
“Kamu nginep di rumahku aja ya,” bujuk Amilny saat mereka berkumpul di backstage studio. Mereka tidak bisa keluar dari studio karena awak media sudah menunggu mereka di luar. Mereka menunggu klarifikasi Jharna atas pernyataannya beberapa saat lalu.
Dina di sibukkan oleh deringan telepon yang tidak pernah berhenti sejak Jharna mengakui siapa dirinya sebenarnya. Semua pihak meminta Jharna untuk melakukan klarifikasi termasuk stasiun tv tempat ia syuting saat ini. Rekanan bisnis yang mengontraknya untuk banyak produk pun menunggu-nunggu pernyataan resmi Jharna. Semua orang sedang tidak baik-baik saja, terutama Jharna.
“Aku setuju, gak aman kalau kamu pulang. Orang-orang udah tau alamat kamu. Rumah mantan suami kamu aja sekarang di kepung sama wartawan. Nginep di hotel juga bahaya, karena awak media pasti bisa melacaknya.” Bobby menambahkan.
Jharna belum menjawab, ia masih terduduk di kursi sambil tertunduk memegangi kepalanya yang berdenyut pusing. Kenapa semuanya jadi sekacau ini? Karena emosi yang tidak tertahan, ia sampai tidak sadar kalau apa yang ia sampaikan akan memancing reaksi banyak orang dan merugikan dirinya sendiri.
“Jharna, Pak Arwin mau ngomong,” Dina menghampiri wanita itu dan memberikan ponselnya pada Jharna.
Jharna akhirnya menegakkan kepalanya. Wajahnya yang pucat pasi penuh kecemasan menatap Kelvin dengan lekat. Kelvin mengangguk pelan, “Jawablah. Dia pasti bisa nolong kamu,” ucap Kelvin seraya mengusap kepala Jharna dengan sayang. Ia pun mencemaskan wanita di hadapannya.
Jharna berusaha menegakkan tubuhnya. Tangannya yang gemetar membawa ponsel itu mendekat ke telinganya.
“Anjani, kamu baik-baik aja?” sapa suara di sebrang sana.
Bukannya menjawab, pertanyaan Arwin malah membuat air mata Jharna lolos menetes. Setelah Kelvin dan ketiga sahababatnya, Arwin adalah orang ke sekian yang menanyakan kabarnya.
“Hey, jangan menangis. Ini bukan waktunya kamu menangis. Sudah cukup air mata dan penderitaan kamu selama setahun kemarin. Sekarang waktunya untuk bangkit, saya ada di pihak kamu, akan membela kamu. Jangaan pikirkan apa pun, tenang saja,” layaknya seorang ayah, Arwin berbicara dengan penuh kasih.
Jharna mengangguk pelan, ia mengusap air matanya yang berderai. Satu tangannya menggenggam tangan Kelvin yang sedari tadi tidak ia lepaskan.
__ADS_1
“Apa yang harus saya lakukan?” tanya Jharna dengan suara bergetar.
Melihat Jharna yang terisak, Kelvin segera membawa wanita itu ke pelukannya. Mengusap bahunya dengan lembut untuk menenangkan wanita yang ia cintai.
“Hadapi, jangan takut. Kamu berada di pihak yang benar, yang kamu ungkapkan pun sebuah kebenaran. Beranilah memperjuangkan keadilan untuk dirimu sendiri. Ini kesempatan kedua yang tuhan berikan, jangan lemah apalagi menyerah hanya karena banyak orang yang memperhatikan gerak-gerikmu.”
Arwin berujar dengan menggebu-gebu. Sungguh ia bahagia mendengar Anjani masih hidup, Wanita yang pergi setelah meminta pembatalan perceraiannya ini, ternyata masih hidup setelah dinyatakan meninggal tenggelam di lautan lepas.
“Iya,” Jharna menyahuti dengan pelan. Ia mengusap air matanya dengan kasar.
“Jani, saya sudah menghubungi pihak kepolisian. Bagaimana pun kamu korban pembunuhan yang selamat. Mereka bersedia melindungi kamu dan kasus hilangnya kamu di buka kembali, sebagai kasus pembunuhan. Sekarang, kamu tenangkan diri kamu. Karena besok, kita harus melakukan konferensi pers atas pengakuan kamu. Banyak orang yang menunggu, terutama klien bisnis kamu. Kamu paham kan?” lagi Arwin yang berbicara dengan tegas.
“Ya, saya paham.” Jharna menjawab dengan tegas.
“Iyaa, saya akan menyiapkan semuanya.” Kalimat itu terdengar berani, membuat orang-orang di samping Jharna menghembuskan napas lega.
Beberapa saat kemudian panggilan pun terputus. Jharna menatap Kelvin dengan lekat. "Bawa aku ke tempat yang menurut kamu aman, Vin,” pinta Jharna seraya mengeratkan genggaman tangannya.
