
Jharna benar-benar tidak bisa menghindari ajakan Andrew untuk pulang bersama. Saat ini mereka berada di dalam sebuah mobil sedan mewah yang melaju kencang menuju arah pulang. Andrew berada di balik kemudi, sementara Jharna duduk di sampingnya dan sedang mengirimkan pesan pada Kelvin.
“Vin, masih di rumah sakit gak?” sebaris pesan itu yang Jharna kirimkan pada Kelvin. Ia ingin tahu apa Kelvin masih sibuk atau tidak, dan apa bisa membantu dirinya atau tidak.
Pesannya terkirim, tetapi belum di baca oleh Kelvin. Sepertinya laki-laki itu belum selesai melakukan tindakan. Jharna menggenggam ponselnya dengan erat, berharap kalau Kelvin akan segera menghubunginya.
“Calon suamimu sepertinya sedang sibuk,” terka Andrew yang berujar dengan santai sambil menyetir mobilnya dengan satu tangan saja.
“Nggak juga, bentar lagi dia pulang.” Jharna terpaksa berbohong. Hal ini ia lakukan agar Andrew tidak berniat macam-macam terhadapnya.
“Dia terlalu sibuk Jharna. Masih ada laki-laki yang bisa menemanimu ke mana pun kamu mau pergi, tanpa harus bergantung padanya,” ucap laki-laki itu dengan enteng. Jharna sedikit menoleh dan terlihat kalau laki-laki itu tersenyum sinis.
“Apa maksudmu?” Jharna bertanya dengan sedikit sinis. Sepertinya ia tidak bisa bersikap terlalu ramah pada laki-laki ini.
“Aku yakin kamu paham. Seperti sekarang contohnya, aku lebih bisa menemanimu di banding laki-laki itu. Iya kan?” Andrew memperjelas maksudnya.
“Kamu tidak takut kalau aku menceritakan semua ini pada istrimu?” Jharna mulai mengancam, ia menatap tajam Andrew yang terlihat santai saja.
“Apa yang harus membuatku takut? Aku adalah sumber uang untuknya, untuk memenuhi semua kebutuhan untuk prilaku hedonnya. Dia yang bergantung padaku, haruskah aku merasa takut kehilangan wanita seperti itu?” Andrew berujar dengan bangga.
Jharna tidak menjawab, ia baru tahu kalau Andrew bisa senekad ini saat ia memuja seorang wanita. Hal yang sama mungkin ia lakukan saat Andrew tergila-gila pada Cheryl saat menjadi suaminya. Menjijikan sekali saat di ingat.
__ADS_1
“Kamu mencintai calon suamimu?” lagi, laki-laki itu bertanya.
“Sangat!” Jharna refleks menjawab dengan semangat.
“Waw! Beruntung sekali laki-laki itu. Aku juga ingin merasakan keberuntungan itu. Perlu kamu tau, kalau kamu memilihku, kamu akan menjadi prioritasku. Aku bisa mencintaimu lebih besar dari calon suamimu, lalu jadikan aku prioritasmu. Bukankah akan menyenangkan memiliki dua laki-laki di sampingmu?” Laki-laki itu meneruskan kalimatnya dengan penuh percaya diri.
Jharna tersenyum kecil, sengaja terkesan meledek. “Tidak, tidak beruntung sama sekali.” Jharna menjawab dengan tegas, membuat Andrew mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Aku sudah sangat beruntung karena memiliki Kelvin. Dia memberikan semuanya padaku, tidak hanya hatinya tapi dunia, hidup dan cintanya. Sementara kamu, aku hanya akan jadi selingkuhan dari seorang laki-laki beristri yang tidak berani berkata jujur pada pasangannya. Aku hanya akan di sembunyikan karena takut ketahuan. Di mana letak harga diriku saat aku hanya menjadi seorang simpanan?” kalimat Jharna terdengar begitu panjang dan tegas.
“Kamu menantangku?” laki-laki itu menatap Jharna penuh perhatian.
“Tidak. Untuk apa aku menantang laki-laki yang tidak bernyali? Aku melihat kamu berada tepat di ketiak istrimu. Oh tidak, tapi di kakinya.” Jharna menambahkan kalimatnya dengan lebih berani. Sepertinya jika ia terlihat lemah maka Andrew akan bersikap semena-mena. Ia juga masih teringat bagaimana dulu Andrew hanya bisa menurut pada Cheryl dan tidak menyelamatkannya.
