
Tatapan penuh keterkejutan terlihat jelas di mata seorang wanita yang sudah tidak muda lagi. Lingkar matanya yang di dominasi kerutan, perlahan dibasah oleh bulir air mata yang pecah di sudut netra beningnya.
Tangannya bergegas merangkul sang putri yang tidak ia duga kedatangannya. Tangan kasarnya yang biasa ia gunakan untuk mencabuti rumput di ladang, sekarang ia usapkan pada punggung putrinya. Nyaman, ya bagi Jharna ini sangaat nyaman. Tidak ada belaian yang lebih lembut dan hangat dari belaian penuh kasih milik sang ibu.
Kerinduan yang membuncah keduanya tumpahkan saat ini juga.
“Masuklah,” ucap Paridah seraya melerai pelukannya. Ia membiarkan Jharna dan Kelvin masuk lebih dulu masuk ke dalam rumahnya sambil menahan rasa sesak di dada. Pintu kayu itu ia tutup rapat-rapat agar tidak ada yang melihat wanita yang saat ini sedang menjadi incara para wartawan.
Jharna duduk lebih dulu, ia memperhatikan sosok Paridah yang tidak lagi muda. Langkah kakinya tertatih-tatih karena terjatuh saat mendengar berita tentang Anjani di televisi.
“Ibu,” ucap Jharna saat melihat ibunya kesulitan melangkah.
Beruntung Kelvin segera meraih tangan wanita itu, menggenggamnya dengan erat dan membantunya berjalan hingga membawanya duduk di samping Jharna.
Wanita itu tersenyum samar, pada laki-laki yang datang bersama putrinya. Lelehan air mata tampak jelas dan tidak bisa ia sembunyikan.
“Perkenalkan Bu, ini Mas Kelvin,” Jharna memperkenalkan laki-laki yang selalu setia di sampingnya.
“Ya, apa kabar?” suara bergetar Paridah terdengar lemah.
“Kabar baik Bu, ibu apa kabar?” Kelvin menimpali dengan santun.
Wanita itu tidak lantas menjawab, ia mengusap pipi kiri Jharna yang ia tangkup dengan tangan kanannya. “Lebih baik, setelah melihat kalian datang,” Wanita itu menatap Jharna dan Kelvin dengan lekat dan bergantian.
__ADS_1
“Maaf karena Jani udah bikin ibu cemas,” ungkap Jharna dengan rasa sedihnya. Dari suara televisi yang menyala, sudah dipastikan kalau sepanjang waktu ibunya menonton acara gossip yang membahas permasalahan putrinya. Entah itu murni kisah yang sesungguhnya atau telah di bumbui banyak peristiwa yang pantas terjadi menurut mereka.
Orang-orang baru yang sedang mencari panggung pun bermunculan, mengaku mengenal Jharna atau pun Cheryl dan Andrew. Jharna sudah tidak memperdulikan itu, yang terpenting baginya saat ini, kondisi ibunya baik-baik saja. Apa yang ia alami tentu menjadi guncangan hebat bagi ibunya yang tidak mengetahui detail masalah putrinya.
“Yang penting kamu selamat dan ibu masih bisa liat kamu.” Wanita itu berujar dengan sungguh. Matanya masih basah dan Jharna usap dengan ibu jarinya yang lembut. Paridah memegangi tangan putrinya yang berada di pipi kirinya, ini nyata, putrinya baik-baik saja setelah menghadapi badai ujian yang sangat besar.
“Ibu dengar di televisi, nak Kelvin ini yang menyelamatkan nyawa anak ibu, benar?” Perhatian Paridah kali ini berpindah pada sosok Kelvin yang ikut mengharu biru.
Laki-laki itu tersenyum tipis, terlihat jelas kalau ia seseorang yang tulus. “Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, Bu. Selebihnya, itu campur tangan tuhan dan semangat Jani yang kuat untuk bertahan dan berjuang.” Kelvin menyahuti dengan bijak. Laki-laki itu mendapat senyuman haru dari wanita tua yang ikut terluka atas apa yang menimpa putrinya.
Kedatangan Jharna sebelumnya, tidak menjelaskan peristiwa yang dialaminya secara detail. Tetapi saat pengakuan Jharna di liput media, semakin banyak saja informasi lengkap dan mengerikan yang didengar Paridah.
