
Seorang wanita berdiri di depan kompor dengan sebuah wajan penggorengan yang tengah bergolak menggoreng ikan yang sudah setengah matang. Wanita itu adalah Paridah, yang menatap masakannya dengan nanar sambil sesekali terisak dan menyeka air matanya yang tidak mau berhenti menetes.
Rasa bahagia jelas terasa di relung jiwanya saat menyadari kalau ia masih memiliki kesempatan untuk memasak makanan bagi putrinya. Ia juga bersyukur karena putri kesayangannya tidak menyerah setelah badai ujian kehidupan yang begitu dahsyat menghantamnya.
Kemarahan Paridah masih belum reda, kesedihannya pun masih belum luruh. Bibirnya masih mengucap rasa syukur atas kepulangan putrinya, namun tidak ia pungkiri bahwa hatinya masih mengharapkan tuhan memberi keadilan bagi orang-orang yang menyakiti putrinya dengan keji dan kejam.
Tubuh ringkih itu terhenyak saat seseorang memeluknya dari belakang. Tangan putih melingkar di lehernya bersamaan dengan dagu seorang wanita yang bersandar di bahunya. Bibirnya mengecupi punggung Parida dengan suara lembut yang sesekali ia dengar.
“Jangan menangis lagi ibu, sekarang waktunya kita bahagia dan bersyukur,” kalimat itu yang di dengar Paridah di telinga kirinya.
Pelukan sang putri pun semakin erat, menyadarkan pikiran Paridah bahwa putrinya memang telah kembali dan tidak akan pergi lagi.
Wanita itu mengangguk pelan. Ia menepuk tangan Jharna dengan lembut. Bibirnya yang bergetar karena tangis, kini berujar pelan.
“Maafin ibu ya nak. Kalau aja ibu gak maksa kamu untuk menerima pinangan tuan Sanjaya, maka kamu tidak akan semenderita itu. Kamu tidak akan merasakan sakitnya diabaikan dan di singkirkan. Maafin ibu, ibu sangat menyesal.” Wanita itu tertunduk lesu, dengan tangis yang kembali pecah. Bahunya yang melorot kini bergerak naik turun, seirama tangisnya yang dalam.
Air mata Jharna meluruh mendengar permintaan maaf sang ibu. Benar adanya, semua penderitaan itu di mulai ketika ia mengiyakan pinangan tuan Sanjaya untuk putranya. Laki-laki yang belum pernah di lihat apalagi di kenalnya.
“Bu, semuanya udah berlalu. Aku udah nerima itu sebagai takdirku. Ibu gak perlu merasa bersalah terus menerus seperti ini. Semua sudah ada jalannya sudah ada takdirnya dan sudah jelas kalau tuhan begitu baik dengan memberiku kesempatan kedua.”
“Tidak ada lagi yang perlu kita sesali Bu, aku udah menerima semuanya.” Jharna menggenapkan kalimatnya.
Terdengar hembusan napas yang kasar di sela tangis Paridah. Tangannya yang jauh dari kesan lembut itu, mengusap tangan Jharna dengan sayang. Sukses memberi ketenangan bagi jiwanya yang sempat gelisah.
“Jani sekarang ingin menata hidup yang baru. Dengan orang-orang yang Jani sayang. Jani gak tau apa yang akan Jani hadapi di masa depan, tapi Jani percaya kalau semuanya akan bisa Jani lewati dan hadapi dengan baik. Ya Bu, kita sama-sama hadapi semuanya. Ibu salah satu sumber kekuatan Jani dan itu lebih dari cukup untuk menyemangati Jani,” tutur Jharna seraya mengecup kepala sang ibu yang telah melahirkannya.
Paridah berbalik, baru kali ini ia memiliki keberanian untuk menatap wajah putrinya. Ia menatap lekat sepasang mata yang tidak pernah berubah, penuh kasih dan keteduhan. Di tangkupnya satu sisi wajah Jharna, lalu ia uspa dengan ibu jarinya.
__ADS_1
“Ibu bangga sama kamu. Ibu beruntung karena melahirkan anak sebaik kamu,” ungkap Paridah dengan suaranya yang terbata-bata. Tangannya mengusap helaian rambut Jharna yang menutupi sebagian wajahnya, sekali pun ada banyak perubahan pada sosok putrinya, namun sejatinya ia tetap seorang Anjani yang berhati tulus.
“Makasih Bu, Jani seneng kalau ibu bangga sama Jani. Kita tutup cerita kita yang kemarin ya Bu, kita berhak untuk berbahagia di masa depan. Mulai sekarang, kita hanya akan berbahagia.” Tangan halus Jharna mengusap air mata sang ibu dengan lembut, membuat sudut bibir wanita paruh baya itu melengkungkan senyum. Ia mengangguk kecil, setuju dengan ucapan Jharna.
