
Wajah Widi terlihat sangat cerah saat ia melihat kedatangan Jharna dan Kelvin di pintu rumahnya. Wanita itu tersenyum begitu lebar saat ternyata Jharna mau memenuhi undangannya.
“Waaahh… terima kasih kalian udah mau dateng. Ayo masuk,” Widi menyambut dengan ramah, membukakan pintu lebar-lebar untuk dua orang tamunya.
“Terima kasih Tan,” timpal Jharna yang berjalan di samping Widi yang merangkul tubuhnya dari samping. Sementara Kelvin mengekori di belakang. Ia mengangguk pelan saat Jharna menolehnya, butuh penguatan. Dari sorot matanya seolah menegaskan kalau ia akan selalu ada.
“Tante yang makasih, karena Jharna udah mau memenuhi undangan tante. Padahal tante denger Jharna baru pulang dari luar kota kan? Pasti capek banget yaa…” Wanita itu berujar dengan manis. Sangat jauh berbeda dengan Widi yang dulu di kenalnya.
“Udah gak capek kok Tan,” Jharna menjawab dengan alakadarnya.
“Syukurlah… duduk dulu bentar yaa, tante panggili dulu Cheryl sama Andrew, mereka masih di atas. Kayaknya Leon agak rewel,” pamit wanita itu seraya mengusap bahu Jharna.
Jharna hanya mengangguki saat Widi meninggalkannya. Ia menghela napas dalam untuk menyiapkan dirinya bertemu dengan Andrew dan Cheryl.
“It’s okey. Kamu yang tenang. Kalau kamu ngerasa gak nyaman, kasih tau aku. Kita pulang,” bisik Kelvin yang seperti paham kegundahan wanita di sampingnya. Bagaimana pun ia tidak bisa memaksa Jharna menghadapi traumanya tanpa persiapan.
“Iya, Vin.” Jharna berusaha untuk tegar, bagaimana pun ia harus menghadapi mereka. Dua orang itu duduk di sofa ruang keluarga, menunggu tuan rumahnya datang.
“Andrew!! Cheryl!!! Turun dong, ini Jharna dan Kelvin udah dateng loh.” Suara Widi terdengar cukup keras memanggil anak dan menantunya.
Tidak berselang lama, suara langkah kaki terdengar jelas dari atas. Sosok Andrew yang terlihat lebih dulu dengan senyumnya yang lebar saat melihat Jharna. Laki-laki iitu terlihat rapi seperti habis bersisir. Ia segera turun dan menemui Jharna serta Kelvin.
“Waah, makasih udah dateng,” sambut Andrew dengan ramah. Ia juga mengulurkan tangannya pada Jharna dan Kelvin. Jharna dan Kelvin membalasnya sebelum kemudian mereka kembali duduk.
“Mana Cheryl? Kok gak turun-turun?” Widi sedikit sinis menanyakan menantunya.
“Leon baru bangun Mah, agak rewel. Nanti bentar lagi turun.” Suara Andrew terdengar ceria, berbeda dari biasanya.
__ADS_1
“Kebiasaan anaknya di suruh tidur sore. Udah di bilang ajarin Leon mengenali waktu, biar dia terbiasa. Giliran bangun nanti yang begadang malah susternya,” gerutu Widi secara terang-terangan. Andrew tidak berupaya untuk membela istrinya, karena saat mulutnya terbuka untuk membela, maka kalimat Widi akan lebih panjang dan kasar.
“Sorry ya,” hanya itu ucap Andrew pada Jharna dan Kelvin.
“Gak masalah,” Kelvin yang menimpali. Jharna masih terliat tegang, posisi duduknya pun sangat tegak. “Iya kan sayang,” imbuh Kelvin seraya menggenggam tangan Jharna yang mengepal di atas kedua pahanya.
“I-iya,” Jharna sampai kaget. Ia baru ingat kalau ia harus terlihat mesra di hadapan Andrew dan Cheryl. Andrew jadi memandangi tangan Jharna yang di genggam oleh Kelvin. Ada rasa tidak rela dalam hatinya walau ia tetap berusaha tersenyum.
“Tante tinggal dulu yaa, mau selesein masak dulu,” pamit Widi.
“Biar aku bantu Tan,” tawar Jharna. “Boleh Mas?” entah sejak kapan Jharna mulai memanggil laki-laki di sampingnya dengan panggilan yang manis itu.
“Boleh, pergilah.” Kelvin sempatkan untuk mengecup tangan Jharna yang digenggamnya sebelum membiarkan Jharna pergi. Semuanya dilakukan secara alami, tanpa persiapan atau latihan sedikit pun.
“Permisi,” Jharna pun pamit pada Andrew yang memalingkan wajahnya melihat kemesraan antara Jharna dan Kelvin. Laki-laki itu hanya mengangguk dan mengikuti arah berlalunya Jharna yang menghampiri sang ibu lalu pergi ke dapur. Entah apa yang diucapkan Widi yang jelas mereka tertawa kecil bersama-sama.
“Dia sangat suka memasak dan masakannya sangat enak,” puji Kelvin dengan sesungguhnya.
