Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Undangan


__ADS_3

Kelvin menunggu dengan tidak sabar kedatangan Jharna yang katanya akan pulang hari ini. Sudah setengah jam ia menunggu di Bandara untuk menjemput wanita yang sangat ia rindukan. Padahal hanya sehari semalam mereka tidak bertemu, tetapi perasaan rindu dan kehilangan itu jelas sangat terasa. Terduduk di kursi tunggu, kakinya bergerak dengan gelisah. Jika penerbangan Jharna lancar, harusnya lima menit lalu wanita itu sudah tiba.


“Kenapa lama sekali?” Kelvin kembali berdiri. Rasa rindu dan khawatirnya membuat laki-laki itu begitu tidak sabaran. Beberapa kali ia mengecek jam tangan di lengan kirinya. Satu dua detik berlalu terasa seperti satu abad. Ia berjalan mondar mandir, dari satu sudut ke sudut lainnya kemudian duduk lagi.


Ia menyandarkan kepalanya dengan lemah di dinding, memandang ke arah pintu kedatangan. Matanya membulat saat seorang wanita berkacamata hitam melewati pintu keluar. Kelvin segera berdiri dan berjalan tergesa-gesa menghampiri Jharna. Kedua kakinya nyaris berlari, tidak sabar menemui wanita yang sehari semalam tidak di lihatnya.


“Hay!” sambut Kelvin dengan wajahnya yang cerah. Seperti ada jutaan energi yang mengisi tubuhnya sesaat setelah melihat Jharna.


“Hay,” tanpa di duga, Jharna tiba-tiba memeluk Kelvin dengan erat. Laki-laki itu sampai terhenyak kaget sembari membungkuk tertarik oleh rengkuhan Jharna. Antara kaget dan senang mendapat pelukan tiba-tiba dari wanita di hadapannya.


Di rangkulnya tubuh langsing Jharna dan ia usap punggungnya dengan lembut, ia berucap syukur Jharna pulang dalam keadaan baik-baik saja setelah berhadapan dengan kenangan pahitnya. Dadanya yang semula berdebar sangat kencang, mulai menemukan melodi yang pas antara debaran rindu dan kelegaan.


“Aku menemukan sesuatu di sana,” bisik wanita itu seraya tersenyum.


“Apa?” Kelvin penasaran. Ia pikir kalimat ‘aku merindukanmu’ yang akan ia dengar lebih dulu dari mulut Jharna.


“Aku ceritakan di rumah ya,” Jharna melepaskan rangkulannya, membuat Kelvin terpaksa melepaskan tubuh Jharna yang sedikit terangkat ke udara.


“Iya, ayo kita pulang.” Seolah sudah memiliki rumah bersama, Kelvin menyahuti dengan semangat. Jharna mengangguk tidak kalah semangat, bibirnya tersenyum lebar dengan binar mata yang cerah. Entah apa yang akan ia ceritakan hingga wanita ini terlihat begitu bahagia. Apa mungkin kenangan romansanya bersama sang mantan suami? Akh, hati Kelvin mendadak ketir.


Dua orang itu berjalan dengan cepat meninggalkan Bandara. Masuk ke dalam mobil dan melintasi jalanan yang tidak terlalu macet. Sesekali Kelvin menoleh wanita di sampingnya, wanita yang selalu tersenyum dan membuatnya penasaran.


“Gimana perjalanannya, apa lancar?” tanya Kelvin. Ia rindu pada suara riang Jharna yang hobby berceloteh setelah seharian kemarin tidak di dengarnya.


“Ya, cukup lancar. Ada sedikit penundaan, katanya kabut terlalu tebal, mungkin karena memasuki musim hujan jadi banyak awan gelap. Tapi saat terbang, semuanya lancar aja, gak ada kendala apapun.” Jharna memang selalu tahu cara menenangkan Kelvin, laki-laki itu butuh penjelasan yang lengkap dan terperinci.


“Syukurlah.” Ada banyak kelegaan dari satu kata yang diucapkan Kelvin.


“Gimana di rumah sakit, apa lancar?” Jharna menyerongkan tubuhnya agar menghadap Kelvin.


“Ya, sangat lancar. Kemarin aku ada op dua orang pasien. Dan kamu tau, salah satunya adalah adik dari langganan ku saat di Singapore. Katanya dia mencariku selama ini,” Kelvin bercerita dengan antusias.


“Waw! Itu kabar yang bagus Vin. Itu artinya pasien-pasien kamu sebenarnya masih menaruh kepercayaan sama kamu, Vin.” Jharna tambahkan lagi semangat Kelvin dengan menyentuh lengan atas Kelvin.


