Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Petani Jarak


__ADS_3

"Kenapa kamu malah tertawa terus sih Sin? apa kamu tidak curiga sebenarnya suamimu itu dapat duit dari mana toh dia pengangguran, atau jangan jangan kamu tahu asal uang itu dari mana dan kamu kalau malam kebagian jaga lilin, ayo ngaku Sin bener atau tidak itu?" ucap Kakakku yang pertama semakin ngawur.


"Hahaha Kakak ini ada ada saja, tidak benar itu, jangan berprasangka buruk Kak kalau kalian tidak tahu yang sebenarnya," ucapku sambil cengengesan.


Dari pada aku terus diinterogasi sama saudara saudaraku dan aku takut keceplosan tentang suamiku lebih baik aku meninggalkan mereka saja, aku berjalan ke arah kamar ayah untuk menemui beliau, para saudara menatapku dengan tatapan yang penuh penasaran tapi aku tidak mempedulikan mereka biarlah mereka menduga duga semaunya jika suatu saat nanti tiba pasti mereka akan mengerti sendiri.


Ku buka pintu kamar ayah setelah aku mengetuknya dan ada sahutan dari dalam yang menyuruhku untuk masuk.


Kulihat ayah sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memandang foto ibu, aku pun menghampiri ayah dan duduk di sampingnya.


"Apa yang sedang Ayah lakukan?" tanyaku.


"Ayah merindukan ibumu Sin," ucap Ayah tanpa menatap ku.


"Ibu sudah tenang di sana Yah, jika Ayah rindu kirimkan lantunan doa untuk ibu pasti rindu Ayah sedikit terobati," ucapku.


"Ya Nak! ibumu telah cukup lama pergi dan sebentar lagi aku akan menyusulnya," jawab Ayah.


Aku merasa sedikit aneh dengan ucapan ayah tapi jika dipikir-pikir memang ayah selalu bersikap aneh tidak seperti biasanya setelah di tinggal ibu, ayah jadi banyak permintaan, ayah sering meminta kami berkumpul di rumah mungkin karena dia merasa kesepian.


"Yah... dimana Ayah mengenal bang Parlin?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Dia anak teman ayah waktu ayah muda dulu, ayah senang melihat teman ayah berhasil mendidik anak anaknya menjadi orang yang bertanggung jawab maka dari itu ayah menjodohkan salah satu anaknya dengan anak ayah," ucap Ayah menjelaskan.


"Apa ayah tahu kalau bang Parlin memiliki sapi yang banyak, memiliki tambak ikan dan juga mempunyai kontrakan?" tanyaku.


"Tidak ayah tidak tahu, yang ayah tahu dia memiliki kebun jarak di desanya hasil budidaya sendiri dengan cara mencoba menanam jarak di lahan desanya ternyata cocok dan akhirnya dia memiliki kebun jarak yang luas, dan tanaman itu diekspor ke luar negeri untuk bahan minyak dan obat, tapi ayah menjodohkanmu dengannya bukan karena itu tapi karena ayah lihat orangya sederhana dan bertanggung jawab, jaman sekarang mencari orang seperti itu sulit," tutur ayah.


Iya seperti yang dikatakan bang Parlin, yang menjadi pekerjaan utama suamiku petani jarak, tani jagung dan polowijo, peternakan sapi, tambak ikan hanya merupakan kerja sampingan, suamiku punya kebun jarak yang berhektar hektar wah tidak aku sangka ternyata pemuda pilihan ayah ini seorang milyarder walaupun terlihat seperti seorang cupu dan pengangguran ternyata uangnya tak berseri memang benar pepatah yang mengatakan melihat buku jangan dari sampulnya, sama halnya menilai seseorang jangan dari penampilan luarnya saja, terima kasih ayah telah memilihkan orang yang tepat untukku.


Keesokan harinya kami pun mengantar ayah ke bandara untuk berangkat haji.


