Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Perkenalan


__ADS_3

Seisi studio mendadak hening, tidak ada suara yang terdengar selain suara timer waktu tayang yang terus berdetak konstan. Begitu pun dengan Jharna, ia masih terdiam dengan debar jantung yang sangat cepat. Ia sadar benar, diamnya orang-orang di ruangan ini karena sedang menunggu jawabannya.


Jharna menghela napasnya dalam, tangannya saling mencengkram satu sama lain untuk menguatkan dirinya sendiri. Rasa gundah yang biasanya hilang setelah ia menatap Kelvin, tetapi kali ini ia bahkan tidak berani menoleh ke arah pria itu. Ia takut jika kemudian kamera mengikuti arah pandangnya dan membuat Kelvin harus tersorot kamera.


"Jharna, boleh di jawab pertanyaannya? Kita semua nungguin loh," Cheryl begitu semangat menyudutkan wanita berkulit putih itu. Ia tahu persis kalau mental Jharna sedang tertampar dan ia yakin jawaban apa pun yang Jharna berikan tidak akan mengubah asumsi publik tentang kekasihnya. Satu kemenangan berada di tangannya, membuat sudut bibirnya menyeringai tipis penuh rasa puas.


Kalau saja Cheryl tahu tujuan utama Andrew untuk mengungkap aib masa lalu kekasih Jharna, mungkin ia akan dengan senang hati mewawancarai Jharna dan membuatnya lebih tersudut dari ini.


Di tengah tatapan dari ribuan pasang mata, Jharna masih berusaha menenangkan dirinya. Tidak ada yang bisa menguatkannya selain dirinya sendiri. Saat ini memang hanya Jharna sendiri yang bisa menolong dirinya dan Kelvin.


"You okey?" Cheryl semakin mendesak dengan gayanya yang sok berempati. Ia sampai berpindah duduk demi memperlihatkan usahanya untuk menguatkan Jharna hingga menggenggam tangan wanita itu dengan erat.


Jharna terangguk pelan. Wanita itu masih berusaha untuk tidak semakin terintimidasi oleh Cheryl, karena semakin ia terlihat lemah maka Cheryl akan semakin mudah menjatuhkannya. Dengan segenap keberanian Jharna mencoba untuk menjawab, ia tidak memiliki pilihan lain selain jujur. Di sudut sana, Kelvin ikut gelisah melihat Jharna yang menjadi pusat perhatian. Ia sudah sangat bersiap jika kemudian Jharna menjawab jujur dan membuatnya terpojok. Tidak masalah baginya asalkan Jharna bisa keluar dari kondisi yang sangat menekannya.


"Iya, kekasih saya adalah seorang dokter bedah plastik," aku Jharna dengan sejujurnya. Ia menatap penuh percaya diri pada kemera di hadapannya.


Cheryl tersenyum tipis walau kemudian berusaha tetap menunjukkan kepura-puraannya dalam memberikan empati. "Benarkah namanya dokter Kelvin, seperti yang disebutkan di komentar para penonton?" Dengan jemarinya yang lentik Cheryl menunjuk layar monitor besar di belakang mereka. Jharna ikut menoleh dan ternyata ada ribuan komentar yang menyebut nama Kelvin sebagai tersangka malapraktek. Wanita itu mengangguk pelan.


"Astaga, kenapa dia mengakuinya?" Bobby yang ikut tegang sampai mengepalkan tangannya sesaat setelah mendengar jawaban Jharna. Ia tahu persis kalau seorang Cheryl bukan orang yang mudah untuk di hadapi. Wanita itu akan terus mengejar jawaban Jharna.


"Kamu jangan bikin tegang dong yang, Jharna juga pasti gugup. Dia bukan wanita yang bisa berbohong, aku juga bisa merasakan gimana tersudutnya Jharna, gak ada pilihan lain selain jujur karena dia pasti gak nyiapin jawaban apa-apa soal masalah ini, selain jujur," tutur Amilny dengan penuh kecemasan. Ia berpegangan pada lengan Bobby yang ada di sampingnya.


"Menurut kamu gimana Vin?" lanjut Amilny pada sahabatnya.


Kelvin terlihat sangat tegang dan ia pun tidak tahu harus berbuat apa. Jharna bahkan tidak berani untuk menolehnya karena Jharna mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Kita liat dulu," hanya itu jawaban Kelvin sambil terus memperhatikan Jharna. Ia yakin kalau Jharna bisa menjawab dengan bijak, karena seperti itulah sosok wanita yang ia cintai.


"Lalu, apa kabar itu benar, kalau pacar kamu pernah melakukan malapraktek?" benar saja kalau pertanyaan Cheryl semakin menyudutkan.


Jharna tersenyum kecil dengan raut wajahnya yang tenang. "Kekasih saya adalah seorang dokter bedah plastik yang sangat hebat," Jharna menggantung kalimatnya seraya menoleh pada Kelvin. Tanpa niatan mengalihkan pandangannya dari Kelvin, wanita itu melanjutkan kalimatnya.


