Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Zakat


__ADS_3

Bulik pun mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya dan menyerahkannya padaku.


"Ini hasil kontrakan tiga selama tiga bulan telah di potong untuk bayar listrik dan air, saya juga sudah mengambil bagian ini tinggal milik kamu," ucap Bulik padaku.


Aku pun terkejut menerima uang sebegini banyak seumur hidup aku belum pernah lihat apalagi pegang uang begini banyaknya dan sekarang aku memiliki uang yang jumlahnya entah berapa aku belum bisa menghitung karena masih shock, ternyata pemuda pilihan ayah ini sangat kaya raya tidak pernah aku bayangkan suamiku yang tampilannya hanya seorang pemuda sederhana tapi uang yang dia punya melebihi direktur sebuah perusahaan.


Bapak dan Bulik tidak menginap mereka langsung pulang katanya Bapak mau menginap di rumah Bulik sambil mau membicarakan sesuatu yang penting.


Berbagai cara tadi sempat aku gunakan untuk membujuk bapak agar mau menginap di rumah kami tapi bapak bilang ingin sesekali menginap di rumah Bulik. Aku memberikan beberapa buah tangan jajanan khas Bogor untuk Bapak bawa pulang karena katanya besok pagi pagi sekali bapak akan langsung pulang ke kampung karena tidak tega meninggalkan peternakan dan pekerbunan terlalu lama.


Setelah bapak dan Bulik pulang aku pun mengeluarkan kresek hitam dan amplop coklat yang dibawa oleh bapak dan Bulik tadi.


"Ayo kita hitung uangnya Bang!" ajakku.


"Tidak perlu di hitung Dik, jumlahnya yang dari bapak itu ada tiga ratus lima puluh juta, sedangkan yang dari Bulik ada dua puluh tujuh juta," jawab Bang Parlin.


"Loh kok Abang bisa tahu?" tanyaku.


"Bapak dan Bulik tadi yang bercerita waktu kamu keluar membeli oleh-oleh," ucap Bang Parlin.


Aku pun kagum mendengar jumlah uang yang disebutkan bang Parlin, sungguh penghasilan suamiku sangat fantastis walaupun dia dikira pengangguran tapi uangnya sekali panen bisa di buat beli mobil baru.

__ADS_1


"Kita masukkan rekening ya Bang uangnya," ucapku.


"Iya Dik, terserah kamu saja bagaimana baiknya tapi jangan lupa keluarkan zakat dua setengah persen," ucap bang Parlin.


"Dua setengah persen Bang?" tanyaku.


"Iya Dik di setiap penghasilan yang kita dapatkan ada hak fakir miskin dan anak yatim sebesar dua setengah persen," jawab Bang Parlin.


Aku pun kemudian mengambil kalkulator dan menghitung berapa uang yang harus aku bayarkan zakat dua setengah persen dari tiga ratus tujuh puluh tujuh juta itu, maklum dulu aku sekolah nilai matematikaku jelek jadi aku tidak pandai menghitung.


Sembilan juta empat ratus dua puluh lima ribu yang harus aku bayarkan untuk zakat tapi aku bingung kemana harus membayarkannya ke tempat penyaluran zakat atau bang Parlin punya cara sendiri, sebaiknya aku tanyakan saja dulu.


"Bang kemana kita harus membayarkan zakat ini? ke yayasan penyalur zakat atau Abang punya cara sendiri selama ini?" tanyaku.


"Loh kenapa harus ke satu orang Bang? bukannya kalau di bagi seratus ribuan atau dua ratus ribuan lebih banyak orang yang menerima zakat itu Bang," ucapku.


"Iya Dik kalau dibagi seperti itu akan banyak yang ikut menerima uang zakat dari kita tapi tidak bisa merubah atau meringankan beban orang itu, misalnya dia butuh satu juta untuk membayar sekolah anaknya kita hanya memberikan zakat seratus ribu toh itu belum cukup untuk membayarnya, tapi lain ceritanya kalau kita memberikan satu juta untuk satu orang setidaknya uang zakat kita benar-benar bisa membantu menyelesaikan masalah orang itu walaupun hanya masalah satu orang," ucap bang Parlin.


