
Rapat pun berakhir dengan kesepakatan bahwa aku yang akan membeli rumah peninggalan ayah. Kamu semua pun bubar dan pulang ke rumah masing-masing.
Sepanjang perjalanan aku terus mengomel pada suamiku, aku kesal sekali karena suamiku ini malah membumbui pemikiran kakakku yang beneran mengira kami melakukan pesugihan babi ngepet dengan ucapannya yang ceplas-ceplos.
"Bang kalau Abang tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya Abang punya setidaknya Abang jangan membumbui mereka dengan kata kata yang membuat mereka semakin menguatkan dugaan mereka tentang kita," ucapku kesal.
"Aku heran kok Dik dengan saudara -saudaramu itu, baru kali ini aku menemui anak yang sudah membicarakan pembagian warisan saat orang tuanya belum empat puluh hari, di desa kami paling tidak membicarakan soal warisan itu setelah si fulan yang meninggal itu umur empat puluh hari Dik tidak seperti ini, " ucap Suamiku.
"Iya sih Bang! tapi Abang juga aneh jadi orang kenapa Abang bilang kalau Abang mau ngepet untuk mencari uang guna membayar rumah itu," omelku.
"Kan itu persepsi mereka tentang kita Dik seandainya kita jelaskan satu persatu apa usaha kita mereka juga tidak akan benar benar percaya Dik," ucap Bang Parlin.
"Iya juga sih Bang, tapi Abang juga aneh masa iya di bilang ngepet kok bangga," ucapku sambil mencebikkan bibirku.
"Hahaha bukannya bangga Dik tapi mengikuti alur saja," ucap Bang Parlin .
"Udah Bang terserah Bang terserah! Adik bingung menghadapi cara berpikir Abang," ucapku setengah berteriak.
Sampai di rumah pun aku masih mengomel tapi suamiku tidak meladeni omelanku malah dia mengajakku bercanda dengan ucapan yang dilontarkan saudara saudaraku.
Kebetulan saat kami sampai rumah sekring lampu rumah kami rusak alamat rumah kami gelap sendiri sedangkan rumah tetanggaku lampunya menyala, aku pun segera meminta bang Parlin untuk menyalakan lilin yang ada di bawah laci meja tivi.
"Dik jaga lilin ya! awas jangan sampai mati ! nanti bisa-bisa Abang habis dipukuli orang," ucap bang Parlin sambil cengengesan.
"Bodo amat Bang," teriakku kesal.
"Awas jangan sampai mati lilinnya nanti Abang bisa bisa gak kembali pulang," ucapnya cengengesan sambil berjalan menuju kamar mandi, aku pun melemparnya dengan handuk padanya kesal juga dengan tingkah konyol suamiku ini, bisa bercanda juga nih suami kuno ku. Bang Parlin pun tertawa dan menangkap handuk yang aku lempar ke arahnya.
__ADS_1
Saat kami masih bercanda dengan tuduhan yang dilontarkan saudara saudaraku, aku mendengar ketukan pintu dan ucapan salam dari luar, aku pun berjalan ke arah pintu dengan posisi masih memegang lilin yang tadi sempat dinyalakan oleh bang Parlin niatnya aku ingin menaruh lilin itu di ruang tamu karena tadi yang lilin pertama sudah aku taruh di kamar untuk menerangi kamarku yang lampunya mati.
Aku membuka pintu dan di luar sana terlihat kakak pertamaku berdiri di depan pintu dan menatapku dengan tatapan aneh.
"Apa Kakak boleh masuk?" tanyanya padaku.
"Oh ya silahkan masuk Kak," ucapku dan mempersilakan saudara tertua ku itu untuk duduk.
"Kok lampunya kamu matikan, kamu bawa lilin juga?" ucapnya dengan tatapan curiga.
"Ini Kak lampunya mati aku baru saja nyalain lilin dan kakak datang mengetuk pintu jadi aku membuka pintu dengan masih membawa lilin jangan berpikir macam-macam deh," ucapku
"Ada apa Abang malam malam datang kemari?" lanjutku.
"Kakak sudah bosan banyak hutang di mana mana Sin, tolong ajari aku cara mendapatkan uang dengan tanpa bekerja dan dengan mudah seperti kalian agar aku bisa membayar hutangku," ucap kakakku tiba tiba.
Aku lirik bang Parlin yang diam saja sejak tadi, dia sedang menutup mulutnya menahan tawa karena mendengar ucapan kakakku itu, kakakku pasti mengira kalau bang Parlin benar benar pengangguran dan mencari uang secara gaib apalagi saat dia datang kemari melihatku sedang memegang lilin dan lampu rumah kami mati padahal kanan kiri rumah ini lampunya menyalakan semua.
Kakakku menganggap serius candaan bang Parlin, dia memang memiliki hutang yang banyak bahkan dengan almarhum bapak pun dia memiliki hutang.
