
Seorang wanita melajukan sedan mewahnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan lurus dan berkelok ia trabas langsung tanpa ampun. Tangannya yang gemetar memegang kemudi dengan erat. Ia terisak sepanjang jalan, dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya, mengingat banyaknya pertanyaan penonton atas statement Jharna beberapa saat lalu.
Mata merah wanita itu selalu waspada, memperhatikan spion tengah takut ada yang mengikutinya. Wanita bergaun merah marron itu masih tidak menyangka kalau wanita yang sudah ia anggap mati satu tahun lalu, ternyata masih sehat bugar dan berbicara dengannya.
Tatapan wanita itu begitu dingin dan tajam di waktu yang bersamaan seolah memberi pesan kalau ia akan membalas semua rasa sakitnya. Tangan gemetar yang pucat pasi itu juga mengusap wajah laku tengkuk lehernya yang meremang karena mengingat kejadian satu tahun lalu. Kejadian yang masih menghantuinya saat ia tertidur dan membuat tubuhnya gemetaran.
Mengurangi rasa tegangnya, Cheryl menyalakan sebatang rokok yang ia simpan di dalam dashboard. Beberapa kali ia mencoba menyalakan pemantik, tetapi jemarinya selalu meleset, mungkin karena basah oleh keringat dingin.
"AKH SIAL! SIAL! SIAL!" dengus Cheryl yang meremas rokoknya lalu ia buang begitu saja. Ia juga memukul-mukul stirnya, karena rasa kesal atas usahanya yang gagal menghabisi Anjani.
"Harusnya gue pastiin dulu kalau lo beneran mati, Anjani," gumam wanita itu seraya menggeretakkan giginya dengan kesal. Rasa sesalnya semakin menjadi saat membayangkan apa yang akan ia hadapi di kemudian hari.
"Gak, harusnya bukan gue sendiri yang menderita seperti ini. Andrew juga harus bertanggung jawab. Dia yang memaksa gue buat ngundang perempuan itu, maka dia yang harus tanggu jawab. DASAR LAKI-LAKI TOLOL! LAKI-LAKI BAJINGAN!" Cheryl mengumpat sambil memukuli setirnya dengan penuh kemarahan. Rasanya ia ingin segera sampai ke rumahnya dan meminta pertanggung jawaban Andrew.
Tuas perseneling itu Cheryk tarik kuat-kuat. Ia juga menginjak pedal gas dalam-dalam. Ia ingin segera sampai ke rumahnya dan berbicara dengan Andrew.
Jalan beraspal itu di gulung Cheryl hingga ia tiba di rumahnya dalam waktu setengah jam saja. Ia sempatkan menoleh ke arah rumah Jharna lalu membuang muka sambil meludah. Ia tendang pintu gerbang hingga terbuka lebar.
"Andrew!!! Andrew!!!" teriak Cheryl memanggil suaminya. Ia membuka pintu dengan kasar lalu menutupnya dengan cara membantingnya. Wajahnya sudah merah padam, siap menerkam siapa saja.
"Apa-apaan kamu, teriak-teriak gak jelas kayak orang gila?!" seru Widi yang segera menghampiri Cheryl.
"Minggir lo nenek tua!!" gertak Cheryl seraya mendorong Widi hingga wanita itu terdorong dan jatuh di lantai.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu Cheryl?!" Andrew balas menyalak, tidak terima ibunya diperlakukan kasar.
"Apa kamu bilang?" Cheryl tersenyum sinis pada suaminya. "Pikir pake otak kamu yang dongo itu, siapa yang seharusnya ditanya apa-apaan!!" tanpa segan Cheryl mentoyor kepala Andrew.
"Brengsek kamu!!"
Plak!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Cheryl hingga wajah wanita itu berpaling. Wanita itu memegangi pipinya yang berdenyut nyeri dengan tetesan darah yang keluar dari sudut bibirnya yang merah.
Wanita itu tersenyum sarkas lantas meludahkan darah yang bercampur dengan air liurnya. Kalau saja kepalanya tidak pusing berputar karena tamparan Andrew, mungkin ia akan langsung membalas laki-laki itu. Ia terpaksa diam beberapa saat untuk mengumpulkan tenaganya.
"Jaga sikap kamu Cheryl, jangan kayak orang gila!" Andrew berujar dengan penuh ketegasan.
