
Hari ini, Jharna memutuskan untuk mengajak Kelvin pulang ke rumah ibunya. Setelah apa yang ia alami selama ini, ia perlu menenangkan dirinya di tempat yang memang bisa menerima kondisinya. Tempat yang nertal dan tidak membuatnya merasa tertekan.
Bersama Kelvin, mereka melewati jalanan yang sepi dan beraspal tipis. Guncangan tanah yang tidak rata, maish jelas terasa. Di sisi kiri dan kanan mereka bisa melihat pemandangan hijau dari sayuran yang menyegarkan mata. Dalam suasana beranjak malam, di mana matahari sudah tidak lagi terlihat, Jharna menurunkan kaca jendelanya untuk merasakan udara dingin di bawah kaki gunung.
Dari tempatnya, ia memandangi hamparan kebun sayuran masih terlihat jelas di bawah senja yang menghibar kekuningan di langit yang menjelang gelap.
“Udara di sini masih sangat segar ya?” komentar Kelvin yang ikut menurunkan kaca jendelanya. Ia menghirup udara dalam-dalam dan terasa oksigen itu mengalir di seluruh aliran darahnya. Rasa kantuk dan lelah selama perjalanan mendadak hilang, berganti rasa segar dan bersemangat.
“Iyaa, apalagi kalau pagi-pagi. Berasa paru-paru kita mengembang dengan sempurna Mas. Oh iya, suhu di sini kalau musim hujan bisa sampe 11 derajat loh Mas.” Dengan ceria Jharna menceritakan kondisi di kampung halamannya.
"Dulu, aku dan orang tuaku terbiasa berangkat ke ladang pagi hari. Berjalan-jalan tanpa alas kaki sambil menikmati pagi yang masih berkabut. Orang tuaku petani yang gigih, mereka begitu menikmati pekerjaannya walau harus menghabiskan waktunya seharian di ladang." Selayang pandang pada kenangan beberapa tahun lalu terasa mengasyikan bagi Jharna.
“Waw, bagus itu. Penuh semangat dan dedikasi, apapun pekerjaannya." Kelvin mengacungkan ibu jarinya pada Jharna.
"Lagi pula, kalau di sini udaranya maish dingin dan asri, kita gak perlu bulan madu keluar negeri dong ya… di sini, selain berkebun, juga bisa bercocok tanam,” ujar Kelvin tiba-tiba.
“Bulan madu? Bercocok tanam?” Jharna mengulang dua istilah yang Kelvin sebutkan beberapa saat lalu. Ia menoleh kekasihnya dengan senyum tertahan. Istilah yang digunakan Kelvin memiliki pengertian jamak.
Kelvin melirik wanita yang tampak penasaran dengan ucapannya. Ia menepikan sejenak laju kendaraannya dan menghentikannya di bawah lampu jalan. Cahaya kekuningan terlihat jelas memantul dari cat mobilnya yang berwarna putih.
__ADS_1
“Mas, ada apa? Kok berhenti di sini?” tanya Jharna dengan gelisah. Ia tidak mengerti dengan respon Kelvin yang hanya tersenyum setelah mendengar pertanyaannya.
Laki-laki itu tiba-tiba saja melepas seat beltnya, lalu memiringkan tubuhnya menghadap Jharna. “Aku boleh mengatakan sesuatu gak?” tanyanya, dengan tatapan lekat pada Jharna.
“Boleh, bilang aja. Emang Mas mau ngomong apa?” Jharna semakin penasaran. Ia balas menghadap pada Kelvin.
“Bukan sama kamu, tapi sama ibu kamu.” Ada senyuman yang terbit sesaat setelah ia mengatakan kalimat itu.
“Ibuku? Tentang?” Dahi licin Jharna tampak mengernyit. Kelvin meraih tangan Jharna kemudian menggenggamnya dengan erat.
“Aku, mau mintaa izin ibu buat nikahin kamu ya,” ucap Kelvin dengan penuh kesungguhan. Netra pekatnya menatap Jharna dengan sungguh. Terlihat jelas maksud hatinya yang tidak main-main.
“Nikah?” Suara Jharna nyaris parau, ia masih terkejut dengan suara Kelvin yang mendadak terdengar begitu tegas hingga membuat jantungnya berlompatan. Ia sampai tidak menyangka kalau laki-laki itu benar-benar mengucapkan satu kata sacral itu dengan ringan dan penuh harap, yaitu menikah.