"Oh begitu ya Bang, lalu kita berikan pada siapa zakat kita ini Bang? apakah Abang sudah punya pandangan orang yang benar-benar berhak menerimanya?" tanyaku.


Aku kagum dengan cara berpikir bang Parlin walaupun dia orang udik tapi pemikirannya sangat bermanfaat untuk orang yang di menerima zakat ini, seandainya semua orang kaya di dunia ini berpikiran seperti bang Parlin mungkin tidak akan ada orang yang kurang mampu terjebak dalam hutang riba.

__ADS_1


"Genapkan dua puluh lima juta Dik uang zakat itu hitung hitung sekalian kita keluarkan zakat uang yang kita simpan di bang dan tugas untuk mencari siapa yang berhak menerimanya kali ini Abang serahkan pada Adik untuk mencari siapa yang paling berhak menerimanya," ucap bang Parlin.


Aku semakin terkagum-kagum dengan sifat bang Parlin dia tidak punya rasa eman untuk mengeluarkan uang zakat, kadang ada juga orang kaya yang perhitungan dan pelit dalam mengeluarkan zakat tapi suamiku ini sangat berbeda dia royal dan tidak merasa ragu untuk menjalankan kewajibannya dalam mengeluarkan zakat.


Siapa orang yang tepat dan berhak menerima uang zakat ini aku mulai berpikir entah kenapa orang yang pertama kali muncul di benakku adalah kakak dan adikku, tapi apakah mereka orang yang tepat untuk menerima uang ini? apakah kehidupan mereka akan berubah lebih baik setelah menerima uang dari kami ini.


****Pagi pagi sekali aku minta ijin bang Parlin untuk jalan jalan menghirup udara segar dan ingin sekalian pergi ke pasar tradisional yang ada di ujung gang sana untuk membeli keperluan sehari-hari.


Aku pun berjalan kaki menyusuri gang gang sempit karena di sekitar sini memang termasuk wilayah yang padat berpenghuni.


Tiba-tiba telingaku mendengar rengekan dan teriakan dua anak kecil dari dalam sebuah rumah yang sangat sederhana bahkan dindingnya ada bagian yang berlubang dan di tutup dengan sak bekas wadah semen.


"Bu... apakah makanannya sudah matang?" tanya bocah itu.


"Iya Bu kami sudah lapar dari semalam belum makan," sahut yang satu lagi.


Aku pun penasaran entah kenapa tiba-tiba aku merasa kepo dengan teriakan bocah bocah itu, aku pun semakin mendekat dan menempelkan telingaku di dinding rumah yang terbuat dari bambu itu.


"Iya Nak sabar ya Sayang sebentar lagi matang," ucap seorang wanita dari arah dapur yang tidak jauh dari tempatku berdiri.


Entah telingaku salah mendengar atau memang benar adanya aku dengar suara wanita itu terdengar paruh seakan akan menahan tangisnya.

__ADS_1


"Ya Allah seandainya aku punya motor atau setidaknya sepeda maka aku akan bisa menjual sayuran ini tepat waktu sebelum semuanya busuk seperti ini, jika aku bisa menjualnya ke tempat yang lumayan jauh setidaknya aku akan dapat uang untuk membeli beras dan lauk untuk makan anak anak ku tidak seperti ini hanya ada nasi saja yang aku bisa sajikan untuk mereka," gumam wanita itu di sela isak tangisnya yang masih bisa jelas aku dengar.


Aku pun berjalan meninggalkan tempat itu dan menghampiri seseorang yang sedang menyiram bunga di depan rumahnya, aku ingin bertanya pada orang ini tentang penghuni rumah sebelah yang tadi aku sempat mendengar keluh kesahnya.


__ADS_2