
Matahari bulat penuh itu, masih malu-malu untuk keluar dari peraduannya. Cahayanya yang kekuningan perlahan menyingkap tabir malam yang pekat. Rasa dingin berganti hangat, memberi semangat dan harapan baru bagi mereka yang masih merajut mimpi yang tertunda.
Seperti sepasang insan yang saat ini sedang berjalan-jalan di tepian jalan setapak sambil berpegangan tangan. Mereka adalah Jharna dan Kelvin yang berjanji akan melihat matahari terbit di atas bukit secara bersama-sama.
Langkahnya kian pasti melewati jalanan terjal yang sedikit menanjak. Sesekali Kelvin berjongkok, menawarkan punggungnya pada Jharna yang tampak kelelahan karena berjalan cukup jauh. Setiap kali Kelvin menawarinya, wanita itu selalu berkata, "Aku masih kuat, cukup pegangin tangan aku aja," ujar wanita itu, dengan napas terengah dan wajah yang memerah.
Kelvin mengiyakannya, meski sesekali ia menggoda Jharna dengan memaksa ingin mengendong wanita itu dari belakang lalu sedikit mengangkat tubuh yang ia bopong ke udara. Jharna berontak sambil tertawa-tawa kecil, merasakan geli yang sangat saat tangan Kelvin melingkarkan tangannya di perutnya, sambil mengusapkan jambang tipisnya di leher Jharna.
"Mass, astaaggaa, geli tau," ia berusaha melepaskan dirinya dari rengkuhan Kelvin. Saat berhasil terlepas, ia segera berlari menjauh dari Kelvin sambil meledek kekasihnya dengan membuat mimik wajah lucu, lidah yang memelet dan mata yang menyipit.
Dua tangannya di atas kepala membentuk telinga kelinci. Saat Kelvin hendak mengejarnya, wanita itu segera berlari menghindar diiringi dengan suara tawa yang menbuat dada Kelvin terasa nenghangat. Ceria sekali.
Jharna dan Kelvin masih berkejaran dan baru berhenti saat berhadapan dengan jalan berbukit yang cukup terjal. Kali ini Kelvin berjalan di depan, mencari jalan yang aman untuk mereka pijak.
Setelah menemukan jalan setapak yang aman, laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Jharna, mengajak wanita itu untuk naik. Beberapa langkah mereka pijaki untuk sampai ke atas bukit.
Sekitar lima menit mereka berjalan di jalan setapak yang menanjak dan Membawa mereka ke atas bukti. Napas keduanya masih terengah-engah setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan. Namun rasa lelah itu seperti terbayar lunas saat melihat pemandangan yang indah di bawah sana.
Kelvin melihat jam di tangannya, harusnya beberapa saat lagi matahari terbit akan terbit sempurna. Menyingkap kabut tipis yang menutupi ladang sayuran milik petani di bawah lereng bukit.
"Dulu aku sering ke sini untuk melihat matahari terbit atau tenggelam. Pemandangannya sangat bagus, aku juga bisa menghirup udara yang sangat segar," ungkap Jharna mengingat kenangannya di masa lalu.
Mata indahnya tampak berbinar melihat pemandangan yang sudah lama tidak ia saksikan keindahannya. Lahan yang rimbun di bawah sana sudah mulai ditebangi, berganti menjadi pemukiman padat penduduk. Tetapi hal itu tidak mengurangi indahnya pemandangan di pedesaan ini.
"Aku jadi penasaran, seindah apa sih saat mataharinya terbit? Apa lebih indah dari matahari yang aku punya?" tanya Kelvin yang tiba-tiba memeluk Jharna dari belakang.
__ADS_1
"Astaga!! Mas ikh... aku kaget tau," Jharna terhenyak saat tangan kokoh Kelvin melingkari pinggangnya. Menempelkan tubuhnya pada tubuh Jharna yang singset
"Aku juga kaget, bisa mendapatkan kesempatan buat meluk kamu kayak gini?" Bukannya melepaskan, pelukan Kelvin malah semakin erat.
"Gombal!" ejek Jharna yang mulai menikmati pelukan Kelvin. Ternyata tidak pemandangannya yang indah, perasaan Jharna yang bergejolak pun terasa indah.
