
Keberadaan manager ternyata benar-benar membantu pekerjaan Jharna. Dalam satu bulan ini, ada delapan kontrak kerjasama yang sudah Jharna terima. Wanita ini mulai memiliki keberanian untuk mengenal dunia yang baru. Dunia yang Jharna pikir tidak akan pernah ada di hidupnya yang sepi dan suram.
Benar adanya bahwa tidak akan ada hidup yang berubah kecuali orang itu sendiri yang mau merubahnya. Jharna yang dulu hanya wanita biasa dengan keberanian yang dangkal sedangkal pandangannya pada hidup. Pengalaman telah mengajarkan dia untuk menjadi sosok wanita yang berani menunjukkan dirinya hingga kini mulai di kenal banyak orang.
Sejak masuk ke dunia baru ini, ia mulai memiliki fans pendukung yang mengidolakannya. Tentu saja hal ini tidak pernah Jharna bayangkan sebelumnya. Dulu ia hanya wanita yang diabaikan dan di buang, tetapi sekarang banyak orang yang mencarinya hanya untuk berkenalan dengannya.
Seperti hari ini, Jharna ada dua jadwal pemotretan untuk dua brand yang berbeda. Di bawah arahan penata gaya juga photographer, Jharna bergaya di depan kamera. Ia sudah mulai terbiasa dengan kilauan lampu blitz yang menyapa mata indahnya. Senyumnya mulai di kenal banyak orang sebagai senyuman yang begitu menawan. Seorang Jharna benar-benar menjelma menjadi sosok yang diidam-idamkan oleh banyak kaum hawa, hingga beberapa orang bersedia duduk menunggu untuk menyapanya hingga pekerjaan Jharna selesai.
“Okey, selesai!” seru seorang photographer yang mempotret Jharna dalam banyak gaya. Ia mengangkat jempolnya setelah enam gambar di sesi terakhir yang di ambilnya.
“Hah, syukurlah….” ucap Jharna yang bisa menghembuskan napas lega. Ini pengambilan gambar terbanyak selama ini karena ia harus memperagakan banyak kaos dan celana jeans juga jacket dari sebuah brand fashion terkenal.
“Minum dulu,” Dina menyodorkan sebotol air mineral pada artisnya.
“Makasih,” ucap wanita itu.
“Sama-sama.” Gadis bermata cokelat itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat terjeda.
Jharna segera meneguk air mineral itu dan memberi rasa lega di tenggorokannya. Setengah botol sudah masuk ke perutnya yang rata.
“Tadi Kelvin nelpon, katanya dia mau ngajak makan siang. Aku udah kosongin jadwal kamu sampe jam tiga sore. Setelah itu baru ada jadwal lagi buat tapping di talk show memasak,” Dina memberikan ponsel Jharna yang sedari tadi dititipkan wanita itu beserta beberapa buku agenda milik fansnya yang minta untuk ditanda tangani.
Jharna melambaikan tangannya pada dua wanita muda yang menunggunya, berfoto beberapa kali dengan mereka dan dua wanita itu terlihat sangat senang. "Aku post di ig aku ya kak," wanita muda itu meminta izin.
"Boleh, makasih ya udah nunggu," timpal Jharna yang mengembalikan dua buku agenda yang selesai ia tanda tangani.
__ADS_1
"Iyaa kak, makasih banyak." Dua remaja itu pergi dengan perasaan bahagia. Mudah ternyata untuk membuat orang lain bahagia.
“Iyaa, aku udah janji mau traktir dia soalnya hari ini adalah hari pertama dia operasi pasien. Aku gak sabar mau denger ceritanya.” Jharna segera mencari nomor Kelvin dan berniat menghubunginya.
Memang kabar yang bagus, setelah berdiskusi dan berhasil mengembalikan rasa percaya diri Kelvin, akhirnya laki-laki itu mau kembali ke profesinya. Bobby yang berusaha keras membantu laki-laki itu untuk mendapatkan kembali surat izin prakteknya setelah menempuh beberapa prosedur yang rumit. Beruntung Kelvin masih menyimpan barang bukti atas prakteknya yang di tuntut beberapa waktu lalu, hingga ia bisa dengan mudah mendapatkan kembali legalitas prakteknya.
