Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Saling menyalahkan


__ADS_3

Seorang wanita berlari dengan cepat membawa tas tentengan besar di tangannya di koridor rumah sakit yang panjang. “Permisi,” ujarnya saat beberapa orang menghalangi jalannya. Napasnya terengah-engah menuju ke sebuah ruang perawatan. Dia adalah Cheryl, wanita yang baru kembali dari Bandung setelah pertemuan dengan teman-teman artisnya. Ia masih mengenakan pakaian golf untuk menemui putranya, belum sempat berganti pakaian sama sekali.


Beberapa jam lalu ia mendapat kabar kalau Leon di larikan ke rumah sakit karena dehidrasi dan kejang deman. Wajahnya Cheryl terlihat panik, tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah dan sesalnya karena meninggalkan putranya yang sedang sakit. Harusnya ia segera membawa Leon ke dokter saat perawat penjaganya mengatakan kalau demam Leon mulai tinggi. Tetapi ia lebih mementingkan pekerjaannya, ya itu salahnya.


Di dalam sebuah kamar rawat VIP, terdengar suara tangis kejer Leon yang menggema. Suaranya sampai serak, sepertinya Leon menangis sejak tadi dan gagal di tenangkan oleh Andrew juga Widi. Cheryl segera masuk dan mendapati Leon sedang mengamuk di gendongan Andrew. Meronta-ronta, entah apa keinginanya.


Tanpa aba-aba, Cheryl segera menghampiri Leon. Menjatuhkan tas ranselnya begitu saja. “Sayang, ini sama Mami nak. Hey, Leon,” panggil Cheryl pada sang anak. Ia sudah mengulurkan tangannya untuk mengambil alih Leon.


“Mau apa kamu? Datang-datang main gedong aja! Ganti baju!” seru Andrew dengan mata melotot.


“Tapi Leon nangis, sini aku gendong dulu.” Cheryl tidak tega melihat Leon yang sampai bermandi keringat dan menangis hingga melenting-lentikan tubuhnya. Tidak ada air mata yang keluar dari mata balita berusai enam bulan itu. Ia hanya terus meronta-ronta di gendongan Andrew.


“Ganti baju dulu!!!” Andrew bersikeras menolak Cheryl, hingga membentak wanita itu.


Cheryl terhenyak kaget mendenar bentakan suaminya. Tidak biasanya Andrew sampai membentaknya seperti ini. Ia juga melihat Widi yang tersenyum sinis padanya. Cheryl sadar, Semua orang sedang memojokkannya.


“Udah, kamu ganti baju dulu sana. Ini rumah sakit, kondisi Leon juga lagi lemah, jangan kamu tambah dengan bawa kuman dari luar.” Widi yang biasanya bersikap netral pun, terlihat sinis kali ini.


Cheryl terpaksa menurut. Ia masuk ke dalam kamar mandi, mengganti pakaiannya dengan baju yang ada di dalam tasnya. Ia juga membersihkan beberapa bagian tubuhnya. Tidak terlalu lama karena ia tidak tega mendengar suara tangis Leon yang seperti kesakitan.


“Leon, ini Dady sayang. Jangan di tarik infusnya nak. Nanti kamu di infus lagi.” Andrew berusaha menenangkan putranya yang terus menangis. Tetapi Leon tetap saja menangis dan tidak mau diam. Selang infus ia tarik-tarik dengan satu tangan lainnya, membuat Widi memegangi tangan cucunya dengan erat, agar tidak berontak.


“Coba biar saya gendong Pak,” tawar perawat yang baru selesai membereskan alat infusan. Ini kali ketiga infusan di tangan Leon mengalami bengkak dan harus di ganti. Anaknya sangat aktif, karena cairan di tubuhnya sudah mulai terganti. Meski begitu, Leon memang cukup sulit di tenangkan, mungkin karena tubuhnya yang tidak nyaman.


“Silakan, Sus.” Andrew memberikan putranya pada perawat itu.


“Ssstt, Leon… sama aunty yuk. Kita liat jerapah….” Ajak perawat muda itu. Ia menggendong Leon dengan kedua tangannya dan membawanya mendekat pada dinding kamar, di mana ada stiker jerapah di sana.

__ADS_1


Leon masih manangis hingga sesegukan, “Liat nih, waaahh ada jerapah. Panjang sekali lehernya. Leon mau pegang?” lagi perawat itu membujuk.


Sambil sesegukan perhatian Leon beralih pada gambar jerapah di dinding. Sesekali ia masih menangis, tetapi sudah tidak seheboh tadi. Ia memperhatikan gambar jerapah itu dan tangannyaa terulur ingin menyentuhnya.


“Haay mr jerapah, ini Leon. Leon anak yang hebat, anak yang kuat.” Perawat itu menyentuhkan tangan Leon ke dinding, membuat bocah itu memukul-mukulkan tangannya ke dinding karena gemas. Ia juga menoleh perawat itu.


“Ada koala juga di pohon, Leon mau liat Koala?” tawar perawat itu.


“Ta ta ta ta….” Hanya itu suara yang keluar dari mulut Leon dengan serak dan tersendat-sendat karena masih sesegukan setelah menangis. Paling tidak, Leon sudah bisa di tenangkan.


“Leon, come sama Mami,” setelah berganti pakaian, Cheryl kembali mendekat.


“Mau sama Mami?” tawar perawat itu.


Leon hanya memandangi Cheryl beberapa saat, bibir anak itu menipis lebar lalu kembali menangis dengan sangat sedih. Ia menyembunyikan wajah merahnya di dada perawat itu. “Ooo… sayang… gak apa-apa, Leon liat jerapah dulu ya Mami. Nanti baru gendong Mami,” ucap perawat yang masih berusaha menenangkan Leon. Sepertinya Leon tidak mau di gendong oleh ibunya.