"Emang gak boleh ya aku gombal?" Kelvin berbisik lirih di telinga Jharna.
"Boleh, coba aku mau denger gombalan Mas yang lainnya," Jharna balas menantang. Ia menoleh Kelvin yang ada di belakangnya.
Laki-laki itu tersenyum kecil, mendekatkan wajahnya pada Jharna. Matanya yang tajam, menatap sepasang mata bening milik Jharna. Tangan kokohnya semakin erat saja memeluk Jharna. Lantas bibir tipisnya itu tersenyum dan berucap,
"Aku cinta sama kamu, Jani. Sangat cinta," ungkap Kelvin dengan tatapan mata yang lekat pada Jharna seolah menembus jantung hati wanitanya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Kamu adalah hidup dan semangatku, sumber kebahagiaanku. Kamu adalah,"
"Aku juga mencintaimu Mas," timpal Jharna dengan suaranya yang lembut.
"Hah, apa? Aku gak denger," kali ini Kelvin malah mencandai wanitanya.
"Aku cinta kamu Mas, aku cinta, emmp...."
Kalimat Jharna tidak terdengar jelas karena bibir Kelvin sudah lebih dulu membungkamnya. Ia memagut bibit Jharna dengan lembut dan dalam, memberi sensasi gigitan kecil yang di balas oleh Jharna.
Wanita itu membalik tubuhnya menghadap Kelvin, serta merta melingkarkan tangannya di leher Kelvin, smentara Kelvin menangkup kedua sisi wajah Jharna dan memperdalam ciumannya.
__ADS_1
Lidahnya mulai menerobos rongga mulut Jharna, bergriliya mengabsen seisi rongga mulut, saling berkukar saliva hingga berbunyi berdecapan.
Jharna sampai terengah nyaris kehabisan napas dan Kelvin terpaksa mengakhiri serangannya pada Jharna. Mereka terdiam beberapa saat, menghela napas dalam untuk mengisi rongga dadanya yang kehabisan okseigen.
Lantas keduanya saling tersenyum bersamaan dengan matahari yang terbit di ufuk timur. Cahayanya yang kekuningan, menyapa lembut wajah sepasang insan yang sedang saling mencintai itu.
"Terima kasih, telah mengisi hidupku Jani. Aku bersyukur memilikimu di hidupku dan menyempurnakan semuanya. Menikahlah denganku dan kita menua bersama dengan penuh kebahagiaan," ungkap Kelvin seraya menunjukkan sebuah cincin yang ia simpan dalam saku celananya.
Mata Jharna berbinar tiba-tiba mendapat kejutan yang tidak terduga dari Kelvin. Ia menatap tidak percaya pada sebuah cincin yang berkilauan saat terkena cahaya matahari. Sungguh ia tidak menyangka kalau Kelvin akan melamarnya di sini. Di saat matahari terbit dan memberinya hidup yang baru.
"Pakaikan cincin itu Vin, aku gak akan menolaknya," pinta Jharna.
Dengan senang hati Kelvin melerai pelukannya beberapa saat, meraih tangan kiri Jharna lalu ia sematkan benda kecil melingkar itu di jari manis Jharna. Dipandanginya jemari lentik itu dengan penuh rasa haru lantas ia kecup.
Jharna tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Mata almondnya sampai berkaca-kaca melihat dirinya yang sempat merasa tidak berharga diperlakukan sebaik ini. Ia bertemu dengan rasa itu, rasa di mana ia yakin kalau ia bertemu dengan laki-laki yang tepat.
"Kamu menyukainya?" tanya Kelvin seraya menatap sepasang mata Jharna yang penuh kemilau kebahagiaan.
Wanita itu mengangguk pasti. "Sangat, aku sangat menyukainya. Terima kasih banyak Vin," ungkap Jharna dengan penuh rasa syukur.
"Dengan senang hati. Aku bahagia karena kamu memberiku kesempatan untuk merasakan hidup yang bahagia dan sempurna."
Lagi kalimat Kelvin terdengar sangat manis. Keduanya kembali berpelukan. pucuk kepala Jharna pun ia kecup dengan sayang dan ia rangkul kembali dari belakang. Mereka sama-sama memandangi matahari yang terbit sambil tersenyum menyambut hari baru yang indah.
*****
__ADS_1