Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Rencana besar


__ADS_3

“Aku ngerasa bersalah. Banyak banget bunga yang nantinya akan mati, layu, rusak dan kering.” Wajahnya berubah sendu dalam beberapa saat.


Kelvin tersenyum gemas mendengar ujaran Jharna. Ia mengusap kepala wanita yang sekarang sudah menatap jauh ke depan sana.


“Bunganya kan di tanam memang sengaja buat di petik dan dibuat bucket begitu. Lagi pula, bunga itu ada masanya. Walau pun gak di petik, suatu hari mereka bakal berguguran. Sama aja sebenarnya dengan bunga yang dijadikan bucket. Mereka akan sama-sama mengering dan mati."


“Bedanya, setelah jadi bucket bunga, bunga itu gak hanya mati sia-sia, karena udah ngasih perasaan bahagia buat mereka yang mendapatkan bunga itu sebagai hadiah, jadi gak usah ngerasa bersalah. Bukannya segala sesuatu yang bisa memberi manfaat lebih akan membuat mereka merasa lebih bahagia?” terang Kelvin. Ia menoleh sejenak Jharna yang menyimak benar-benar kalimatnya. Ini yang Kelvin sukai dari wanita disampingnya, yaitu fokus menyimak setiap obrolan mereka.


“Em, iya juga sih. Padahal tadi aku ngerasa bersalah loh Vin,” timpal Jharna.


“Hahaha... kamu tau gak kalau kamu itu gak cuma bikin aku seneng loh. Penjual bunganya juga seneng, terus para petani bunganya juga seneng. Abang kurir yang nganternya juga seneng.”


“Kok abang kurir ikutan seneng?” Kali ini Jharna mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


“Iya dong, mereka seneng. Kan selama perjalanan mereka ngeliat bunga yang cantik dan wangi. Buat beberapa saat mereka kan seperti memiliki bunga itu. Apa nggak seneng tuh?”


Jharna terdiam mendengar ujaran Kelvin, ia menatap lekat laki-laki itu. “Iya juga ya,” ucapnya.


Kelvin hanya tersenyum dan sekilas menatap wanita itu. Jharna memang mudah disugesti dengan hal yang menyenangkan, ia sangat polos.


“Iya dong. Jadi, kita mau ke mana nih?” tanya Kelvin saat hampir dekat ke pintu tol.


“Eh ya ampun, hampir lupa. Belok kiri Vin,” pinta Jharna.


“Baik gadis bunga,” timpal Kelvin yang terangguk seraya mencondongkan tubuhnya sedikit pada Jharna.


“Hahahaha… pake bilang gadis bunga segala.” Tanpa sadar Jharna mengusap pipi Kelvin dengan lembut, membuatnya kaget sendiri. Tangannya segera ia turunkan lalu ia genggam sendiri dengan erat. Sementara Kelvin segera menegakkan tubuhnya. Akh sial, canggung lagi.


Lima belas menit perjalanan Jharna dan Kelvin tiba di sebuah restoran yang menyajikan atraksi teppanyaki, yaitu di mana sang koki memasak langsung di hadapan pengunjungnya. Jharna dan Kelvin segera masuk dan menempati meja yang telah di booking oleh Jharna satu jam lalu.

__ADS_1


“Kamu kok kepikiran sih buat makan di sini?” tanya Kelvin dengan penasaran.


“Iyaa, aku liat di medsos tadi pagi, jadi kepikiran ke sini deh, buat ngerayain keberhasilan operasi pertama kamu.” Jharna menjawab dengan semangat. Mereka duduk menghadap sang koki yang sudah siap untuk memasak.


“Makasih ya,” bisik Kelvin. Kejutan Jharna sangat berarti untuknya. Jharna mengangguk pasti seraya tersenyum.


“Kita mulai?” tawar koki tersebut.


“Ya, silakan,” Jharna menyahuti dengan semangat.


Koki jepang itu mulai berartaksi di depan Jharna dan Kelvin, menunjukkan kepiawaiannya mengolah makanan dengan atraksi seru yang berapi-api. Kepulan asap kecil sesekali terlihat dengan nyala api yang menyambar cantik pada makanan yang sedang di masak.


“Waaahh…” Jharna begitu menikmati atraksi itu, hingga sesekali bertepuk tangan. Ini pengalaman makan yang baru untuk Jharna.


Satu menu makanan yang sudah selesai di masak, langsung dihidangkan di atas piring Kelvin dan Jharna. Kelvin membantu Jharna memotong gading steak yang di buat medium rare itu. Dagingnya sangat juice, lezat saat bertemu dengan indra pengecap mereka.


Pria jepang itu mengangguk sopan sebagai bentuk ucapan terima kasih. Ia memasak menu yang lainnya hingga Jharna dan Kelvin kekenyangan.


“Kenapa?” tanya Kelvin saat melihat Jharna yang menyandarkan kepalanya di jok mobil.


“Aku ngantuk Vin. Habis kenyang, terbitlah ngantuk.” Wanita itu mengusap perutnya yang penuh.


