Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Putus asa


__ADS_3

“Itu Cheryl!!” seru seorang awak media saat melihat seorang wanita berkaca mata hitam dengan kupluk di atas kepalanya, keluar dari kediaman Sanjaya.


Kemunculan wanita itu langsung di sambut oleh banyaknya kilatan kamera yang mengabadikan moment langka saat sang artis keluar dari tempat persembunyiannya.


Beberapa orang awak media rela naik ke pagar tinggi kediaman Sanjaya hanya untuk mengintip kondisi di dalam rumah dan mendapatkan foto terbaik untuk mereka publikasikan. Kasus Cheryl sedang trending di berbagai media, sudah pasti pendapatan mereka akan meningkat pesat jika mendapatkan info terbaru tentang Cheryl.


Sementara Cheryl segera masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobil dengan tergesa-gesa. Ia berniat untuk segera pergi dari rumah ini, rumah yang hanya melindunginya dari terik dan hujan, namun mengabaikannya saat ia memerlukan perlindungan. Semua orang memusuhinya, tidak ada yang membelanya dan pada akhirnya ia berjalan sendiri.


Suara mesin mobil menyala dan wanita itu segera tancap gas. Seorang ART membukakan gerbang diikuti oleh Cheryl yang menerobos kerumunan awak media yang menyerangnya dengan kilatan blit kamera dan rentetan pertanyaan.


"Kak Cheryl, klarifikasinya dulu dong kak. Bener gak gosipnya kakak melakukan pembunuhan?" itu salah satu pertanyaan yang membuat dada Cheryl bergejolak seperti deburan ombak yang menelan tubuh Anjani yang membawanya ke samudra lepas. Satu tahun lalu, tetapi terasa seperti beberapa menit lalu.


Cheryl mengabaikan semua pertanyaan yang begitu menyudutkannya. Ia hanya tahu kalau ia harus segera pergi dari tempat ini dan meninggalkan orang-orang yang terus bertanya tentang kebenaran berita itu. Memangnya apa yang akan mereka lakukan jika berita itu benar? Menghukum Cheryl kah?


"Aku bahkan sudah terhukum oleh semua ingatan yang muncul di kepalaku," batin Cheryl dengan berair mata.


“Awas-awas!!” Seru beberapa orang wartawan saat melihat Cheryl yang mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Wanita itu seperti tidak peduli jika kemudian ia menabrak salah satu orang di kerumunan itu yang penting ia bisa membebaskan diri dari orang-orang yang terus menghakiminya.

__ADS_1


Mobil Cheryl melaju dengan kencang, melewati jalanan yang senggang. Injakannya di pedal gas semakin dalam saja. Kecepatan 100 km/ jam seperti tidak terasa. Entah ke mana arah yang Cheryl tuju, ia pun tidak tahu. Yang ia inginkan sekarang adalah menjauh dari semua hal yang menghakiminya.


Selama mengemudikan mobilnya, pikirannya terus bergelut dengan kemungkinan yang akan terjadi dengan masa depannya.


"Gue, pake baju tahanan? Itu gak mungkin. Gue hanya cocok memakai gaun yang indah dan gemerlap," gumam Cheryl seraya menyeringai. Mengusap air matanya dengan kasar dan penuh kemarahan.


"Harusnya, gue bunuh lo untuk kedua kalinya Anjani. Lo harusnya gak ada di muka bumi ini. Dan gak ada di hidup gue yang tenang dan damai. Hidup gue hancur gara-gara lo, BRENGSEK!! BRENGSEK!!!" wanita itu memukul-mukul setir mobilnya dengan penuh kemarahan.


Kendaraannya sampai oleng dan mendapat klakson keras dari kendaraan di belakangnya. Umpatan juga ia dengar dari pengemudi lain yang menyalipnya. "Bawa mobil yang bener monyet!!" seru seorang laki-laki yang sengaja membuka jendelanya hanya untuk meneriaki Cheryl.


