Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Melepas beban


__ADS_3

Seorang Jharna menjadi pusat perhatian banyak orang saat ia duduk di hadapan para wartawan untuk mengikuti acara konferensi pers. Wanita berparas menawan itu di dampingi oleh kuasa hukumnya yang berbicara secara singkat, mengungkapkan garis besar kejadian yang dialami Jharna. Tidak terlalu detail karena mereka merasa itu bukan ranah mereka. Ada bagian pihak penyidiik yang tidak berhak mereka ungkap.


Jharna berusaha duduk dengan tenang. Tidak benar-benar tenang karena hati dan pikirannya masih bergejolak menghadapi semua pemberitaan yang mulai simpang siur ini. Polisi terus mengingatkan agar Jharna lebih berhati-hati. Cheryl dinyatakan telah melarikan diri dan bukan tidak mungkin hal ini akan menjadi sebuah ancaman. Sementara Andrew dengan suka rela menyerahkan dirinya ke pihak kepolisian. Ia sadar benar bahwa pada ujungnya ia harus tetap menjalani hukumannya.


“Kak Jharna, kasih tanggapannya dong tentang kasus ini. Apa yang akan kak Jharna lakukan ke depannya? Tuntutan apa yang akan diminta?” tanya seorang wartawan yang membuyarkan pikiran Jharna.


Jharna tersenyum kelu, ia melirik sang pengacara dan Arwin hanya mengangguk. “Bicaralah,” bisiknya.


Wanira bermata cokelat itu mengangguk pelan, “Saya mengucapkan terima kasih atas perhatian teman-teman semua. Mohon maaf kalau saya telah membuat kegaduhan. Saat ini, saya akan menyerahkan sepenuhnya masalah ini ke pihak kepolisian dan pengacara saya yang mewakili. Saya bersedia bekerja sama untuk segala proses penyelidikan yang diperlukan. Terima kasih,” hanya sepenggal kalimat itu yang Jharna ucapkan.


“Kak Jharna sebel gak sih sama Cheryl? Jahat banget loh dia sama kak Jharna?” seorang wartawati bertanya dengan gamblang, mengingatkan Jharna pada lukanya di masa lalu.


Jharna hanya tersenyum kecil, tanpa niatan untuk menimpali pertanyaan wanita itu.


“Okey, terima kasih atas perhatian dan kerja sama kalian semua yaa… kami telah melakukan konferensi pers sesuai kebutuhan, mohon hormati privacy klien saya. terima kasih,” ucap Arwin sebagai penutup dari conferensi pers ini.


Masih banyak pertanyaan yang ingin wartawan tanyakan, tetapi Jharna dan kuasa hukumnya memilih pergi. Apa yang mereka sampaikan selama lima belas menit tadi, di rasa sudah sangat cukup. Penjelasan dari pihak kepolisian di rasa lebih penting dalam masalah ini.


Seorang laki-alki tampak menunggu Jharna di pintu belakang. Laki-laki itu termenung seorang diri, dengan banyak pikiran di benaknya. Rasa cemas terus mengisi relung hatinya karena wanita yang ia nanti belum juga menghampiri.


“Vin,” panggil sebuah suara yang sangat ia kenali.


Kelvin segera menoleh. Laki-laki itu tersenyum menyambut Jharna yang berlari menghampirinya. Ia memeluk Jharna dengan sangat erat, seolah mereka telah berpisah dengan waktu yang cukup lama.


“Gimana perasaan kamu sekarang, hem?” tanya Kelvin yang masih memeluk erat Jharna.


“Baik, lebih baik.” Jharna mengakui dengan sesungguhnya.


“Syukurlah,” Kelvin ikut menghembuskan napasnya lega mendengar pengakuan Jharna. Selama lima belas menit yang krusial itu membuat jantungnya berdebar kencang dan baru sekarang bisa berdegub dengan normal dan tenang setelah Jharna kembali ke pelukannya.

__ADS_1


Kelvin melerai pelukannya beberapa saat. Ia menatap wajah Jharna yang sudah kembali terisi darah. Tidak pucat seperti saat konferensi pers di mulai.


“Dina bilang, seminggu ini jadwal kamu dikosongkan. Amilny juga menunda syuting karena menurut dia sekarang bukan waktu yang tepat. Semua orang memberi kamu waktu dan ruang untuk menenangkan diri. Lakukan apa pun yang kamu inginkan,” tutur Kelvin. Tangannya mengusap dengan lembut pipi Jharna yang merona kemerahan.


“Hem, makasih banyak Vin, kamu udah ngelakuin banyak hal buat aku. Aku gak tau harus berterima kasih dengan cara apa.” Sepasang mata bulat milik Jharna menatap Kelvin dengan penuh rasa syukur.


“Balas aku dengan kebahagiaan kamu, itu udah lebih dari cukup.” Kalimat Kelvin dengan padat dan tegas. Pandai membuat hati Jharna bergetar.