Ingin sekali ia membuat Cheryl dan Andrew sadar di waktu yang bersamaan. Sadar kalau tidak semua hal bisa mereka kendalikan dan mereka miliki. Mereka juga telah menyakiti orang lain yang tidak berdosa bahkan tega menghilangkan nyawanya. Layak bukan untuk dapat balasan?
“Jangan mengujiku Jharna!” Tiba-tiba saja Andrew meraih tangan Jharna dan menggenggamnya. Ia membanting stirnya ke kiri hingga mepet ke tepian jalan. Jharna sampai terhenyak karena sikap tiba-tiba Andrew.
Laki-laki itu menghentikan laju mobilnya dan menatap Jharna dengan tajam. “Kalau kamu benar-benar memiliki keinginan untuk bersamaku, maka aku tidak akan segan untuk melepaskan Cheryl. Aku bisa membuktiikan itu.” Andrew berujar dengan tegas seraya mencengkram tangan Jharna dengan erat. Matanya menyalak pada Jharna yang tetap berusaha tenang di tengah rasa takutnya.
“Kalau kamu bilang?” Jharna tersenyum sinis, mengecilkan ucapan Andrew. “Aku tidak suka menjadi pilihan. Kata kalau itu artinya kamu memposisikanku sebagai pilihan. Aku suka laki-laki yang penuh ketegasan. Tidak lemah, apalagi berada di bawah kaki seorang wanita. Keputusannya harus bulat dan tegas. Apa kamu bisa?” Jharna menyeringai tipis pada Andrew. Sekalian saja ia tantangi mantan suaminya.
__ADS_1
Andrew tidak lantas menimpali, ia melepaskan cengkaram tangannya pada Jharna. Benda pipih di sakunya ia keluarkan lalu ia mencari kontak seseorang di sana. Tidak lama ia melakukan penggilan, “Siapkan surat gugatan cerai untuk Cheryl,” ucap laki-laki itu seraya menatap Jharna dengan lekat.
Jharna hanya memalingkan wajahnya, tidak peduli sama sekali pada usaha Andrew. Belum tentu juga Andrew benar-benar melepaskan Cheryl. Itu terlalu berat untuk laki-laki yang tidak bisa hidup dengan satu wanita.
“Aku akan menceraikan Cheryl,” ucap laki-laki itu kemudian.
“Ya, akan.” Jharna memberi penegasan pada kata ‘Akan’ yang disebutkan Andrew.
“Tunggu aku, tidak akan lama.” Laki-laki itu terlihat begitu bersungguh-sungguh.
Jharna tidak menimpali, ia lebih memilih menjawab telepon Kelvin. “Ya sayang?” panggil Jharna semesra mungkin, tanpa mengalihkan pandangannya dari Andrew.
Kelvin yang mendengar jawaban Jharna, merasa sedikit aneh. Ia segera mengecek kembali panggilannya. Khawatir salah menghubungi. Setelah yakin ia menelpon Jharna, ia pun tersadar sepertinya ada seseorang di hadapan Jharna yang membuat wanita itu harus berdrama.
“Kirim lokasimu,” ucap Kelvin yang ketar-ketir.
“Kita ketemu di rumah aja ya Mas, aku akan menunggumu,” timpal Jharna dengan santai.
“Iya, aku akan segera pulang,” timpal Kelvin yang segera melepas topi operasinya. Ia mencuci tangannya dan tergesa-gesa mengganti bajunya. Setelah semuanya beres, ia segera menyambar kunci mobilnya dan berlari ke parkiran. Ia harus segera pulang.
“Tunjukan usahamu dengan memeprlakukannku sebaik mungkin. Antar aku pulang,” pinta Jharna setelah menutup penggilannya dari Kelvin.
__ADS_1
Terdengar hembusan napas kasar dari mulut Andrew, tetapi laki-laki itu tidak protes. Ia segera melajukan mobilnya untuk mengantar Jharna pulang. Sepertinya, ia tidak bisa berbuat lebih pada Jharna apalagi memaksanya.
****