
Suara tepukan terdengar bergemuruh di ruang studio, sesaat setelah Cheryl membuka acara talk shownya. Dalam acara live kali ini, penonton begitu antusias, tidak hanya acaranya yang trending di dunia maya, melainkan juga bangku penonton pun ikut penuh oleh para fans Jharna dan Cheryl. Entah siapa yang menjadi fans Cheryl dan entah siapa yang penyuka Jharna, yang jelas mereka berbaur menjadi satu.
“Sepeti yang saya janjikan, kalau malam ini kita akan kedatangan seorang bintang tamu istimewa yang saat ini namanya sedang jadi perbincangan di mana-mana. Di sini tentunya fans setianya sudah menunggu yaa… kita sambut, Jharna Mikayla….” Seru Cheryl seraya bertepuk tangan. Wanita itu tersenyum dengan lebar menyambut Jharna, tentu saja senyum palsu yang sudah ia siapkan beberapa jam lalu.
Di salah satu sudut juga ada tiga orang yang setia memberikan tepukan saat seorang Jharna Mikayla inframe di kamera. Sementara dua orang setia menonton dari layar kaca, yaitu Andrew dan Widi.
Lampu sorot langsung tertuju pada sosok wanita bergaun hitam yang terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Wajahnya terlihat cerah, tersenyum manis seraya mengangguk sopan pada kamera yang menyorotnya.
“Halo, selamat malam Jharna. Apa kabar?” Cheryl menyambut Jharna dengan ramah, mereka juga berangkulan beberapa saat demi terlihat professional di layar kaca.
“Halo, kabar baik. Selamat malam semuanya….” Jharna juga menyapa para penonton setelah melerai pelukannya dari Cheryl.
“Selamat malam….” Sahut penonton yang berada di depan Jharna. Terlihat Amilny melambaikan tangannya pada Jharna. Di sampingnya ada Bobby dan Kelvin yang tersenyum bangga sambil mengacungkan jempolnya.
“Okey, silakan duduk.” Cheryl mempersilakan Jharna untuk duduk, berhadapan dengannya.
“Terima kasih,” Jharna menyahuti dengan santun.
Jharna duduk dengan tenang, ia bisa melihat ada enam kamera yang tertuju padanya. Beruntung ia mulai bisa mengendalikan dirinya, meski yang ia hadapi saat ini adalah seorang Cheryl.
“Makasih yaa, udah mau datang ke bincang bintang bareng Cheryl. Kamu favoritnya mamah mertuaku loh,” Cheryl langsung mengeluarkan statement itu.
“Wah terima kasih, salam untuk mamah mertuanya.” Hanya itu jawaban Jharna. Cheryl tersenyum kecut, beruntung kamera sedang tidak tertuju padanya.
“Jharna cantik banget ya Drew, seneng mamah liatnya,” ucap Widi yang menatap kagum pada wanita di layar kaca.
“Iya, dia wanita yang cantik dan baik.” Andrew mengakuinya. Dalam usahanya mengejar Jharna, ia menyadari kalau seorang Jharna memiliki komitmen yang bagus dalam menjalani sebuah hubungan. Mungkin hal itu yang menjadi salah satu alasan Andrew menggebu ingin memiliki wanita itu.
“Jadi kesibukan Jharna apa nih sekarang? Aku liat iklannya ada di mana-mana ya, sibuk banget yaa kayaknya. Makanya aku bersyukur banget loh Jharna bisa datang.” Cheryl bertanya dengan sinis. Walaupun script sudah disiapkan produser, tetapi ia lebih suka bertanya dengan caranya.
Malas sebenarnya memgundang dan berbicara dengan Jharna, kalau saja bukan demi rating acaranya, ia bisa saja membatalkannya. Bisa ia bayangkan kalau Andrew dan Widi sekarang sedang menonton dengan wajah yang bahagia, sungguh memuakkan.
“Terima kasih Cheryl… saya sangat bersyukur karena tuhan memberi saya kesempatan untuk bekerja di dunia entertain, juga berkat dukungan orang-orang di sekitar saya yang memperkenalkan saya pada dunia hiburan. Kegiatan saya masih sama, syuting iklan untuk beberapa produk dan rutinitas lainnya. Tidak sebanyak Cheryl tentunya.” Jharna menimpali dengan santai.
“Hahaha… itu udah pasti. Untuk bertahan di dunia hiburan itu nggak mudah. Aku yang udah 11 tahun berkarya, ada kalanya tidak selalu mujur loh. Apalagi artis-artis baru sekarang, hebat kalau bisa berkarya sampai belasan tahun kayak aku. Ini aku cerita sebagai sesama teman yaa, buat jadi pembelajaran. Aku berharapnya Jharna juga bisa lama di dunia hiburan ini dan memiliki fans yang fanatic seperti aku.” Merendah untuk meninggi, hal itu yang dilakukan Cheryl saat ini. Ia kesal karena kamera lebih sering tertuju pada Jharna.
