
“Oh ya? Gimana caranya?” baru kali ini Cheryl berpindah duduk dan mendekat, bahkan menyentuh tangan Carissa. Terlihat sekali kalau wanita ini memang merasa bersalah dan panik atas kesalahannya. Hingga musuh pun ia jadikan sekutu, hanya karena sedang sangat membutuhkan bantuan.
Carissa melirik sedikit tangannya yang di sentuh oleh tangan dingin wanita itu. Ia mengibaskan tangannya perlahan, berpura-pura mengambil sesuatu dari dalam tas tentengnya. Sebuah amplop berwarna putih yang ia taruh di atas meja.
“Apa ini?” Andrew yang lebih dulu mengambilnya.
“Kakak buka aja, nanti juga tau. Penuhi itu kalau kalian mau selamat,” ucap Carisa dengan santai. Kali ini gadis itu yang bersidekap dan tersenyum kecil.
Cheryl yang penasaran, berpindah kembali ke sisi suaminya. Membaca surat itu dengan tergesa-gesa. Matanya melotot, bergerak cepat mengikuti barisan kalimat di surat tersebut.
“Kamu gila?” tanya Andrew dengan kesal.
“Gila apanya? Justru itu langkah paling aman.” Carissa berujar dengan santai.
Widi yang kaget melihat kedua anaknya yang bersitegang pun segera merebut kertas itu dari tangan Andrew dan membacanya dengan seksama.
“Pengalihan kekayaan?” Widi menatap Carissa dengan tidak mengerti.
Carissa mengangguk pelan.
“Kamu gila? Mamah nyuruh kamu ke sini bukan untuk membahas warisan, tapi buat bantu kakak kamu!” sentak Widi hingga gemetar kesal. Tidak habis pikir dengan permintaan Carissa.
“Ya, betul sekali. Mamah nyuruh aku ke sini, karena mamah memerlukan bantuanku. Ingat dua kata itu, menyuruh dan butuh! Kalau tidak dua kata itu, kalian gak peduli sama aku. Aku orang lain buat kalian, terutama buat perempuan ini.” Carissa menunjuk Cheryl tepat di depan wajahnya.
“Carissa!” seru Andrew.
“YA KENAPA?!” teriak Carissa lebih keras dari Andrew. Gadis itu sampai berdiri karena kesal. “Kalian kaget kan sama permintaan aku?” gadis itu tersenyum sinis pada Andrew. Kekecewaan yang cukup besar terlihat jelas dari sorot matanya.
__ADS_1
“Asal kalian tau, kekecewaan aku lebih besar pada kalian. Kalian menelantarkanku bahkan mengusirku karena perempuan ini. Lebih kecewa lagi karena ternyata kalian sekongkol untuk membunuh kak Jani. Apa salah Perempuan itu? apa karena dia gak terkenal sehingga kalian bisa merendahkannya? Apa dia hanya ibu rumah tangga yang tidak berpendidikan tinggi sehingga kalian bisa menginjak-injaknya? Atau karena wanita itu kalian anggap sebagaii ancaman sehingga kalian harus melenyapkannya?” Carissa menatap satu per satu wajah ketiga orang di hadapannya.
“Kenapa? Gak bisa jawab kan?” Carissa tersenyum sinis. “Kalau saja bukan karena uang yang kak Jani berikan padaku saat dia memutuskan untuk menggugat cerai kak Andrew dulu, mungkin aku akan kelaparan. Kalian pasti gak nyangka kan, kalau aku tau niat busuk kalian? Aku tau niat kalian untuk melenyapkan kak Jani karena kak Jani menggugat cerai!” Carissa menatap lekat pada Andrew dan Cheryl.
“Aku juga tau kalau Mamah yang bikin kak Jani jatuh di tangga dan kehilangan bayinya. Hanya karena mamah takut kak Jani dapat warisan yang lebih besar di banding mamah setelah melahirkan anaknya. Aku muak sama kalian, muak berada di antara orang-orang jahat seperti kalian?!” teriak Carissa.
Tidak hanya itu, ia juga melempar surat tuntutan ke atas meja, yang tadinya akan ia kirimkan besok ke kantor Andrew. Tetapi sepertinya ini waktu yang tepat.
“Tapi aku berterima kasih, karena sikap kalian, akhirnya aku benar-benar tau mana keluarga karena saling menyayangi dan mana keluarga yang hanya terikat karena warisan. Asal kalian tau, aku gak peduli dengan harta kekayaan Sanjaya. Aku gak butuh. Aku bisa hidup sendiri tanpa bantuan kalian. Dan surat ini,” Carissa menunjuk surat yang ia lempar ke atas meja.
“Surat tuntutan dariku sebagai kuasa hukum kak Jani.” Carissa menggenapkan kalimatnya. Kali ini ia bisa menghembuskan napasnya lega karena ia telah berhasil melewati pergolakan batin yang hebat beberapa hari ini.
“Penuhi panggilan polisi dan bekerja samalah dengan baik. Walau tidak melepaskan kalian dari semua konsekuensi hukum, paling tidak tunjukkan kalau kalian memiliki hati nurani dan orang-orang bertanggung jawab. Berikan contoh yang baik pada anak kalian, jangan buat dia kecewa,” tegas Carissa dengan bersungguh-sungguh.
