Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Pabrik gula


__ADS_3

Ini adalah syuting tapping pertama Jharna untuk sebuah program televisi nasional. Setelah sebelumnya wajahnya hanya tampil di iklan berdurasi singkat atau berbagai media cetak dan online, kali ini ia akan mengisi layar kaca untuk durasi sekitar setengah jam ke depan. Waktu yang cukup lama dan ia harus berusaha untuk membuat penontonya tidak bosan.


Bersama seorang koki terkenal, mereka memasak di depan kamera. Mereka kompak membuat masakan dari bahan dasar kepiting yang dulu pernah gagal di buat Jharna. Masakan ini juga yang selalu mengingatkan Jharna pada kekejaman sang ibu mertua yang melempar bawang daun ke wajahnya. Tidak menimbulkan luka di wajah, tetapi sakitnya membekas di hati.


Tayangan ini adalah salah satu ajang balas dendam yaitu dengan membuktikan ia bisa membuatnya. Makian Widi kala itu harus ia bayar tuntas dengan tepukan tangan dan rasa puas pemilik acara atas penampilannya.


“Wah, sepertinya Jharna ini udah terbiasa masak ya?” komentar koki muda yang ada di samping Jharna. Beruntung Jharna di ajak dalam satu program dengan seorang koki yang terkenal di kalangan ibu-ibu muda bahkan para gadis belia.


“Kalau di bilang bisa masak, ya bisa, untuk konsumsi pribadi. Tapi tidak hebat seperti chef,” timpal Jharna dengan apa adanya.


“Hahahaha… bisa saja. Saya pun masih belajar. Gagal bikin lagi, gagal bikin lagi, nanti juga ketemu dengan ciri khas masakan kita yang akan diminati banyak orang." Chef itu berujar dnegan penuh semangat. Ia membantu Jharna memotong sayuran.


"Motivasi yang bagus untuk saya yang kalau gagal dikit langsung pengen ngereog," timpal Jharna.


"Hahahahha... kesabarannya setipis tisue di bagi tujuh ya buk," Chef itu balas mencadai.


"Hahahah... iyaa... keliatan kan dari mukanya, tegang begini." Jharna menunjuk wajahnya sendiri yang merona karena hawa panas kompor.


"Nggak sih, cuma cantiknya doang yang saya lihat," timpal Chef itu yang membuat seisi studio berseru, 'Cieee....' katanya.


"Hahaha... becanda yaa... jangan di ambil hati." Laki-laki muda itu langsung mengklariifikasi kata-katanya.


"Iya santai aja, hanya hiburan aja." Jharna menyahutinya dengan santai.


"Betuull!! Biar pemiarsa di rumah gak tegang masaknya. Ngomong-ngomong, orang rumah biasanya siapa yang Jharna masakin?” Pembicaraan mulai bisa teralihkan.

__ADS_1


“Ada, tuh orang baik yang duduk di sana. Dia korban uji coba masakan saya juga komentator untuk setiap masakan yang saya buat.” Jharna menunjuk Kelvin dengan sudut matanya.


Laki-laki itu tersenyum kecil di bangku penonton, ia pikir Jharna tidak akan menyebutnya.


“Boleh dong wawancara dikit korbannya, kita tanya gimana rasa masakan Jharna selama ini?” Chef itu meminta bantuan crew untuk mendekat pada Kelvin.


“Enak!” ucap Kelvin seraya mengacungkan dua ibu jarinya ke kamera.


“Hahahaha… enak katanya.” Chef itu jadi tertawa melihat wajah Kelvin yang memerah. Jharna ikut tersenyum melihat wajah Kelvin yang menggemaskan saat malu begitu. “Boleh tau dia siapa?” Chef itu rupanya penasaran.


Jharna tidak langsung menjawab, ia menatap Kelvin untuk beberapa saat. Kelvin jadi tidak sabar menunggu jawaban Jharna pada Chef itu. Apa akan menjawab calon suami? Hah, jantung Kelvin berdebar tidak menentu.


“Dia seperti salah satu resep andalan hidup saya, rahasia,” ucap wanita itu seraya tersenyum tipis.