“Mas kok ngomong gitu sih? Aku kan kerja buat keluarga kita juga, bukan buat aku doang!” Cheryl mulai terpancing karena merasa berulang kali di pojokkan.


“Buat keluarga kita apanya? Penghasilan aku lebih dari cukup buat menghidupi keluarga kita dan membeli gaya kamu. Kamu cuma ngejar popularitas kamu aja, ngasih makan ego kamu!” Andrew sampai menunjuk wajah Cheryl dengan telunjuknya yang besar.


“Kamu apa-apaan sih Mas?!” Cheryl menepis telunjuk Andrew, ia tidak suka saat Andrew menunjuk wajahnya.


“Udah-udah! Kok kalian malah ribut sih? Ini rumah sakit loh! Leon lagi sakit! Bukan waktunya saling nyalahin kayak gini. Fokus aja sama kesembuhan Leon!” Widi berusaha menangahi. Ia menatap Andrew dan Cheryl bergantian.


Andrew tampak menghembuskan napasnya dengan kasar, ia berkacak pinggang lalu memalingkan wajahnya dari Cheryl. Cheryl hanya terdiam, dengan air mata tertahan. Ia menatap Leon yang lebih bisa di tenangkan oleh perawat yang berdiri mematung di sudut ruangan, sambil mengusap-usap punggung Leon.


Leon sudah lebih tenang, anak itu mulai tertidur di pangkuan perawat. Pelan-pelan perawat membawa Leon ke ranjangnya, dan membaringkan bocah itu dengan hati-hati.

__ADS_1


“Adeknya biar istirahat dulu ya Bu. Nanti saya cek lagi suhunya dua jam kemudian. Mudah-mudahan suhunya segera turun dan tidak naik lagi,” ucap perawat itu sambil menepuk-nepuk paha Leon agar tertidur nyenyak.


“Saya bisa ketemu dokter spesialisnya, sus?” tanya Cheryl penasaran.


“Dokter spesialis akan visit besok pagi, kalau ibu ada pertanyaan, bisa ibu sampaikan pada dokter jaga terlebih dahulu,” sahut perawat itu dengan tenang. Cheryl hanya mengangguk pelan, memahami dengan benar ucapan perawat itu. “Kalau bangun, adeknya nanti di kasih susu lagi boleh kok Bu. Atau ASI dari ibunya langsung juga boleh, supaya pemulihannya cepat.”


“Saya gak ada ASI nya sus, dia minumnya sufor dari lahir,” sahut Cheryl seraya memandangi wajah Leon yang terlelap.


“Boleh, nanti sufor diberikan saja ya Bu. Sedikit-sedikit tapi sering, berhati-hati agar tidak tersedak,” pesan perawat itu.


“Baik Sus,” Cheryl akhirnya meenurut. Perawat itu pun pergi meninggalkan keluarga Sanjaya, setelah kondisi mulai tenang.


Cheryl duduk di samping ranjang Leon. Ia memandangi wajah Leon yang terlelap. Matanya sampai bengkak karena menangis terus menerus. Cheryl merasa bersalah, hatinya berdesir hingga menitikkan air mata. Ia ingin menyentuh tangan Leon, tetapi tangan Leon bengkak bekas infusan. Ia tidak tega, takut sentuhannya malah membuat Leon kesakitan.


“Lain kali, kamu pikir-pikir lagi kalau mau bepergian. Udah tau anak sakit, malah di tinggal ke luar kota,” ucap Widi dengan nada bicara yang sinis.


“Udah deh Mah, jangan ngomong terus. Aku juga tau kalau aku salah. Tapi Mamah juga salah karena gak jagain Leon dan malah pergi arisan, senang-senang sama temen-temen sosialita Mamah itu.” Cheryl tidak tinggal diam, ia membalas ucapan ibunya tidak kalah sinis.


“Loh, kok jadi nyalahin saya? Heh, kamu gak lupa kan Leon itu anak siapa? Anak kamu! Kenapa saya yang diberi tanggung jawab? Kamu yang lebih punya kewajiban buat ngurus dia. Jangan mentang-mentang ada suster, semuanya kamu serahin sama suster. Kamu sendiri hidup dengan bebas, seolah tidak punya kewajiban apa-apa. Kalau belum siap punya anak, kerjaan kamu jangan bikin anak mulu!” seru Widi dengan kesal.


“Mah,” Andrew segera melerai. “Kenapa kalian berantem di sini sih? Sana di luar! Jangan ganggu Leon tidur.” Laki-laki itu berusaha mengingatkan. “Kamu itu salah Cheryl, terima itu. Dan Mamah juga jangan terus-terusan mojokin Cheryl, kita semua di sini salah karena mengabaikan kondisi Leon. Untung ada Jharna yang membawa Leon ke sini, kalian harusnya berterima kasih sama Jharna karena membawa Leon tepat waktu.” Andrew melanjutkan kalimatnya yang membuat Cheryl menoleh.


“Oh, jadi ini berkat Jharna? Jharna yang menurut kamu sangat berjasa sekarang ini?” Cheryl mulai terpancing. Ia tidak suka mendengar Andrew menyebut nama Jharna dengan penuh perasaan seperti ini.


“Udah! Kalian juga malah berantem. Berisik Mamah dengernya. Kita memang harus berterima kasih sama Jharna, karena dia yang menyelamatkan Leon, bukan malah memperdebatkan dan seolah kamu cemburu!” Widi mendelik sebal pada Cheryl, sang menantu.


Cheryl tidak menjawab, hanya tangannya saja yang mengepal karena mendengar nama Jharna terus di sebut sepanjang perdebatan mereka. Sehebat apa memangnya perempuan itu?

__ADS_1


***


__ADS_2