"Beberapa tahun lalu dokter Kelvin di tuding melakukan malapraktek. Beliau di beri sangsi dengan diberhentikanya beliau dari tempat kerja dan di cabut surat izinnya. Tapi, kami memiliki bukti bahwa apa yang terjadi pasiennya bukan sebuah tindakan malapraktek. Pihak penyidik sudah memvalidasi hal itu dan terbukti kalau dokter Kevin tidak bersalah. Mengenai prakteknya kali ini, hal itu karena surat izin prakteknya sudah dikembalikan." Jharna menggenapkan kalimat pembelaannya membuat ketiga sahabatnya menghembuskan napas lega.


"Saat ini saya bersyukur karena dokter Kelvin bisa kembali praktek dan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Dokter Kelvin dokter yang hebat. Saya mengatakan ini bukan hanya karena saya mencintainya, tetapi saya memang menyaksikan kehebatan kedua tangannya." Kali ini Jharna berujar sambil menatap kamera di hadapannya.


"Dulu saya tidak secantik ini sebelum bertemu dengan dokter Kelvin," ia tersenyum ringan pada kamera.


"Maksudnya? Kamu jelek gitu?" Cheryl segera menimpali. Rasanya ia ingin tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Jharna yang tidak ia sangka. Ia berharap Andrew dan Widi juga mendengar jawaban Jharna berikutnya.


"Saya pernah memiliki seorang suami yang begitu membenci saya karena saya gemuk dan tidak menawan seperti sekarang. Dia bahkan," Jharna menghela napasnya dalam untuk menguatkan hatinya lantas menatap Cheryl yang ada di hadapannya dengan lekat. "Berselingkuh di belakang saya. Bebas melakukan hubungan layaknya suami istri di kamar yang bersebelahan dengan kamar saya."


Mendengar ujaran Jharna, Cheryl mulai menarik tangannya dari genggaman Jharna. Wajahnya menegang seperti halnya Andrew dan Widi. Mereka gelisah karena kisah Jharna seperti familiar bagi mereka.


"Puncaknya, mereka berusaha menyingkirkan saya dengan mendorong saya dari jurang yang curam hingga jatuh di lautan lepas." Jharna menatap Cheryl dengan dingin membuat wanita itu menelan salivanya kasar-kasar dan menarik tubuhnya menjauh Jantungnya berdebar kencang dan isi kepalanya memutar kembali kejadian satu tahun lalu.


Hal yang sama dirasakan oleh Widi dan Andrew. Bulu kuduk mereka sampai meremang dengan napas tertahan.


"Lalu bagaimana kak Jharna bisa selamat?" seorang penonton yang tidak sabar segera bertanya.


"Tentu saja karena pertolongan tuhan melalui tiga orang baik yaitu dokter Kelvin, dokter Bobby dan dokter Amilny. Mereka tidak hanya menyembuhkan luka fisik saya melainkan juga luka mental dan hati saya. Karena mereka juga saya bisa duduk dihadapan kalian dan mengakui semuanya," Jharna menjawab dengan gamblang.

__ADS_1


"Mba Cheryl tentu familiar dengan cerita saya bukan? Jika Anda lupa, biar saya ingatkan pada wanita bernama Anjani," tandas Jharna dengan penuh keyakinan.


Wajah Cheryl pucat pasi, tangannya sampai gemetar. Ia mengambil air minum dari atas meja, tetapi


Prank! Gelas itu malah terjatuh dari tangannya. Ia berusaha mengambil gelas yang jatuh daan pecah berkeping-keping di dekat kakinya. Tetapi saat akan mengambilnya, tangannya malah terluka.


"BREAK!!" seru manager Cheryl yang tahu kalau artisnya sedang terkena serangan panik. Wanita itu terlihat kesesakan.


"Gak ada break, lanjut aja!" seru assistant produser yang ingin melihat sejauh mana acara ini berlangsung.


"Mba Cheryl tidak apa-apa?" tanya Jharna yang hendak menyentuh tangan Cheryl. Tetapi Cheryl segera mengibaskannya. Ia juga beranjak dari tempatnya, berdiri tertatih-tatih dengan tubuh gemetar. Kakinya terasa berat, seperti habis melihat hantu.


"Kenapa Cheryl begitu ketakutan? Apa dia kenal dengan Anjani dan gak nyangka kalau kak Jharna itu Anjani?" tanya salah seorang penonton. Suasana studio pun mendadak riuh karena pertanyaan itu. Semua orang berbicara, mengungkapkan rasa penasarannya.


"Apa dia yang mendorong kak Jharna dan berniat membunuhnya?" penonton lain kembali bertanya.


Jharna tidak menjawab. Ia memilih turun dari panggung saat Kelvin menghampirinya. "Kamu gak apa-apa?" tanya Kelvin yang segera memeluk Jharna.


Jharna hanya menggeleng, "Maafin aku Vin, aku terpaksa mengatakan semuanya," Jharna berujar lirih. Wanita itu menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Kelvin.


"Tidak apa-apa Jharna, kamu tenanglah. Apa yang kamu lakukan udah benar Jharna, udah seratus persen benasr," timpal Kelvin seraya mengusap punggung Jharna untuk menenangkannya.


"AAAAARRRGHHHH!!!" tiba-tiba saja Cheryl berteriak histeris, membuat suasana di studio semakin memanas. Komentar dari para penonton semakin ramai dan saat itu juga, acara di akhir tanpa salam perpisahan apapun.


*****

__ADS_1


__ADS_2