“Nih si Cheryl ngomong apa sih? Nanya tapi tujuannya nyombongin dirinya sendiri,” Amilny bergumam kesal pada sosok host yang ada di depan sana.
“Tenang, Jharna pasti bisa ngadepin perempuan begitu. Kalau orang yang netral, pasti sadar kok Cheryl nih lagi show off karena ngerasa kebanting,” timpal Bobby yang berbisik lirih. Ia tidak mau memancing beriak fansnya Cheryl yang mengisi lebih dari setengahnya studio ini.
“Wah, terima kasih Cheryl atas sarannya… kalau aku pribadi sih tidak mentargetkan berapa lama aku akan ada di dunia hiburan. Saat ini aku sedang mencoba menyukai apa yang aku kerjakan dan mengerjakan apa yang aku sukai. Semoga tetap bisa memberikan kontribusi yang baik di dunia hiburan ini.” Jharna menjawab dengan diplomatis.
__ADS_1
“Tuh apa aku bilang, dia pasti bisa jawab.” Bobby berseru dengan senang. “Lo tegang amat bro,” Bobby mengusap punggung Kelvin yang tegang sepanjang acara. Dari sorot matanya terlihat jelas Cheryl yang berusaha menjatuhkan Jharna.
“Gak apa-apa, santai kok gue,” sahut Kelvin yang saat ini mulai bisa menghembuskan napasnya dengan lega saat ternyata Jharna bisa bersikap tenang menghadapi serangan Cheryl.
“Yaa itu pemikiran yang bagus. Ngomong-ngomong Jharna, dari sekian banyak iklan, iklan mana sih yang cuannya lebih besar?” tanya Cheryl yang sedang berusaha menjebak. Ia sengaja bertanya hal itu untuk menyudutkan Jharna di mata penggemarnya. Ia yakin iklan mana pun yang Jharna sebutkan, akan membuat wanita ini terlihat tidak profesional di mata klien dan fansnya.
“Perasaan itu bukan pertanyaan dari kita deh Mas,” ucap assistant produser.
“Tau nih si Cheryl kok malah bertingkah. Udah gue siapin scriptnya, malah di tambah-tambahin,” keluh sang produser.
Dina yang mendengar perbincangan itu pun segera angkat bicara. “Jangan di biarin dong Mas, itu kan bisa ngejatuhin Jharna,” protes Dina.
Sang produser segera menyalakan mic yang terhubung dengan earphone Cheryl. “Cheryl, gue ingetin lo supaya nanya sesuai script, jangan bikin semuanya berantakan,” ucap laki-laki itu memberi peringatan.
“Hem,” hanya itu jawaban Cheryl. Yang kemudian mematikan earphonenya.
“Silakan di jawab Jharna, yang mana nih yang paling mencuan?” Cheryl kukuh mendesak Jharna dengan pertanyaannya.
“Eh brengsek ya si Cheryl!” dengus produser seraya membanting headsetnya karena kesal. “Habis ini commercial break dulu,” imbuh laki-laki itu yang melotot tajam sambil berkacak pinggang.
“Belum waktunya bang, durasinya belum dapet,” sahut sang assistant.
“Emm, tidak ada mana yang paling besar dan mana yang paling kecil sih menurutku. Bayaran yang ditawarkan sudah disepakati sejak awal sesuai kontrak. Dan tentunya sesuai performaku juga. Jadi gak bisa di sebutin iklan mana yang lebih besar bayarannnya dan mana yang lebih kecil,” Jharna menjawab dengan tenang.
“Bagus!! Good!!” Boby refleks berseru bersamaan dengan sang produser yang bisa bernapas lega.
Sebelum Cheryl melanjutkan acaranya, Ia memberikan isyarat untuk komersial break.
“Okey, sobat bincang bintang bareng Cheryl, Cheryl akan kembali lagi setelah jeda iklan berikut. Jangan ke mana-mana…” ucap Cheryl sesuai arahan penata acara dan acara pun di jeda.
“Cheryl!” panggil sang produser pada Cheryl.
Wanita itu menoleh dan beranjak dari tempatnya menghampiri sang produser di backstage. “Kenapa?” tanya Cheryl dengan santai sambil menyilangkan tangan di depan dada, menantang produsernya.
“Kan gue udah bilang kalau lo tanya sesuai script. Kenapa malah nanya yang lain sih? Gak sesuai tema tau gak. Salah-salah, lo sama Jharna bisa sama-sama di anggap menggiring opini.” produser itu tampak kesal.
“Pertanyaan lo gak bermutu, gak mancing rating kita biar naik. Bintang tamu lo juga begok, harusnya dia jawab dengan sensasional, jangan datar kayak jawaban orang yang mau nyalon dewan. Mana bisa rating kita naik kalau jawabannya sok diplomatis begitu!” Cheryl menimpali dengan kesal.
