Pembalasan Istri Terbuang

Pembalasan Istri Terbuang
Pernyataan


__ADS_3

“Hahahaha… candaan kamu gak lucu Vin,” ucap Jharna yang tertawa sumbang. Ia balas menatap mata Kelvin yang menatapnya dengan lekat, tidak hanya ada bayangan wajahnya di bola matanya yang hitam itu melainkan juga ada perasaaan yang coba laki-laki itu sampaikan.


“Udah cukup berlatih actingnya, Vin,” imbuh Jharna. Mata bulatnya tampak bergoyang dengan perasaan gelisah, tatapan Kelvin belum mau melepaskannya. Hati dan pikirannya mulai berdebat, antara merasakan ungkapan Kelvin ini sebagai kenyataan dan memikirkan kalau ini hanya kesalahpahaman saja. Hatinya terlalu terbawa suasana.


Ia berjalan mundur, sedikit menjauh dari Kelvin, tetapi meja makan menghalanginya, membuat ia bersandar pasrah pada benda lapang yang lebar itu. Sepertinya ia tidak bisa lari karena Kelvin mendekat padanya dan menghalangi jalannya untuk pergi. Ia terjebak di antara dua kursi makan dan Kelvin yang ada di hadapannya.


“Hahahaha… pendalaman karakter kamu emang bagus Vin, sepertinya aku harus banyak berlatih dari kamu. Cara kamu bicara cukup meyakinkan bagi,” napas Jharna mulai tercekat, ragu untuk melanjutkan kalimatnya saat Kelvin malah tersenyum kecil, menunggu Jharna melanjutkan kalimatnya dan mengungkapkan semua keraguannya. Tetapi mulut wanita itu berhenti bergumam, ia seperti tersadar kalau sepertinya Kelvin sedang tidak berlatih atau bercanda.


Jharna tidak melanjutkan kalimatnya, ia menatap Kelvin dengan perasaan yang bergejolak. Ada perbedaan saat ia berhadapan dengan Andrew dan Kelvin. Wanita berrambut lurus itu tidak merasakan apa-apa saat melihat Andrew, selain rasa benci dan marah, tidak ada rasa rindu sedikitpun padahal dulu ia sangat mencintai laki-laki itu dengan segenap jiwa dan raganya. Karena itu ia menganggap kalau hatinya sudah kebas. Tetapi, saat menatap Kelvin, mengapa hatinya berdesir?


“Aku gak bercanda Anjani,” ucap Kelvin pelan namun penuh keyakinan, membuat tubuh Jharna gemetar, mendengar nama wanita yang sudah ia anggap mati di sebut kembali oleh Kelvin. Laki-laki itu semakin mendekat pada Jharna, mencodongkan tubuhnya yang bertumpu pada dua tangan yang berada di atas meja, samping kiri dan kanan tubuh Jharna.


“Aku bersungguh-sungguh saat aku bilang kalau aku rela mati untukmu, itu mengapa aku ikut dalam permainanmu.” Kelvin menggenapkan kalimatnya dengan penuh kepastian.


“Lucu! Untuk apa kamu rela mati untukku?” Jharna memberanikan diri untuk bertanya. Ia tidak mau Kelvin salah paham tentang perasaannya. “Apa karena aku sangat cantik? Tubuhku ideal dan sosok Jharna ini terlihat begitu menarik? Kamu ingat kan Vin, kalau semua kesempurnaan ini kamu yang menciptakannya. Jharna yang sebelum ini adalah seorang Anjani dengan tubuh gemuk, wajah yang pas-pasan, sulit di bandingkan dengan wanita lain. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari wanita itu, itulah yang membuat wanita itu pantas untuk mati dan di buang. Anjani itu tidak punya apa-apa, berharga pun tidak.” Kalimat Jharna terdengar menyakitkan. Riakan air mata terlihat berkumpul di sudut matanya yang memerah.


Kelvin menggeleng, ia tersenyum kecil lantas menangkup satu sisi pipi Jharna dan mengusapnya. Mata wanita itu terhenyak seraya menahan sakit atas ucapannya sendiri.