“Ya, aku juga gak nyangka. Aku pikir pasien-pasienku udah pada kabur dan takut datang padaku. Ternyata mereka masih mengingatku. Padahal sekarang ini ada banyak dokter baru yang booming di sana. Terbang sedikit ke Korea, mereka bisa mendapatkan pelayanan yang lebih paripurna. Itulah mengapa aku sempat tidak yakin kalau akan ada pasien yang bersedia mendatangiku.” Kelvin tersenyum kecil, mengingat bagaimana senangnya ia kemarin.


“Alasannya simple, karena mereka percaya sama kamu, Vin.” Jharna mengusap lengan Kelvin dengan lembut untuk menyemangati laki-laki itu.


“Ya, aku bersyukur untuk itu. terima kasih,” ungkap laki-laki itu seraya menoleh Jharna. Teman yang paling asyik di ajak berbincang karena bisa saling menguatkan dan menyemangati.


Hampir satu jam perjalanan, Jharna dan Kelvin tiba di rumah mereka.


“Aaahh... aku rindu suasana rumah ini. Wangi parfumnya terbayang-bayang terus.” Jharna berputar-putar sambil menengadahkan kepala serta merentangkan tangannya, menghirup aroma ruangan yang terasa begitu lama ia tinggalkan.


Kelvin ikut tersenyum melihat tingkah wanita itu, ia berjalan dengan santai menuju dapur.

__ADS_1


“Mau apa?” tanya Jharna yang kaget melihat Kelvin pergi ke dapur.


“Aku semalem nyoba bikin minuman dari kopi dan rasanya sangat enak. Cocok untuk menemani kita mengobrol.” Laki-laki itu mengeluarkan susu full cream dalam kemasan dan menaruhnya di atas meja. Ia juga mengambil dua buah gelas dan gelas shaker.


“Tumben kamu minum kopi malam-malam,” Jharna menghampiri Kelvin dan memperhatikan laki-laki itu saat membuat minuman.


“Iyaa, iseng aja....” sahut Kelvin sekenanya. Sebenarnya ia menunggu kabar dari Jharna, siapa tau wanita ini akan menelponnya. Tetapi sampai tengah malam tidak ada kabar dari wanita ini, baru dini hari tadi Jharna mengabari kalau ia akan pulang.


Laki-laki itu mulai meramu minuman yang akan ia buat. Memasukkan kopi sachet, lalu menambahkan air panas. Mencampurnya dengan sendok lalu menambahkan susu cair.


“Pake es batu gak?” tanya Jharna.


“Oh ya, es batu.” Kelvin baru ingat, ia terlalu menikmati membuat kopi ditemani Jharna.


Jharna segera mengambil es batu di dalam kulkas dan membawakannya pada Kelvin. “Boleh aku masukin?” tanya wanita itu.


“Wait, aku shake dulu.” tangan kokoh Kelvin memegang gelas shake dengan kuat lalu mengocok kopi itu dengan cepat. Hanya beberapa saat dan segera ia tuangkan ke dalam dua gelas.


“Waaawww... kok wangi gitu ya Vin?” mata Jharna terpejam sambil menghirup wangi kopi yang sudah di tuangkan.


“Iyaa, makanya aku bilang enak banget. Tinggal di kasih es batu.”


“Okey!” Jharna segera memasukkan es batu pada dua gelas itu.


“Ini enak banget Vin,” ungkap Jharna.


“Iya enak, tapi gak perlu di sisain di bibir segala. Nanti aku bikinin lagi,” ucap Kelvin seraya mengusap busa kopi di atas bibir Jharna.


“Oh astaga,” ucap Jharna yang tidak sadar ada busa kopi di bibirnya.


Kelvin tersenyum gemas melihat ekspresi Jharna yang begitu menarik. Ia mengusap bibir Jharna pelan-pelan dan cukup lama. Tatapannya begitu lekat pada wanita yang ada di hadapannya, membuat jantung Jharna tiba-tiba berdebar cukup kencang.


“A-aku mau cerita Vin. Kita sambil duduk, yuk!” mendadak suasana terasa begitu canggung. Ia sadar benar dengan tatapan Kelvin yang berisi banyak perasaan.


“Oh, ya ayo kita duduk.” Kelvin segera mengakhiri usahanya untuk mengusap bibir Jharna. Ia membiarkan wanita itu pergi lebih dulu menuju sofa, baru lah ia menyusul setelah ombak di dadanya tidak lagi berdeburan.


Dua insan itu duduk berhadapan, kopi mereka di taruh di atas meja. Jharna mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Benda kecil berwarna hitam.