Jantung Jharna seperti berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ia menatap wajah Kelvin dengan seksama. Wajah yang terlihat bahagia dan serius saat menyampaikan maksudnya. Bibirnya mendadak kelu, bahkan tidak bisa tersenyum. Ia pernah menjalani sebuah pernikahan, namun ia tidak pernah mendengar manisnya seorang laki-laki mengungkapkan keinginannya untuk mengajaknya menikah.
“Apa dia serius?” Hal itu yang muncul di benak Jharna.
“Aku sadar, aku bukan lelaki yang sempurna Jharna. Aku hanya laki-laki yang selalu berusaha menjadi seseorang yang lebih baik lagi setelah mengenal kamu. Aku tidak ingin melakukan satu kesalahan pun yang bisa menyakiti kamu, karena buat aku keberadaan kamu itu penting di hidup aku. Bisa apa aku kalau wanita yang menjadi semangat hidup dan sumber keberanianku, tidak ada di sisiku?”
__ADS_1
Untaian kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut Kelvin. Sepanjang jalan ia memikirkan cara yang romantis untuk mengungkapkan perasaannya. Tetapi bagi seorang Kelvin, tidak ada hal yang lebih romantis di banding waktu-waktu penuh kesulitan yang ia lalui bersama Jharna. Semuanya terlalu manis karena membuatnya memiliki keberanian untuk bangkit.
“Mas yakin, mau nikah sama aku? Hidupku dikelilingi masalah yang bisa sangat menyulitkan Mas. Mas yakin mau hidup dengan wanita seperti aku?” Suara Jharna terdengar lirih. Antara menahan tangis haru dan rasa tidak percayanya.
“Heey, tidak ada manusia yang tanpa masalah.” Kelvin segera mendekatkan tubuhnya pada Jharna. Ia menangkup sebelah wajah Jharna yang kemudian ia usap lembut dengan ibu jarinya. “Bersama kamu, aku bukan hanya menemukan masalah, tetapi aku menemukan cara untuk menyelesaikan masalah. Kamu mengajarkan aku untuk bertumbuh dan tidak menyerah. Kamu juga mengajarkan aku untuk memiliki harapan dan menghargai setiap hal kecil dalam hidup kita. Lantas apa yang harus membuatku ragu?” Kelvin berujar dengan sungguh-sungguh. Matanya sampai berkaca-kaca karena berhasil menyampaikan maksud dan perasaan terdalamnya untuk Jharna.
Tidak ada jawaban dari bibir Jharna, yang terdengar kemudian adalah sebuah isakan yang terdengar lirih.
“Heeyy, Jharna….” Panggil Kelvin dengan suaranya yang lembut. Ia menangkup kedua sisi wajah wanita yang begitu di cintainya. Wanita yang membuatnya berani menghadapi dunia ini.
“Aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku. Mungkin waktunya gak tepat karena aku mengungkapkan semua ini sekarang tapi, aku hanya ingin membuat peluang untuk membuat kita bersama. Apa boleh?” Suara yang lembut dan mendayu itu berlanjut, memberi sentuhan lembut di hati Jharna.
“Nggak Vin, nggak ada yang salah. Cuma, aku gak nyangka aja kalau aku akan menemukan seseorang yang tidak hanya mencintaiku, tetapi juga menjadi support system yang hebat buat aku, aku,” Jharna sampai tidak bisa melanjutkan kata-katanya, suaranya parau karena gejolak perasaan yang bercampur di rongga dadanya.
“Itu karena aku mencintaimu, aku menyayangimu dan aku menghormatimu Jharna.” Kelvin tetap dengan usahanya untuk meyakinkan Jharna.
Jharna mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Mata basahnya menatap sepasang netra pekat yang menunjukkan banyak kilatan rasa cinta. “Ya, kalau begitu mintalah aku dengan sungguh-sungguh pada ibuku. Jika dia mengizinkannya, tidak ada alasan untukku menolak Mas,” Jharna berujar dengan sungguh-sungguh.
Ada rasa yang membuncah di dada Kelvin hingga ia tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Tanpa ragu, ia mengecup bibir Jharna dengan lembut. Ia suka pada bibir yang mengiyakan permintaannya. Ia jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada kalimat yang diucapkan Jharna. Ia pagut bibir itu dengan lembut dan perlahan Jharna membalasnya. Saling *****4* dengan dada yang bergemuruh, namun hanya sebatas itu saja. Mereka sadar, ada batasan yang menghalangi untuk melakukan hal yang lebih dari itu.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Kelvin yang membawa tubuh Jharna kepelukannya. Wanita itu mengangguk pelan, sambil mengatur deru nafasnya yang masih memburu.
****