Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Pertemuan yang tidak seharusnya


__ADS_3

“Jharna, ada apa?” tanya Kelvin saat tiba-tiba Jharna menarik tanggannya masuk ke dalam rumah.


“Aku mau tidur Vin, capek.” Suara Jharna terdengar gemetar. Ia melepaskan tangan Kelvin begitu saja dan berjalan cepat menuju lantai dua.


“Jharna, tunggu sebentar,” cepat-cepat Kelvin menyusul wanita itu dan menahan tangannya.


Langkah Jharna pun terhenti membuat Kelvin segera menghampirinya. “Hey,” panggil Kelvin yang memutar tubuh Jharna agar menghadapnya.


Kelvin memiringkan kepalanya, berusaha menatap wajah Jharna yang menunduk. Ia melihat bulir air mata menetes di sudut mata wanita itu. Cepat-cepat Kelvin memeluknya dengan erat, untuk menenangkan Jharna.


“Ada aku Jharna, apa yang kamu takutkan?” bisik Kelvin dengan lembut.


Perlahan Jharna melingkarkan tangannya di pinggang Kelvin lantas memeluk pria itu dengan erat. Tangisnya yang lirih pecah. Kelvin mulai merasa kalau ada sesuatu yang terjadi saat Jharna pergi ke kamar Leon. Ia biarkan dulu Jharna menangis sampai puas tanpa melepaskan pelukannya. Memberi waktu wanita ini untuk menumpahkan semua emosi yang tersimpan. Di tepuk-tepuknya punggung Jharna dan mengusapnya lembut agar wanita itu tenang.


Setelah itu kondisi Jharna membaik, baru lah ia mengajak Jharna ke balkon di lantai dua. Membuatka minuman hangat untuk menenangkan Wanita itu. Jharna segera meneguk minumannya sedikit demi sedikit. Wangi teh yang menenangkan membuat pikirannya jauh lebih jernih.


“Apa dia melakukan sesuatu terhadap kamu?” kecurigaan Kelvin langsung tertuju pada Andrew. Ia terpaksa harus bertanya meski dadanya bergejolak menahan kesal.


Jharna mencengkram gelasnya dengan erat, ia mengangkat wajahnya dan menatap Kelvin dengan lekat. “Aku takut Vin sama Andrew. Aku gak mau ketemu dia lagi.” Jharna menjawab dengan gemetar.


Wanita polos ini masih dipenuhi traumanya terlebih setelah ia melihat kembali rekaman CCTV yang ia miliki. Sikap Andrew beberapa saat lalu membuat rasa takutnya datang dan mengingatkannya pada banyak kejadian yang memilukan.


“Lalu apa yang mau kamu lakukan sekarang?” Kelvin dengan sabar menemani. Sepertinya dugaannya tepat kalau Andrew melakukan hal yang tidak-tidak pada wanita ini.


“Aku mau ketemu pengacaraku, aku mau akhiri semuanya. Aku mau membebaskan diriku dari Andrew dan Cheryl.” Jharna berujar dengan tegas.


Kelvin mengangguk paham dengan rasa takut yang dimiliki Jharna. “Kalau kamu merasa terancam, kamu berhak melakukan itu. Kamu mau aku antar?” tawar Kelvin.


“Kamu gak ada janji sama pasien?”


“Besok pagi aku free.”


“Iya, ada kamu lebih baik.” Jharna menghembuskan napasnya lega. Ia meneguk kembali tehnya, untuk menenangkan dirinya. “Aku mau tidur duluan ya… Makasih untuk hari ini.” Jharna beranjak lebih dulu dari tempatnya.


“Iyaa, makasih juga karena kamu udah kuat hari ini,” balas Kelvin dengan senyum tipis yang menenangkan.


“Malem Vin,”


“Malem Jharna,”


Jharna pun pergi menuju kamarnya. Ia perlu mengistirahatkan tubuhnya yang sangat letih. Sementara Kelvin masih di tempatnya. Ia memandangi ke arah rumah Andrew. Lampu-lampu masih menyala, kemungkinan orang-orang itu belum tidur.


