
Apa yang Jharna lakukan saat ini adalah untuk mencari petunjuk dan bukti atas kejadian yang menimpanya. Wanita bertubuh tinggi semampai itu memutuskan untuk berangkat ke pulau yang pernah ia datangi bersama Andrew dan mendatangi hotel tempat Cheryl menginap. Ia masih berharap ada rekaman CCTV yang merekam kejadian satu tahun lalu.
Seorang Jharna sadar benar kalau Cheryl, bukan orang yang mudah untuk dihadapi. Jharna harus menyiapkan banyak bukti kejahatan wanita itu, sebelum menyerang wanita itu dan membuat Andrew berpaling padanya.
Di sebuah ruangan, Jharna di sambut oleh manager hotel. Laki-laki ini cukup terkejut melihat kedatangan sosok cantik yang sedang booming akhir-akhir ini. Iklannya dimana-mana, produk kencantikan yang ia bintangi pun mejadi trending di kalangan anak muda.
“Selamat datang nona Jharna, saya Beny, manager di hotel ini.” Pria bertubuh jangkung itu mengulurkan tangannya pada Jharna.
“Terima kasih. Anda mengenal saya?” Jharna membalas uluran tangan tersebut. Mereka berjabat tangan untuk beberapa saat, terlihat sekali kalau laki-laki itu tertarik pada sosok cantik yang mengenakan drew bermotif bunga. Terlihat santai namun berkelas.
“Ya, saya mengenal Anda. Saya sering melihat beberapa iklan Anda di televisi. Suatu kehormatan Anda berkunjung ke hotel kami, silakan duduk.” Laki-laki itu berujar dengan ramah.
“Terima kasih,” Di salah satu sudut kursi Jharna terduduk.
Laki-laki itu memandangi Jharna dengan penuh rasa penasaran. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya pria itu dengan ramah.
“Iyaa, mohon maaf saya mengganggu kesibukan Anda. Sebenarnya saya memerlukan bantuan Anda,” Jharna sengaja menggantung kalimatnya dengan wajah yang penuh harap.
“Ya, bantuan seperti apa yang bisa saya berikan?” laki-laki itu langsung mencondongkan tubuhnya, seperti siap sekali untuk membantu Jharna.
“Em, saya ingin tau, apa CCTV di hotel ini merekam ke arah jalan raya?” tanya Jharna tanpa ragu.
“Oh ya, kamera CCTV kami merekam ke sana, hanya saja jaraknya terbatas. Apa Anda kehilangan sesuatu di jalan sekitar hotel?”
“Ya, satu tahun lalu. Bisa saya melihat rekaman CCTV nya?”
Laki-laki itu langsung terdiam, seperti tengah berpikir sesuatu. “Saya harus mengecek terlebih dahulu, khawatirnya rekamannya sudah tidak ada.” Kalimat laki-laki itu mulai membuat Jharna khawatir. Laki-laki itu membaca jelas ekspresi Jharna. “Tapi, kita bisa coba cek dulu, biasanya ada beberapa rekaman yang di simpan,” imbuh laki-laki itu saat melihat perubahan ekspresi Jharna.
“Boleh saya ikut?” Jharna ingin memastikan kalau CCTV itu jelas merekam area yang Jharna harapkan.
“Boleh, silakan.” Laki-laki itu langsung mengizinkan. “Hanya saja, sebagai gantinya, apa boleh saya meminta Anda untuk mempromosikan hotel ini?” Rupanya ada ujungnya.
Jharna tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu. Bisnis ya tetap bisnis, tidak ada yang cuma-cuma.
__ADS_1
“Baik, tidak masalah.” Jharna langsung menyanggupinya.
“Terima kasih,” laki-laki itu berujar dengan senang.
Jharna langsung di bawa ke ruang control CCTV. Di ruangan itu ada banyak sekali monitor dan Jharna harus memperhatikannya satu per satu.
“Sudut mana yang Anda ingin kan? Ini tampilan kamera yang berada di luar hotel.” Beny menunjuk beberapa layar monitor.
“Saya lihat dulu,” Jharna memperhatikan semua layar dengan seksama. Satu per satu ia lihat. Banyak sudut yang terrekam hanya saja tidak ada yang merekam area ujung tebing. “Apa area ujung tebing tidak terrekam?” Wanita itu penasaran.
“O iya, kamera kami tidak sampai ke sana. Apa hilangnya di sana?”
Jharna hanya mengangguk. Ia cukup kecewa karena apa yang ia cari tidak ada di tempat ini. Apa mungkin pencariannya akan buntu?
“Mohon maaf, jangkauan CCTV kami terbatas.” Laki-laki itu terlihat merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, itu bukan salah Anda, terima kasih sudah membantu saya.” Kendati demikian, Jharna tetap merasa terbantu karena manager hotel ini mau menunjukkan tampilan di CCTV nya.
“Dengan senang hati,” laki-laki itu mengangguk sopan.
