Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Si Jum


__ADS_3

Mobil pun melaju meninggalkan kota yang selama ini tempat aku tinggal. Di sepanjang perjalanan bang Parlin terlihat sangat gelisah, dia seperti sangat takut dan khawatir jika terjadi sesuatu dengan si Jum ini.


Melihat bang Parlin yang tidak tenang hatiku pun mulai terusik, rasa penasaranku semakin menggebu siapa sebenarnya si Jum ini? mengapa bang Parlin sangat panik dan ingin pulang ke kampung segera setelah mendengar berita tentang si Jum padahal kemarin waktu aku mengajaknya pulang ke kampung dia menolak dengan alasan ingin menikmati bulan madu bersamaku, apakah sepenting itu si Jum baginya? apakah si Jum lebih berarti dari pada aku? ingin rasanya aku menangis membayangkan jika memang si Jum adalah orang yang sangat berharga di hati bang Parlin dan aku tidak ada artinya jika di bandingkan di Jum.


Hatiku gelisah tidak karuan akhirnya iseng iseng aku mengirimkan pesan pada Widya temanku yang berasal dari Jawa.


"Wid kita kira si Jum itu siapa ya?"


Ku kirimkan pesan pada Widya berharap jawabannya meringankan pikiranku.


Tidak beberapa lama terdengar pesan masuk aku yakin itu balasan dari Widya.


"Madu mu," bunyi pesan balasan dari Widya.


Balasan singkat tapi menyisakan sesak di dada. Aku berharap balasan Widya meringankan pikiranku tapi ternyata semakin membuatku tercekik.


"Ngawur kamu Wid," balasku dengan aku tambahkan emoticon berwajah merah.


"Yang ngawur itu kamu Sin, seharusnya kamu bertanya kepada suamimu kok malah tanya ke aku lalu aku tanya ke siapa coba," balasan Widya kali ini pun membuat ku tersadar.


Memang benar apa yang di katakan Widya seharusnya aku menanyakan langsung pada bang Parlin mengapa aku harus bertanya pada orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini.


Akhirnya aku mengumpulkan keberanianku dan bertanya pada bang Parlin tentang siapa sebenarnya si Jum itu dari pada aku terus dilanda kekhawatiran.


"Bang siapa si Jum itu?" tanyaku pada bang Parlin yang masih terlihat gelisah.


"Tunggu sampai di kampung nanti kamu pasti tahu sendiri," jawab bang Parlin.


Aku semakin kesal dibuatnya akhirnya aku pun memutuskan untuk memilih diam dan tidak banyak tanya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam, kami larut dalam pikiran masing-masing, sesekali aku lirik bang Parlin yang masih terlihat jelas kecemasan di wajahnya.


Ternyata perjalanan menuju kampung bang Parlin sangatlah jauh. Setelah hampir melakukan perjalanan selama sebelas jam akhirnya kami sampai di desa kerek salah satu desa yang ada di pelosok kota Tuban jawa timur. Memang benar apa yang dikatakan bang Parlin aku sudah merasa capek sebelum sampai tujuan, kami pun masih meneruskan perjalanan sekitar dua puluh menit dari desa kerek untuk sampai di kampung suamiku yang sangat terpencil namanya desa Tengger di sini sinyal memang sangat sulit pantas saja bang Parlin bilang kalau aku tidak akan betah tinggal di sini. Pantas saja bang Parlin menggunakan ponsel jadul internet masih jarang yang bisa di akses di sini, bahkan mau menelepon kita harus turun dulu ke desa kerek baru ada sinyal kampung suamiku ini termasuk di dataran tinggi.


Di tengah perjalanan aku melihat banyak anjing berkeliaran entah itu anjing liar atau anjing piaraan yang jelas aku takut dengan anjing sungguh binatang satu ini membuatku ngeri apalagi kalau melihat mata dan lidahnya yang terjulur sungguh aku takut.


"Masih jauhkan rumah Abang?" tanyaku.


"Sebentar lagi Dik sekitar tujuh menit lagi setelah tanah lapang itu ada masjid sebelah masjid itu rumahku," tutur Bang Parlin menjelaskan padaku.


