
Sesal, jika boleh, maka hal itu yang saat ini sedang Andrew rasakan. Filosopi hidup seperti roda yang berputar, terkadang di atas dan sesekali di bawah, benar-benar dirasakan oleh Andrew. Sudah lebih dari delapan jam ia mengikuti prosedur pemeriksaan dan sekarang ia baru bisa keluar.
Wajahnya pucat pasi, pikirannya kacau. Semua pertanyaan yang ia dapatkan seperti sebuah hukuman saat ia harus mengingat kembali banyaknya kejahatan yang ia lakukan terhadap seorang Anjani. Tidak hanya kejahatannya yang seolah membantu Cheryl untuk melenyapkan Anjani, melainkan kejahatan secara mental yang mengintimidasi istrinya selama mereka menjadi pasangan suami istri.
Tuntutan dalam kasus persekongkolan atas usaha pembunuhan terhadap Anjani dan menjadi tuntutan yang berat serta menjatuhkan mental Andrew. Laki-laki itu seperti ingin menyerah jika saja dia tidak ingat pada seorang wanita tua yang menunggunya di rumah dengan harap-harap cemas. Andrew diperbolehkan pulang setelah ia dijemput oleh Carissa. Gadis itu yang saat ini dengan setia menemani sang kakak dan memastika Andrew mendapatkan hak hukumnya.
Melihat kedatangan Andrew, Widi segera berhambur untuk memeluk putranya. Di gendongan sang pengasuh ada Leon yang anteng dengan dotnya. Tangannya terulur meminta di gendong oleh sang ayah. Andrew tidak bisa menahan air matanya melihat dua orang di hadapannya. Mereka berangkulan, saling menguatkan satu sama lain.
“Akhirnya kamu pulang,” ucap Widi dengan suara bergetar dalam pelukan Andrew.
Andrew tidak bisa berkata-kata. Ia sudah cukup terpukul hingga tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya mengecupi pucuk kepala Widi. Air matanya pun tidak berhenti berderai terlebih saat melihat si kecil Leon.
“Sini nak,” Andrew mengulurkan tangannya untuk menggendong Leon. Bayi kecil itu langsung tersenyum saat berada di gendongan ayahnya. Matanya yang bulat menatap wajah Andrew yang berderai air mata. Tangan mungilnya menepuk-nepuk pipi Andrew, dengan tamparan kecilnya yang menggemaskan.
“Maafin papah ya nak,” ucap Andrew dengan berat hati.
__ADS_1
Leon yang belum paham apa-apa, hanya menatap wajah sang ayah dengan lekat. Perlahan bibirnya menipis dengan sudut mata yang basah. Tangis bocah itu pun pecah dengan nyaring melihat Andrew yang tidak bisa menahan air matanya. Meski belum paham, ia seperti bisa merasakan kesedihan sang ayah.
“Sus, tolong bawa Leon masuk,” pinta Widi pada akhirnya. Ia tidak mau membiarkan Andrew menunjukkan kesedihannya pada Leon. Ia pun tidak mau Andrew semakin merasa bersalah. Anak lelakinya ini sudah mau bertanggung jawab, maka baginya ini lebih dari cukup.
“Baik Nyonya,” perawat penjaga Leon pun segera mengambil alih Leon. Andrew mengecupi pipi anak itu sebelum kemudian memberikannya pada perawat.
“Nyonya, itu mamahnya den Leon bukan ya?” tanya seorang ART yang melihat sosok wanita yang di kenalinya di televisi.
“Astaga, coba besarin suaranya,” titah Widi. Sedari tadi televisi itu memang menyala untuk mencari berita keberadaan Cheryl. Dan sekarang berita itu memang ada. Narasinya cukup mengejutkan.
Sudah jatuh dan kali ini langit seperti runtuh. Widi jatuh terkulai lemah di sofa, nyaris tidak sadarkan diri. Wajah Cheryl terlihat jelas di layar kaca. Tubuh telanj^ngnya di tutupi oleh selimut yang entah milik siapa. Saat ada kamera yang merekamnya, wanita itu tertawa-tawa. Beberapa orang terdengar menyorakinya, namun wanita itu tetap tersenyum dengan ceria seolah tidak ada beban apa pun. Sesekali ia mengupat dengan tatapan tajam pada kamera yang mengabadikan wajahnya.
“Ya tuhan, kenapa harus kayak gini keluargaku?” ratap Widi seraya memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Air matanya terus meleleh tanpa bisa ia tahan. Tubuhnya gemetar dan tiga orang itu akhirnya hanya terdiam tanpa ada yang berbicara satu pun.
Inikah akhir keluarga Sanjaya? Semuanya terpuruk dan sulit untuk bangkit.
__ADS_1
****
Kamar menjadi tempat pelarian terbaik bagi Andrew. Setelah melihat semua berita di televisi, Andrew memilih untuk masuk ke kamarnya. Saat membuka pintu, yang pertama kali tercium adalah wangi parfum Cheryl. Meski wanita itu sudah tidak menghuni kamar ini, namun jejak-jejak keberadaannya masih terlihat jelas.
Entah itu foto pernikahan yang masih terpajang di dinding, pakaian Cheryl yang masih mengisi lemari, alat kosmetik yang tidak ia bawa pergi dan tentu saja semua kenangan yang campur aduk di dalam kamar mewah ini.
Andrew terduduk di tepian tempat tidur, memikirkan benar apa yang saat ini terjadi dalam hidupnya. Ia memijat kepalanya yang berdenyut pening setelah seharian ia memikirkan jawaban atas pertanyaan para penyidik. Ia ingin menyerah, rasanya melelahkan. Jika saja ia tidak ingat akan tanggung jawabnya, mungkin ia akan mengakhiri semuanya.
Laki-laki itu menangis pilu sendirian di kamarnya. Air matanya berderai-derai seiring ingatan atas semua kejahatan yang pernah dilakukannya. Ia memandangi sepasang tangan yang gemetar, tangan yang pernah menyakiti Jharna secara sengaja.
Tangan itu kini mengepal, memukul-mukul dadanya sendiri dengan kasar. Sesekali ia terbatuk saat pukulannya cukup telak di rongga dadanya. Ia juga menampari wajahnya sendiri, namun rasa sesal itu tidak lantas hilang, malah semakin menjadi.
"Harusnya aku tidak pernah bermain-main dengan Cheryl. Harusnya aku mengingat nasihat kakekku, bahwa wanita yang dia pilihkan akan menjadi istri yang terbaik untukku. Harusnya aku bisa lebih bertanggun jawab atas pilihanku. bodoh kamu Andrew, BODOH!!!" Andrew memaki dirinya sendiri. Ia berdiri di depan cermin, menatap sosok dirinya dengan penuh kemarahan. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang, selain mempertanggung jawabkan semua kesalahannya.
****
__ADS_1