Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Kekhawatiran


__ADS_3

“Jharna, kamu baik-baik aja?” tanya Kelvin sesaat setelah Jharna membuka pintu rumah. Ia memeriksa Jharna dengan seksama, takut Jharna terluka.


“Aku gak apa-apa Vin,” Jharna sampai kaget melihat Kelvin yang begitu mencemaskannya.


“Akh, syukurlah….” Kelvin segera memeluk Jharna dengan erat. Sungguh ia lega sekali. Sepanjang jalan ia mencemaskan Jharna, khawatir sesuatu yang buruk menimpanya.


Sikap Kelvin membuat Jharna salah tingkah, ia menepuk-nepuk punggung Kelvin untuk menenangkan laki-laki itu.


“Aku udah berpikir yang nggak-nggak waktu kamu manggil aku sayang. Aku langsung mikir kalau di dekat kamu mungkin ada Andrew.” Kelvin berujar dengan penuh kecemasan tanpa melepaskan pelukannya.


Jharna tersenyum kecil, rupanya feeling Kelvin sangat kuat. Ia begitu peka kalau Jharna sedang dalam kondisi terdesak dan memerlukan bantuannya.


“Dia gak akan berani melakukan apa pun sama aku Vin,” ucap Jharna dengan tenang.


Kelvin melerai pelukannya dari Jharna. Menatap wanita itu penuh selidik. “Dia benar-benar menemuimu?” tanyanya dengan cemas.


“Masuklah, kita bicara di dalam,” ajak Jharna. Ia melihat mobil Andrew masih terparkir di luar, khawatirnya laki-laki itu masih memperhatikannya.


Benar saja, laki-laki itu masih memandangi Jharna dari dalam mobilnya. Tangannya mengepal keras melihat Kelvin yang tiba-tiba memeluk wanita yang dipujanya. Bibirnya menyeringai tipis penuh kebencian, semakin benci saat Jharna mengajak laki-laki itu masuk dan menutup pintunya.


“Aku bisa merebutnya darimu,” gumam Andrew seraya mengepalkan tangannya penuh kemarahan.


Di dalam rumah, Jharna mengajak Kelvin duduk. Ia membuatkan Kelvin minuman segar untuk menenangkan pikirannya. “Minum dulu, baru kita ngobrol.” Ditaruhnya gelas itu di hadapan Kelvin.


“Terima kasih,” Kelvin meneguk minuman segar itu perlahan. Tengorokannya yang kering seperti disegarkan kembali.

__ADS_1


Jharna jadi memandangi Kelvin yang sedang meneguk minumannya. Terlihat sekali kalau laki-laki ini sangat mencemaskannya. Ia jadi teringat kata-kata yang ia ucapkan pada Andrew. Ia mengungkapkan semua kekagumannya pada Kelvin yang jujur apa adanya, bukan karangan semata.


“Hey, kenapa melamun? Katanya mau cerita,” Suara Kelvin menyadarkan Jharna yang sedang termenung.


Jharna tersenyum kecil, ia mengambil alih gelas dari tangan Kelvin lalu menaruhnya di atas meja.


“Tadi pagi, aku udah ngurus perceraianku dengan Andrew. Pengacaraku bilang, secara de facto aku udah bercerai, tetapi tetap harus ada legalitasnya agar tidak menjadi tuntutan di kemudian hari.”


Kelvin segera meraih tangan Jharna dan menggenggamnya dengan erat. “Gimana perasaan kamu?” hal ini selalu menjadi hal yang terpenting bagi Kelvin.


“Eeemm… seperti sebagian bebanku hilang. Pengacaraku bilang, usia pernikahanku dengan Andrew baru sekitar tiga tahun lebih. Tuan Sanjaya pernah membuat wasiat, kalau aku dan Andrew bercerai di saat usia pernikahanku belum genap 5 tahun, maka seperempat kekayaan milik keluarga Sanjaya, wajib diberikan padaku.”


“Jika dalam 5 tahun itu aku berpisah dan ada anak, maka tiga per empatnya yang menjadi hakku dan anakku. Mungkin itu yang membuat Andrew mencegahku untuk bercerai darinya. Dia membujukku kalau dia akan memperbaiki semuanya dan memutuskan hubungannya dengan Cheryl. Tanpa aku tau, lima tahun kemudian pun dia akan tetap menceraikanku. Dia sangat licik.” Terlihat kilatan kemarahan di mata Jharna.


“Aku udah bilang sama pengacaraku, kalau aku tidak akan menuntut itu. Aku hanya ingin berpisah dengan damai. Aku udah gak peduli lagi dengan yang namanya warisan keluarga Sanjaya. Aku hanya ingin hidup dengan tenang.” Jharna berujar dengan gamblang.