Sambil menikmati teh buatannya sendiri, Kelvin memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk melindungi Jharna. “Apa sebaiknya aku bawa Jharna pindah dari sini?” Hal itu yang terpikir di benak Kelvin saat ini. Ia tidak mau membiarkan Jharna terus merasa tidak tenang.


Ditengah pikirannya itu, ponselnya berbunyi dengan notifikasi pesan masuk. Kelvin segera memeriksanya dan dahinya berkerut saat ternyata pesan itu dari Jharna.


“Vin, bisa tolong temani aku sebentar? Aku gak bisa tidur.” Begitu isi pesan yang Kelvin terima.


Sungguh hatinya terhenyak kaget mendapat pesan itu. Jantungnya tiba-tiba berdebar sangat kencang membaca permintaan Jharna.


“Masuk ke kamarmu?” Kelvin membalas dengan gemetar.


“Apa merepotkan?” balas Jharna lagi.

__ADS_1


Kelvin tidak membalas, ia hanya membacanya. Perasaannya mendadak jadi tidak karuan membayangkan ia harus masuk ke kamar Jharna walau hanya untuk sekedar menemani Jharna.


“Jangan berpikir buruk, jangan berpikir kotor. Jharna hanya sedang ketakutan.” Seperti itu usaha Kelvin untuk mengingatkan dirinya sendiri sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan kepalan tangannya. Ia berharap pikiran aneh-aneh itu hilang dari benaknya.


Dengan tekad yang bulat untuk menemani Jharna, laki-laki itu pun mengetuk pintu kamar Jharna. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar. “Jharna, aku Kelvin.” Seperti password saja, untuk menenangkan Jharna yang paranoid.


Tidak lama, daun pintu itu terbuka. Ia melihat Jharna berdiri dihadapannya. “Kamu mau ngetuk apa? Pintunya udah terbuka,” ucap Jharna.


“Eh, astaga.” Kelvin segera menurunkan tangannya yang seperti akan mengetuk pintu.


Jharna hanya tersenyum dan masuk lebih dulu ke kamarnya. Ia menaruh guling di tengah-tengah kasurnya dan membaringkan tubuhnya di sisi kiri. Sisi kanan yang kosong mungkin di maksudkan untuk Kelvin.


Walau kikuk, akhirnya Kelvin masuk ke kamar Jharna. Ia membiarkan pintu kamar Jharna tetap terbuka. Ragu-ragu ia membaringkan tubuhnya di sisi kasur yang kosong.


“Cukup temani aku sampai tidur ya Vin. Maaf kalau merepotkan,” ucap Jharna sambil memeluk satu guling yang tersisa. Ia terbaring menyamping menghadap Kelvin.


“Iyaa, aku temenin. Mau aku dongengin?” tawarnya, dengan absurb.


“Cerita apa aja Vin, terserah kamu.” Jharna masih dengan usahanya agar bisa tertidur.


“Okey, ehm!” Kelvin berdehem untuk meneralisir suaranya. Ia mencari dongeng di halaman internet, untuk ia ceritakan pada Jharna.


Setelah dapat, ia mulai bercerita. “Di Tanah Karo, Sumatera Utara terjadi kemarau panjang. Beru Dayang seorang anak laki-laki yang sudah yatim meninggal karena kelaparan. Sang ibu pun bersedih sampai memutuskan terjun ke sungai yang dalam.”


“Apa ini cerita tentang asal muasal padi?” Jharna bertanya dengan penasaran.


“Iya, kamu tau?” Kelvin segera menoleh.


“Iyaa, ibuku pernah menceritakannya.” Jharna tersenyum kecil.


“Cerita tentang kamu aja Vin,” pinta Jharna.


