
Suamiku selalu sabar dan tenang menghadapi semua cemoohan tentangga bahkan dia tidak peduli seburuk apapun orang menilainya.
Padahal di luar sana sekarang orang saling bersaing untuk dianggap lebih kaya bahkan mereka rela melakukan apa saja agar tercapai gaya hidup yang lebih mewah dari pada orang lain.
Aku pun harus selalu sabar menghadapi tingkah para saudara -saudaraku yang selalu mengatakan uang yang aku dapat itu hasil dari ngepet lah, hasil dari melihara tuyul lah, jadi tukang rampoklah, kok ada ya saudara yang tega menuduh saudaranya sendiri seperti itu.
"Kamu itu Sin hasil kerja malam kok di belikan motor gak elit amat, mbok ya di belikan rumah biar terlihat waow punya rumah sendiri gak numpang di rumah orang, ditawari rumah murah kok gak mau," ucap Kakakku.
"Memangnya Sinta kerja malam apaan Kak?" tanya Kakak keduaku.
"Itu jaga lilin, nunggu suaminya pulang cari uang jadi babi ngepet," ucapnya cekikikan.
Setiap kali habis dengar saudaraku mengatakan yang tidak -tidak tentang suamiku pasti bawaannya aku emosi dan anehnya yang jadi pelampiasan ya suamiku sendiri.
Seperti hari ini saat tadi aku menyempatkan datang ke rumah Bapak untuk membersihkan rumah ternyata sudah ada kedua kakakku yang membersihkan rumah itu dan seperti biasa mereka selalu mengolok-olok aku dan suamiku.
"Bang aku kesel deh," ucapku ketika sudah sampai rumah dan melihat bang Parlin duduk di depan televisi.
"Ada apa Dik? kenapa?" tanya bang Parlin.
"Aku bosen di hina melulu Bang, bahkan saudara saudaraku sendiri pun menghina kita, ingin rasanya aku katakan pada mereka semua kalau suamiku bukan pengangguran bahkan suamiku mampu membeli rumah itu tanpa menjual sawah rumah itu hanya setara dengan hasil penjualan hasil tambak tiga kali panen, " ucapku kesal.
"Tunggu dulu Dik tahan amarahnya, ambil nafas buang perlahan-lahan biar Adik sedikit tenang," ucap bang Parlin menenangkanku.
Aku pun mengikuti apa yang dikatakan bang Parlin dan beberapa menit kemudian aku sudah merasa sedikit tenang.
"Siapa yang menghina Adik? Kan Abang sudah bilang jangan pernah hiraukan apa yang dikatakan orang lain yang ingin merusak mental kita, mereka ingin membuat kita tersiksa batinnya Dik," ucap Bang Parlin.
"Itu tadi saudara saudaraku di rumah ayah mereka mengatakan yang tidak -tidak tentang kita," ucapku.
__ADS_1
"Biarkan saja Dik tidak perlu di dengarkan, sudah anggap saja angin lalu selagi mereka tidak memukul kita ya sudah biarkan saja wong cuma di katakan yang tidak tidak saja kok toh mereka tidak tahu apa yang sebenarnya," ucap bang Parlin.
"Ah bodo amat Bang! dasar suami tidak peka! aku sudah bosan Bang jadi bahan hinaan dan cemoohan orang orang, sesekali pamer tidak apa apa kan Bang toh sifat bawaan manusia pamer itu," ucapku kesal.
Padahal suamiku tidak tahu menahu tentang hinaan yang membuat aku kesal seharusnya aku marah bukannya marah pada suamiku, nasibmu Bang aku kesal pada saudara saudaraku tapi kamu yang jadi pelampiasan.
"Ya sudah Dik jangan sedih! besok kita ke Bank kita cairkan uang, kita beli rumah dan kita beli mobil kalau perlu kita jual sapi jika nanti uang yang di Bank kurang," jawab suamiku enteng.
Aku pun menganga melihat jawaban suamiku ternyata apa yang dia ucapkan kemarin benar benar tulus dan dia buktikan, dia rela orang orang menghinanya tapi dia tidak terima jika istrinya di hina, Bang sikapmu yang seperti itu membuat hatiku meleleh Bang.
Dalam hati aku bersorak gembira, akhirnya mulut mulut para tetangga dan saudara saudaraku akan terbungkam, aku akan membeli rumah mewah dan mobil baru mereka pasti akan semakin terkejut melihat itu.