“Mau aku anter pulang?” Kelvin memilih untuk tidak menyalakan mesin mobilnya lebih dulu, ia masih ingin berbincang dengan Jharna.


Wanita itu menggeleng. “Aku ada tapping iklan sore ini. Jadi harus balik lagi ke studio. Kamu cerita dulu dong, tadi gimana aja operasinya,” pinta Jharna.


“Okey,” Kelvin ikut menyandarkan joknya hingga tidak terlalu tegak dan mengikuti Jharna berbaring dengan nyaman. Tangannya saling menjalin di atas perutnya sambil memikirkan memulai ceritanya dari mana.


“Pasien pertamaku masih cukup muda. Dia melakukan operasi karena luka bakar akibat air keras.” Kelvin memulai ceritanya sambil mengingat sosok wanita muda itu.

__ADS_1


“Apa sulit?” Jharna penasaran. Dari cara Kelvin bercerita terlihat sepertinya sangat berat.


Laki-laki itu menggeleng. “Secara prosedur tindakan, masih cukup mudah. Yang sulit itu, mengumpulkan kesiapan dan rasa percaya diri aku saat memegang pisau bedah. Aku masih berpikir gimana kalau hasilnya gak sesuai dengan yang pasien aku harapkan.” Kelvin menghembuskan napasnya dengan berat lantas menoleh pada Jharna.


“Untuk beberapa saat otak aku kayak blank gitu. Tangan aku tegang dan gak lentur sama sekali. Pisau yang aku pegang juga gak nyaman,” Kelvin menjeda kalimatnya beberapa saat sambil memutar-mutar pergelangan tangannya yang tadi terasa kaku. “Tapi kemudian aku ingat pesan kamu, kalau ada harapan seorang Anjani pada pasien-pasien yang aku operasi. Mendadak tangan aku lentur lagi. Pikiranku gak lagi kosong dan aku menikmati setiap usahaku untuk menyembuhkan gadis itu.” Kelvin memandangi kedua tangannya yang lebar dan besar itu.


“Kamu ngasih aku rasa percaya diri yang besar Jharna. Kamu bikin aku gak ngerasa takut lagi. Makasih banyak,” ungkap Kelvin dengan penuh kesungguhan seraya menatap wanitaa disampingnya.


Jharna menatap laki-laki itu dengan lekat. Ia menempelkan telapak tangannya dengan telapak tangan Kelvin. Ukuran tangannya memang lebih kecil dari tangan Kelvin yang besar.


“Seperti itu yang aku rasakan setiap kali kamu membantuku dan menyemangatiku. Aku seperti terlahir menjadi sosok yang begitu beruntung Vin,” timpal Jharna yang tersenyum kecil.


Pelan-pelan ia menyelipkan tangannya di antara sela jari Kelvin dan menengkramkannya dengan erat. Kelvin cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Jharna. ”Besok, aku mau pergi ya. Aku mau nyari bukti atas kejadian yang menimpaku. Supaya aku bisa meneruskan langkah aku untuk menyelesaikan masalahku dengan Andrew. Walau hanya tinggal sisa formalitas, aku ingin semuanya selesai,” terang Jharna tiba-tiba.


Kelvin di buat cukup terkejut mendengar rencana Jharna. Apa ini artinya wanita ini mulai membuka pintu hatinya?


“Aku temenin ya?” tawar Kelvin yang balas mencengkramkan tangannya pada Jharna.


Jharna menggeleng. “Aku mau mengurusnya sendiri Vin. Aku mau menghadapi rasa takut dan traumaku. Aku ingin kembali dari sana, selain membawa banyak bukti, juga membawa diriku yang aku tinggalkan di sana.” Tekad Jharna terlihat sangat bulat.


Kelvin menatap wanita itu beberapa saat. Ia mendekatkan tubuhnya pada Jharna, lalu mengecup dahi wanita itu dengan lembut. Ia menempatkan dahinya di dahi Jharna lantas bertanya, “Kamu tau kan kalau aku akan selalu ada di samping kamu dalam kondisi apapun?”


Jharna mengangguk pelan. Ia balas menatap netra pekat yang saat ini ada di hadapannya. “Tentu aku tau, karena kamu yang ngasih aku jalan untuk pulang.” Jharna berujar dengan penuh keyakinan.


Kelvin tidak menimpali, ia lebih memilih untuk memeluk Jharna dengan erat. Diusapnya punggung Jharna dengan lembut. “Akan ada beberapa kesulitan, tapi aku sangat yakin kalau kamu akan melewatinya dengan mudah. Kembalilah sebagai seorang Anjani dengan semangat baru seorang Jharna.” Kalimat itu terdengar jelas di telinga Jharna.


Jharna mengangguk perlahan. Selain sang ibu, hanya Kelvin yang menunggu kepulangannya. Dua orang yang sangat cukup untuk menjadi alasan bagi Jharna untuk menyelesaikan semuanya.


***

__ADS_1


__ADS_2