“Cerita tentang aku?” Kelvin menunjuk batang hidungnya sendiri. Jharna hanya mengangguk pelan. “Cerita tentang aku itu menjemukan Jharna. Kamu gak akan suka,” imbuh Kelvin.


“Kamu bahkan belum bercerita, bagaimana bisa kamu mengira aku gak akan suka?” timpal Jharna.


Mendengar sahutan Jharna, Kelvin membalik tubuhnya miring, menghadap Jharna. “Ceritaku baru indah setelah mengenal kamu,” ucap laki-laki itu dengan lembut.


“Oh ya?” Jharna tampak penasaran.


“Hem, aku serius. Dulu aku anak yang sangat disiplin. Ayahku seorang yang tegas terhadapku dan adikku. Kami harus selalu menurut. Tugas kami hanya satu, yaitu belajar. Ayah membelikanku banyak buku agar aku bisa menjadi orang pintar dan hebat. Sehari-hari, aku dan adikku hanya belajar dan belajar, itu mengapa hidupku sangat menjemukan.” Tanpa sadar Kelvin mulai bercerita. Bernostalgia dengan bayangan keluarga yang mengisi ingatannya.


“Saat aku SMA, ayahku meninggal. Tidak lama dari itu, ibuku juga sakit, terkena luka bakar saat sedang memasak. Tubuhnya di penuhi luka dan tidak tertolong lagi. Sejak saat itu, hidupku benar-benar berantakan. Aku belajar dengan giat agar bisa menjadi seorang dokter. Aku gak pernah pergi main dengan teman-temanku, semua itu karena rasa sedihku kehilangan ibuku.”


“Adikku saat itu ikut terluka. Tangan dan wajahnya terkena luka bakar. Dia sering di bully dan aku gak bisa nolong dia. Sampai akhirnya, aku lulus kedokteran dan mengambil spesialisasi bedah plastik. Orang pertama yang aku obati adalah adik perempuanku. Aku gak mau dia terus di bully dan merasa dirinya tidak berharga.”


“Siapa sangka, usahaku berhasil. Adikku sembuh dan dia kembali ceria. Itu mengapa, aku sangat mencintai profesi ini Jharna. Aku selalu bahagia setiap kali melihat pasien-pasienku tersenyum bangga melihat dirinya yang lebih baik. karena itu hidupku seperti hancur saat seseorang menjatuhkan usahaku.” Kalimat Kelvin terhenti. Ia menatap Jharna yang masih memandanginya.


“Kehadiran kamu di hidupku, menjadi penolongku agar tidak terpuruk. Hidupku jadi berwarna dan aku menemukan Kembali keberanian dan kebahagiaanku. Terima kasih,” ucap Kelvin seraya menyentuhkan tangannya ke tangan Jharna.


Jharna hanya tertegun, ia tidak menyangka kalau ternyata keterpurukan Kelvin bukan tanpa alasan. Bebannya cukup berat karena ia kehilangan banyak hal.


“Aku juga beruntung bertemu kamu, Vin,” timpal Jharna dengan sepenuh hati. Mereka saling melempar senyum satu sama lain untuk saling menyemangati.

__ADS_1


“Boleh aku mendekat?” tanya Kelvin dengan ragu.


Jharna terangguk pelan seraya tersenyum. Dengan cepat Kelvin menggeser tubuhnya, melewati guling dan mendekat pada Jharna. Di peluknya Jharna dengan erat. “Tidurlah, aku berjanji aku akan melindungimu. Aku akan menjadi tempat teraman dan ternyaman untukmu. Jangan mencemaskan apapun Jharna, aku akan selalu ada di sini,” ungkap Kelvin dengan penuh kesungguhan.


Jharna tidak menimpali, tentu saja ia percaya pada ucapan Kelvin. “Selamat malam Vin, terima kasih untuk semuanya,” gumam Jharna dengan pelan. Meskipun begitu Kelvin masih bisa mendengarnya.