Aku terdiam sejenak sambil tersenyum sendiri membayangkan itu tapi tiba-tiba terlintas dibenakku perkataan Bang Parlin kemarin.
"Belilah sesuai kebutuhan jangan sesuai keinginan."
Aku pun berpikir ulang jika aku membeli rumah mewah yang besar ku rasa itu belum perlu karena kami hanya tinggal berdua saja belum ada anak dan belum memerlukan rumah besar untuk tempat tinggal anak anak kami, yang aku butuhkan untuk saat ini adalah rumah yang bisa untuk berteduh dan cukup untuk kami tinggal berdua, jika saat ini aku membeli rumah mewah ku rasa belum termasuk kebutuhan, kalau aku beli mobil untuk apa toh aku tidak bisa bawa mobil dan aku rasa suami pun demikian, yang kami butuhkan hanyalah alat transportasi yang bisa membawa kami kemana saja toh sudah ada motor yang bisa kami pakai.
"Sudah Bang tidak jadi urungkan saja niat itu," ucapku pada akhirnya.
"Beneran kamu yakin tidak mau beli rumah dan mobil baru?" tanya Suamiku memastikan.
Mungkin dia heran dengan perubahanku yang tiba-tiba.
"Ya Bang beneran, toh yang kita butuhkan hanyalah tempat berteduh dan rumah ini sudah lebih dari cukup sedangkan mobil aku tidak bisa nyupir dan Abang pun sama lalu untuk apa kita beli kalau kita tidak bisa menggunakannya dan yang kita butuhkan hanyalah alat transportasi yang bisa membawa kita pergi kemana kita mau dan itu sudah ada motor beat yang siap kita pakai kapan saja," ucapku lagi.
"Beneran Dik? ya sudah kalau itu keputusan Adik Abang tidak rela jika Adik selalu di hina," ucap Bang Parlin.
"Gak papa Bang biarkan saja nanti kalau mereka capek juga berhenti sendiri," jawabku.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselku dan seperti dugaanku ini dari grup WA keluarga lagi.
"Pilih pilih jodoh ternyata sekarang malah dapat pengaguran, oops tapi pengangguran yang banyak uang tapi entah dari grandong entah dari bocah cilik," bunyinya.
Aku yakin tulisan ini juga di tujukan untukku karena selama ini aku memang terlihat seperti pilih pilih jodoh dan ujung ujungnya putus sebelum ke pelaminan dan berakhir dengan jodoh pilihan ayah.
Wajahku terlihat murung lagi dan itu pun tidak luput dari perhatian bang Parlin.
"Dik jangan terbang karena dipuji dan jangan tumbang hanya karena sekedar hinaan, dihina tidak akan menjadikan kita sampah dipuji tidak akan menjadikan kita bintang di langit," ucap bang Parlin.
Aku pun tersenyum, memang benar apa yang di ucapkan oleh suamiku kita tidak akan sukses hanya dengan pujian seseorang dan kita pun tidak akan hancur hanya dengan cemoohan orang lain.
"Iya Bang Adik faham," ucapku sambil tersenyum ke arah bang Parlin.
Aku pun membalas chattingan di grup WA keluarga ku.
"Tak akan terbang karena pujian dan tak akan tumbang hanya karena hinaan. di puji tidak akan jadi bintang di hina tidak akan jadi sampah,"
"Bagus! itu baru kakakku." balas adikku.
Aku pun tersenyum puas karena para iparku berhenti komen merendahkanku.
"Bang siapa yang mengajari Abang tentang pemikiran seperti ini Bang?" tanyaku pada bang Parlin.
"Seseorang dari masa laluku Dik," jawabnya sambil tersenyum.
Entah kenapa tiba-tiba di hatiku terselip rasa tidak nyaman dengan jawaban bang Parlin kali ini, aku merasa ada rasa cemburu dan rasa sakit tumbuh di hatiku saat bang Parlin mengatakan orang dari masa laluku.
"Wah siapa itu Bang sepertinya seseorang yang spesial?" tanyaku menyembunyikan rasa sakit di hati.
__ADS_1
"Sudahlah Dik itu tidak penting, aku katakan pun Adik juga tidak kenal," jawab bang Parlin seakan akan mengalihkan pembicaraan.
Tuh kan benar bang Parlin menyembunyikan sesuatu dariku.