Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Terbiasa mengabaikan


__ADS_3

“Vin, bisa kita bicara?” Jharna berujar dengan ragu. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang dari acara Amilny.


“Aku dengerin,” sahut laki-laki itu seraya menoleh. Ia melihat wajah Jharna yang memerah. “Ada masalah?” Kelvin merasa ada hal penting yang membuat Jharna gelisah.


Wanita itu menggeleng pelan. “Nggak ada, cuma tadi aku sama kak Amilny ngobrolin masalah manager. Gimana menurut kamu?” Jharna terlihat ragu, walau tetap bertanya.


Laki-laki itu tersenyum kecil, senang karena Jharna masih menganggapnya dan melibatkannya dalam mengambil keputusan. “Aku rasa, kamu memang membutuhkannya,” timpal Kelvin dengan yakin. “Harus ada orang yang mengatur jadwal dan keuangan kamu. Dia yang bisa memahami kamu dan menghormati kamu. Bisa bersikap professional dan bisa dekat secara personal. Aku rasa ke depannya, akan makin banyak tawaran di dunia entertaint buat kamu,” imbuh Kelvin seraya menoleh wanita itu beberapa saat sebelum kembali fokus pada jalanan.


“Iya, kamu benar. Apa kita harus mencari rekanan management artis?”


“Ya, kita bisa nanya ke management artis. Tapi kalau tidak salah, temenku juga ada yang kerja di management artis. Nanti aku coba tanya ya.”


“Hem, iya Vin makasih,” ungkap Jharna yang menghembuskan napasnya lega.


“Dengan senang hati,” Kelvin menimpali sambil tersenyum kecil.


Keduanya kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Kelvin membawa mobilnya masuk ke kompleks perumahan elite tempat mereka tinggal. Hanya beberapa meter lagi saja untuk mereka sampai di rumah.


“Itu ada apa ya Vin?” Jharna melihat seorang wanita berjaalan mondar-mandir di depan rumah Andrew. Jharna mengenali wanita itu sebagai assistant rumah tangga Andrew.


“Ayo kita tanya,” Kelvin menepikan mobilnya agar Jharna bisa segera turun.


Jharna turun lebih dulu di susul dengan Kelvin. “Ada apa Mba?” tanya Jharna pada wanita itu.


“Itu Non, saya lagi nunggu tuan Andrew. Den Leon mengalami kejang karena demam,” ucap wanita itu dengan gemetar.


“Hah, terus sekarang di mana?” Jharna ikut kaget mendengarnya.


“Di dalam, lagi di tangani sama suster. Kejangnya udah berhenti, tapi sekarang Den Leonnya lemes banget.”


“Astaga! Emang orang rumah pada kemana? Kenapa harus nunggu Andrew buat ke rumah sakit sih?” Jharna segera masuk dan di susul oleh Kelvin. Ia segera menuju kamar Andrew di lantai atas, menaiki anak tangga dengan cepat. ART itu sampai kaget melihat Jharna yang hapal ruangan di rumah ini, hingga bisa sampai ke kamar Leon yang ada di samping kamar Andrew dan Cheryl. Bukankah ini baru satu kali Jharna berkunjung ke rumah ini?


“Ta-tadi tuan Andrew nyuruh kami nunggu, katanya sedang di jalan. Yang lainnya, nggak bisa saya hubungi,” terang ART itu.


Kelvin segera memeriksa Leon yang tergeletak lemah di dalam box bayinya. “Tadi udah saya kasih obat anti kejangnya lewat anus,” suster yang merawat Leon memang cukup cekatan.


Kelvin melakukan beberapa pemeriksaan singkat pada tubuh kecil Leon. “Dia dehidrasi, kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Tolong beritahu Andrew, supaya menyusul kita ke rumah sakit sekarang,” ujar Kelvin dengan cepat.


“I-iya.” ART itu tampak gelagapan, mencari ponselnya untuk menghubungi sang majikan.


“Jharna, kamu bisa gendong bayi?” tanya Kelvin.


“Bisa, berikan padaku,” Jharna segera mengambil alih. Ia segera menggendong Leon dan berjalan dengan cepat menuju mobil bersama Kelvin. Suster penjaga Leon pun segera mengikuti di belakang.

