pergi.


“Aku gak diem kok. Aku cuma gak mau buang-buang energi untuk sesuatu yang tidak penting,” sahut Jharna dengan santai. Ia meneguk minuman yang Dina berikan, ia merasa begini lebih baik.

__ADS_1


"Terkadang orang jahat itu haru di beri pelajaran," hasut Dina. Namun Jharna hanya tersenyum kecil, dalam hatinya akan ada saatnya Cheryl merasakan yang lebih. Semua sakit hati itu balasannya bukan dari manusia, melainkan tangan tuhan yang bekerja dan memberinya kesempatan.


****


__ADS_2