
Pesona seorang Jharna benar-benar memikat hingga dalam waktu kurang dari satu jam, produser acara talk show milik Cheryl, resmi mengundang wanita berparas melati itu menjadi bintang tamu. Siapa lagi yang menyarankannya kalau bukan investor mereka, yaitu Andrew.
“Brengsek kamu Mas! Aku kan udah bilang kalau aku gak mau!” seru Cheryl melalui panggilan telepon pada suaminya. Wanita itu langsung menghubungi Andrew begitu produser acaranya memberitahu kalau ia akan mengundang Jharna untuk talk show besok malam. Moodnya untuk merias wajah langsung hilang, di hempas rasa kesal pada sang suami.
Andrew yang mendengar ocehan istrinya, hanya tersenyum kecil tanpa rasa peduli. Ia menaruh ponselnya di atas meja kerja dan menyalakan mode loud speaker. Sementara kedua tangannya tetap sibuk memeriksa berkas yang harus ia setujui.
“Aku udah bilang sama produser kamu, kalau kamu gak mau jadi hostnya, ya tinggal cari host yang lain. Apa susahnya?” Andrew menyahuti dengan santai.
“Jangan gila kamu Andrew! Acara ini punyaku! PU-NYA-KU!!!!” gertak Cheryl dengan sangat kesal. Mata bulatnya terlihat menyalak di depan kaca. Ia berdiri berkacak pinggang, mendorong kursi duduknya hingga jatuh lalu berjalan mondar-mandir sambil memijat pelipisnya yang berdenyut pusing.
“Aku tidak lupa Cheryl, tapi aku harap kamu juga tidak lupa, siapa yang mendanai acara itu? Aku hanya berusaha menaikan rating acara itu karena aku ingin investasiku menguntungkan. Kenapa pikiran kamu terlalu sempit dan bodoh sih?” Andrew berujar dengan penuh penekanan.
“Bodoh kamu bilang?” Cheryl bertanya sambil menggeretakkan gigi, tangannya mengepal kuat saking kesalnya.
“Iya kamu bodoh! Dan jangan bilang aku gila lagi, atau aku bisa benar-benar gila!” gertak Andrew sambil memukul mejanya. Sang sekretaris di ruangannya sampai terhenyak mendengar suara keras dari ruangan bosnya.
“Sadar diri sedikit, siapa kamu saat ini. Kalau bukan karena uangku, hidup kamu tidak akan terjamin. Selama ini aku sudah cukup mengalah, mengikuti semua maumu, memaklumi semua sikapmu yang menjijikan itu.”
“Kali ini aku tidak mau mengalah lagi. Aku sudah tau tujuanku dan tidak akan mundur hanya karena kamu menghalanginya.” Andrew berujar dengan tegas dan penuh penekanan.
“Oh jadi maksud kamu tujuan kamu sekarang adalah wanita itu, gitu?” ucapan Cheryl tidak kalah sengit.
“Bagus kalau kamu paham. Selesaikan tugasmu dan ikuti aturan mainku. Jadilah istri dan host yang baik selagi aku memberikan kesempatan,” ucap Andrew dengan tajam sebelum menutup panggilannya.
__ADS_1
“Andrew! Apa maksud kamu? Heh, brengsek kamu ya!” teriak Cheryl dengan emosi yang meluap-luap.
“Ngomong apa kamu?” seru seorang wanita yang muncul di pintu kamar Cheryl. Ia menatap sinis pada sang menantu yang tengah terengah-engah dibakar emosi setelah berbicara dengan suaminya. Sedari tadi ia mendengar Cheryl terus memaki putra kebanggannya, membuat ia tidak bisa menerimanya. Cheryl balas menatap sinis pada ibu mertuanya dengan banyak kekesalan dan amarah.
“Apa? mau ngomong apa kamu?” Widi menghampiri menantunya yang hanya mematung sambil menatapnya penuh kebencian. Ia mendorong lengan Cheryl dan Cheryl terdorong begitu saja hingga hampir jatuh.
“Sudah sering kali saya dengar kamu memaki anak saya. Kamu lupa siapa kamu di rumah ini, Cheryl? Hargai anak saya, harga pemilik rumah ini. Jangan bersikap semena-mena karena merasa kamu popular. Jangan lupa, popularitas kamu itu bisa kamu dapatkan karena uang Andrew. Ingat itu!” seru Widi seraya mentoyor kepala menantunya.