“Aku, dapet ini dari sopir yang mengantarku ke hotel tempat Cheryl menginap.” Jharna menunjukkan benda kecil itu pada Kelvin.


“Apa isinya?” sungguh, Kelvin sangat penasaran.


“Rekaman saat Cheryl mendorongku. Andrew saksinya saat itu dan dia gak melakukan apa pun. Tidak menolongku dan hanya melihatku saat Cheryl menendangku hingga aku jatuh ke laut,” terang Jharna dengan percikan kemarahan yang mulai terlihat.


Kelvin mengambil benda kecil itu dari tangan Jharna. “Boleh aku liat isinya?”

__ADS_1


Jharna mengangguk mengiyakan. Kelvin segera mengeluarkan ponselnya dan memasukkan kartu memori itu di salah satu slot simcardnya. Ia membukanya di ponsel dan melihat sendiri rekaman saat Cheryl mendorong Jharna. Ada perdebatan yang terjadi antara Cheryl dengan Andrew, namun pada akhirnya mereka membiarkan Jharna terjatuh.


Sungguh, Kelvin tidak bisa berkata-kata melihat kejadian itu. Ia menoleh Jharna yang bersidekap sambil termenung mengingat kembali reka adegan yang membuatnya tidak bisa tertidur sepanjang malam. Di lihat dari sudut pandang sopir itu, kejadian tersebut memang cukup memberi trauma. Ia paham benar jika kemudian sopir yang mengantarnya itu sampai setengah depresi setelah menyaksikan kejadian itu.


“Kamu akan menuntut mereka?” tanya Kelvin kemudian.


“Entahlah. Yang jelas aku mau ngasihin bukti ini ke pengacaraku. Aku harap, dia gak kaget. Tapi, aku butuh bantuan kamu Vin, bantuan untuk menjelaskan apa yang terjadi sama aku. Apa kamu bisa?” tanya Jharna kemudian.


“Tentu, aku pasti bantu kamu.” Kelvin menyahuti tanpa ragu.


Jharna bisa menghembuskan napasnya lega, laki-laki ini memang selalu ada untuknya.


Sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatian dua orang tersebut. “Aku buka sebentar,” Kelvin yang berinisiatif beranjak.


“Hem,” Jharna hanya mengangguk, tetap terduduk di sofa dengan pikiran yang masih berkecambuk.


“Selamat sore,” sapa sebuah suara yang familiar saat Kelvin membukakan pintu.


“Selamat sore, nyonya Sanjaya,” timpal Kelvin.


“Aduh maaf saya mengganggu waktunya. Apa Jharna ada?” tanya wanita itu, sambil melongok ke dalam rumah.


“Ada, dia sedang beristirahat. Ada yang bisa saya bantu? Biar saya sampaikan.” Kelvin sengaja pasang badan untuk Jharna. Ia yakin kalau wanita itu masih memerlukan waktu sebelum bertemu dengan Widi.


“Iyaa, saya mau mengundang nak Kelvin dan nak Jharna untuk makan malam di rumah kami sebagai ucapan terima kasih, apa bisa?” tanya wanita itu penuh harap.


“Emm, saya harus ke rumah sakit malam ini, tapi saya coba tanya Jharna dulu. Dia baru kembali dari luar kota.” Kelvin menjawab dengan diplomatis.


“Oh yaa... kalau begitu, silakan di sampaikan dulu yaa... saya tunggu loh....” Widi tampak begitu antusias.


“Tentu, terima kasih undangannya.” Hanya itu sahutan Kelvin. Ia tidak menawarkan untuk masuk, karena ia tidak yakin kalau Jharna siap menghadapi wanita itu.


“Iyaa, sama-sama. Kalau gitu saya permisi dulu. Mari....” Widi pun segera pamit. Kelvin hanya mengangguki lantas menutup pintu setelah Widi pergi.


Entah seperti apa ia harus mengajak Jharna, ia tidak yakin kalau wanita itu mau.


“Ada apa, Vin?” Jharna terlihat penasaran. Ia hanya mendengar kalau ada Nyonya Sanjaya, namun entah apa maksud kedatangannya.


“Dia ngundang makan malam, katanya sebagai bentuk terima kasih. Kamu mau datang?” tanya Kelvin seraya mendudukan tubuhnya di samping Jharna. Jharna tampak berpikir dengan serius, ia menatap Kelvin seperti meminta saran. “Kalau kamu gak nyaman, gak harus memaksakan datang,” imbuh Kelvin.


Jharna masih tampak berpikir, entah ia akan datang atau tidak.


Menurut kalian, apa harus datang?


****

__ADS_1


__ADS_2