__ADS_1


Masuk ke dalam mobil dan Kelvin segera memarkirkan mobilnya menuju rumah sakit. “Tolong lihat kepalanya, apa cekung?” titah Kelvin.


Jharna segera memeriksanya. “Iya Vin, sedikit cekung,” sahut Jharna dengan cepat.


“Buka bajunya, jangan terlalu tebal. Usahakan skin to skin sama kamu, supaya panas tubuhnya terserap.”


“Iya,” Jharna dan suster itu melepas baju Leon dan hanya menyisakan kaos dalam dan diapers saja. Jharna juga membuka sedikit kancing bajunya dan menempelkan kulitnya dengan Leon.


“Jam berapa dia di kasih obat demam?” tanya Kelvin seraya melirik suster penjaga Leon melalui kaca spion.


“Sekitar satu jam lalu, tetapi tidak turun dan malah kejang, tuan,” tutur wanita itu dengan gemetar.


Kelvin mengangguk paham. “Demamnya sejak kapan? Apa dia juga mencret?”


“Iya tuan, demamnya sudah dua hari. Hari ini dia sudah empat kali BAB. Saya sudah memberi tahu Nyonya Cheryl, tapi katanya hari ini beliau ada urusan ke luar kota, tidak bisa ke dokter anak hari ini. Nyonya besar sedang ada arisan yang tidak bisa ditinggalkan, hanya tuan Andrew yang bisa pulang, itupun terjebak macet.”


“Astaga, bagaimana bisa semua orang meninggalkan anak mereka yang jelas sedang sakit?” Jharna benar-benar tidak habis pikir. Ia juga tidak menyangka kalau ternyata anak Andrew sudah sebesar ini. “Bertahanlah sayang, kuat ya Nak,” Jharna berujar dengan lirih.


Terlihat sekali kalau wanita ini sedih, padahal yang ada dipelukannya adalah anak dari musuhnya. Buah cinta dari pengkhianatan Andrew terhadapnya. Bisa saja Jharna mengabaikannya, tetapi hati nuraninya lebih besar di banding rasa dendam dan marahnya. Itulah mengapa Kelvin mengatakan kalau Jharna tidak pernah setega itu saat mengatakan ia akan balas dendam.


Satu sudut hati Kelvin tersenyum, melihat sikap keibuan Jharna. Wanita yang duduk di belakangnya memang wanita yang baik dan penyayang. Hatinya sangat lembut penuh belas kasihan. Ia merasa bangga pada wanita yang memiliki hati yang kuat itu.


Belasan menit berlalu dan Kelvin sudah tiba di rumah sakit. Ia segera memarkirkan mobilnya di depan UGD dan membiarkan Jharna turun lebih dulu bersama Leon. Anak balita itu di baringkan di atas blankar dan di bawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


“Gimana?” tanya Kelvin saat ia tiba di hadapan Jharna.


“Dokter lagi memeriksanya, Vin. Vin, dia akan baik-baik aja kan?” tangan Jharna sampai gemetar karena gugup.


“Tenanglah, dia akan baik-baik saja.” Kelvin memeluk Jharna dengan erat. Mengusap bahu wanita yang sedang berusaha menenangkan dirinya. Seolah mereka adalah orang tua dari balita menggemaskan itu.


“Keluarga bayi Leon?” panggil perawat di pintu UGD.


“Ya, saya.” Jharna segera menghampiri.


“Silakan masuk, dokter ingin berbicara dengan Anda,” ujar perawat tersebut.


Jharna segera masuk bersama Kelvin. Mereka melihat Leon sedang di tangani oleh petugas medis, di salah satu bed.


“Selamat siang, silakan duduk.” Dokter itu berujar dengan ringan. Kelvin dan Jharna pun segera duduk. “Anda orang tua pasien?” laki-laki itu menatap Kelvin dan Jharna bergantian.


“Kami tetangganya dok. Orang tuanya sedang dalam perjalanan, katanya terjebak macet,” terang Jharna.


“Oh, baiklah. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan. Apa kita menunggu orang tuanya saja?” dokter itu terlihat ragu.

__ADS_1


“Kami akan menyampaikannya pada orang tuanya.” Jharna dengan cepat menyahuti. Ia khawatir ada hal yang harus dilakukan dengan segera.


