Pembantu Gaul

Pembantu Gaul
43


__ADS_3

# Selamat Membaca #


********


Bulan ke empat usia kehamilanku, perutku sudah mulai agak membuncit, walau tidak terlalu... mungkin karena kehamilan pertama.


Bunda mengadakan acara empat bulanan kehamilanku....dimana usia empat bulan kehamilan adalah saat Sang Pencipta meniupkan ruh ke dalam janinku.


Mas Rian pun sangat antusias sekali....bahkan dia yang paling sibuk mengurus acara ini........


Bagiku acara ini terlalu mewah...tetapi tidak buat mas Rian dan Bunda.....karena janin yang aku kandung adalah anak pertama bagi mas Rian dan cucu pertama di keluarga Bunda.


Kuteteskan air mata haru dan bahagia saat kulantukan ayat - ayat suci Al Qur'an.......


Begitu besar nikmat yang Allah berikan padaku....Suami yang penyayang, dan juga keluarga yang baik, yang mau menerimaku apa adanya.... ditambah adanya calon bayi dalam perutku.....sungguh lengkap kebahagiaanku saat ini.


***


Viano mulai mengajar di salah satu universitas ternama di kota ini.....


Sosoknya yang konyol berubah serius jika sedang mengajar.


Bahkan Viano langsung tenar namanya..terkenal sebagai dosen muda tertampan.


Sedangkan aku....kuliahku masih jalan, aku berencana mengambil cuti kalo sudah waktu melahirkan saja..


" Perutmu semakin besar Nis ?". tanya Tisa.


" Iya nih.....sudah tujuh bulan...gak terasa ya...".


" Berarti dua bulan lagi kamu melahirkan dong Nis..?". Riri bertanya sambil mengelus perutku.


" InsyaAllah.... doain biar lancar ya..!".


" Aamiin... !". Tisa dan Riri mengaminkan doaku.


" Udah tau jenis kelaminnya Nis...?".


" Belum, biar jadi kejutan kata mas Rian.. ".


" Oh ya Nis.....gimana rasanya hamil ?".


Tisa mulai kepo.


" Eemm.... gimana ya....rasanya nano - nano pokoknya.... ada senang ada susah...senang karena banyak perhatian, terutama suami....susah, kalo lagi pas muntah - muntah...tapi semua aku nikmatin kok..!".


" Jadi kepingin juga....!".


kata Tisa menggantung....


" Kepingin apaan....hamil....yang benar aja Tis, yang nyetrum aja belum ada....gimana mau hamil..". Riri heran dengan sahabatnya yang satu ini , keinginannya selalu aneh - aneh.


" Bukan hamilnya markonah.....tapi diperhatiinya yang gue mau....!".


" Lah situ yang ngomongnya gak jelas.....jangan salahkan eyke dong...".


Aku mendingan ke kantin cari minum, untuk mendinginkan kepala, panas rasanya mendengar ocehan Tisa dan Riri.


" Hai Nis....mau kemana...?".


" Ke kantin..".


" Ngapain..?". tanya Tisa.


" Aku mau rendam kepalaku dalam es....panas lihat kalian ngoceh mulu...ha..ha..ha..!".


" Gak mau makan aja..?".


pertanyaan Tisa yang bikin tambah pusing.


" Yaelah Tisaaa...ya ke kantin mau makan...masak mau konser sih..!". kata Riri geram.


" Emang di kantin bisa ngadain konser juga....kok aku gak tau...!".


" Bodo.. bodo...bodo....!". Riri meninggalkan Tisa sambil mengomel.

__ADS_1


Tisa gak tau apa salahnya, kenapa kedua temanya tega meninggalkannya sendiri....


" Tega kalian...masak aku ditinggal.... "


Tisa berlari kecil mengejar Nisa dan Riri.


***


Bulan ke sembilan aku masih kuliah, alasanku adalah biar banyak gerak untuk mempermudah kelancaran dalam melahirkan....mendengar jawabanku mas Rian pasrah, dia pun menuruti semua kemauanku.


" Kalo ada apa-apa langsung telpon mas ya sayang...! ".Rian memperingatkanku.


" Iya, iya...bawel ih...ini juga buat anak kamu juga mas....biar aku banyak gerak, jadi mempermudah kelancaran bila melahirkan.... itu kata dokter Sara.. " belaku.


" Bukannya dokter Sara nyuruh agar mas untuk sesering mungkin menengok dedek bayi di dalam sana.."


Rian menunjuk ke perutku, aku tau apa yang ia maksudkan.


" Itu mah maunya mas...bukan kata dokter Sara..... ngarang aja kamu mas".


" He..he..he...kan bentar lagi mas puasa lama sayang....hampir dua bulan....makanya sekarang dikebut....gitu loh sayang...!".


" Seterah Mas aja....seterah...seterah...!".


" Terserah sayang...".


