
Tidak di sangka, gadis manja putri bungsu keluarga Sanjaya yang bernama Carissa Sanjaya telah menjadi seorang pengacara muda yang menemui Jharna di sebuah ruangan. Sang adik ipar ini yang saat ini menjadi rekan satu tim dengan kuasa hukumnya. Satu tahun tidak bertemu, banyak hal yang berubah pada diri seorang Carissa. Ia tumbuh menjadi wanita yang dewasa dengan penampilannya yang rapi dan elegan. Sangat jauh berbeda dengan Carissa yang dulu di kenal tomboy dan cuek. Wanita ini lebih banyak tersenyum sejak pertama menerima Jharna sebagai tamunya.
“Jadi, nyonya Jharna saat ini akan mengajukan gugatan cerai pada suami Anda, benar begitu?” Carissa mengulang maksud kedatangan Jharna yang sedari tadi menatapnya dengan penuh perhatian.
“Benar,” Jharna menjawab pendek.
“Ini gugatan pertama Anda?” Carissa kembali bertanya, belum sadar siapa yang ia hadapi sebenarnya.
“Eemm, saya pernah mengajukan perceraian ini setahun lalu, tetapi prosesnya terhenti karena satu dan lain hal.”
“Oh ya?” Carissa bertanya dengan sungguh.
“Iyaa... saya sudah mengajukannya pada Pak Arwin.”
“Baik, kalau begitu silakan tunggu sebentar, saya akan mengkonfirmasinya dulu pada Pak Arwin.”
Carissa pun beranjak pergi. Ia membawa ponselnya untuk menghubungi Arwin. Sedikit percakapan yang Jharna dengar adalah, “Tapi dia bilang pernah ngajuin Pak. Katanya setahun lalu,” suara Carissa terdengar cukup jelas dari ruang sebelah.
Jharna tersenyum kecil, tentu saja Arwin tidak akan menemukannya karena ajuan perceraiannya dulu bukan atas nama Jharna, melainkan Anjani.
Tidak berselang lama Carissa kembali menemui Jharna, “Terima kasih sudah menunggu,” ucap gadis itu.
“Iya, tidak masalah.” Jharna menjawab dengan tenang.
“Saya sudah menghubungi pak Arwin, tapi katanya beliau belum pernah menerima ajuan perceraian atas nama Jharna Mikayla. Apa,” kalimat Carissa terhenti sesaat setelah ia membuka dokumen di hadapannya. Dokumen yang ia terima dari Jharna.
Matanya sampai membulat saat ia membaca nama alias yang tercantum.
Prank!
Kursi yang didudukinya sampai terjatuh karena saat Carissa tiba-tiba berdiri. Ia menatap isi dokumen pengaju bergantian dengan wajah asing yang ada di hadapannya.
“Apa kabar Dek?” tanya Jharna seraya tersenyum kecil pada Carissa. Sepertinya wanita ini sudah menyadari siapa yang duduk berhadapan dengannya.
“Ka-Ka Kak Jani?” Carissa sampai tergagap. Matanya masih melotot tidak percaya, seperti baru saja melihat hantu.
“Ya,” sahut Jharna yang tersenyum kecil.
Carissa sampai menggaruk kepalanya dan mengguyar rambutnya kasar karena tidak menyangka wanita yang dikabarkan sudah meninggal ternyata terduduk di hadapannya dengan paras yang berbeda nan rupawan.
__ADS_1
“Ka-Kak andrew bilang, Kakak,” Carissa sampai tidak bisa berkata-kata. Ia menelan salivanya yang menghalangi pita suara dan membuat vokalnya parau.
“Duduklah,” pinta Jharna dengan tenang.
Gadis itu pun duduk dengan gelisah, masih memandangi Jharna dengan tidak percaya.
“Tolong lihat ini, aku yakin kamu akan memahaminya,” ucap Jharna dengan perlahan seraya memberikan sebuah flashdisk pada Carissa.
Wanita itu mengambil alihnya dengan tangan gemetar. Saking gemetarnya sampai kesulitan memasangkan flashdisk itu ke lubang di laptopnya. Beberapa kali meleset sampai akhirnya terpasang dengan benar.
Sebuah rekaman kejadian di tonton oleh Carissa. Wajah gadis itu terlihat tegang dan sesekali menutup mulutnya melihat kebengisan kakak iparnya. Ia juga tidak menyangka kalau sang kakak hanya diam saja dan tidak melakukan apapun. Tangannya ikut mengepal dengan air matanya yang menetes.
Sepertinya Jharna tidak salah memutuskan. Ia mempercayakan Carissa untuk melihat semuanya dan terbukti kalau gadis itu masih memiliki hati. Hatinya ikut sakit melihat perlakuan sang kakak pada wanita yang pernah menjadi kakak iparnya.
Selesai menonton, Carissa membuka kembali dokumen yang di bawa Jharna. Membacanya dengan seksama dan serius. Resume medis dan laporan operasi dari Kelvin dan Bobby pun di baca dengan lengkap. Jantungnya berdenyut ngilu membayangkan bagaimana menderitanya hidup Jharna dan sulitnya ia bertahan. Jika ia berada di posisi wanita itu, mungkin ia sudah memilih untuk menyerah.
Satu berkas itu telah selesai Carissa baca. Lantas wanita itu menatap Jharna dengan tidak percaya. Matanya merah dan basah membayangkan hancurnya tubuh, hati dan mental Jharna. Walau ragu, tangannya mulai bergerak hendak menyentuh tangan Jharna yang berada di atas meja. Tangannya sangat dingin saat menyentuh tangan Jharna.