“Baik kalau begitu. Pasien saat ini mengalami dehidrasi sedang dan infeksi di saluran pencernaannya. Kami menganjurkan pasien untuk di rawat intensive untuk beberapa hari. Kami khawatir infeksi di tubuhnya berlangsung lama. Sudah berapa hari demamnya, barangkali anda tau?” tanya dokter itu.


“Menurut pengakuan suster yang menjaganya, sudah dua hari. Hari ini Leon mencret sudah empat kali. Tadi saat saya membawanya ke sini, Leon sudah diberikan obat anti kejang melalui anusnya dan obat demam di berikan satu jam lalu. Tetapi katanya demamnya tidak turun.” Jharna menjelaskan seperti yang ia dengar.


Dokter itu mengangguk paham. “Baik, untuk sementara pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan. Anda dan keluarganya bisa menemuinya di ruang perawatan. Silakan untuk menunggu dulu,” terang dokter tersebut.


“Baik dok, terima kasih.”


Jharna dan Kelvin pun keluar dari ruangan itu. mereka kembali duduk menunggu di depan ruang UGD. Dari kejauhan ia melihat seorang laki-laki berlari menghampiri Jharna bersama perawat yang menjaga Leon. Siapa lagi kalau bukan Andrew.


“Jharna, terima kasih, kamu sudah membawa putraku ke rumah sakit.” Tiba-tiba saja Andrew memeluk Jharna, membuat wanita itu kaget bukan kepalang.


“I-iya.” Jharna berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Andrew, ini terlalu tiba-tiba dan menyesakkan.


“Duduklah,” Kelvin menepuk bahu Andrew yang tampak panik. Ia kesal dengan sikap Andrew yang datang-datang langsung memeluk Jharna.


“Terima kasih,” Andrew duduk di kursi tunggu, berjauhan dengan Jharna. “Gimana kondisi Leon?” tanya Andrew setelah ia bisa menenangkan dirinya.


“Dokter bilang dia harus di rawat. Aku menyetujuinya, karena aku pikir itu yang terbaik. Bagaimana bisa kamu mengabaikan anak yang sedang sakit?” Jharna menatap Andrew dengan tidak mengerti. Rasa kesal dan bencinya mendadak bertambah pada Andrew.


“Hari ini aku ada rapat penting, aku pikir Cheryl gak jadi ke Bandung, tapi ternyata dia benar-benar pergi.” Andrew menghembuskan napasnya dengan kesal. Ia menatap Jharna dengan lekat, “Maaf karena merepotkanmu,” ujarnya dengan penuh sesal.


“Tidak perlu minta maaf padaku, minta maaflah pada anak kalian. Dia yang kalian abaikan.” Jharna berujar dengan tegas.


Andrew terangguk paham. Ini memang kesalahannya.


“Leon akan di bawa ke ruang perawatan, dia harus di rawat beberapa hari. Jaga dia dengan baik. Aku harap kali ini kalian memprioritaskan kesehatan anak kalian,” Jharna berpesan dengan serius.


“Iya, aku akan menjaganya dengan baik. Terima kasih sudah mengingatkan.” Andrew menatap Jharna dan Kelvin bergantian.


“Hem, sama-sama. Kami permisi pulang, maaf tidak bisa ikut menjaga Leon,” Jharna beranjak lebih dulu. Bukan tidak peduli pada Leon, tetapi ia merasa kalau Andrew harus mengambil tanggung jawabnya sebagai orang tua.


“Iya, terima kasih.” Lagi, Andrew hanya bisa berterima kasih.


Jharna pun pergi bersama Kelvin, mereka berjalan bersisian. Kelvin melingkarkan tangannya di bahu Jharna yang tegang dan mengusapnya pelan. Andrew memandangi punggung Jharna dari tempatnya dengan rasa tidak rela.


“Andrew masih tetap saja brengsek. Dia suka sekali mengabaikan tanggung jawabnya,” dengus Jharna setelah berjalan jauh dari Andrew.


“Tenanglah, semoga ini jadi pelajaran penting buat Andrew dan keluarganya,” timpal Kelvin yang berusaha menenangkan Jharna. Wanita itu hanya menghembuskan napasnya dengan kasar, tidak habis pikir dengan semua yang dilakukan keluarga Sanjaya.


****

__ADS_1


__ADS_2