Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Memenuhi undangan 2


__ADS_3

Perlahan Jharna mulai bisa mengendalikan dirinya.


“Kamu kan Mamah panggil dari tadi, tapi gak turun juga. Mana susternya, titip dulu Leon sama dia,” timpal Widi saat melihat Leon terlihat mulai tenang sambil memegang mainan yang ia gigiti. Bekas air mata masih membekas di pipi mungil bayi laki-laki itu.


“Susternya lagi beresin kamar Leon.” Cheryl membawa Leon duduk di salah satu kursi dan balita itu menatap Jharna dengan lekat.


“Mau sama aunty?” tawar Jharna seraya mengulurkan tangannya. Tanpa di duga Leon pun langsung mengulurkan tangannya.


“Eh tumben, biasanya dia gak mau loh sama orang asing,” ucap Widi.


“Jharna bukan orang asing Mah, Leon tau kalau Jharna pernah nolong dia,” timpal Andrew.


Cheryl mendelik sebal, sudah pasti nanti malam Andrew akan membahas kembali kebaikan wanita yang saat ini menggendong putranya.


“Emang makannya udah selesai, kok malah gendong Leon?” Widi melihat piring Jharna yang belum habis sepenuhnya.


“Silakan di lanjut, aku akan ajak Leon main dulu.” Pilihan ini di rasa lebih baik oleh Jharna. Ia masih muak melihat wajah Cheryl apalagi makan satu meja dengan wanita itu.


Ia membawa Leon ke ruang keluarga dan mendudukkannya di sudut sofa sambil mengajaknya bermain. Mereka memperhatikan Jharna dari kejauhan kecuali Cheryl yang sibuk dengan makanannya.


“Selamat nak Kelvin, sepertinya Jharna akan menjadi istri dan ibu yang baik. Jiwa keibuannya sangat terlihat jelas.” Widi memberi pujian langsung pada wanita yang sedang tertawa-tawa bersama Leon. Suara tawa Leon pun begitu girang dan menggemaskan.


“Terima kasih Tante,” hanya itu sahutan Kelvin yang menatap Jharna dengan penuh kekaguman. Wanita itu pernah berkata, walaupun Leon anak dari dua orang yang meghancurkan hidupnya, tetapi anak itu tidak berhak mewarisi kesalahan orang tuanya. Untuk hal itu Kelvin sangat salut pada Jharna.


Beberapa saat bermain dengan Leon, bayi kecil itu mulai menguap. Ia mengusap-usap telinganya pertanda kalau ia mulai mengantuk. Cheryl masih sibuk dengan ponselnya, entah dengan siapa ia bertelepon.

__ADS_1


“Sepertinya Leon mengantuk,” ucap Jharna pada Andrew.


“Oh ya. Boleh tolong bantu aku mengantarnya ke kamar?” tanya ayah Leon.


Jharna menoleh Kelvin dan laki-laki itu hanya mengangguk kecil mengiyakan. “Iya, boleh.”


Akhirnya Jharna setuju. Ia menggendong Leon naik ke lantai dua mengikuti langkah Andrew. Masuk ke dalam sebuah kamar yang sudah rapi dan menempatkannya di dalam box bayi.


“Leon bobo ya Nak,” ucap Jharna seraya mengusap kepala Leon dengan lembut. Anak kecil itu berguling-guling, mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Lalu tengkurap dengan jempol tangan kanan yang ia ****. Jharna tersenyum sendiri, gemas melihat tingkah lucu bayi ini.


Tanpa Jharna duga, Andrew tiba-tiba mendekat, berdiri di belakangnya dan sedikit merundukkan tubuhnya seperti hendak memeluk Jharna dari belakang. Ia sengaja mengambil selimut Leon sebagai alasan dan melingkarkan tangannya di pinggang Jharna sambil menyelimuti Leon.


“Dia suka tidur dengan menggunakan selimut,” bisik Andrew di telinga Jharna. Bulu kuduk Jharna langsung meremang, terlebih saat hidung Andrew menyentuh beberapa helai raambutnya. Sekali lalu Andrew juga mencium wangi rambut Jharna yang membuat jantungnya berdebar kencang.


Tetapi Andrew malah terdiam. Dengan sengaja menopangkan tangannya ke pinggiran box bayi dan mengunci Jharna di hadapannya dengan tubuh yang sedikit condong pada Jharna. Ia menatap lekat sepasang mata Jharna yang seperti ketakutan.


“Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitimu, Jharna. Kamu terlalu sempurna untuk di sakiti.” Dengan berani Andrew mengusap helaian rambut Jharna yang panjang. Jharna refleks memalingkan wajahnya dari Andrew.


“Apa yang Anda inginkan? Tolong jangan mengganggu saya,” Jharna mulai ketar-ketir. Ia tahu persis kalau Andrew lelaki yang nekad.


Laki-laki itu hanya tersenyum, mendekatkan wajahnya pada Jharna, membuat Jharna menarik tubuhnya menjauh dari laki-laki itu. “Saya bisa berteriak kalau Anda melakukan hal yang tidak senonoh,” ancam Jharna dengan mata yang membulat.


“Sssttt….” Andrew malah mendesis, ia menempatkan satu telujuknya di bibir Jharna yang tampak menarik. Dulu, bibir seperti ini pernah tersenyum dan memohon perhatiannya, tapi kali ini malah menolaknya.


“Aku hanya ingin dekat seperti ini, aku belum mau melakukan hal lebih. Terima kasih karena sudah bersikap baik pada Leon,” imbuh Andrew dengan penuh kesungguhan. Ia merasa kalau Jharna yang lebih cocok menjadi ibu dari anak-anaknya.

__ADS_1


“Sama-sama.” Hanya itu timpalan Jharna sebelum kemudian mendorong tubuh Andrew menjauh dan bergegas pergi meninggalkan laki-laki itu. Ia merasa Andrew mulai terobsesi olehnya. Jika ia tidak pergi, ia takut hal buruk akan terjadi.


Jharna menuruni anak tangga dengan cepat. Ia menghampiri Kelvin yang sedang berbincang dengan Widi di ruang keluarga. “Vin, Leon udah tidur. Kita pulang yuk,” ajak Jharna tanpa memperdulikan keberadaan Widi. Bulu kuduknya masih meremang mengingat saat jaraknya dengan Andrew yang terlampau dekat.


“Loh kok pulang? Ini kan masih sore,” Widi berusaha menahan.


Tetapi Kelvin sepertinya paham apa yang dirasakan wanita di hadapannya. Jharna sedang ketakutan.


“Kami permisi dulu ya tante. Jharna sepertinya kelelahan setelah perjalanan dari luar kota. Terima kasih jamuan makan malamnya. Selamat malam,” Kelvin segera pamit dan menggenggam tangan Jharna untuk keluar dari rumah itu.


“Oh ya, kalau gitu selamat istirahat,” timpal Widi dengan wajah bingungnya. Ia memandangi Jharna dan Kelvin hingga dua orang itu keluar dari rumahnya.


“Mereka pulang?” tanya Andrew yang baru turun.


Widi segera menutup pintu dan menghampiri sang putra yang tampak tenang saja. “Apa yang kamu lakuin sama Jharna?” tanya Widi seraya berbisik. Ia khawatir pembicaraannya di dengar oleh Cheryl yang masih bertelepon.


“Gak ada. Aku cuma mencoba bersikap manis sama dia.” Laki-laki itu menjawab dengan santai. Duduk di sofa sambil memeluk bantal dan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.


Widi segera menyusul Andrew duduk di sofa dengan jarak yang sangat dekat. “Sikap manis seperti apa yang kamu maksud? Andrew, Mamah tau kamu suka banget sama Jharna, tapi jaga sikap kamu. Jangan terlalu agresif. Pisahin dulu Jharna sama Kelvin, baru kamu masuk. Jangan tergesa-gesa begitu.” Widi menatap Andrew dengan sungguh.


“Ya ya ya, akan aku coba. Kalau Mamah juga suka sama dia, harusnya Mamah bantu aku dong,” hanya itu jawaban Andrew sebelum kemudian menyalakan televisi untuk menonton tayangan memasak yang dibintangi Jharna, yang ia simpan dan bisa ia putar ulang. Suara Jharna mulai terdengar, manis dan lembut membuat darahnya berdesiran. Matanya lekat menatap wajah Jharna yang sedang di sorot kamera. Cantik dan menenangkan. Bibirnya sangat menarik dan rasanya ia ingin mengecupnya.


“Kamu terlalu sempurna Jharna,” ungkap Andrew dalam hatinya.


****

__ADS_1


__ADS_2