Aku pun mengangguk angguk kami sampai di kampung bang Parlin tepat jam 9 pagi dan di sini terlihat sangat ramai akan hewan ternak banyak pengembala yang sedang mengembalakan ternaknya, ada yang sambil bermain seruling di atas punggung sapinya ada yang sedang duduk santai sambil memperhatikan sapi sapi yang sedang makan, di sini aku merasakan suasana damai tanpa hiruk pikuk kendaraan lalu lalang seperti di Bogor yang penuh sesak dengan kemacetan.


"Berhenti di depan Mas," ucap Bang Parlin memberikan arahan pada sang sopir.


"Ayo Dik turun kita sudah sampai," ucap bang Parlin.


Udara terasa sangat segar tidak jauh dari tempatku berdiri ada kebun yang sangat luas dan penuh dengan tanaman jarak mungkin ini perkebunan milik bang Parlin pikirku.


Bang Parlin pun mengajak sang sopir untuk masuk ke rumah dan beristirahat dulu tapi sopir mobil rental itu menolak dia lebih memilih untuk segera pulang karena setelah ini masih ada urusan.


Setelah sopir itu pergi kami pun masuk ke rumah yang terlihat sederhana tapi nyaman ada rasa damai di hatiku tinggal di sini walau jarak rumah tetangga terdekat hampir empat puluh kilo.


"Assalamualaikum," ucap Bang Parlin sambil mengetuk pintu.


Tidak beberapa lama terdengar sahutan dari dalam rumah.


"Waallaikum salam,"


Aku bisa mendengar langkah kaki yang sedang mendekati pintu dan tidak lama pintu pun terbuka dan terlihat Bapak mertuaku yang berdiri di sana sambil menatap kami kaget.

__ADS_1


"Mau pulang kok tidak ngabari dulu si Lin, ayo masuk," ucap Bapak sambil mengajak kami masuk.


"Kejutan Pak," jawab bang Parlin.


Aku pun mengikuti bang Parlin yang duduk di sebuah kursi rotan atau biasa orang sini menyebut penjalin.


"Pasti kamu sudah mendengar kabar tentang si Jum," ucap Bapak mertuaku pada bang Parlin.


"Iya Pak," jawab bang Parlin.


"Sekarang ada di mana si Jum Pak?" lanjutnya.


"Ada di pekarangan belakang, Bapak sudah tebak tidak akan ada yang bisa membawamu pulang tiba-tiba kecuali itu menyangkut si Jum," tutur Bapak sambil terkekeh.


Aku pun berdecak sebal, aku sangat gregeten sama si Jum ini sudah membuat bang Parlin kalang kabut ternyata dia lagi enak enakan di pekarangan belakang ingin rasanya aku mendatanginya dan menjambak rambut si Jum ini biar dia tahu rasa karena dia telah membuat suamiku kalang kabut.


"Aku mau ketemu si Jum Pak," ucap bang Parlin berdiri dan aku pun mengikutinya.


"Kamu di sini saja Dik si Jum itu cemburuan dia akan ngamuk kalau melihat aku dekat dengan perempuan," ucap Bang Parlin melarangku ikut.


Aku pun tidak mau menuruti bang Parlin enak saja apa gunanya aku ikut jauh jauh sampai sini dan membiarkan bang Parlin bernostalgia dan kangen kangenan dengan wanita lain saat aku juga ada di dekatnya tidak akan pernah aku ijinkan.


"Tidak Bang aku mau ikut saja," ucapku tegas.


Bang Parlin pun tidak bisa menolak keinginanku, akhirnya dia pun mengijinkan aku ikut dengannya.


"Baiklah kamu boleh ikut tapi jaga jarak ya nanti agak menjauh dariku karena aku takut si Jum ngamuk," ucap bang Parlin.


Untuk sementara aku pun mengangguk menyetujuinya yang penting untuk saat ini aku tahu bagaimana rupa si Jum ini yang sudah bisa bikin Bang Parlin kalang kabut.

__ADS_1


__ADS_2