Keluar dari hotel, Jharna pergi ke tebing tempat ia terjatuh. Tiang lampu itu masih berdiri di sana, tiang tempat ia berpegangan beberapa saat. Jharna terdiam beberapa saat, bulu kuduknya meremang dan jantungnya berdetak cepat saat memandangi seburan ombak yang menghantam karang dengan keras. Kilatan ingatan atas kejadian itu ikut bermunculan di benaknya, seperti gelembung buih yang jumlahnya sangat banyak dan terlihat jelas.
Dada Jharna merasa sangat sesak, mengingat bagaimana jahatnya Cheryl dan Andrew terhadapnya. Ia harus mengusap dadanya berulang kali saat teringat jantungnya yang seperti lepas saat tubuh tambunnya terjatuh dan menghantam keras permukaan laut hingga tubuhnya terasa remuk.
Cepat-cepat Jharna memalingkan wajahnya saat tanpa sadar kakinya melangkah terlalu pinggir hingga membuat butiran tanah berjatuhan ke laut lepas. Ia terjongkok cukup jauh sambil berusaha menyadarkan dirinya yang ketakutan.
“Tenang Jharna, kamu sudah selamat. Kamu baik-baik saja. Semua itu hanya mimpi buruk yang tidak akan terjadi untuk kedua kalinya,” batin Jharna yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Puas memandangi tempat bersejarah ini, Jharna melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat ia dan Andrew menginap. Lekukan jalan yang panjang dan lebar ini, membuat Jharna mengingat kembali moment penuh kepuraa-puraannya bersama Andrew. Moment kepura-puraan yang penuh tawa untuk terakhir kalinya. Ia baru sadar kalau tawa laki-laki itu selama ini adalah kebohongan. Semuanya hanya upaya untuk mengelabuinya.
Tiba di hotel tempat ia menginap, Jharna segera menuju kamar hotel yang dulu ia tempati. Kamarnya cukup besar dan warna catnya masih sama. Wangi ruangan tercium jelas, membuatnya teringat pada romansa terakhir yang terjadi antara ia dan Andrew.
Di tepian ranjang Jharna terduduk, ia mengusap permukaan seprai yang halus dan lembut. Hanya beberapa saat saja sampai kemudian ia kembali beranjak dan berdiam diri di tepi jendela. Menatap riak air kolam yang sering kali membuat kepalanya pusing.
__ADS_1
Kata Kelvin, itu salah satu bentuk traumanya. Ya,, hingga saat ini Jharna masih ketakutan melihat debit air yang tertampung dalam jumlah banyak. Tubuhnya selalu gemetar dan seperti ia akan tenggelam di dasarnya.
Beruntung sebuah deringan telepon menyadarkannya. “Kelvin?” gumam wanita itu saat melihat nama Kelvin muncul di layar ponselnya.
“Ya Vin?” Jharna segera menjawabnya.
“Hay, gimana kabar kamu?” laki-laki itu langsung bertanya, seolah tahu kegundahan Jharna.
“Vin, aku baik-baik aja,” jawab Jharna seraya memijat pelipisnya yang terasa pusing.
“Boleh video call?” Laki-laki itu tidak lantas percaya.
“Hem,” Jharna mengiyakannya.
Tidak lama sampai kemudian panggilan Kelvin berubah menjadi panggilan video. Wajah laki-laki itu terlihat jelas, menatap Jharna dengan penuh kecemasan.
“You okey?” tanyanya dengan lembut.
“Aku lagi berusaha untuk baik-baik aja, karena ini pilihanku.” Jharna berusaha terlihat tenang dihadapan Kelvin walau perasaannya bergejolak.
“Kamu nginep dimana? Biar aku temenin,” Kelvin langsung berniat menyusul. Satu tangannya sedang mengecek aplikasi pemesanan tiket dan hotel.
“Nggak usah Vin, besok aku pulang kok. Kayaknya aku gak dapet apa-apa di sini. Aku udah ke hotel tempat Cheryl menginap, tapi gak ada CCTV yang mengarah ke tempat kejadian.” Jharna terlihat sangat kecewa.
Kelvin menatap Jharna dengan khawatir. Andai ia ada di samping Jharna, sudah dipastikan kalau ia akan memeluk Jharna dengan erat.
“Yang tenang ya, kamu harus percaya bahwa setiap kebenaran akan terbuka dengan caranya sendiri. Meski tidak menemukan bukti apa pun, banyak cara untuk membuat mereka mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap kamu. Aku di sini Jharna, kamu gak sendiri. Jadi kamu gak perlu takut.” Kalimat Kelvin terdengar tegas dan lugas, namun lembut di waktu yang bersamaan.
Jharna yang nyaris putus asa ini, hanya bisa menitikkan air matanya mendengar kalimat pendek yang mampu membuat hidupnya kembali terasa berarti.
“Makasih, Vin. Maaf karena aku selalu ngerepotin kamu,” ungkap Jharna dengan penuh perasaan. Andai tidak ada Kelvin, apa jadinya ia sekarang?
"Hey, kamu gak pernah ngerepotin aku. Aku seneng bisa ada buat kamu," Kelvin berujar dengan sungguh-sungguh. Ia begitu antusias.
__ADS_1
"Tuhan, apa laki-laki sebaik ini memang nyata ada di hidupku?"
****