
Hari pesta pernikahan si Zubair pun tiba, aku malas datang ke sana sudah pasti pesta pernikahan ini menjadi ajang temu kangen dan pamer apa yang dipunyai.
Kami satu geng ada sepuluh orang dan si Zubair ini yang terakhir menikah.
Aku malas datang ke pesta itu sudah pasti aku tidak bisa ikut pamer secara bang Parlin melarang aku melakukan itu, dia tidak suka memiliki istri yang suka pamer dan lagian penampilan suamiku sudah bisa dipastikan akan menjadi bahan candaan teman temanku, suamiku tidak mau aku rubah penampilannya itu sungguh membuatku malas datang ke keramaian.
"Dik hari ini hari pesta pernikahannya temanmu loh! apa kamu gak datang ke pestanya?" tanya bang Parlin mengingatkan.
"Gak Bang malas," ucapku sambil enak enakan berbaring nonton TV.
"Jangan begitu Dik, tidak baik loh mengecewakan teman, dia sudah mengundangmu jadi untuk menghargainya kita harus datang ke pesta itu," ucap bang Parlin lagi.
"Kenapa kok hari ingatkan Bang padahal aku sudah pura pura lupa, aku malas datang ke pesta itu juga karena Abang yang tidak mau berkompromi," pekik ku dalam hati.
"Malas Bang aku datang ke pesta si Zubair, di sana pasti ada teman teman satu gengku yang lain dan mereka kalau bercanda keterlaluan nanti bisa bisa Abang di jadikan bahan candaan karena penampilan Abang yang berbeda dan aku tidak akan rela jika Suamiku di permalukan," jawabku lagi.
"Baiklah Dik Abang mau di make over, mau di dandani biar kelihatan ganteng asal jangan kamu potong ini rambut," ucap Bang Parlin.
"Beneran Bang?" ucapku meyakinkan.
"Iya Dik," jawab bang Parlin.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu Bang ayo kita pergi ke butik sekalian nanti mampir ke salon buat permak penampilan Abang," ucapku.
Akhirnya aku dan bang Parlin pun berangkat ke butik mengunakan motor beat, seperti biasanya kalau kita pergi berdua aku akan selalu memeluk erat suamiku saat dia yang mengemudikan motor karena aku takut dia kalau naik motor lajunya sangat kencang sekalian pingin modusin suami pakai peluk-peluk.
Tadi mau kami baru mau berangkat ke mall aku sempat dengar nyinyiran tetangga yang mengatakan kami merupakan pasangan dari trend sinetron Indosiar pura-pura bahagia padahal suaminya pengangguran.
Sesampainya di butik jadi kenyataan berbeda gimana gak jadi kenyataan yang berbeda awalnya aku mengajak suami untuk membeli pakaian nyatanya jadi aku yang borong beberapa set pakaian ternyata suamiku sangat pemilih dalam berpakaian, seluruh pakaian di butik ini sudah di datangi tapi tidak ada yang sesuai seleranya hingga kami pun pulang tanpa membeli baju untuknya tetapi ketika kami melewati sebuah gerai baju di pinggir jalan suami menyuruhku berhenti dan memilih pakaian untuk pergi ke kondangan sesuai seleranya.
Sungguh aku ingin menangis rasanya ketika tahu pakaian macam apa yang dipilih suamiku, pakaian adat jawa, bawahan batik yang hampir menyerupai kain sarung dan atasan kemeja motif garis warna coklat dengan garis warna hijau sungguh selera bang Parlin membuat aku ingin pingsan.
"Bang kenapa Abang pilih baju model begitu Bang? katanya tadi mau di make over tapi kenapa ini pilih bajunya seperti baju dalang?" tanyaku setengah ingin menangis.
Ya sudahlah terserah dia saja walaupun aku membujuknya seperti apapun kalau dia sudah menyukai baju itu pasti dia tidak mau memakai pakaian yang lain, dan ini pun artinya aku harus mempersiapkan hati dan jiwaku untuk siap jadi bahan bullyan teman teman satu gengku.
Setelah kami bersiap siap dan memakai pakaian yang tadi di beli akhirnya kami pun berangkat ke pesta pernikahan Zubair, sepanjang perjalanan aku selalu cemberut sungguh aku kesal sama bang Parlin katanya mau di make over tapi nyatanya sungguh membuatku ingin guling guling.
Persis seperti yang aku duga, ketika kami baru memasuki ruangan pesta semua mata tertuju pada kami khususnya pada bang Parlin, para tamu banyak yang membekap mulutnya untuk menahan tawanya, mereka menertawakan penampilan bang Parlin yang mereka nilai aneh, rasanya ingin sekali aku berlari dari tempat ini tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur masuk ke dalam ruang pesta dan sang pemilik acara pun sudah melihat kehadiranku.
Zubair beserta istrinya juga teman-teman gengku dulu berjalan menghampiri tempat aku dan bang Parlin berada, mereka mengajak kami ke sudut ruangan yang sudah tersedia beberapa kursi yang aku rasa sudah mereka siapkan sejak tadi untuk kami semua berkumpul.
"Sin suami loh unik juga," celoteh Asri temanku.
__ADS_1
"Iya limited edition," sahut Bunga tak mau kalah.
Aku pun diam saja tidak menyahut bullyan mereka dan aku melirik bang Parlin dia kelihatan enjoy saja dengan pakaiannya bahkan dia tidak merasa risi ataupun malu di tatap para tamu lainnya dengan sorot mata aneh.
"Bang ini muka adik mau di taruh dimana? jaman sudah berubah Bang tempat tinggal Abang juga berbeda kenapa masih berpenampilan ala ala Abang dalang sih Bang!" gerutu ku dalam hati.
"Oh ya ini kan acara istimewa bagiku bagaimana kalau di hari bahagia ini aku meminta bang Parlin bernyanyi di panggung bagaimana Bang? Abang bisa menyanyi kan?" ucap Zubair tiba tiba.
Apa apaan ini si Zubair dia menyuruh suamiku menyanyi di depan khalayak ramai, orang orang dengan selera kota aduh si Zubair ini pasti mau bikin aku malu, aku yakin Bang Parlin pasti akan menyanyikan lagu daerah ah bikin aku pingin segera meninggalkan tempat pesta ini saja.
"Bisa kok! aku bisa nyanyi dan aku dulu juga sering jadi MC di acara pernikahan tetangga di kampung," jawab bang Parlin semangat.
Lengkap sudah penderitaanku bang Parlin mengiyakan permintaan Zubair, dia sangat lugu jadi dia tidak sadar kalau saat ini dia sedang dikerjain oleh para teman-teman somplakku ini.
"Bang..," panggilku coba memberi peringatan pada bang Parlin.
Tapi dia hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kalau begitu segera ke panggung Bang mari saya antar," ujar Ferdy.
Dan akhirnya yang aku takutkan akan segera terjadi bang Parlin jadi bahan tertawaan orang satu gedung ini. Bang Parlin berjalan menuju panggung dengan pedenya sangat berbanding terbalik dengan ku yang sangat deg degan dan cemas seperti menanti bom waktu yang siap meledak kapanpun dan aku pun harus menyiapkan hati agar kuat menghadapi kenyataan yang bakal ada di hadapan ku.
__ADS_1