“Kalau gitu, jangan tinggalin aku sendiri. Aku bisa bahagia saat ada kamu. Walau pun aku tau aku sangat merepotkan, tapi bisakah aku meminta kamu untuk tetap ada di dekatku?” Tanpa ragu Jharna mengatakan hal itu pada Kelvin.


Kelvin tidak lantas menjawab, ia meraih dua tangan Jharna lalu mengecupinya dengan penuh perasaan. Matanya menunjukkan rasa haru, karena sepertinya bukan hanya ia saja yang ingin selalu bersama Jharna.


“Tentu, aku gak akan pergi ke mana pun.” Kelvin berujar dengan sungguh.


“Terima kasih,” timpal Jharna yang balas mengecup tangan Kelvin. Keduanya saling melempar dengan penuh rasa haru.


“Gak usah malu, udah boleh kok Kak Jani berduaan sama Kak Kelvin,” kalimat itu meluncur dari mulut Carissa yang mendekat bersama Arwin.


“Oh maaf, tadi aku,” Jharna terlihat kikuk, tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


“Gak usah ragu kalau mau mengumbar kemesraan... Paling nanti aku pindah planet aja. Iya kan Pak Arwin?”  goda Carissa.


"Hhahaha.. iyaa, kita pindah ke mars aja, daripada baper sendiri." Arwin menimpali seraya tertawa lebar.


“Kamu bisa aja.” Jharna mengusap pipi sang adik ipar dengan lembut, lantas keduanya tertawa.


“Iyaa dong... Biar lebih tenang, nih saya kasih bekal.” Arwin memberikan sebuah dokumen dalam map pada Jharna.


“Apa ini?” Jharna mengambil alih dokumen itu dengan penasaran.

__ADS_1


“Buka berdua dong, biar happynya berdua,” Carissa mulai ketagihan menggoda Jharna.


Jharna dan Kelvin saling menoleh dan saling melempar senyum. Mereka membuka dokumen itu dengan cepat. Jharna tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya saat sebuah dokumen penting itu akhirnya sah ia miliki.


“Andrew mau tanda tangan surat cerai ini?” tanya Jharna tidak percaya.


“Hem, aku minta itu, semalam. Siang ini dokumen resmi berhasil di terbitkan. Kak Andrew juga sekarang lagi dimintai keterangan di kepolisian.” Kali ini wajah Carissa terlihat sendu.


“Hey, sorry….” Jharna segera membawa Carissa ke pelukannya. Gadis itu tersenyum kelu di pelukan Jharna.


“Gak perlu minta maaf dan ngerasa bersalah, karena itu konsekuensi hukum yang harus di terima kakakku. Aku lah yang seharusnya minta maaf atas semua yang dilakukan kak Andrew terhadap kakak." Carissa berujar dengan sungguh.


Rangkulan kedua wanita itu terlerai, hanya tangannya saja yang saat ini masih saling menggenggam. "Hanya saja, walau pun aku kuasa hukum kak Jani, izinkan aku untuk memilihkan tim kuasa hukum terbaik untuk kakakku. Bukan untuk membebaskan dia dari tuntutan hukum, tapi sebagai bentuk peduliku pada satu-satunya kakak yang aku punya.” Carissa meminta itudengan sungguh.


Jharna tertegun mendengar ucapan gadis muda dihadapannya. Ia menatap Carissa beberapa saat. “Ya, aku gak mempermasalahkan itu. Gimana pun, Andrew adalah kakak kamu. Kamu berkewajiban membantunya.”


“Makasih atas pengertiannya kak,” Carissa berujar dengan penuh rasa syukur.


“Sama-sama, yang kuat ya… mamah Widi juga pasti perlu kamu dan pastinya si kecil Leon juga butuh kamu. Kamu wanita yang baik dek, bagaimana pun perlakuan mereka terhadap kamu, mereka tetap keluarga kamu.” Usapan lembut diberikan Jharna di bahu Carissa yang semula melorot.


“Ya, tentu. Mungkin setelah ini, aku akan kembali ke rumah itu, untuk menjaga mamah dan Leon.”


“Ya, jaga mereka dengan baik.”


Dua wanita itu saling bertatapan penuh perhatian satu sama lain. Jharna mengakui, jika saja dulu tidak ada Carissa yang membantunya di rumah itu, mungkin ia akan menyerah. Ia selalu ingat dengan kata-kata sang adik ipar,


“Tidak semua hal yang ada di rumah ini adalah tanggung jawabmu. Kamu terlalu bersungguh-sungguh, sampai kamu merendahkan diri kamu sendiri, kak,” ucap Carissa kala itu. kalimat itu selalu Jharna ingat dan tidak akan pernah ia lupa.


****

__ADS_1


__ADS_2