
Malam yang dingin, menempatkan Jharna dalam ke sendirian dan kesepian. Untuk mengisi waktunya, ia memilih keluar kamar untuk mencari udara segar. Rencananya ia ingin pergi ke Pantai, berjalan-jalan di pesisir tanpa alas kaki, merasakan pasir yang lembut dan membiarkan ombak pecah di kakinya.
Melewati loby, sosok Jharna mencuri perhatian banyak pasang mata lelaki yang sama-sama akan keluar dan mencari angin. Kebanyakan di antara mereka adalah wisatawan asing yang terpesona oleh sosok cantik yang melintas di depan mereka. Mereka hanya memandangi tanpa berani mendekat. Beberapa di antara mereka mengajak Jharna tersenyum dan wanita itu hanya mengangguk sopan, membuat para lelaki itu segan.
Alih-alih segera pergi, Jharna lebih memilih terduduk di loby hotel menghadap ke jalan. Ia jadi teringat terakhir kali ia ada di tempat ini dan menunggu sebuah taksi online. Ia masih mengingat bagaimana bergejolaknya rongga dada dan pikiran yang melantur ke mana-mana saat membayangkan Andrew diam-diam menemui Cheryl di saat ia sedang tertidur. Jharna mengusap wajahnya kasar, ia tidak mau mengingat hal itu lagi.
“Selamat malam, Anda sedang menunggu taksi?” Seorang petugas keamanan menghampiri Jharna yang sedang duduk termenung sambil menatap nanar jalanan yang sepi. Lebih banyak pejalan kaki di banding kendaraan yang melintas.
Jharna segera menoleh, ia cukup terkejut saat ternyata yang menyapanya adalah petugas keamanan yang sama dengan setahun lalu.
“Taksi online ada gak pak semalam ini?” Jharna iseng bertanya. Ia ingin tahu apa kondisi di sini masih sama atau berbeda.
“Oo kalau taksi online jam segini udah gak ada, paling mobil sewa biasa.” Jawaban laki-laki itu masih sama seperti setahun lalu. “Nona mau ke mana? Biar saya coba carikan mobil sewanya,” tawar laki-laki itu.
“Ke hotel ini, bisa pak?” Jharna menunjukkan hotel tempat Cheryl menginap dulu.
Laki-laki itu tampak tercengang. “Oh kalau ke sana gak ada yang berani.” Laki-laki itu seperti takut.
“Kenapa Pak?” Jharna jadi penasaran.
Laki-laki itu melihat ke sekelilingnya sebelum menjawab lalu sedikit merunduk untuk berbisik. “Ada sopir yang gila setelah mengantar seorang pengunjung hotel ini ke hotel tersebut.” Laki-laki itu berbisik pelan.
“Hah, gila?” Jharna sampai kaget mendengarnya.
Laki-laki itu mengangguk. “Yaa kayak tertekan gitu lah. Hotel itu juga sekarang sepi, gak banyak wisatawan yang mau menginap di sana setelah kejadian satu tahun lalu.” Laki-laki itu meneruskan ceritanya.
“Lalu, di mana pengemudi mobil sewa itu sekarang? Kenapa dia bisa gila setelah mengantar penumpang ke sana?” Jharna semakin penasaran.
“Saya kurang tau. Gak tau dia ngeliat apa, yang jelas pulang dari sana di kayak ketakutan gitu. Gak bisa di tanya juga. Dia ngurung diri dan sampe sekarang dia gak mau ngomong sama siapa pun. Katanya takut, tapi gak tau takut sama apa.” Petugas keamanan itu menjelaskan apa adanya.
__ADS_1
“Antar saya ketemu sopir itu,” pinta Jharna kemudian. Ia berpikir mungkin saja laki-laki muda itu melihat sesuatu yang mengerikan hingga dikatakan gila.
“Hah, non yakin? Untuk apa?” petugas keamanan itu semakin tidak mengerti.
“Saya mohon pak, antar saya ketemu pengemudi itu.” Jharna memohon dengan sungguh. Laki-laki itu memperhatikan ekspresi Jharna yang begitu memohon. Sebenarnya ia tidak mengerti mengapa Jharna sangat ingin bertemu lelaki itu, namun akhirnya ia mengangguk setuju.
Malam itu juga, Jharna pergi ke rumah pengemudi mobil sewaan itu. Rumahnya tidak jauh dari hotel tempat Jharna menginap. Cukup berjalan kaki untuk sampai ke rumah itu. Suara gonggongan anj^ng terdengar di sekitaran rumah-rumah warga. Jharna mengikuti langkah kaki petugas keamanan hingga tiba di sebuah rumah yang sederhana.
Seorang wanita muda menyambut Jharna dan petugas keamanan itu. Sepertinya mereka masih kerabat karena terlihat cukup akrab. Petugas keamanan itu berbisik-bisik dengan wanita tersebut dan sesekali melirik Jharna. Jharna hanya tersenyum saat pandangan mereka bertemu.
“Dia ada di dalam, tapi susah di ajak bicara. Dia cuma bengong aja.” Kalimat itu disampaikan petugas keamanan sebelum mempertemukan Jharna dengan pengemudi taksi itu.
“Iyaa, boleh saya ketemu?” Jharna bersikeras untuk bertemu.