“Terima kasih sudah bertahan. Aku akan membantu kakak,” ucap gadis itu dengan suara yang parau. Dua tahun mengenal wanita ini, Jharna selalu bersikap baik padanya sekalipun keluarganya memperlakukan seorang Anjani dengan kasar dan sering kali tidak manusiawi.
Jharna mengangguk pelan, “Terima kasih. Tolong bantu aku untuk menyelesaikan semuanya. Aku ingin semua ini berakhir dengan benar,” timpal Jharna yang balas menggenggam tangan Carissa.
*****
Jharna bisa menghela napas lega saat ternyata Carissa bersedia membantunya. Ia pikir akan sangat sulit menghadapi salah satu keluarga Sanjaya. Nyatanya, sang adik ipar membantu ia memuluskan langkahnya. Entah karena sebuah konsekuensi pekerjaannya atau karena nuraninya yang berbicara, yang jelas Carissa bersedia membersamai Jharna hingga mendapat keadilan.
Sepulang dari kantor pengacaranya, Jharna melanjutkan pekerjaan udah pemotretan sebuah produk makanan. Wanita itu mulai lihai berakting di depan kamera. Memamerkan makanan yang ia cicip sedikit saja dan ekspresi wajahnya jelas menunjukkan kalau ia sangat menikmatinya.
Rekan aktornya menghampiri, merangkul Jharna dari belakang dan ikut mencicipi makanan tersebut lewat suapan romantis dari tangan Jharna. Mata pria itu ikut membulat saat mengunyah makanannya dengan nikmat. Ia memberikan sebuah kecupan mesra di pipi Jharna sebagai bentuk ucapan terima kasih.
Senyum Jharna langsung terbit. Di akhir sesi wanita itu menyebutkan slogan makanan itu dengan penuh ekspresi.
“Okey, cut!” seru sang sutradara saat penampilan Jharna di rasa cukup. “Okey, thank you. Gak ada pengulangan yaa, udah bagus. Bungkus!!” seru produser itu.
Mereka bertepuk tangan sebagai ungkapan kebahagiaan karena berhasil menyelesaikan syuting dengan cepat.
“Makasih ya semuanya....” Jharna mengangguk sopan pada crewnya. Bersyukur rasanya syuting berjalan dengan lancar.
“Makasih kak Jharna....” seru crew, menimpali ujaran Jharna.
__ADS_1
Jharna menghampiri sutradaranya dan laki-laki itu menyambutnya dengan tos lalu menggenggam tangan Jharna dengan erat. “Acting kamu makin bagus aja, good job!” ujar pria itu.
“Makasih, bang. Ini semua berkat abang juga yang sabar ngarahin aku.” Jharna menimpali dengan penuh rasa syukur.
“Iya lah, kita sama-sama berusaha. Kabarnya iklannya akan tayang awal bulan depan. Siap-siap fans kamu bakal makin banyak.” Laki-laki berusia pertengahan empat puluh itu mengingatkan.
“Yang penting hater gak ada ya bang,” timpal Jharna.
“Nggak bakal lah. Sukses ya!”
“Amminn, makasih bang.” Jharna mengangguk dengan sopan.
“Kak Jharna, ada tamu di depan,” ucap salah satu crew wanita.
“Oh ya, makasih,” timpal Jharna. “Di tinggal dulu ya bang,” pamit wanita itu.
“Yo!” sang sutradara menyahuti dengan santai, ia kembali pada pekerjaannya, memeriksa hasil syuting hari ini.
Jharna segera keluar dari studio. Senyumnya terkembang saat membayangkan kalau tamu yang di maksud adalah Kelvin. Jharna sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria itu. Banyak hal yang ingin ia ceritakan pada laki-laki itu. Di luar studio, Jharna melihat ke sekitarnya, mencari sosok Kelvin yang mungkin menunggunya.
“Jharna,” panggil sebuah suara yang membuat Jharna menoleh. Ekspresi wajahnya langsung berubah saat ternyata yang menunggunya adalah Andrew. Laki-laki itu berjalan dengan gagah menghampiri Jharna yang tampak kikuk.
“Apa kabar?” sapa laki-laki itu saat sudah berada di hadapan Jharna. Jharna masih kaget karena laki-laki ini sampai tahu tempat syutingnya dan berani menemuinya.
“Ba-baik. Ada apa kamu ke sini?” Jharna sampai tergagap karena kaget. Padahal ia sangat ingin menghindari laki-laki ini, tetapi Andrew malah datang.
“Untuk menemuimu. Pekerjaanmu udah selesai kan?” laki-laki itu begitu terbuka berbicara dengan Jharna.
“Sudah, tapi aku harus segera pulang. Maaf gak bisa berbincang lama.” Jharna berusaha menolak.
“Tidak masalah, aku juga berrencana pulang. Rumah kita kan searah jadi kita bisa pulang sama-sama.” Andrew dengan jelas memaksa, walau alasannya terdengar masuk akal.
“Oh ya. Aku harus mengambil barang-barangku.” Baru kali ini Jharna menyesali pilihannya untuk bertetangga dengan Andrew.
“Aku akan nunggu,” dengan santai Andrew duduk di kursi tunggu tanpa melepaskan senyumnya dari Jharna. Ia benar-benar bertekad untuk pulang bersama Jharna.
“Astaga, benar-benar keras kepala,” batin Jharna seraya masuk ke studio untuk mengambil barang-barangnya. Sepertinya kali ini ia tidak bisa menghindar.
****
__ADS_1