
Seorang Jharna terdiam sendiri di beranda belakang klinik dengan secangkir teh yang menemaninya bersantai. Tidak, ia tidak sedang bersantai, pikirannya sedang penuh dan tidak bisa di ajak berpikir dengan tenang. Ia sedang memerlukan waktu untuk mengurai benang merah yang kusut di dalam kepalanya.
Di tengah kemeriahan perayaan atas kesuksesan pembukaan klinik ini, Jharna lebih memilih mengasingkan diri. Perasaannya sedang tidak karuan dan ia tidak mau merusak suasana di dalam. Iklan yang Jharna bintangi, membawa kesuksesan. Di soft opening klinik ini, sudah ada banyak calon pasien yang mengantri untuk melakukan perawatan gigi di klinik milik Amilny. Itu mengapa wanita ini begitu sibuk di dalam sana.
Tidak ada yang bisa Jharna bantu, tugasnya sudah selesai dan saat ini ia hanya ingin terdiam di sini saja, menghindari suasana riuh. Kalau dulu ia menghindari suasana riuh karena orang-orang akan memandanginya dengan sinis, kali ini dia menghindari suasana riuh karena orang-orang mengelilinginya dan membuat kepalanya pusing. Ternyata Jharna belum terbiasa dengan keadaan ini. Beruntung Amilny memahami itu dan membiarkan Jharna berdiam diri untuk beberapa saat.
Satu cangkir teh itu masih belum juga habis, padahal sudah menemani wanita ini selama satu jam. Para tetamu pun berangsur pulang hanya menyisakan para pasien yang sedang mengantri untuk mendapatkan jadwal konsultasi.
Amilny yang melihat Jharna menyendiri, menghampiri wanita itu. Sepertinya wanita itu sedang gelisah walaupun berusaha terlihat baik-baik saja. Di usapnya punggung Jharna dengan lembut agar tidak mengagetkan Jharna, tetapi tetap saja wanita itu terhenyak.
“Kak,” sambut Jharna sesaat setelah menoleh.
“Hey, sorry. Aku ganggu ya?” tanya Amilny. Ia duduk di samping Jharna, memandangi ke depan sana, melihat beriak air kolam dan air mancurnya.
“Nggak. Gimana Kak, pasiennya masih banyak?” Jharna menoleh ke belakang dan sepertinya orang-orang itu sudah berangsur pulang.
“Dikit lagi, sisanya aku reschedule di besok sama lusa. Ada beberapa yang harus pasang kawat gigi dan itu akan lama. Jadi kasian kalau mereka nunggu,” terang Amilny dengan apa adanya. Terlihat sekali kalau wanita ini sudah lelah namun terlihat bahagia.
Jharna mengangguk paham, "Syukurlah, mereka sepertinya sangat yakin kalau Kakak bisa membantu mereka," ia meneguk kembali tehnya yang sudah dingin.
"Ya, syukurlah." Amilny memperhatikan Jharna dari samping, sepertinya wanita ini sedang tidak baik-baik saja. “Kamu lagi berantem, sama Kelvin?” tanyanya tiba-tiba.
Jharna segera menoleh dan tersenyum kelu, “Nggak Kak. Kamu akur-akur aja,” jawab Jharna dengan gelisah.
Amilny terangguk kecil, lantas tersenyum. Rasanya ia paham apa yang terjadi pada Jharna dan Kelvin. Sedari tadi Kelvin terus memandangi Jharna dengan perasaan bersalah, sementara Jharna kerap menghindari pandangan mata dari Kelvin.
__ADS_1
“Dia ngungkapin perasaannya ya, sama kamu?” Amilny langsung menembak. Pertanyaan Amilny kali ini membuat Jharna membisu. Tidak mengiyakan atau pun membantahnya.
“Kenapa Kakak berpikir begitu?” Ia penasaran dengan sudut pandang Amilny. Ia belum bercerita apapun pada wanita ini, tetapi sepertinya wanita ini mengetahui banyak hal.
“Aku bisa ngeliat itu.” Amilny berujar dengan yakin.
“Ngeliat?” Jharna mengutip kata milik Amilny dan menolehnya.
Lihat, Amilny mengangguk yakin. “Aku ngeliat kalau Kelvin memiliki perasaan yang sangat dalam buat kamu. Dari sorot matanya aja keliatan banget. Dia peduli dan sayang sama kamu.” Amilny mengusap punggung Jharna yang membungkuk.
“Apa sejelas itu?” Jharna jadi penasaran.
Amilny mengangguk pasti. “Aku kenal sama Kelvin sejak kami kuliah kedokteran di Jerman. Aku, Mas Bobby sama Kelvin. Ada satu lagi sebenarnya, Tasya. Tapi dia udah nikah dan menetap di Jerman. Diantara kami berempat, cuma Kelvin yang jarang menjalin hubungan sama lawan jenis. Dia fokus sama pendidikan karena menurut dia, kuliah di kedokteran itu harus serius, karena menyangkut nyawa orang lain."
"Pengalaman buruk yang dia alami beberapa tahun lalu, sempat bikin dia terpuruk. Tapi sekarang, aku rasa aku tau apa alasan yang membuat mata Kelvin kembali berbinar.” Amilny sengaja menggantung kalimatnya.