“Tentu. Aku akan memastikan kamu aman bersamaku.” Laki-laki itu berujar dengan penuh keyakinan. Di usapnya sisa air mata Jharna sebelum kemudian ia peluk dengan erat wanita itu. “Tenanglah, kamu gak sendirian Jharna,” bisik Kelvin yang membuat Jharna mengangguk. Satu kecupan di berikan Kelvin di pucuk kepala Jharna dengan penuh kasih. Ia yakin, ini langkah paling tepat. Cepat atau lambat Jharna harus menghadapi semuanya dan menyelesaikannya. Wanita ini begitu berani mengungkap semuanyaa demi menjaga nama baik Kelvin. Kelvin sungguh menghargai itu.
Di tempat berbeda, kedatangan Carissa benar-benar di nanti. Widi menunggu wanita itu di pintu belakang karena di depan rumah sudah di penuhi oleh wartawan yang menunggu penjelasan Cheryl dan keluarganya.
__ADS_1
Gossip tentang Jharna menyebar seperti butiran kapas yang tertiup angin. Semua media membicarakan hal tersebut. Foto Anjani di masa lalu pun mulai menyebar dan itu membuat Cheryl semakin panik. Ia membaca satu postingan di media sosial dengan tulisan, “Liat deh, tanggal 16 juli itu keluarga kak Jani mengadakan acara empat bulanan calon bayinya, tapi malem hari di tanggal yang sama si C posting makan malam sama suami kak Jani. Fokus sama jam tangan dan baju yang dipakai cowoknya, biar pun mukanya gak keliatan, tapi outfitnya sama kan? Jahat banget, mereka bahkan pacaran pas kak Jani lagi hamil. Gak punya hati banget,” tulis salah satu netizen pada foto yang ia posting.
“Akh brengsek! Mereka buka-buka akun media sosial aku sama mantan istri kamu itu. Sialan!” teriak Cheryl dengan kesal. Ia sampai melempar ponselnya hingga terlontar jauh. Rambutnya yang terurai, ia acak dengan kesal hingga tidak beraturan. Napasnya terengah dengan mata merah menyalak dipenuhi amarah.
“Kamu bisa tenang gak sih?! Ini Carissa udah datang!” seru Widi dari arah pintu belakang.
“Ya, apa yang bisa dia lakukan? Coba, gue mau denger!” seru Cheryl yang tidak sabaran. Wanita itu menatap Carissa dengan sinis, sejak dulu dua wanita ini memang tidak bisa akur. Jangan lupa, kalau wanita ini juga yang membuat Carissa memutuskan keluar dari kediaman Sanjaya.
“Kamu yang sopan Cheryl! Duduk! Jangan malah berkacak pinggang begitu!” Andrew langsung mengultimatum.
Cheryl mencebik sebal, ia terpaksa duduk sambil bersidekap dan tumpang kaki. Tatapannya sangat sinis pada Carissa. Sementara gadis itu tampak tenang saja. Ia duduk di samping sang ibu, berhadapan dengan Andrew.
“Sayang, kamu tau kan, apa yang terjadi sekarang? Seseorang mengaku dirinya sebagai Jani yang masih hidup. Dia juga ngomong sembarangan di acaranya Cheryl. Ini pencemaran nama baik. Kamu harus bantu mereka,” ucap Widi pada sang putri.
Carissa tersenyum dalam hati, tentu saja ia tahu. Gadis ini malah tahu lebih dulu sebelum orang-orang ini.
“Kamu bisa bantu kan? Kita tuntut balik wanita itu karena berani ngomong tanpa dasar. Gak ada bukti juga. kalau pun dia benar-benar Anjani, boleh lah tuhan ngasih dia kesempatan hidup untuk kedua kalinya, tapi kita gak boleh ngasih dia kesempatan ngehancurin keluarga kita untuk kedua kalinya.”
“Cukup dia menghancurkan kita waktu kakakmu di paksa menikahinya. Mamah juga gak yakin kalau wanita itu benar-benar Anjani. Mungkin aja dia cuma ngaku-ngaku buat ngehancurin kita. Walau pun wajah seseorang bisa berubah setelah operasi, gak mungkin kan secantik itu? Dia pasti cuma ngaku-ngaku buat menciptakan konspirasi terhadap Perusahaan kita dan menghancurkan keluarga Sanjaya. Kamu harus bertindak tegas Carissa. Ini demi keluarga kita.” Widi begitu menggebu-gebu.
Carissa tersenyum kecil melihat sikap sang ibu yang ketakutan. Dulu saja wanita ini tega mengusirnya karena lebih membela Cheryl di rumah ini. Giliran sekarang, dia memohon pada Carissa. Padahal gara-gara perempuan itu kuliahnya nyaris gagal dan membuatnya nyaris menyerah.
__ADS_1
Tetapi apa boleh buat, bagi Carissa mereka tetap keluarga terdekatnya. “Aku bisa bantu kalian,” ucap Carissa dengan tenang.