" Au ah..".


***


Menjelang subuh kurasakan mulas di perutku semakin lama, semakin bertambah sakit...sebenarnya sakit itu sudah aku rasakan dari tengah malam, namun kupendam karena tidak terlalu sakitnya.


Saat buang air kecil ke kamar mandi, kulihat ada flek darah di celana dalamku.


Karena ini hal pertama bagiku, akupun panik.


" Mas....mas Rian..masss!".


" Ada apa sayang..? ".


" Jangan nangis sayang.... mas panggil Bunda dulu ya.! ".


Mas Rian menuntunku untuk duduk di tepi kasur...lalu ia bergegas memanggil Bunda.


" Kenapa Nis..?".


" Ini Bund.... lihat... darah Bund..".


" Apakah perutmu juga merasa mulas...?".


" Iya Bund, dari tengah malam tadi Bund.. ".


" Ya Allah..... Rian siapkan perlengkapan , kita ke rumah sakit sekarang, sepertinya istrimu mau melahirkan..! ".


Untung saja semua perlengkapan melahirkan sudah aku dan mas Rian siapkan....jadi tinggal langsung membawanya.


Di ruangan bersalin aku ditemani oleh suamiku, mas Rian.


dokter Sara yang membantu persalinanku...


Tak menunggu lama, akhirnya lahirlah anakku yang pertama.... berjenis kelamin perempuan.


Mas Rian sangat bahagia, terutama diriku...aku tak percaya sekarang aku menjadi seorang ibu.


Ucap syukur tak henti- hentinya kami panjatkan kepada Sang Kholik.....kelahiranku diperlancar....aku dan putriku sehat tak kurang suatu apapun.


Aku dan putriku sudah dipindahkan ke ruang VVIP...


" Terima kasih sayang, kamu telah berjuang untuk putri kita.".


Aku mengangguk dan tersenyum.


" Lihatlah Bunda sayang , dia tak berhenti menciumi putri kita...".


" Nisa....putrimu sangat cantik sekali....senangnya Bunda, sudah sejak lama Bunda ingin punya bayi perempuan, lihatlah kamu sudah mewujudkannya.....makasih ya sayang.". ucap Bunda.

__ADS_1


" Sama - sama Bund.. ".


Aku senang melihat Bunda begitu bahagia dengan kehadiran putriku.


" Bunda.... gantian dong, Rian juga ingin menggendongnya..!".


mohon Rian ke Bunda.


" Tidak boleh, ini cucu Bunda...! ".


" Tapi itu anak Rian Bund....kan Rian yang bikin Bund..! ".


" Ya sudah...kamu bikin aja lagi sama Nisa....yang ini buat Bunda.! ".


" Heh..enak banget Bunda ngomong.... emang gampang Bund.... butuh perjuangan dan memeras keringat Bund.... ".


" Halah.....keringat apaan....bukannya malah kenikmatan ya...emang Bunda gak tau kerjaanmu kalo malam....baru pulang dari rumah sakit aja, Nisa kamu sikat...".


" Hah...Bunda tau itu...."


Rian merasa keciduk.


" Tau laahh....Bunda kok dilawan..."


" He...he...he...gak berani Bund".


" Sudahlah Yan....mengalah sajalah sama Bundamu....benar kata Bunda, kamu bisa bikin lagi nanti.. " Ayah membela Bunda.


Akhirnya Rian mengalah, dia naik ke kasur dan memelukku..


" Mas ngapain naik.."


" Mau bikin dedek bayi lagi sama kamu....disuruh Ayah dan Bunda..".


" Ngaco kamu mas..!".


Ku cubit perut mas Rian.


" Aduuhh...sakit sayang..!".


" Gak malu tuh , sama Ayah dan Bunda ".


" Engga.. ".


" Yan...apa yang kamu lakukan?". tanya Bunda


" Tadi disuruh bikin....sekarang malah bertanya".


" Gak sekarang juga Riannnn.....belum boleh..!".


" Rian tau Bund....Rian bercanda, ni mau tidur doang.. ".


" La kenapa harus disitu tidurnya.. ".


" Habis mau meluk anakku gak dibolehin sama Bunda, ya udah Rian meluk biangnya aja ....iya sayang...he...he..he...".


Mas Rian benar- benar tertidur di sampingku...bahkan lelap sekali....mungkin dia sudah merasa tenang hatinya, istri dan anaknya baik - baik saja.


********


Hai para readers, Author ucapkan terima kasih ya... Kalian mau mampir di karyaku.


Author butuh dukungan para readers


Beri like dan vote.... juga coment nya.


Tekan juga tanda love nya 💖


Maaf bila masih ada banyak typo dimana- mana.


Jangan lupa mampir di karya Author yang lain


judulnya "Perjuangan Yuna"


Author tunggu ya....

__ADS_1


*********


__ADS_2