Pengacara Kelvin sudah menawarkan untuk melaporkan balik pelaku pencemaran nama baiknya, namun Kelvin merasa ia tidak mau buang-buang waktu untuk masalah yang tidak perlu. Seperti yang ia sepakati dengan Jharna kalau mereka akan mulai melangkah sebagai orang-orang baru, tanpa dendam di masa lalu.
Panggilan itu baru akan terhubung, namun Jharna urung meneruskan panggilannya. Ia memandangi Dina yang sedang memeriksa beberapa berkas kerja sama yang harus di tanda tangani Jharna.
“Aku ke sana langsug aja kali ya?” tanya Jharna pada Dina.
“Mau ke mana?” Dina segera menoleh dengan dahi mengkerut. Jharna tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dengan segudang rencana di benaknya.
Mata Kelvin membelalak kaget saat dihadapannya ia melihat sebuah bucket bunga yang cukup besar sedang di peluk oleh seorang wanita hingga menutupi wajahnya.
“Astaga, apa ini?” Kelvin tidak bisa menyembunyikan wajah bahagia yang terkejut di waktu bersamaan.
“Surprise!!!” seru Jharna yang memperlihatkan wajahnya di samping bucket bunga yang besar itu.
“Ahahahaha… gede banget bunganya. Tangan kamu gak sakit?” alih-alih memperdulikan bucket bunga itu, Kelvin malah memikirkan tangan Jharnayang memegangi bunga besar itu.
“Hehehhe… enggak lah.” Jharna segera memberikan bunga itu pada Kelvin. “Selamat yaaa… atas keberhasilan operasi pertamanya,” ucap Jharna yang memeluk Kelvin dengan erat. Kakinya sampai berjinjit untuk mengimbangi tinggi tubuh Kelvin.
“Eemm… makasih…” timpal Kelvin. Laki-laki itu mengangkat sedikit tubuh Jharna dan mengajaknya berputar dalam pelukannya.
__ADS_1
“Hahahaha.... Vin, pusing aku,” keluh wanita itu sambil memegangi kepalanya.
“Hahahaha…” Kelvin tertawa dengan renyah. Ia menghentikan tingkahnya lantas menurunkan Jharna. Ia menatap lekat wanita cantik yang masih memakai riasan look korea setelah pemotretan tadi. “Makasih ya, bunga dan kejutannya,” imbuh laki-laki itu seraya mencium bucket bunga besar di tangannya.
“Sama-sama. Aku udah gak sabar mau denger cerita kamu. Sambil makan siang yuk!” Jharna mengajak dengan semangat.
“Makan siang?” Mata Kelvin kembali membulat penuh binar mendengar Jharna inisiatif mengajaknya makan siang.
“Iya. Ayo!” Wanita itu menarik tangan Kelvin yang belum siap.
“Okey, ayo!” Kelvin dengan semangat mengikuti langkah kaki Jharna. Sesekali ia tersenyum melihat tangannya yang di tarik Jharna, sementara di tangan kirinya mash memegangi bucket bunga. Beberapa orang yang berpapasan dengan Kelvin dan Jharna, tersenyum gemas melihat pasangan itu.
Ya, orang-orang mengetahui mereka pasangan, terutama para petugas medis di rumah sakit ini. Banyak yang mengidolakan Kelvin, tetapi setelah melihat Jharna yang di genggam tangannya oleh lelaki itu, membuat mereka segera mengakhiri harapannya. Sadar benar, siapa yang akan menjadi saingan mereka.
Kelvin dan Jharna segera menuju tempat parkir. Mereka masuk ke dalam mobil berikut bunga yang Kelvin taruh di belakang.
“Kebun siapa yang kamu panen bunganya?” Kelvin iseng bertanya sesaat setelah mereka berada di dalam mobil.
“Hahahaha… aku gak sempet nanya sama pemilik toko bunganya. Tapi cantik kan, bunganya?” tanya Jharna seraya menoleh ke belakang sana.
“Cantik doong.” Kelvin menyahuti dengan ringan. "Tapi lebih cantik lagi, kamu," batin Kelvin yang ikut memandangi bucket bunga putih itu di belakang sana dari kaca spionnya.
“Tapi ini bunga terakhir yang aku beli Vin,” ungkap Jharna tiba-tiba.
“Loh, kenapa?” sambil melajukan mobilnya keluar dari area parkir, Kelvin tetap memperhatikan Jharna.
__ADS_1