“Kamu.” Amilny menyenggol lengan Jharna sambil tersenyum kecil, membuat wajah Jharna memerah dan menghangat. “Dulu dia cuma cinta sama kerjaannya, sampai kemudian dia di khianati, bukan hanya sama pasiennya tapi juga sama mantan kekasihnya. Dia kehilangan banyak harapan dan kepercayaan diri, padahal dia cinta banget sama profesinya. Dia sempet sangat terpuruk dan hampir bunuh diri. Tapi sekarang, aku ngeliat lagi cinta di mata Kelvin. Jadi, saat melihat perubahan sikap kamu, aku sangat yakin kalau Kelvin mulai mengakui perasaannya sama kamu,” imbuh Amilny dengan penuh keyakinan.
Jharna tersenyum kelu mendengar ucapan wanita di sampingnya. Sekarang ia paham mengapa semalam Kelvin mengatakan kalau Jharna telah mengembalikan hidup dan harapannya. Ia tidak menyangka kalau ia memiliki peran di hidup Kelvin.
“Aku wanita yang hancur Kak, aku gak mau membawa orang yang baik terhadapku ikut hancur. Aku juga gak mau hancur untuk kesekian kalinya. Karena, mengumpulkan sisa tenaga dan harapan itu tidak lah mudah,” ungkap Jharna tiba-tiba. Perasaan ini yang sejak semalam terus memenuhi pikiran dan hatinya.
“Kamu takut Kelvin menghancurkan kamu, seperti laki-laki itu?” Amilny mengerucutkan perasaan Jharna.
Jharna hanya tersenyum, sepertinya wanita di sampingnya sudah mendengar banyak tentang apa yang ia alami.
__ADS_1
“Aku paham Jharna, kalau bangkit dari kehancuran itu sangat sulit. Untuk bertahan saja memerlukan banyak alasan. Tapi, bukan berarti kamu harus menutup semuanya. Bukan berarti kamu harus menghindari semuanya. Tidak semua hal yang mendekat sama kamu itu akan berakhir dengan buruk, mungkin saja yang saat ini orang mendekat sama aku adalah obat yang kamu harapkan datang saat kamu nyaris menyerah,”
“Kalau kamu merasa belum yakin, sesekali ajak hati dan pikiranmu berdialog. Aku yakin, mereka bisa membantu kamu membuat keputusan.” Lagi wanita itu mengingatkan Jharna seraya mengusap punggung wanita itu. Ia menyandarkan kepalanya di kepala Jharna. Terlihat kalau Jharna masih perlu waktu untuk merenung. Mereka sama-sama memandangi air mancur yang membentuk pancaran air yang indah. Seperti pancaran hati seseorang yang sedang meluap-luap.
“Okey, sambil kamu berpikir, aku punya kabar baik buat kamu.” Amilny berusaha mengalihkan pikiran Jharna.
“Apa Kak?” Wanita itu langsung tertarik.
“Em, kemaren itu temen-temen aku waktu SMA ada yang DM aku nanyain soal kamu. Beberapa di antara mereka punya bisnis bahkan ada satu orang yang dia itu punya brand butik terkenal. Dia nawarin kamu untuk join sama dia. Dia pengen nemuin kamu. Gimana, kamu mau?” tawar Amilny.
“Jadi model ya kak?” Jharna terlihat sangsi.
“Salah satunya. Dia minta kontak kamu, tapi aku belum kasih karena belum izin kamu. Aku pikir, kamu juga harus punya manager dulu sebelum mengiyakan ajakan-ajakan semacam ini. Biar kamu bisa mengaturnya sama manager kamu.”
“Apa aku bisa bekerja di dunia semacam itu?” Jharna balik bertanya.
“Loh, kenapa gak bisa? Waktu aku tawarin jadi bintang iklan di klinik juga kamu kan awalnya gak yakin, padahal hasilnya apa? Liat, klinik aku sebooming ini sekarang. Aku sampe harus nambah tenaga dokter di klinik ini.”
“Kamu punya keberuntungan loh, kenapa enggak kamu coba semuanya? Inget, balas dendam terbaik adalah menjadi versi diri kamu yang lebih baik di hadapan orang yang pernah merendahkan kamu. Bungkam mereka sama pencapaian kamu yang brilian.” Amilny berujar dengan menggebu-gebu.
Jharna terdiam sejenak, ia merasa kalau perkataan Amilny memang benar adanya. “Iya, aku setuju. Tapi aku harus diskusi dulu sama Kelvin. Aku butuh masukan dia.” Tiba-tiba saja Jharna teringat pada Kelvin.
“Kelvin?” Amilny menatap Jharna dengan segaris senyum.
Jharna mengangguk pelan. “Harus aku akui kalau dia yang paling paham aku Kak. Dia seperti bisa membaca arah mana yang sebaiknya aku ikuti dan mana yang harusnya aku tinggalkan,” ungkap Jharna dengan sejujurnya. Ya, selama ini Kelvin adalah teman berdiskusi yang paling baik bagi Jharna.
__ADS_1
“Kalau kamu sebegitu percaya sama Kelvin, lalu apa yang bikin kamu ragu?” Amilny bertanya sambil menatap sepasang mata yang membulat itu.
****