“Kamu gak akan nyangka Vin, kalau ternyata tim pengacaraku adalah adiknya Andrew. Carissa, adik iparku.”


“SERIUS?” mata Kelvin sampai menyalak.


“Hem,” Jharna mengangguk dengan pasti. “Aku juga sempet kaget, tapi ternyata dia mendukungku. Dia akan membantuku. Dia juga akan menggunakan barang bukti dariku untuk memberiku keadilan.”


“Dia bersedia menuntut kakaknya sendiri?”


“Ya, dia komit untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang pengacara. Hanya saja mungkin hukuman Andrew tidak seberat Cheryl. Carissa bilang sama aku, Andrew udah gagal jadi seorang suami. Jangan sampai dia gagal jadi penerus Sanjaya yang tidak bertanggung jawab, apalagi menjadi ayah yang pengecut.”

__ADS_1


Kelvin mengangguk paham. “Lalu apa yang tadi Andrew lakukan sama kamu?” Kelvin mengusap kepala Jharna dengan sayang, sungguh ia mencemaskan wanita di hadapannya.


“Dia, datang ke lokasi syuting. memaksaku pulang sama-sama. Dia terang-terangan bilang sama aku kalau dia ingin berhubungan denganku. Dia bilang, dia bisa memberikan kebahagiaan yang lebih di banding yang diberikan pria lain padaku.” Jharna menjawab dengan sejujurnya.


“Lalu?” Kelvin semakin penasaran. Jantungnya berdebar sangat kencang mendengar ujaran Jharna barusan. Andrew benar-benar tidak segan untuk melewati batas.


“Aku menantangnya untuk mengatakan hal itu pada Cheryl. Aku ingin liat, apa dia benar-benar berani mengakui perasaannya dihadapan Cheryl atau hanya alasan. Yang aku dengar tadi, dia meminta pengacaranya mengurus surat cerai, entah dia benar-benar akan bercerai atau tidak. Aku tidak ambil pusing.”


“Gimana kalau dia bener-bener menceraikan Cheryl? Apa kamu akan kembali sama dia?” naluri Kelvin membuatnya menanyakan hal ini pada Jharna. Hatinya ketar-ketir tidak menentu. Tubuhnya sampai berkeringat dingin, terlihat jelas dari tangannya yang dingin saat menggenggam tangan Jharna.


“Apa yang bisa aku harapkan dari menjalin hubungan dengan laki-laki semacam itu?” Jharna balik bertanya. Dari sorot matanya jelas Jharna menolak berhubungan lagi dengan Andrew.


Seketika beban yang menghimpit dada Kelvin terasa luruh. Tidak ada lagi rasa sesak yang membuat ia sulit bernapas seperti beberapa menit lalu.


“Ada beberapa hal yang aku akui di hadapan Andrew saat dia memaksaku,” Jharna menggantung kalimatnya, ia menatap sepasang mata yang menatapnya dengan lekat.


“Aku boleh tau?” tanya Kelvin.


Jharna terangguk kecil.  “Aku tegasin sama dia kalau aku tidak mungkin berpaling pada laki-laki yang tidak memprioritaskan hubungan kami. Aku sudah memiliki seseorang yang memberikan hidup, dunia dan hatinya untukku. Apa yang sudah dia berikan, membuatku merasa cukup,” tegas Jharna seraya tersenyum pada laki-laki di hadapannya.


“Jharna... Apa kamu sungguh merasakan itu?" Kelvin sampai tidak bisa berkata-kata. Ia tahu persis kalau kalimat itu ditujukan untuknya. Jharna mengangguk dengan yakin. “Apa itu berarti kamu memberi kita kesempatan?” Kelvin membutuhkan ketegasan.


Dengan segera Jharna mengangguk kecil dan tersenyum pada Kelvin. “Tolong tunggu sebentar Vin, aku mau menyelesaikan semuanya dulu. Aku ingin menutup masa laluku dulu. Aku gak mau hubungan kita dan masa depan kita terganggu oleh hal-hal yang sudah seharusnya hanya ada di masa laluku.”


“Ya, tentu aku akan menunggunya. Tidak masalah untukku. Satu ketegasan tadi, udah cukup buat aku Jharna,” ungkap Kelvin seraya mengecup tangan Jharna yang digenggamnya dengan erat. Ia mengecupinya dengan penuh perasaan, membuat Jharna tersenyum haru melihat binar bahagia dari mata Kelvin. Baru kali ini ia melihat seseorang tersenyum bahagia untuknya. Hatinya terasa hangat saat menyadari bahwa ia tidak jatuh cinta sendiri.

__ADS_1


****


__ADS_2