Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Ungkapan


__ADS_3

“Kamu masih menjadi host acara talk show itu?” tanya Andrew pada Cheryl yang sedang menghapus riasannya di depan meja riasnya. Pantulan wajahnya di tatap oleh Andrew yang terbaring bersandar pada headboard ranjangnya.


“Iya, masih. Emang kenapa?” Cheryl bertanya dengan penasaran. Tidak biasanya Andrew bertanya tentang pekerjaannya.


“Undang Jharna untuk mengisi acara kamu,” pinta laki-laki itu secara tiba-tiba.


Cheryl sampai menoleh pada suaminya dan urung meneruskan untuk membersihkan wajahnya dari polesan make up.


“Apa sih maksud kamu?” sengit wanita itu dengan kesal.


“Gak ada maksud apa-apa. Cuma aku berpikir dia lagi naik daun, pasti acara kamu bakal rame dan gak sepi lagi.” Andrew menjawab dengan santai. Ia bahkan membaringkan tubuhnya sambil memeluk guling.


“Gak usah ngeledek acaraku. Lagian, gak mungkin gak ada maksud apa-apa dari ucapan kamu barusan.” Cheryl melempar kapasnya dengan kasar ke atas meja rias lalu beranjak menghampiri sang suami. Berdiri dengan tegak di hadapan sang suami yang sedang berbaring dan menatapnya penuh selidik.


“Udah beberapa kali loh aku denger kamu nyebut nama dia. Bahas dia depan Mamah, terus muji-muji dia atas kebaikan dia yang cuma seujung jari itu. Aku sampe muak liat kamu sama mamah juga kompak ngebaik-baikin dia depan aku. Kamu ada perasaan ya sama dia?” Mata Cheryl sampai menyalak pada Andrew.


“Kamu ngomong apa sih, malah ngelantur. Udah lah, aku ngantuk.” Andrew menjawab dengan malas. Ini sudah terlalu larut untuk berdebat.


“Heh! Jawab aku! Kamu gak boleh tidur! Enak aja kamu mau tidur setelah bikin aku over thinking. Ayo buruan bangun!” Cheryl mengguncang tangan Andrew agar laki-laki itu bangun.


“Kamu apaan sih!” Andrew yang kesal, mengibaskan tangannya yang di pegangi Cheryl. Cheryl sampai terhenyak karena kibasan tangan Andrew yang cukup kuat. Laki-laki itu beranjak dari tempatnya dan berdiri berhadapan dengan sang istri.


“Kamu yang apa-apaan!! Di kamar kita aja kamu masih ngebahas perempuan lain, apalagi di otak kamu ini!” Cheryl menunjuk kepala Andrew dengan kasar.


“Jaga sikap kamu Cheryl!” bentak Andrew dengan mata menyalak. Cheryl sampai kaget melihat respon suaminya. “Udah cukup yaa kamu memperlakukan aku seperti ini. Mengaturku dan menginjak-injak harga diriku. Muak aku Cheryl, muak!” seru Andrew tidak kalah keras.


“Oh, jadi sekarang kita ribut gara-gara perempuan itu?! Kamu sadar gak siapa yang mulai ini semua?!” teriak Cheryl. Leon yang sedang tertidur pun sampai terbangun dan menangis.

__ADS_1


“Terserah kamu! Kamu undang Jharna ke acara kamu, atau aku akan berhenti ngasih bantuan dana ke acara yang tidak menguntungkan itu. Paham kamu?!” gertak Andrew sambil melotot.


Setelah puas laki-laki itu berlalu pergi. “Andrew!! Brengsek kamu!” teriak Cheryl. Semakin keras tanpa memperdulikan tangisan putranya yang sesekali menjerit karena kaget.


Di balkon lantai dua, Jharna saat ini sedang asyik dengan ponselnya. Ia sedang menyaksikan kembali iklan yang dibintanginya hari ini. Ia mendapatkan kiriman video berdurasi dua puluh detik itu dari crew yang baru selesai melakukan proses editing.


Kelvin yang membawakan minuman, menghampiri Jharna dengan langkahnya yang pelan. Wanita itu begitu serius hingga tidak menyadari kedatangan Kelvin. Tiba-tiba saja kepalanya ada di samping kepala Jharna dan ikut menonton iklan itu.


“Wow, mesra sekali,” komentar Kelvin saat melihat sang actor mencium pipi Jharna dengan mesra serta memeluknya dari belakang.


“Astaga Vin….” Jharna sampai terhenyak kaget. Ia segera menyembunyikan ponselnya, tidak mau Kelvin melihatnya.


“Kok di umpetin?” tanya Kelvin tidak terima. Laki-laki itu masih sangat penasaran.


