
Kesibukan terlihat di sebuah studio. Seorang Jharna baru selesai di rias oleh seorang make up artist dengan konsep korean make up yang tipis namun berkelas. Sementara di sampingnya ada seorang talent trainer professional yang sedang mengajarkan Jharna berekspresi. Di hadapan mereka ada sebuah tablet yang sedang memutar beberapa contoh ekspresi para artis besar saat mengiklankan sebuah produk.
Iklan Jharna sebenarnya tergolong mudah, ia hanya harus tersenyum mempertontonkan deretan giginya yang rapi dan bersih. Tetapi ia tidak bisa hanya asal tersenyum. Ada tehnik yang harus dilakukan agar senyumnya terlihat alami terutama saat berada di depan kamera.
“Anggap kamera itu sebagai bestie kamu. Kamu tersenyum sama dia dan bayangkan orang itu adalah orang yang paling ingin kamu ajak tersenyum. Bukan senyum simpul ya, tetapi senyum ceria yang membuat orang tersebut juga refleks ikut tersenyum,” terang sang pengarah gaya pada Jharna.
“Oh iya, aku coba ya Kak,” Jharna segera menghadap cermin yang besar di hadapannya. Ia memandang dirinya lalu tersenyum. “Seperti itu?” tanya Jharna ingin memastikan.
“Sedikit lagi. Ambil napas dulu, lalu hembuskan. Tenangkan diri kamu, bayangkan orang-orang yang ingin kamu ajak tersenyum, baru kamu tersenyum.” Ternyata senyuman Jharna masih kurang.
“Gak usah tegang, kamu tenang aja. Tersenyumlah dengan tulus.” Amilny baru datang bersama Bobby dan Kelvin.
“Kak, aku pikir senyum segampang itu,” Jharna segera menoleh Amilny yang mendekat padanya.
“Emang segampang itu, yang terasa sulitnya karena kamu memikirkan kamu sedang tersenyum di depan kamera. Jadi, mukanya keliatan tegang. Tenanglah, kamu udah cantik banget, tersenyum aja dengan alami kayak waktu pertama kita ketemu. Atau mungkin ingat-ingat saat kamu jatuh cinta sama seseorang dan dunia terasa milik kalian berdua,” terang Amilny yang berusaha ikut membantu.
Jharna kembali menarik napasnya dalam kemudian menghembuskannya. Ia melihat kembali ke cermin dan bayangan Kelvin ternyata memantul di sana. Kelvin yang sedang bersidekap di belakang sana pun tersenyum kecil pada Jharna. Dan dalam beberapa saat, Jharna balas tersenyum. Malu juga di kelilingi banyak orang seperti ini.
“Nah, iya begitu. Hanya saja giginya harus terlihat,” ucap pengarah gaya Jharna.
“Hah, kayak barusan?” Jharna bingung sendiri. Padahal ia bukan sedang belajar tersenyum, melainkan benar-benar tersenyum pada Kelvin.
“Iya, betul kayak tadi. Coba lagi yaa….”
Jharna mengangguk patuh. Mungkin sosok Kelvin bisa ia ajak cosplay untuk belajar tersenyum.
Bobby yang melihat kontak mata dua orang itu di cermin, ikut tersenyum. Ia menyikut sahabatnya yang tersipu dan Kelvin hanya bisa menghembuskan napasnya kasar seraya menahan senyum juga menggaruk dahinya dengan telunjuk. Sebenarnya tidak gatal, hanya canggung dan malu saja. Ia tahu kalau tujuan Jharna tersenyum adalah pada dirinya.
“Gue rasa, kalian punya perasaan yang sama,” bisik Bobby pada sahabatnya. Setelah mendengarkan curhatan Kelvin beberapa saat lalu tentang kegelisahannya berpura-pura sebagai calon suami Jharna, rasanya Bobby tidak perlu memberikan nasihat lebih pada sahabatnya. Hanya cukup bertahan dan menunggu Jharna mengenali sendiri perasaannya.