“Lo yang begok. Lo pikir acara ini buat sekarang aja? Lo mau nih acara bungkus gara-gara pertanyaan lo yang di luar konsep?” sang produser semakin kesal dengan tingkah Cheryl yang semaunya.
“Berani banget lo bilang begok! Lo kalau gak suka sama cara gue ngobrol sama bintang tamu, lo cabut gih. Gue juga gak butuh produser dungu kayak lo!” telunjuk Cheryl dengan lancang menunjuk wajah sang produser.
__ADS_1
“Cheryl!" panggil sang manager yang segera menurunkan tangan artisnya.
“Gak usah tahan gue! Gue udah gak butuh sama produser macam begini. Lo suka lo lanjutin kerja di sini dan ikuti cara gue. Kalau lo gak suka, gue gak akan nahan lo kalau mau cabut. Simple, take it or leave it!” Cheryl berujar dengan berani.
“Okey, gue cabut dari sini. Artis gila!” seru sang produser yang bergegas pergi setelah melempar headsetnya. Kalau saja Cheryl bukan seorang wanita, mungkin ia akan mengajaknya berduel.
“Pergi sana lo yang jauh! Jangan balik lagi!” seru Cheryl yang mulai tidak bisa mengendalikan emosinya.
“CHERYL!!” seru sang manager yang mulai kesal.
“APA? Lo mau cabut juga? Cabut aja sana! Stop iklannya sebelum acara ini gue berantakin!” seru Cheryl pada penata acara.
Suasana backstage benar-benar kacau, Cheryl dengan kekesalannya dan crew pun dengan rasa kecewanya. Sang manager hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah artisnya.
“Dua menit lagi kita on cam,” seru penata acara.
Cheryl segera meneguk air dalam botol minumnya lantas kembali ke panggung dan menemui Jharna yang sedang berbincang dengan Dina. Wanita itu tersenyum sinis pada Dina karena meyakini Dina sudah memberitahu kejadian di backstage.
“Lo gak akan dapet honor kalau lo ikut cabut. Jadi selagi lo butuh duit, ikuti acara ini sampai selesai,” ucap Cheryl dengan sinis.
Jharna tersenyum kecil melihat sikap extreme Cheryl padanya. “Saya tidak masalah jika tidak di bayar. Saya bertahan pun bukan karena saya begitu mengharapkan bayaran. Saya hanya sedang menghormati acara ini dan menjaga nama baik saya. Saya tidak mau besar karena sensasi, melainkan ingin besar karena prestasi,” timpal Jharna dengan tenang, membalik ucapan Jharna tempo hari.
Cheryl hanya bisa mengeram kesal karena kamera sudah tertuju padanya. Andai masih ada jeda iklan, mungkin ia akan menghampiri Jharna dan mengajaknya adu mulut.
“Okey, kembali lagi di bincang bintang bareng Cheryl. Selanjutnya, aku akan ngasih kesempatan untuk para penonton yang mau bertanya. Kita mulai dari chat di sosmed kita ya, nanti baru penonton di sini. Okey pertanyaan pertama, Kak Jharna udah punya pacar belum sih? Kalau udah, kenalin dong…. Dari akun @shdgxxx. Silakan di jawab,” ucap Cheryl.
Jharna tersenyum simpul pada kamera yang sedang merekam penampilannya. “Ya, ada seseorang yang sangat berharga untuk saya dan saya harap teman-teman semua bisa menghargai privasi kami.” Hanya itu jawaban Jharna.
“Waah, saya juga ikut penasaran. Tapi Jharna ini tegas ya, dia mengakui sudah punya pasangan. Jadi seharusnya yang saat ini menaruh hati dan perhatian sama Jharna, sebaiknya di pikir kembali ya… sudah ada pawangnya loh….” Cheryl sengaja menyindir sang suami yang saat ini pasti sedang menonton acaranya.
“Apaan sih maksud Cheryl, Drew? Dia nyindir kamu?” tanya Widi yang tidak terima. Tetapi Andrew tidak menimpali, ia lebih sibuk dengan ponselnya. “Drew,” panggil Widi. Andrew tetap tidak menimpali. Sampai kemudian Cheryl membacakan pertanyaan berikutnya melalui chat.
“Wah, ada pertanyaan yang menarik ini dari And5365, pertanyaannya, ‘malam Jharna, benarkah kalau calon suami Jharna itu seorang dokter bedah plastik yang melakukan malapraktik?’ astaga, siapa ini yang bertanya?” Cheryl dengan wajahnya yang terkejut namun sebenarnya tertawa dalam hati.
“Apa itu benar Jharna?” Cheryl benar-benar menanyakan itu.
Jharna tidak lantas menjawab, ia terdiam beberapa saat dengan tangannya yang mengepal dan menggenggam pinggiran roknya. Ia tidak berani menatap kea rah Kelvin karena ia takut kamera menyorot pada kekasihnya.
Lantas, seperti apa ia harus menjawab?
***
__ADS_1