“Ya udah, sekarang udah mateng belum nih ikannya? Jani udah laper, gak sabar mau makan masakan ibu,” dengan lihai Jharna mengalihkan kesedihan Paridah.
“Udah, sebentar lagi matang. Ayo kamu siapin piringnya.” Meski suaranya masib parau, Paridah sudah jauh lebih baik.
Ia mengangkat ikan dari penggorengan dan menaruhnya di atas saringan penggorengan, menunggu minyaknya tiris baru ia taruh di atas piring yang Jharna siapkan. “Waawww... wanginya enak banget Bu,” ungkap Jharna dengan mata yang membulat senang.
“Ibu sengaja goreng ukuran sedang, supaya mateng sampe ke dalam,”
“Jani bikin sambal kecap ya Bu,”
“Ya, coba bikin. Tapi jangan terlalu pedes,”
Obrolan dua wanita yang sedang berjibaku di dapur itu membuat Kelvin tersenyum haru. Sudah lama laki-laki itu berdiri di tempatnya dan menyaksikan sendiri bagaimana besarnya kasih sayang dua orang wanita hebat itu. Ia ikut menyusut air matanya yang entah sejak kapan ikut menetes. Bibirnya kini tersenyum melihat interaksi hangat Jharna dengan ibunya.
“Kamu sangat berhak untuk bahagia dan aku akan memastikan itu buat kamu,” ungkap Kelvin dengan penuh keyakinan. Janji ini yang kemudian Kelvin simpan dalam hati dan pikirannya.
Semua masakan telah terhidang di atas meja makan. Walau lauknya sederhana, namun snagat menggugah selera.
"Nak Kelvin suka lalapan gak?" tanya Paridah. Di tangannya ia memegangi piring yang berisi kukus daun singkong.
"Saya mau coba, Bu," sahut Kelvin.
"Ini cobalah, tapi kalau nggak suka, jangan dipaksa di makan ya." Paridah menaruh piring itu di dekat Kelvin, berdampingan dengan sambal.
__ADS_1
"Iya Bu, saya coba." Kelvin mengambil beberapa lembar kukus daun singkong, mencolekkannya ke sambal seperti yang Jharna lakukan, barulah ia melahapnya.
Semua orang terdiam, perhatiannya tertuju pada Kelvin yang sedang mengunyah daun singkong di mulutnya. Mereka menunggu benar respon Kelvin.
"Gimana?" Paridah benar-benar tidak sabar.
"Emm, Kelvin bersedia menikmati kukus daun singkong ini seumur hidup Kelvin. Asalkan Jani yang masak. Boleh kan Bu?" tanya Kelvin dengan maksud yang tersirat.
Wanita itu tersenyum kecil mendengar ucapan Kelvin. Ia paham benar arah tujuan kalimat Kelvin.
"Jani bisa masak menu yang lain, hanya saja terkadang suka keasinan. Apa nak Kelvin gak keberatan?" Parudah balik bertanya.
"Bu,..." Jharna menggenggam tangan sang ibu di sampingnya. Malu sendiri dengan pertanyaan Paridah pada laki-laki yang ia cintai.
"Tidak masalah sekali pun asin, saya tidak akan mempermasalahkan itu. Lagi pula, saya bukan ingin menjadikan Jani juru masak dan menghabiskan waktunya di dapur. Di berhak melakukan apa pun yang dia sukai, saya tidak akan membebaninya dengan hal-hal yang membuatnya kesulitan dan tidak nyaman."
"Jani penting untuk saya Bu, jika ibu berkenan, saya ingin mengenapkan kebahagiaan saya bersama Jani. Apa boleh Bu?" Dengan mulus Kelvin menyampaikan maksudnya.
Jani tidak bisa berkata-kata mendengar niat baik itu Kelvin sampaikan pada ibunya. Ia hanya bisa menatap Kelvin dengan penuh perasaan.
"Apalagi yang dicari seorang ibu kalau bukan kebahagiaan anak-anaknya. Selama Jani bahagia, ibu tidak akan menghalangi," tegas Parida dengan senyum kecil yang terbit di sudut bibirnya. Ia tahu persis bahwa Kelvin telah membuktikan kasih sayangnya untuk Jharna. Lantas apa lagi yang harus ia ragukan?
"Terima kasih Bu, terima kasih banyak," ungkap Kelvin dengan senyum yang mengembang. Jantungnya berdebar sangat kencang saat mengungkapkan semua perasaannya dan meminta restu Paridah. Tetapi sekarang, jantungnya berdenyut lembut seolah menemukan melodi yang tepat saat ia bertatapan dengan Jharna dan merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia sangka akan mendapatkannya.
"Hem, makanlah dengan banyak. Kamu pasti sangat lelah," ucap Paridah yang mendekatkan ikan pada Kelvin. semua lauk sekarang ada di dekat Kelvin, laki-laki yang ia percaya akan menjaga putrinya dengan baik.
*****
__ADS_1