“Hahahaha….” Jharna hanya tertawa, tawa yang membuat Kelvin tersenyum bahagia. Jujur, ia tidak menyangka dengan jawaban Jharna.


Sesi syuting memasak itu berlangsung dengan lancar dan menyenangkan. Episode ini akan di tayangkan dua hari ke depan. Tim akan melakukan editing dan Jharna bersiap untuk menyaksikan kekocakannya sendiri di depan kamera.


“Jadi aku resep apa?” Kelvin masih penasaran dengan jawaban Jharna. Saat ini ia tengah mengajak wanita itu makan malam di sebuah resto mewah.


“Emmm, apa ya?” Jharna pura-pura berpikir.


“Heey, jangan bikin aku penasaran,” Kelvin mencubit pipi Jharna dengan gemas.


“Aduuhh Vinn, sakit tau. Bedak aku nanti luntur loh,” protes Jharna dengan mata yang membulat kesal dan bibir yang mengerucut.

__ADS_1


“Luntur apaan, orang kamu gak pake bedak,” Kelvin mengusap pipi Jharna yang memerah dan polos tanpa riasan.


“Hehehehe… iya juga ya, aku lupa. Padahal kamu ngajak aku makan ke tempat ini, tapi akunya malah gak dandan. Malu gak sih Vin?” Tanpa sadar Jharna mulai meminta pendapat Kelvin tentang penampilannya.


“Emang kamu mau dandan buat siapa?” Kelvin menaruh sendoknya dan lebih memilih memandangi Jharna dengan dagu tertopang tangan kanannya.


“Ada deh….” sahut wanita itu, dengan wajah yang memerah alami.


“Kamu gak dandan juga tetep cantik kok,” ucap Kelvin seraya mengusap pucuk kepala Jharna beberapa saat.


“Berkat kamu. Tangan kamu yang bikin aku secantik ini. Aslinya kan kamu tau sendiri,” Jharna mencolek tangan kiri Kelvin yang ada di atas meja. Bibirnya sedikit mengerucut.


Tiba-tiba saja tangan Kelvin menangkap telunjuk Jharna dan menggenggam tangannya dengan erat. Jharna sampai kaget dan menatap Kelvin dengan matanya yang membulat.


“Aku gak nyuruh kamu dandan, karena aku gak menuntut kamu terlihat cantik di depan aku. Tampil lah dengan nyaman seperti apa yang kamu mau dan mampu, karena seperti apa pun kamu, kamu tetap yang paling cantik di hati aku. Hem?” Kelvin berujar dengan pelan namun penuh kesungguhan. Laki-laki itu bahkan menarik tangan Jharna dan menyentuhkannya ke dada kirinya, tempat jantungnya berdebar sangat kencang.


Debaran jantung itu seperti membawa muatan listrik yang membuat jantung Jharna ikut berdebar kencang. Hanya dengan kelvin ia bisa mendengar kata-kata yang manis. Baik di saat ini atau pun dulu, saat tubuhnya sedang hancur dan dipenuhi luka.


“Kamu pabrik gula ya? Manis banget sih. Terima kasih Vin,” ungkap Jharna yang mencandai laki-laki itu. Ia selalu merasa tersentuh dengan setiap perhatian dan perkataan Kelvin yang terdengar begitu tulus, namun ia belum bisa menunjukkan perasaannya lebih jelas lagi.


“Anything for you,” dikecupnya tangan Jharna yang saat ini sedang ia genggam, dengan lembut dan penuh perasaan. Jharna hanya bisa bersyukur dalam hati, bisa bertemu dengan laki-laki sebaik Kelvin. Entah kebaikan apa yang sudah ia lakukan hingga tuhan menggantinya dengan mempertemukannya dengan sosok Kelvin yang sungguh luar biasa.


Ada banyak kalimat yang ingin Jharna ungkapkan pada laki-laki ini, tetapi masih ada hal yang mengganjal perasaannya. Mungkin ia harus menunggu beberapa saat, menyelesaikan semua masalahnya sebelum mengungkapkan kalimat-kalimat itu selain kalimat, ‘terima kasih’ yang biasa ia ucapkan.


****

__ADS_1


__ADS_2