“No, aku bukan jatuh cinta pada seorang Jharna. Aku jatuh cinta pada seorang wanita bernama Anjani yang aku temukan di pesisir pantai dan sedang berjuang untuk bertahan di saat aku ingin mengakhiri hidupku dengan berselancar melawan ombak yang besar. Wanita yang tidak berhenti melangkah padahal kedua kakinya patah. Wanita yang memiliki keyakinan dan harapan besar untuk bertahan, padahal seluruh organ tubuhnya nyaris hancur. Wanita yang katanya ingin membalas dendam padahal dia tidak bisa tidur hanya karena takut menyakiti orang lain. Wanita yang selalu merasa tidak cukup baik, padahal memiliki hati yang tulus hingga bisa meredakan kemarahanku pada banyak hal yang membuatku kecewa. Wanita yang,”


“Cukup Vin, cukup.” Jharna berucap dengan lirih. Mata bulatnya menitikkan air mata mendengar ucapan Kelvin yang dipenuhi kesungguhan. “Aku gak sebaik itu,” imbuhnya yang kemudian tertunduk lesu. Ucapan Kelvin terlalu manis, ia tidak mau terbuai dan berakhir dengan rasa sakit yang lebih besar dari yang pernah di berikan Andrew.


Hati Kelvin ikut meringis, melihat air mata Jharna yang menetes. “Jharna, apa yang aku katakan tidak pernah cukup untuk menggambarkan sosok Anjani yang aku kenal. Kamu memberiku harapan di saat aku ingin menyerah, kamu memberiku kepercayaan di saat semua orang meragukanku. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta sama kamu? Kamu hal terbaik yang pernah aku temukan dalam hidupku,” tegas Kelvin.


Lelaki berlesung pipi itu menempatkan dahinya di dahi Jharna. Jemarinya masih setia mengusap pipi Jharna seraya memejamkan matanya. Entah mengapa hatinya terasa begitu tenang, padahal belum tentu Jharna memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, tidak ada yang lebih penting bagi Kelvin, selain Jharna mengetahui perasaannya. Balasan Jharna terhadapnya, adalah hak wanita ini sepenuhnya. Ia tidak bisa memaksakan perasaan wanita itu.


Jharna tidak menimpali, ia hanya mengangkat kepalanya dan menatap sepasang mata yang terpejam di hadapannya. Ia bisa merasakan hembusan napas Kelvin yang menderu hangat di wajahnya. Kelvin membuka matanya, ia menatap Jharna dengan lekat. Ia menyentuhkan hidungnya pada ujung hidung Jharna dan wanita itu tidak menolak.

__ADS_1


“Beri aku kesempatan untuk menunjukkan perasaanku Jharna, aku tidak akan menyembunyikannya lagi. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku,” bisik Kelvin yang dapat di dengar jelas oleh Jharna.


Wanita itu tidak menjawab, dadanya terlalu sesak dan bergemuruh. Isi kepalanya berantakan dengan semua rencana yang sudah ia susun. Kelvin tidak pernah menjadi bagian dari rencananya di masa depan, tetapi kali ini ungkapan perasaan kelvin mengambil fokus yang teramat besar di pikiran Jharna dan tidak bisa ia abaikan? Mengapa? Apa karena ia merasakan perasaan yang sama?


Kelvin melihat Jharna yang begitu bimbang. Dengan segenap kesungguhan ini menunjukkan perasaannya. Di kecupnya bibir Jharna yang selalu menjadi favoritnya saat wanita ini berbicara dan tersenyum. Terlihat jelas Jharna yang terhenyak kaget dan tidak membalasnya. Satu kecupan itu ia biarkan saja, sampai kemudian ia mendorong tubuh Kelvin pelan dan membebaskan dirinya sendiri dari kungkungan Kelvin, lantas pergi ke kamarnya dengan langkah yang tergesa-gesa, berlari menaiki anak tangga. Ia perlu waktu, ia perlu udara bebas.


“Aku akan menunggumu, Jharna. Kamu memiliki waktu yang cukup untuk memikirkan semuanya,” seru Kelvin dari tempatnya.


Jharna tidak menjawab, ia malah meneruskan langkahnya dan masuk ke dalam kamar. Ia terduduk di tepian tempat tidur dengan gelisah. Wajahnya yang pucat, ia tangkup dengan kedua tangan, mengguyar rambutnya kasar lantas memukul-mukul kepalanya sendiri yang dipenuhi oleh bayangan dan semua perkataan Kelvin. Kelvin hadir di saat hatinya di penuhi luka, ia tidak mau melihat Kelvin menjadi sosok sempurna hanya karena laki-laki itu bisa merangkulnya. Tetapi, ia sadar benar kalau perasaan Kelvin begitu sungguh-sungguh. Hidupnya yang baru adalah bukti nyata kalau Kelvin telah melakukan banyak hal untuk dirinya. Termasuk melawan rasa takut demi bisa memberikan Jharna kesempatan baru untuk hidup.