“Diem!” dengus Kelvin sambil menyikut sahabatnya. Bobby hanya tergelak dan mengacungkan ibu jarinya pada Jharna.
Seharian ini akhirnya di habiskan Jharna dengan bergaya sambil tersenyum. Banyak foto wanita ini yang di ambil, baik saat tersenyum atau pun saat beradegan sedang melakukan perawatan gigi di klinik Amilny. Semuanya dikerjakan dengan cepat dan lancar. Mereka juga berhasil membuat video singkat untuk di putar sebagai filler.
Sore ini, foto Jharna sebagai bintang iklan klinik kesehatan gigi dan mulut mulai bermunculan di mana-mana. Amilny dan timnya gencar melakukan penyebaran iklan melalui media sosial juga melalui papan-papan reklame di jalan. Setiap sudut klinik pun di penuhi oleh banner dan poster iklan pertama Jharna.
Seorang pengendara mobil ikut tersenyum melihat iklan di papan reklame. Meski saat ini sedang macet dan tubuhnya sudah sangat lelah, seorang Andrew masih bisa tersenyum melihat wajah Jharna di beberapa tempat.
“Oh, rupanya dia seorang bintang iklan baru. Pantas aja dia sangat cantik,” gumam Andrew. Jemarinya mengetuk-ngetuk setirnya, seperti ada melodi lagu yang sedang ia ikuti di dalam pikirannya.
“Ada apa, kok kamu senyum-senyum sendiri?” tanya Cheryl yang sedari tadi memperhatikan suaminya. Saat macet biasanya Andrew selalu memperlihatkan wajahnya yang dingin dan menyebalkan, tetapi kali ini laki-laki itu malah tersenyum senang. Cukup mencurigakan bagi Cheryl.
“Oh, gak apa-apa. Aku cuma seneng aja akhirnya kamu pulang,” Bulok, (buaya lokal) ini memang pandai beralasan.
“Beneran?” Cheryl langsung mendekat pada suaminya, ia menyandarkan kepalanya di bahu Andrew. Rasanya mengharuskan di rindukan oleh seorang Andrew.
“Iya lah,” sahut laki-laki itu seraya mengecup pucuk kepala Cheryl. Jangan salah, matanya tetap tertuju pada Jharna.
“Eeemmm, untung aku pulang cepet. Aku udah feeling sih kalau kamu pasti bakal kangen banget sama aku.” Cheryl merajuk manja. Ia menengadahkan wajahnya menatap Andrew yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Iya dong,” hanya itu jawaban Andrew yang melirik Cheryl sekilas saja. Ia segera melajukan mobilnya karena lampu hijau udah menyala.
“Malam ini, aku mau nyuruh susternya Leon nginep ya yang. Buat jagain Leon. Soalnya aku mau berdua aja sama kamu.” Cheryl langsung memikirkan ide itu.
“Jangan dulu yang, Leon kangen loh sama kamu. Malam ini kamu sama Leon dulu lah. Kasian dia. Ajak dia main, dia pasti nungguin kamu pulang. Toh dia juga gak akan ganggu kita,” tolak Andrew.
“Hemmm,” Cheryl langsung mengerucutkan bibirnya. “Ini salah satu alasan aku belum siap punya Leon. Aku gak bisa nikmati waktu aku sama kamu,” imbuh Cheryl yang mulai menegakkan tubuhnya. Matanya menatap lurus pada kendaraan lain yang berbaris antri di depan.
Andrew tidak menimpali, ia hanya fokus dengan setirnya. Tidak, ia fokus dengan bayangan Jharna dalam pikirannya.
Menjelang malam, Kelvin dan Jharna tiba di rumah mereka. Tidak berbeda jauh dengan Andrew dan Cheryl yang juga baru tiba.
“Loh, rumah itu sekarang ada penghuninya?” tanya Cheryl saat ia melihat Kelvin dan Jharna turun.