“Ya, saya sangat beruntung. Karena itu saya ingin segera menikahinya. Dia terlalu sempurna dan saya tidak rela ada laki-laki lain yang melirik dan memperhatikannya.” Ucapan Kelvin terdengar seperti sidiran bagi Andrew yang sedari tadi terus memperhatikan Jharna dengan penuh ketertarikan.
“Tapi dia seorang artis, sudah pasti banyak yang memperhatikannya kan?” Andrew masih punya kalimat untuk menimpali Kelvin.
“Tentu, sekedar kagum saja tidak masalah. Asal jangan ada perasaan ingin memiliki.” Kalimat Kelvin begitu lugas membuat jantung hati Andrew serasa di hantam tinju yang cukup kuat.
Dalam benak Andrew, apa mungkin Kelvin bisa membaca perasaannya? Apa dia tahu kalau selama satu bulan ini Andrew diam-diam mengikuti Jharna hingga ke tempat kerjanya? Hanya seminggu ini saja ia tidak mengikuti Jharna secara diam-diam karena kesibukan di kantornya. Karena itu lah ia meminta sang ibu untuk mengundang wanita ini makan malam. Ia merindukan sosok Jharna.
“Ayooo, kita makan dulu. makanannya udah siap nih,” ucap Widi yang memanggil putra serta tamunya.
__ADS_1
“Ayo silakan,” Andrew masih berusaha bersikap ramah pada Kelvin walau dadanya terasa panas.
Kelvin pun beranjak bersama Andrew menuju ruang makan. Di sana beragam masakan sudah tersaji dengan aroma wangi yang bercampur. Andrew begitu sigap menarikkan kursi lebih dulu untuk Jharna dan Kelvin tidak mau kalah, ia segera duduk di samping Jharna.
Andrew hanya bisa mengeram dalam hati melihat Kelvin menempati tempat duduk yang ia incar. Ia kalah cepat dari laki-laki itu. Terpaksa ia duduk di kursi yang masih kosong, cukup jauh dari Jharna.
“Yang ini masaknya di bantu Jharna, jadi lebih enak. Cobain deh,” Widi menunjuk udang sauce tiram buatan Jharna.
“Tante bisa aja,” Jharna tersipu malu.
“Aku coba yaa….” Andrew dengan semangat mengambil lauk itu, menempatkannya di piring dan segera mencobanya. “Eemm… iyaa beneran enak. Kamu belajar di mana?” Andrew memuji dengan penuh kekaguman.
“Di dapurnya Mas Kelvin."Jharna menyahuti dengan yakin. "Satu tahun ini aku belajar banyak hal, termasuk belajar memasak supaya orang-orang bisa nerima masakan aku. Karena setelah bekerja keras tapi gak di hargai itu rasanya gak enak. Mas Kelvin yang nemenin aku di titik itu, dari masakan aku yang gak enak sampe bisa di nikmati dengan lahap. Dia nyobain semua masakan yang aku bikin dan ngasih masukan positif. Aku beruntung banget ketemu sama Mas Kelvin.” Jharna berujar dengan sesungguhnya, ia menatap Kelvin dengan lekat dan penuh perasaan. Andai Widi menyadarinya, ada sindiran pedas dalam kalimat yang diucapkan Jharna. Namun ia hanya menganggapnya sebagai jawaban polos Jharna.
Kelvin tidak bisa berkata-kata, pada kalimat ini ia sangat yakin kalau Jharna mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Laki-laki itu tersenyum kecil, lantas mengecup pelipis Jharna yang ada di sampingnya.
Andrew yang melihatnya tampak gelisah, ia meneguk segelas air mineral hingga habis setengahnya.
“Kalian sangat manis, jadi inget tante dulu waktu masih muda. Ngomong-ngomong, tante udah nonton loh acara kamu yang masak bareng chef itu. Kamu cantik banget di situ. Bajunya juga cocok. Kamu beli bajunya dimana?” seorang Widi semakin penasaran pada sosok Jharna. Menurutnya banyak kelebihan Jharna di banding menantunya.
“Oohh itu disediain sama crew tante. Mereka pinter milihin baju buat aku. Aku nerima aja yang mereka siapin dan untungnya cocok.” Jharna menjawab dengan jujur. Selama proses syuting tim nya memang bekerja sama dengan sangat baik, itu mengapa Jharna begitu nyaman.
“Kamu gadis yang baik Jharna, kalian beruntung memiliki satu sama lain.” Widi memuji dengan tulus. Ia melihat mata putranya yang mendelik kesal.
Jharna dan Kelvin hanya saling menoleh dan melempar senyum satu sama lain, pada bagian ini mereka sepakat dengan ucapan Widi.
“Kalian gak nungguin aku?” sebuah suara terdengar di belakang sana.
__ADS_1
Deg!
Jantung Jharna seperti berhenti berdetak beberapa saat Ketika menyadari kalau suara itu milik Cheryl. Ia masih mengingat jelas suara bengis wanita itu saat ia meminta tolong. Kelvin melihat jelas wajah Jharna yang berubah pucat. Ia menggenggam tangan Wanita itu dengan erat, untuk menguatkannya.