Di bandara Ayah memeluk kami satu persatu sambil menangis seakan akan kami akan berpisah untuk selamanya padahal kita hanya akan berpisah sementara waktu saja.


"Ayah akan pergi dan aku titipkan bungsu pada kalian jaga dia dan bimbing dia hingga menjadi orang yang berhasil dan bertanggung jawab, kalian yang sudah berumah tangga jangan saling iri dengan kehidupan saudara kalian karena rezeki seseorang itu berbeda beda, tetaplah rukun saling mengingatkan," ucap Ayah.


Setelah ayah berangkat kami pun pulang ke rumah masing-masing hanya adikku saja yang tinggal di rumah ayah, kami empat bersaudara tiga laki-laki dan hanya aku saja yang perempuan, kakak pertama dan kakak keduaku sudah berumah tangga dan memiliki anak sedangkan aku sudah beberapa bulan menikah belum ada tanda-tanda kehamilan.


"Bang aku kok kepingin kita pulang ke kampung halaman Abang sekali kali," ucapku suatu sore ketika kami sedang duduk-duduk di teras rumah.


"Buat apa Dik, di sana tidak ada enaknya, Abang yakin Adik tidak betah di sana, sinyal internet masih lumayan sulit di sana, banyak hewan ternak berkeliaran kalau siang hari, jarak rumah terdekat satu sama lain sekitar seratus meter, " ucap bang Parlin.


Aku justru merasa penasaran ingin berkunjung ke tempat kelahiran suamiku aku ingin sekali melihat bagaimana keadaannya di sana.

__ADS_1


"Bang...Abang punya perkebunan jarak ya?" tanyaku.


"Ya Dik tapi cuma sedikit," jawab bang Parlin.


"Aku dengar dari ayah perkebunan bang Parlin luas," ucapku lagi.


"Hanya sepuluh hektar Dik, itu pun dikurangi satu hektar untuk dua rumah pegawai dan kandang sapi," jawab bang Parlin.


Mataku terbelalak apa katanya tadi sepuluh hektar dia bilang hanya sedikit oh suamiku ini memang selalu merendahkan diri.


"Sepuluh hektar kok di bilang sedikit sih Bang," ucapku sambil memanyunkan bibir," pokoknya aku mau Abang mengajakku ke sana," lanjut ku penuh keyakinan.


"Sungguh Adik ingin berkunjung ke sana? yakin nanti tidak menyesal? jarak rumah kita dan jalan raya itu kira kira tiga puluh kilometer dan jalan pun tidak mulus apa Adik sanggup beneran ke sana? jangan jangan nanti Adik belum sampai rumah sudah pingsan," jawab suamiku sambil tersenyum.


Senyuman manis yang jarang sekali ditunjukkan pada orang lain, memang benar apa kata saudara saudaraku yang belum begitu mengenal bang Parlin pasti mereka merasa aneh dengan wajah garangnya, pasti mereka mengira yang bukan bukan secara tampang bang Parlin terlihat sedikit sadis tapi bagiku dia tetap manis.


"Bang Adik tetap mau ke sana," rengekku.


"Ya Dik nanti kita ke kampung, untuk sementara kita habiskan dulu masa bulan madu ini sampai puas," ucap suamiku sambil mengerlingkan matanya nakal.


"Apaan sih Bang ini sudah hampir enam bulan kok masih bulan madu," ucapku sambil mencubit pinggangnya.

__ADS_1


"Abang ingin selalu merasakan bermesraan bersamamu Dik, Abang sudah bosan dan juga capek bekerja terus selama dua puluh dua tahun, biarkan untuk saat ini Abang menikmati hidup bersama istri cantik Abang dengan santai dan tenang untuk pekerjaan sudah ada yang pegang jadi Abang tenang," jawab suamiku.


Aduh Nikmat mana yang aku dustakan punya suami seorang juragan sapi dan juga juragan jarak tinggal duduk manis dan santai uang pun datang, oh suami unikku bikin dedek yuk ....


__ADS_2