“Ya, tetangga baru kita. Mau menyapa mereka?” tawar Andrew seraya menutup pintu mobilnya.
“Males akh, gak penting juga.” Cheryl ikut menutup pintu mobilnya.
“Kita liat dulu, kamu pasti kaget siapa tetangga kita itu,” Andrew tetap semangat untuk menghampiri Jharna dan Kelvin.
“Emang siapa?” Cheryl terpaksa mengikuti Andrew untuk menyebrang jalan, menuju rumah Jharna.
“Kalian baru pulang?” sapa Andrew.
“Oh, ya.” Jharna yang sedang menurunkan barang belanjaan pun segera menoleh.
“Loh, kayaknya kita pernah ketemu ya?” Cheryl langsung mengingat wajah wanita itu. Wanita yang membuat Cheryl merajuk pada Andrew meminta izin untuk suntik botox di dagunya.
“Baik. Ya, aku ingat.” Mereka berjabat tangan beberapa saat.
Jharna bisa merasakan perasaannya yang bergejolak saat berjabat tangan dengan wanita yang berniat membunuhnya tanpa berkedip sedikitpun. Terlihat jelas kebengisan wanita ini.
“Oh ya, perkenalkan, ini Kelvin, calon suamiku. Sayang, ini tuan Sanjaya. Maksudku tuan Andrew.” Jharna segera memperkenalkan Kelvin pada dua orang ini.
“Halo apa kabar?” Kelvin mengulurkan tangannya pada Andrew dan Andrew segera menyambutnya.
“Baik. Senang berkenalan denganmu.” Andrew hanya berbasa-basi. Yang terjadi sebenarnya adalah hati laki-laki ini mulai gelisah melihat sosok Kelvin yang Jharna panggil dengan sebutan sayang. Entah mengapa ia mulai tidak suka.
“Ya, tentu,” sahut Kelvin. Ia tersenyum ramah pada Andrew, laki-laki yang begitu sering melirik Jharna.
“Jadi kalian akan menikah?” Cheryl bertanya dengan semangat saat berjabatan tangan singkat dengan Kelvin.
“Secepatnya. Sekitar bulan depan. Iya kan sayang?” Jharna yang menjawab seraya melingkarkan tangannya di lengan kekar Kelvin.
“Ya, betul, secepatnya kami akan menikah,” balas Kelvin. Ia menambahkan sebuah kecupan manis di pucuk kepala Jharna.
Jharna sempat kaget, apa acting mereka harus semaksimal ini? Ia menatap Kelvin dan laki-laki itu hanya tersenyum pada Jharna. “Aku tidak sedang berakting, Jharna,” batin Kelvin.
“Aku senang mendengarnya. Kami pun sudah menikah satu tahun ini, tapi masih berasa seperti pengantin baru. Iya kan sayang?” Cheryl balas melingkarkan tangannya di lengan Andrew, membuat laki-laki yang sedang memandangi Jharna dengan tidak rela itu terhenyak kaget.
__ADS_1
“Hem,” hanya itu sahutan Andrew. Dadanya sedang bergejolak.
“Hahahaha… dia memang malu-malu.” Cheryl yang merasa diabaikan pun memukul lengan Andrew dengan cukup keras sambil tertawa. Ia ingin laki-laki ini tersadar dan menjaga sikapnya.
Kelvin dan Jharna balas tersenyum kecil, mereka tetap menunjukkan kemesraannya di hadapan dua orang ini.
“Baiklah, kalian selama beristirahat. Kami masuk dulu.” Cheryl yang memilih untuk pamit.
“Oh ya, silakan, selamat beristirahat. Salam untuk Nyonya Widi,” timpal Jharna dengan senyumnya yang manis.
“Ya, tentu.” Cheryl menyahuti dengan bingung. Bagaimana bisa Jharna mengenal ibu mertuanya yang menyebalkan itu.