"Lo yang monyet brengsek!!" timpal Cheryl seraya membanting stirnya ke kiri, sengaja menyenggolkan mobilnya ke mobil lain. Mobil lawannya sampai oleng dan berbelok ke kanan dengan tiba-tiba.


"Gak ada yang bisa ngalahin gue, apalagi kecoa macam lo doang!" gerutu wanita berkacamata hitam itu.


Jauh berkendara, tetapi Cheryl tidak juga menemukan tempat tujuannya. Saat ini ia ada di sebuah perempatan. Belok ke kanan, arah bandara, ke kiri, arah club yang biasa ia datangi. Lalu jika lurus,


Ya, Cheryl memutuskan untuk melajukan mobilnya lurus meski ia tidak tahu apa yang akan ia temui di depan sana. Pelan saja hingga kemudian ia berhenti di depan palang perlintasan kereta api. Matanya menatap kosong pada palang itu, ia membayangkan jika kemudian ia ada di tengah-tengah rell kereta, apa penderitaannya akan berakhir?

__ADS_1


Cheryl tersenyum kecil. Ia mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak begitu saja. Satu panggilan baru berakhir, panggilan dari sang manager. Ia mengecek benda pipih itu dan ternyata ada 82 panggilan tidak terjawab dari banyak nomor yang berbeda. Panggilan paling banyak adalah dari managernya.


"Kalian mencariku hanya untuk menghakimiku, maka seharusnya kita tidk bertemu lagi," gumam Cheryl. Ia membukan kotak pesannya dan menuliskan sebuah pesan.


"Jaga Leon dengan baik, aku gak bisa sama dia lagi," tulis wanita itu yang ia kirimkan pada Andrew.


Tanda ceklist yang muncul di layar ponselnya seolah memberitahunya kalau pesannya terkirim. Lantas ia menaruh ponselnya begitu saja. Kepalanya ia bentur-benturkan ke headrest dan perlahan air matanya kembali menetes. Rupanya belum kering juga air mata yang ia buang sedari tadi. Suara Leon seperti bergaung di rongga telinganya. Cheryl menutup kedua telinganya dengan tangan yang memetar, tetapi suara itu masih jelas terdengar.


"Kenapa hidup gue sebrengsek ini? KENAPA?!!!" teriak Cheryl, entah pada siapa.


Perlahan, ia melonggarkan pijakannya pada pedal rem, lalu memperdalam pijakannya pada pedal gas. Mobil itu melaju perlahan, mendekat pada rell kereta. Palang pintu kereta ia tabrak begitu saja hingga membuat kaca mobilnya retak. Cheryl gelap mata. Ia mengabaikan begitu saja suara seorang laki-laki penjaga pintu perlintasan kereta yang memukul-mukul kaca jendela. Ia hanya terisak di antara pikirannya yang rumit.


Suara kereta malah terdengar seperti suara panggilan untuk mendekat, lebih dekat lagi dengan akhir hidupnya yang memuakkan.


"Mba!! berhentii!! Kereta!!!" teriak laki-laki yang kini berdiri di depan mobil Cheryl. Laki-laki itu merentangkan tangannya dengan wajah pucat pasi, mencemaskan wanita yang ada di dalam mobilnya.


Saat itu, kaki Cheryl berhenti menginjak pedal gasnya. Lantas ia menangis sesegukan, terisak-isak tanpa bisa tahan. Semua kejahatannya pada Anjani seperti sedang menghukumnya. Tidak lama terlintas bayangan wajah Andrew dan Leon di pikirannya. Lantas wanita itu tertawa, tertawa terbahak-bahak hingga berair mata. Tubuhnya sampai berguncang karena tawanya, tetapi air matanya tidak berhenti mengalir.

__ADS_1


Dua hal itu terus terjadi pada Cheryl, suaranya bahkan masih terdengar jelas saat bisingnya suara kereta melintas di hadapannya. Akhir logika dan akhir hidup, mana yang kemudian akan Cheryl pilih?


****


__ADS_2