“Kamu anak yang baik, ibu gak bisa membalas denganapa pun selain mendo'akan agar hidupmu selalu bahagia,” Paridah berujar dengan sungguh dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Hah, ibu masih berasa mimpi, melihat kalian datang tiba-tiba.” Paridah mengusap sisa air mata di pipinya. Bagi wanita tua ini, sekarang bukan saatnya untuk ia menangis. Ini waktunya untuk berbahagia, melihat putrinya pulang dalam keadaan baik-baik saja.
“Ini bukan mimpi lagi Bu, Jharna akan selalu ada di samping ibu, menemani ibu sepanjang waktu.” Tangan kisut milik Paridah Jharna bawa untuk menangkup wajahnya, karena rasanya sangat nyaman.
“Ya, ibu juga gak mau pisah lagi sama kamu.” Wanita itu mengamini ucapan Jharna. “Ngomong-ngomong, apa kalian udah makan?” Paridah menatap dua orang itu bergantian.
“Ibu gak usah khawatir, Jharna bisa bikin makanan sendiri.”
“Jangan, ibu udah lama gak masakin kamu. Sebaiknya, kamu antar nak Kelvin ke kamarnya, biar ibu siapkan makanan. Hem?” tawar Paridah.
__ADS_1
Jharna hanya mengangguk, ia tidak mau membantah sang ibu. Menyiapkan makanan untuk anaknya adalah salah satu kebahagiaan wanita itu dan Jharna tidak mau merusaknya.
Masing-masing beranjak dari tempatnya. Paridah pergi ke dapur, sementara Jharna mengantar Kelvin ke salah satu kamar di rumahnya. Kamar yang tidak terlalu luas dan hanya berukuran 3x3.5 meter dengan ranjang kecil yang hanya muat untuk satu orang saja. Sebagian dinding kamarnya bahkan masih terbuat dari kayu. Paridah enggan menggantinya dengan tembokan karena rumah ini di bangun oleh suaminya dengan susah payah, tidak ada yang ingin ia ubah sedikit pun.
“Mohon maaf ya Mas, rumahku jauh dari kesan mewah,” ucap Jharna saat membuka pintu kamar untuk Kelvin.
“Hey, kamu ngomong apa sih? Emang aku pernah menuntut sesuatu yang mewah dari kamu?” tanya laki-laki itu. Ia memandangi sekeliling kamar yang nyaman. Terasa benar-benar seperti berada di dalam rumah.
“Nggak,” sahut Jharna. Ia terduduk di tepian tempat tidur dan memandangi Kelvin yang melihat keluar sana dari jendela. Hamparan kebun kol terlihat jelas dari jendela kecil ini. Perlu sedikit merunduk untuk melihat keluar sana karena tubuhnya yang jangkung.
“Karena Mas gak meminta apa pun sama aku, maka aku merasa belum bisa memberi apa pun sama Mas.” Wanita itu melanjutkan kalimatnya.
Kelvin segera menoleh wanita yang terdengar sedih itu. Lantas menghampirinya dan bertekuk lutut di hadapan wanita yang ia cintai.
“Hey, kata siapa kamu belum ngasih apa pun buat aku?” laki-laki itu menggenggam tangan Jharna dengan erat. Netra pekatnya menatap Jharna dengan hangat
“Banyak hal yang udah kamu kasih buat aku dan itu lebih dari cukup. Aku justru berterima kasih karena kamu mengizinkanku untuk masuk ke hidup kamu yang penuh ketenangan ini. Mendapatkan untaian do’a dari wanita yang begitu berarti buat kamu. Itu lebih dari sekedar cukup. itu melimpah buat aku Jharna.” Kelvin berujar dengan penuh kesungguhan.
Bibir menarik milik Jharna mengurai senyum tipis nan haru. Kalimat Kelvin barusan telah membungkam mulutnya. “Jangan lagi mengatakan hal seperti itu ya. Jangan terus-terusan berterima kasih sama aku. Kamu bagian dari hidup aku, hanya itu yang harus kita syukuri dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada semesta yang mempertemukan kita,” tandas Kelvin.
Jharna tidak menimpali, ia lebih memilih memeluk Kelvin yang ada dihadapannya. Beberapa saat saja untuk saling menunjukkan keberadaan untuk satu sama lain.
***
__ADS_1