Semuanya hening, semuanya diam. Andrew dan Widi sama-sama jatuh terduduk, sementara Cheryl masih berdiri di tempatnya. Tanpa menunggu lama, Carissa memilih untuk pergi dari tempat ini. Tempat yang mengingatkannya pada ketidakadilan keluarga Sanjaya.
****
“Cheryl, mau kemana kamu?” panggil Andrew pada sang istri yang berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
Wanita itu tidak menimpali, langkahnya begitu cepat hingga beberapa saat saja ia menghilang dari pandangan Andrew. Andrew segera menyusulnya. Ia melihat Cheryl sedang menarik koper dari dalam lemari dan menaruhnya di atas Kasur. Ia juga mengambil beberapa potong baju dengan tergesa-gesa dan memasukkannya ke dalam koper.
“Mau kemana kamu?” Andrew menahan tangan Cheryl dan menggenggamnya dengan erat.
“Lepas!” suara gemetar wanita itu terdengar jelas, seraya mengibaskan tangannya. Tangannya yang gemetaran tetap memasukkan baju-baju yang sekiranya muat di dalam koper.
“Cheryl, jangan melarikan diri. Kita hadapi ini sama-sama.” Andrew berusaha menahan tangan Cheryl lagi, tetapi kibasan tangan wanita itu lebih kuat.
__ADS_1
“CHERYL!!” teriak Andrew yang kehabisan kesabaran.
Cheryl tidak merespon, tangisnya malah pecah tetapi ia tidak berhenti memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
“HEH, DENGAR AKU CHERYL!” teriak Andrew seraya membalik tubuh Cheryl hingga menghadapnya. Ia menatap lekat wajah yang merah dan basah oleh air mata itu. “Ayo kita berhenti, berhenti melakukan kesalahan. Lihat, ada Leon di sana. Apa kita masih akan terus egois? Kamu gak sayang sama dia?” bujuk Andrew dengan air mata yang ikut menetes. Tangan dan kaki bayi itu terangkat ke udara, sepertinya bayi itu sedang bermain-main sendirian.
“Tolong lepasin aku. Aku mau pergi aja. Aku gak mau membusuk di penjara,” ucap Cheryl dengan tangisnya yang pecah dengan rasa putus asa yang menjadi-jadi.
“Kamu mau ke mana? Wartawan ada di mana-mana, mereka akan tetap mencari kamu. Kamu akan di cari oleh banyak orang termasuk polisi. Apa kamu udah siap dengan hal itu?”
“AKU GAK PEDULI! A-KU GAK PE-DU-LI!” Cheryl mengulang kalimatnya dengan tegas. Andrew sampai kehabisan kata-kata melihat tekad Cheryl yang begitu bulat. “Aku bisa pergi ke mana pun. Keluar negeri, atau ke pedalaman hutan sekali pun. Tapi aku gak akan bisa pergi ke penjara. Sekali pun hukumanku hanya satu menit. Aku gak bisa!” tegas Cheryl yang menutup kopernya lalu meresletingkannya.
Ia menarik koper itu turun dan menaruhnya di depan pintu.
“Cheryl, tolong lah. Gimana nasib Leon? Dia butuh kamu. Kamu yakin akan meninggalkannya? Kau tega membiarkannya menangis karena mencari kamu?” tanya Andrew dengan sungguh. Ini langkah terakhirnya untuk membujuk Cheryl.
“Aku gak peduli! Sekali ini aja Leon yang mengalah sama aku. Aku pernah berjuang antara hidup dan mati buat dia. Aku juga pernah mengorbankan masa depanku yang cerah demi dia. Sekali ini saja dia mengalah sama aku. Jangan paksa aku Drew, aku gak bisa tinggal di sini lagi, aku gak bisa!” teriak Cheryl dengan putus asa.
Andrew hanya bisa menatap Cheryl dengan perasaan hancur. Sesungguhnya ia sama hancurnya. Bangkai yang ia simpan selama satu tahun ini, ternyata harus terbongkar juga. Memang tidak ada kejahatan yang sempurna.
Pria itu tidak bisa menahan Cheryl lagi. Wanita itu menghampiri Leon hanya sekedar untuk mengusap kepalanya. Air matanya berderai, sedih rasanya. Tetapi membayangkan hidupnya harus berakhir di penjara, jauh lebih membuatnya hancur.
Di kecupnya tangan mungil Leon beberapa saat, lantas ia pergi tanpa menatap sepasang mata yang menatapnya dan meminta di gendong. Cheryl pergi begitu saja dengan koper besar yang ia tarik sekuat tenaga. Ia mengabaikan suara tangis Leon yang mulai terdengar. Ia tetap meneruskan langkahnya meninggalkan rumah ini, meninggalkan hidup yang selama ini ia inginkan.
“Walau kamu sangat menginginkannya, tempat yang bukan milikmu, tidak akan bisa menerimamu dengan baik, tidak akan ada rasa nyaman dan tenang di dalamnya,” batin Cheryl dengan langkah cepatnya meninggalkan kediaman Sanjaya.
****
__ADS_1