“Ya kan iklannya belum tayang, nanti gak jadi kejutan dong.” Jharna beralasan.


“Ohh, gitu ya….” Kelvin melengos pergi dan menaruh dua gelas minuman di atas meja lalu duduk di tempatnya, pura-pura acuh.


“Ya emang harus gimana?” Kelvin menjawab dengan dingin, pura-pura tidak peduli.


“Vin, itu professional loh. Gak ada yang aneh-aneh,” Jharna menghampiri Kelvin, berdiri di depan laki-laki itu untuk memberikan penjelasan. Ia sedang merajuk dengan ekspresi wajahnya yang cantik itu.


“Takenya berapa kali waktu dia meluk sama cium pipi kamu?” Kelvin berusaha terlihat tenang di tengah perasaannya yang bergejolak. Dadanya sangat panas padahal ia tahu kalau Jharna hanya sedang beradu peran.


“Cuma beberapa kali kok, gak banyak. Jharna menjawab malu. Tidak berani menatap mata Kelvin.


“Beberapa kali itu hitungannya berapa ya? Sepuluh kah, dua puluh kah?” Kelvin menunjukkan jari tangannya pada Jharna.

__ADS_1


“Viinn, gak sebanyak itu kok….” rajuk Jharna seraya memegangi tangan Kelvin.


“Okey, berapa kali hitungannya? Aku mau denger angkanya.” Kelvin tetap mendesak. Ia balas memegangi tangan Jharna dengan erat.


“Cuma enam kali aja,” Jharna menjawab ragu-ragu.


“Hah, enam kali di bilang cuma?” mata Kelvin sampai membulat.


“Isshh, jangan gitu dong ekspresinya…” Jharna mengusap wajah Kelvin dengan telapak tangannya yang lembut.


“Aku terkejut loh… Sangat terkejut karena ada laki-laki yang berani menciummu sebanyak enak kali dan kamu bilang cuma. Enam kali itu banyak Jharna… seperti apa dia melakukannya?” Kelvin menarik Jharna hingga duduk di pangkuannya. “Seperti ini kah? Atau seperti ini?” Kelvin mencium pipi kiri dan kanan Jharna bergantian sambil merangkulnya dari belakang.


“Hahahaha… Vin, geli tau… lepasin sih.” Jharna berusaha melepaskan tangan Kelvin yang melingkar di pinggangnya. Tetapi semakin Jharna berontak, semakin kencang saja pelukan Kelvin. mengusapkan jambangnya ke pipi Jharna. Laki-laki itu memutar tubuh Jharna menghadapnya dan berhenti menggoda wanita itu.


Berganti dengan mengusap rambut Jharna yang berantakan. Ia menatap Jharna dengan lekat. “Salah gak sih kalau aku cemburu dan kesal?” tanya Kelvin dengan sungguh.


“Nggak,” Jharna menggeleng sambil menahan senyumnya.


“Boleh aku hapus bekas dia cium pipi kamu?” tanya Kelvin seraya mengusap pipi Jharna dengan lembut. Wanita itu mengangguk. Ia pikir Kelvin akan menghapusnya dengan usapan lembut di seluruh wajahnya, tetapi nyatanya beberapa kecupan mendarat di pipi Jharna, bergantian kiri dan kanan serta keningnya.


Jharna tidak berontak, ia hanya terkekeh geli melihat tingkah Kelvin. Sekali lalu Kelvin menangkup kedua sisi wajah Jharna dan mendekatkan wajahnya. “Yang ini gak dia cium, tapi aku gak suka liat senyuman yang terlalu menghayati itu,” bisik Kelvin.


Mata Jharna menyalak kaget, rasanya ia tahu bagian mana yang Kelvin maksudkan. Benar saja, di detik berikutnya Kelvin mengecup bibir Jharna dengan lembut. Menggigitnya perlahan dan memagutnya dengan semangat saat Jharna membalasnya. Tidak lebih dari satu menit, tetapi decapan penuh cinta itu membuat Jharna dan Kelvin sama-sama terengah. Mereka bertatapan dengan lekat, mencoba mengutarakan perasaan lewat tatapan mata.


Saat udara mengisi kembali rongga dadanya, kekesalan Kelvin pada sang aktor pun hilang. Ia sadar, Jharna sepenuhnya miliknya.


“Tetaplah di sini. Entah itu sebagai Jharna, terlebih sebagai Anjani, aku selalu mengharapkan kita selalu bersama,” ungkap Kelvin dengan penuh kesungguhan.

__ADS_1


Jharna mengangguk kecil. Ia pun menangkup kedua sisi wajah Kelvin sebelum kemudian mengecup bibir Kelvin dengan lembut.


****


__ADS_2