Andrew dan Cheryl pun berlalu pergi bersamaan dengan Jharna dan Kelvin yang segera masuk. Ia membawa semua bahan makanan ke dalam rumah. Tidak hanya itu, Jharna juga membawa baju-baju yang tadi dibelikan Amilny.
“Makasih udah mau berakting depan mereka,” ucap Jharna seraya tersenyum pada Kelvin.
“Tidak masalah, itu hal yang mudah.” Kelvin menyahuti dengan santai. Ia menutup pintu setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal di luar.
“Kamu pernah punya pacar Vin?” sambil membereskan belanjaannya, Jharna masih terus bertanya.
“Pernah, mantan pacarku adalah musuhku.” Kelvin menyahuti dengan serius.
“Kok bisa gitu?” Jharna jadi menoleh mendengar jawaban Kelvin.
“Hem, dia temen dari wanita yang mengaku sebagai korban malapraktekku. Dia juga yang ikut menyebarkan issue tersebut. Hah, sepertinya aku jatuh cinta pada wanita yang salah,” Kelvin tampak termenung. Ia memakan apel yang baru ia cuci sambil bersandar pada kulkas besar di belakangnya.
“Eeemm… sabar yaa…” Jharna mengusapi lengan Kelvin sambil menatapnya sedih. “Terkadang takdir sengaja mempertemukan kita dengan orang yang salah, agar kita tahu cara menemukan orang yang tepat,” Jharna berusaha menghibur Kelvin.
“Hal itu juga berlaku untukmu, Jharna.”
“Eem, entahlah. Aku udah gak punya keinginan untuk mencari dan menemukan orang yang tepat. Hatiku udah kebas Vin,” ungkap Jharna. Ia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan membereskan sayuran untuk ia masukkan ke dalam kulkas.
Kelvin menatap Jharna beberapa saat. Ia bisa membayangkan bagaimana traumanya Jharna setelah kejadian itu. “Bagaimana kalau aku yang berusaha menjadi orang yang tepat itu?” batin Kelvin. Ia mendekat pada Jharna lalu tiba-tiba menyuapkan apel itu pada Jharna. Jharna sempat menoleh laki-laki itu dengan bingung. “Cobalah, apelnya manis,” ucap Kelvin.
Jharna tidak menimpali, ia mengigit satu sisi yang belum di makan Kelvin. Benar saja, rasanya memang manis. “Tapi aku memberinya serbuk racun, hahahahaha….” bisik Kelvin sambil tertawa di telinga Jharna.
“Bukankah itu artinya kita akan mati bersama?” Jharna bertanya dengan iseng. Receh sekali candaan Kelvin.
“Memangnya kamu mau mati bersamaku?” Kelvin balas bertanya dengan serius.
“Tidak. Kamu orang baik, tidak cocok untuk mati bersama orang sepertiku.” Jharna menyahuti dengan cepat. Ia tersenyum kecil, karena ternyata Kelvin menyahuti candaannya.
“Aku sudah memilih hidup bersamamu, apa salahnya kalau mati bersamamu?” sayangnya bagi Kelvin hal ini bukan sebuah candaan.
“Astaga Vin, aku cuma becanda. Kenapa kamu seserius itu?” Jharna jadi salah tingkah dengan sikap Kelvin, terlebih dengan tatapannya yang lekat.
“Bagaimana kalau aku tidak sedang bercanda?” Kelvin meneruskan kalimatnya, dengan tatapan lekat pada Jharna. Laki-laki itu pun menegakkan tubuhnya, menghadap Jharna.
Jharna cukup terkejut dengan candaan Kelvin. Ia tersenyum samar. Tetapi kemudian senyumnya terhenti saat ia sadar kalau sepertinya Kelvin sedang tidak bercanda. Tunggu, apa laki-laki ini benar-benar serius dengan perkataannya? Kenapa hati Jharna mesti bergetar, sementara semua ini hanya permainan peran bukan?
__ADS_1
****