"Lo yang gila Andrew. Gara-gara lo semua orang tahu siapa Jharna dan apa yang menimpa perempuan sialan itu. Itu yang lo mau hah, brengsek?!" Cheryl mendorong tubuh Andrew dengan kuat hingga suaminya mundur beberapa langkah.
"Aku juga gak tau kalau Jharna itu Anjani!!! Kamu pikir aku tidak kaget? Aku juga kaget Cheryl!!" gertak Andrew sambil memegangi kedua lengan Cheryl dengan erat.
"Ya makanya kalau mau melakukan sesuatu minimal pake otak lo bodoh!" dengan sinis Cheryl menimpali.
Andrew sudah membuka mulutnya hendak berbicara. "Diem! Mending lo tutup mulut lo yang sialan itu!" Cheryl langsung memperingatkan.
"Daripada lo banyak omong, mending sekarang lo pikirin pake otak lo yang kosong itu, apa yang harus kita lakukan? Menyewa pembunuh bayaran buat nyingkirin perempuan itu atau meracuninya sampai mati?" Mata bulat Cheryl mendelik tajam, seolah semua warnanya berubah hitam penuh ketakutan berselimut kejahatan.
__ADS_1
"Jangan sembarangan kamu Cheryl, aku gak mau jadi pembunuh. Sejak awal yang berniat menyingkirkan Anjani itu adalah kamu, bukan aku. Kamu hanya memanfaatkanku untuk mencapai tujuanmu, kamu sadari itu!!!" seru Andrew tidak terima.
"Oh, jadi sekarang lo nyalahin gue? lo nyalahin orang yang udah bebasin lo dari pernikahan bodoh dan menjijikan itu. Dasar jantan gak tau di untung!" Cheryl kembali mendorong dada Andrew dengan kesal.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, orang-orang mulai mencari tahu siapa Anjani dan mereka sekarang tau kalau lo mantan suaminya. Otomatis mereka juga akan berpikir kalau aku yang rebut lo dari tangan perempuan itu sekaligus yang menginginkan kematian dia. Apa yang bisa kita lakukan sekarang hah, APA?!” teriak Cheryl dengan matanya yang menyalak sekali lalu mengguyar rambut dengan kasar.
“Ya untuk sementara kita hindari orang-orang dulu. Kita siapin pembelaan, gimana pun Anjani gak punya bukti kan? Dia cuma sekedar ngokong. Kita harus segera menghubungi Carissa buat bantu kita.” Widi ikut angkat bicara, bagaimana pun ia tidak mau anak dan menantunya masuk penjara. Ada anak balita yang saat ini memerlukan perlindungan mereka.
“Tumben lo mikir,” Cheryl mulai bisa menghembuskan napasnya lega. Wanita yang semula putus asa itu kini bisa tersenyum lega.
“Makanya, kalau ada apa-apa, bicarakan dengan benar, jangan malah berantem.” Widi memberi nasihat.
Cheryl hanya termangu, kali ini ia setuju dengan ucapan Widi.
“Ya udah, tunggu apa lagi? Hubungi adik kamu, minta bantuan sama dia. Lumayan juga kan tenaganya bisa kamu pake. Hitung-hitung balas budi karena udah kamu sekolahin,” ucapan Cheryl terdengar lebih tajam dari sebilah pisau.
“Berhenti memaki semua orang Cheryl. Kalau kamu mau minta bantuan Carissa, paling tidak jaga ucapan dan perbuatanmu. Jangan berkata dan bersikap seenakny.” Andrew mencoba mengingatkan.
“Iya.iya! Buruan hubungi anak itu, kepalaku sudah sakit memikirkan semuanya,” Cheryl mengacak rambutnya yang tidak gatal.
Saat itu juga, Andrew segera menghubungi adikbya. Ponselnya aktif dan Carissa segera menjawabnya.
“Bisa ke rumah sekarang? Ada yang perlu aku bicarakan,” ucap Andrew tanpa berbasa-basi.
__ADS_1
“Hem,” hanya itu sahutan Carissa sebelum kemudian menutup telepon dan menyiapkan beberapa berkas. Ia sudah melihat kejadian luar biasa itu di televisi, mana mungkin ia tinggal diam, kan?