“Boleh,” petugas keamanan itu membawa Jharna masuk ke dalam rumah. Laki-laki yang dimaksud sedang terduduk di salah satu sudut kursi dan menatap keluar jendela. Laki-laki itu seperti orang normal pada umumnya, penampilannya pun rapi dan bersih. Hanya saja, pikirannya tidak di sini.
Laki-laki itu tetap terdiam, tidak merespon sama sekali. Matanya berkedip pelan tanpa arti.
“Maaf saya mengganggu malam-malam, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena setahun lalu Mas nya mengantar seorang wanita ke hotel di dekat tebing itu,” ucap Jharna yang kembali memancing.
Laki-laki itu menelan salivanya kasar-kasar, mendadak ingatannya berputar pada kejadian yang selalu ia pikirkan. “Mas mengingat wanita ini?” Jharna menaruh ponselnya di hadapan laki-laki itu dan perlahan laki-laki itu melirik benda pipih yang tergeletak di atas meja.
Matanya langsung membulat, menarik tubuhnya menjauh dari Jharna dengan tangannya yang tiba-tiba mencengkram rambutnya yang semula rapi. Ia terlihat sangat ketakutan. Menatap tajam pada Jharna yang entah dari mana memiliki foto wanita gemuk yang setahun lalu di antarnya. Ia tidak mengenal Jharna meski dia bilang pernah merasa di bantu.
“Wanita itu tanpa sengaja terjatuh ke laut, orang-orang pasti mencarinya hingga putus asa. Mereka,”
“Dia bukan tidak sengaja jatuh, dia di dorong!” seru laki-laki itu mematahkan kalimat Jharna. Laki-laki itu menatap Jharna dengan tajam, kilatan rasa takut terlihat jelas di matanya.
“Mas melihatnya?” Jharna cukup terkejut dengan ujaran laki-laki itu. Laki-laki itu hanya terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
“Kalau mas melihat kejadian itu, tolong beritahu saya. Saya memerlukan keterangan dari mas.” Jharna meminta dengan sungguh.
“Untuk apa? Wanita itu sudah mati. Di dorong oleh wanita berbaju hitam yang sangat jahat.” Laki-laki itu menatap Jharna dengan yakin. Rasa bersalah karena tidak bisa menolong wanita itu membuat laki-laki itu merasa terus di hantui.
“Perempuan itu masih hidup Mas, dia membutuhkan bantuan Mas,”
Laki-laki itu segera menoleh, menatap Jharna dengan sangsi. Dalam ingatannya, ia melihat sendiri wanita tambun itu jatuh ke laut dan tidak ditemukan hingga berhari-hari. Ia tidak bisa berbicara pada siapapun karena takut kalau ia kelak akan dijadikan saksi dan nyawanya diincar oleh pembunuh wanita itu.
“Orang-orang pasti berpikir kalau wanita itu sudah meninggal. Tapi wanita itu sebenarnya di selamatkan oleh orang baik dan saat ini masih hidup.” Jharna melanjutkan kalimatnya, untuk menenangkan laki-laki itu.
“Tau dari mana kamu? Kamu gak takut pembunuh wanita itu mencarimu?” laki-laki itu berbisik pelan pada Jharna. Jharna bisa memahami kalau laki-laki ini sedang ketakutan.
“Wanita itu di tempat yang aman, dia baik baik-baik saja dan sangat sehat, jadi Mas tidak perlu khawatir.” Jharna meyakinkan dengan sepenuhnya.
“Apa buktinya? Kamu bukan suruhan pembunuh itu kan?” laki-laki tersebut mulai curiga.
“Bukan, saya bukan suruhan pembunuh itu. Mas bisa lihat sendiri bukti-buktinya." Jharna menunjukkan beberapa foto Anjani saat menjalani pengobatan. Laki-laki itu tampak kaget karena ia pikir penumpang yang diantarnya sudah tiada. "Mas akan baik-baik aja, tidak akan ada yang tau kalau mas melihat kejadian itu selain saya.” Jharna dengan sungguh-sungguh meyakinkan.
Laki-laki itu tidak menimpali, tatapannya tetap waspada pada Jharna. Ia beranjak dari tempatnya dan pergi ke kamarnya. Beberapa menit saja ia berada di dalam kamar itu lalu kembali untuk memberikan sesuatu. Sebuah benda pipih berbentuk kotak di taruh laki-laki itu di atas meja. Bentuknya seperti kartu memory.
“Apa mas merekam kejadian itu?” Jharna menatap penuh penasaran pada laki-laki itu.
Laki-laki itu mengangguk. “Saya gak tau harus ngasihin benda itu sama siapa. Itu video yang terrekam dari dashboard mobil saya. Kalau wanita itu memang masih hidup, tolong berikan benda itu pada wanita tersebut. Tapi tolong jangan bilang mba mendapatkan itu dari saya.” Laki-laki itu berujar penuh harap.
Jharna hanya termenung sambil memandangi benda kecil yang kini ada di tangannya. Ia tidak menyangka kalau ternyata kedatangannya ke tempat ini tidak sia-sia. Ada hasil yang bisa ia bawa sebagai bukti kejahatan Cheryl dan Andrew.
Apa keadilan itu akan benar-benar terungkap?
*****
__ADS_1