“AARRGHHH!!!!” tiba-tiba saja Cheryl berteriak dengan keras. Ia mengacak meja riasnya hingga berantakan. “Keluar kamu, keluar!!!” teriak Cheryl seraya mendorong Widi keluar dari kamarnya.
BLAM!!
Ia juga membanting pintu dengan kasar.
“Dasar perempuan gila!!!” seru Widi dari luar sana. Ia masih syok karena di dorong tiba-tiba oleh Cheryl. Tubuhnya sampai membentur dinding tempat ia bersandar saat ini.
Widi hanya bisa mematung dengan dada yang berdebar kencang. Ia baru tahu kalau Cheryl bisa bersikap seekstreem ini. Setelah wanita ini melahirkan Leon, sikapnya memang jadi semakin kasar. Ia pikir itu hanya efek sindrom baby blues, tetapi hingga Leon berusia enam bulan, sikap Cheryl tidak banyak berubah.
Wanita ini semakin sering memaki pada managernya ataupun suster yang menjaga Leon. Dan kali ini, wanita itu dengan berani memakinya dan sang putra. Tidak bisa dimaafkan, ia harus memeberitahukan ini pada Andrew.
Di dalam sana, Cheryl jatuh terduduk di lantai. Ia menatap penuh kebencian pada foto putranya yang tergantung di dinding. Senyum ceria bayi itu ibarat ejekan untuk kehancurannya. Andai saja dulu ia tidak hamil, semua tawaran iklan dan film itu tidak akan hilang dari genggamannya. Para produser tidak akan lari karena keputusannya untuk menikah dan melahirkan putranya itu. Ya, andai saja semua kemalangan itu tidak terjadi padanya, mungkin ia tidak akan berada di posisi ini.
Menikah dengan Andrew, ternyata tidak cukup memenuhi egonya yang kelaparan.
__ADS_1
****
“Iya Kak Dina?” suara Jharna terdengar lembut di telinga managernya. “Oh, aku lagi di klinik kak Amilny, lagi ngobrolin project pembukaan klinik baru. Sepertinya akan ada syuting lagi di minggu depan. Ada apa kak?” tanya Jharna saat Dina bertanya tentang keberadaannya. Ia pamit sebentar pada Amilny yang ada di hadapannya.
Wanita itu hanya mengangguk dan membiarkan Jharna keluar dari ruangannya. Di taman belakang klinik saat ini Jharna terdiam. Area ini Favorit Jharna karena ia bisa menghirup udara segar dan merasakan hangatnya cahaya matahari.
“Talk show apa kak?” Jharna di buat penasaran oleh penawaran managernya.
“Iyaa, ada stasiun tv yang pengen wawancara exclusive sama kamu. Semacam acara bincang bintang gitu. Kamu bisa?” tanya Dina.
“Kapan itu Kak?”
“Nanti malam jam delapan, live. Bayarannya cukup tinggi, ini akan menjadi rekor kamu, Jharna.” Dina tampak begitu senang dengan tawaran yang didapatkan Jharna kali ini.
“Stasiun tv mana kak?” Jharna semakin penasaran, bagaimana bisa seseorang mengundangnya untuk talk show dengan honor yang besar. Sejauh ini honor terbesarnya adalah dari iklan.
“Nanti aku kirim detail stasiun tv nya ya… mereka sangat berharap kamu bisa, karena mereka juga pengen naikin rating tayangan.” Dina setengah membujuk.
“Oh okey Kak, aku liat dulu ya. Nanti aku kabarin kakak bisa atau nggaknya.”
“Okey, kabari aku secepatnya.” Kalimat itu menjadi kalimat penutup perbincangan Jharna dengan Dina managernya.
Tidak lama, sebuah pesan text masuk. Pesan yang berisi sebuah tawaran tampil di acara talk show. Jharna membaca kembali tema talk shownya, cukup masuk akal dan menarik. Mereka ingin tahu tentang kiprah Jharna sebagai artis baru di dunia hiburan. Satu hal yang membuat Jharna ragu adalah, nama host yang akan menjadi pemandunya.
__ADS_1
“Cheryl?” gumam Jharna.
****