Jharna mulai memejamkan matanya, detakan jantung Kelvin di dekat telinganya menjadi melodi hypnotic yang menenangkannya. Ia bisa mendengar suara napas Kelvin yang sesekali tertahan. Namun semakin lama, suara napasnya beranggur tenang. Laki-laki itu ikut memejamkan mata dan terlelap seraya memeluk Jharna.


****


Pagi itu, sesuai dengan rencana, Jharna pergi ke kantor pengacara. Ia membawa beberapa berkas penting salah satunya dokumen resume medis yang dibuat oleh Kelvin.


“Mau aku temani?” tanya Kelvin, sesaat sebelum Jharna turun.


“Em, kayaknya gak usah Vin. Aku berani kok. Lagian surat dari kamu ini udah lebih dari cukup,” ucap Jharna yang terlihat lebih tenang di banding sebelumnya.


“Okey, kalau perlu bantuanku, telepon aja ya. Aku tetep aktifin hape kok,” timpal Kelvin.


“Iyaa… makasih ya Vin,” ucap Jharna. Kelvin hanya terangguk sampai kemudian wajahnya mendadak memerah saat Jharna mengecup pipinya. Ia kaget bukan kepalang mendapat hadiah indah di pagi hari yang cerah ini.


“Selamat bekerja, jangan lupa makan siang. Bye!” pamit Jharna tanpa rasa bersalah sama sekali karena membuat Kelvin membeku di tempatnya.


“Bye….” Suara Kelvin terdengar pelan, Ia mengusap pipinya yang masih menyisakan noda lipstick bergambar bibir Jharna.


Ia segera melihat wajahnya di spion dan benar saja, ada gambar bibir Jharna di sana. “Ini tato pertamaku,” ucapnya sambil memirang miringkan wajahnya dengan berbagai ekspresi. “Aku gak akan menghapusnya,” imbuh laki-laki itu lagi.


Ia membuka dashboardnya dan mengambil masker dari sana. Ia mencoba memakainya dan benar saja bekas bibir Jharna terutupi. Ia membukanya lagi dan tidak terhapus.


“Fix, seharian ini aku akan pake masker,” ujar laki-laki itu dengan penuh keyakinan.


Ia mulai melajukan mobilnya dengan penuh percaya diri, bersiul-siul sepanjang jalan melantunkan nada lagu cinta. Sungguh hatinya berbunga-bunga.


Di kantor pengacara, Jharna di sambut oleh seorang resepsionis. “Mohon maaf, Pak Arwin sedang mendampingi klien untuk sidang. Ibu bisa bertemu dengan rekan satu timnya, nanti akan di bantu,” ucap resepsonist itu.


“Oh ya, boleh.” Jharna mengiyakan saja, toh menurutnya tidak ada bedanya.


“Baik, silakan di tunggu sebentar, saya hubungi dulu.”


Jharna pun duduk menunggu di ruang tunggu. Ia mengambil satu majalah untuk menemaninya menunggu. Resepsionis itu menghubungi seseorang, kemungkinan adalah rekan satu tim Arwin, pengacaranya.


“Beliau akan segera kemari,” ucap resepsionis itu.


“Iya Mba, makasih,” timpal Jharna. Wanita itu mengangguk sopan sementara Jharna kembali membuka-buka majalahnya.


Tidak berselang lama, terdengar suara derap kaki yang terbungkus steleto. Seorang wanita cantik menghampiri resepsionis.


“Di mana tamu saya?” tanya wanita itu.


“Oh, beliau tamunya Mba,” timpal resepsionis yang menunjukkan Jharna.


Jharna segera menoleh dan matanya membulat saat melihat sosok wanita yang menghampirinya. Tubuhnya refleks berdiri melihat senyum ramah wanita itu.


“Apa kabar, perkenalkan saya Carissa Sanjaya, rekan satu tim Pak Arwin,” ucap gadis itu seraya menngulurkan tangannya pada Jharna.

__ADS_1


****


__ADS_2