Jharna menegakkan kembali tubuhnya. Ia menatap bayangan dirinya di cermin. Lantas ia berdiri dan menghampiri cermin tinggi yang hampir setinggi tubuhnya. Ia menatap wajah cantik yang sekarang ia lihat. Ada banyak perbedaan mencolok dari seorang Jharna yang siang tadi ia lihat, dengan sosok Jharna yang sekarang ada di hadapannya. Sorot matanya hidup, dengan banyak harapan yang terlihat berkilatan.


Bibir tipis yang Kelvin kecup itu, lantas ia gigit dengan kelu. Ia juga mengusap wajahnya yang tadi Kelvin belai.


“Urusanmu belum selesai Jharna, jangan membuat Kelvin lebih kesulitan,” gumam Jharna dengan tatapan nanar. Entah mengapa, ia mulai merasa kalau ia harus menjaga perasaan Kelvin. Ia tidak mau membuat laki-laki itu kecewa karena ia belum selesai dengan masa lalunya. Apa ini pilihan yang tepat?


***


Meski umur akun media sosial itu baru dua hari, tetapi sudah banyak postingan yang di buat. Ada banyak wajah Jharna yang menghiasi laman media sosialnya. Sosoknya yang sempurna membuat banyak akun yang serta merta menjadi pengikut setianya dan mengomentari postingan Jharna. Jharna menjadi idola baru di dunia maya dan ia menjadi idola Andrew di dunia nyata.


“Aku yang paling beruntung di banding kalian, karena aku mengenalnya secara langsung,” ungkap Andrew dengan penuh kebanggan. Bibir laki-laki itu tersenyum kecil dengan debar jantung yang berdetak kencang.


Netizen memang sangat suka mengomentari segala hal tentang Jharna, termasuk postingan sepele yang Jharna buat, yaitu dua cangkir teh, dengan latar belakang matahari yang baru terbit, tampak di balkon kamarnya.


“Waaahh, ada dua cangkir teh nih, yang satu cangkir lagi punya siapa kak?” komentar seorang netizen.


Andrew segera bangkit, benar juga komentar netizen ini, satu cangkir lagi milik siapa? Apakah milik calon suaminya Jharna?

__ADS_1


Pikiran itu yang muncul di kepala Andrew. Ia mulai kesal sendiri pada komentar netizen yang menyadarkannya. “Kalian baru akan menikah, kenapa harus tinggal satu rumah sih?” ujar Andrew tidak terima. Ia lupa kalau dulu ia meniduri wanita lain di kamar sebelah kamarnya saat ia masih berstatus suami Anjani. Hah, Andrew, kamu the real buaya lokal.


“Sepertinya akan lebih menyenangkan kalau aku yang tinggal di rumah itu,” imbuh Andrew seraya tersenyum miring. Isi kepalanya mulai menyusun rencana untuk mendekati Jharna.


“Yang….” panggil seseorang di balik pintu ruang kerjanya.


Andrew terhenyak mendengar suara Cheryl. Ia segera mematikan layar ponselnya. “Ya,” sahut Andrew yang segera bangkit dari tempatnya. Ia berjalan cepat menuju meja kerjanya dan syukurlah, ia sudah duduk di kursi kerjanya sesaat sebelum Cheryl membuka pintunya.


“Masih kerja?” tanya wanita itu seraya mendekat.


“Iyaa, ini masih ada yang harus aku cek,” laki-laki itu pura-pura sibuk dengan laptopnya.


Cheryl terlihat mengerucutkan bibirnya kesal, lalu mendekat pada Andrew. “Tidur yukk, aku kangen.” Wanita itu berdiri di belakang Andrew dan memijat punggung suaminya.


Andrew segera menutup layar laptopnya. “Iyaa, aku juga capek. Kita tidur aja ya….” Andrew pura-pura menguap.


“Beneran tidur? Aku kan kangen sama kamu. Leon udah tidur di kamar suster loh,” Cheryl tampak tidak terima.


“Hem, iya sayang. Badan aku capek banget. Besok lagi ya,….” Andrew jelas menolak kode sang istri untuk berduel. Seleranya hilang melihat sosok Cheryl yang sudah mengenakan dress tidur berbahan satin. Padahal itu pakaian favoritnya.


“Gak mau, aku maunya sekarang. Please….” Cheryl merajuk.


“Yaaang, besok ajaa….” Andrew tidak kalah merajuk.


“Ck! Kamu ngeselin! Terserah lah!” dengus wanita itu seraya bersidekap lalu pergi dari hadapan Andrew.


Andrew membiarkannya saja. Lagi pula, ia masih menaikmati memandangi wajah Jharna di layar ponselnya. “Kapan aku bisa tidur denganmu?” tanya laki-laki itu dengan seringainya yang tipis.

__ADS_1


Ada yang mau bantuin aku nabok Andrew?


****


__ADS_2