Dia banyak hutang di mana mana berawal dari menuruti gaya hidup istrinya, kakak iparku itu tidak mau kalah dengan tetangganya, tetangganya punya apa dia pun harus punya, dan selalu saja menyuruh kakak ku untuk bisa memilikinya bagaimanapun caranya kakakku harus menurutinya karena dia sangat mencintai istrinya.
Istrinya meminta agar ambil kredit rumah karena tetangganya ada yang beli perumahan dia tidak mau kalah. Ada tetangganya beli motor baru dan di pakai jalan jalan dan kakak iparku ngelihat
setelah itu dia pun meminta suaminya ambil kredit motor baru kakakku juga menurutinya,
Kakakku yang hanya bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan pun merasa keberatan dengan tanggungan yang dia miliki, dan kini istrinya pun berhenti jadi guru honorer. Kakak iparku memilih berhenti menjadi guru honorer karena merasa iri teman temannya sudah di angkat menjadi pegawai negeri tapi dia belum itu sebabnya dia merasa kesal dan memilih berhenti dari pekerjaannya.
__ADS_1
"Aku sudah putus asa dengan kehidupanku ini Parlin! hutangku menumpuk di mana mana, nanti jika mendapatkan uang bagian dari penjualan rumah itu pun tidak akan cukup untuk melunasi semua hutang hutangku," keluh Kakakku.
Aku pun menatap bang Parlin menunggu apa yang akan dikatakannya tapi bang Parlin pun menatapku balik aku pun mengangkat bahuku dan membuka kedua tanganku memberikan isyarat terserah padanya mau jujur atau mau meneruskan candaannya tentang babi ngepet itu.
"Begini Kak sebenarnya aku bukan ngepet tapi aku memelihara pedet di desa dan hasilnya bisa aku gunakan untuk mencukupi kebutuhan tanpa aku harus susah susah bekerja," ucap bang Parlin tiba tiba.
"Pedet? maksudnya anak sapi begitu? terus bagaimana cara kerjanya Parlin?" tanya kakakku serius.
"Begini Kak, Kakak pelihara sepuluh pedet dengan dengan harga pembelian satu pedet lima juta kakak pelihara selama setahun dan pedet itu tumbuh menjadi sapi dan satu sapi bisa di jual seharga enam belas juta untung sebelas juta per ekor jika dikalikan sepuluh Kakak bisa mendapatkan untung seratus sepuluh juta dalam setahun bisa untuk melunasi hutang kan?" ucap bang Parlin memberikan solusi.
Aku tidak menyangka orang desa yang berteman dengan rumput bisa menjelma menjadi seorang penasehat ekonomi.
"Tapi kenapa kamu tidak bisa santai di sini sedangkan pedet pedet itu butuh makan siapa yang mencarikan rumput?" ucap kakakku lagi.
"Aku memulai bisnis itu sudah lama kak entah dua puluh tahun yang lalu jadi sekarang pedet pedet itu telah tumbuh menjadi sapi dalam jumlah yang lumayan banyak dan aku sanggup menggaji orang untuk merawatnya karena aku kewalahan jika merawatnya sendiri dan uang yang aku gunakan untuk mengongkosi orang itu pun dari hasil pedet itu sendiri," ucap bang Parlin panjang lebar.
"Tapi jika aku memulai bisnis itu aku mana ada modal aku Parlin, aku hanya bekerja sebagai seorang satpam dan sudah mengambil cicilan rumah dengan angsuran dua juta setengah perbulannya selama tujuh tahun lagi baru lunas, belum lagi cicilan motor, gajiku sebulan tidak tersisa mana bisa aku punya modal buat beli pedet," ucap kakakku.
"Gaji satpam tiga juta buat bayar cicilan dua juta setengah perbulannya, belum lagi cicilan motor lalu untuk butuhan makan kuranganya selama ini kakak dapat dari mana? sama halnya memaksakan diri Kak," ucap bang Parlin.
"Aku selalu berhutang ke sana kemari untuk mencukupi kekuranganya, mau bagaimana lagi Parlin ini semua sudah terlanjur dan tujuh tahun lagi baru lunas," ucap kakakku.
"Jual gunakan uang hasil penjualannya untuk menutup cicilan itu jika ada sisanya gunakan untuk modal beli pedet nanti lahannya biar aku yang sediakan, dalam tiga tahun kedepan aku yakin Kakak sudah bisa membeli rumah dan motor lagi bahkan lebih bagus dari yang Kakak punya hidup pun terasa tenang tanpa beban hutang," ucap bang Parlin.
"Benar katamu Parlin! ucapanmu ini membuka mataku, terima kasih Parlin," ucap kakakku sambil tersenyum.
"Sama sama Kak! jika Kakak masih bekerja jadi satpam pabrik lima tahun ke depan paling mentok Kakak diangkat jadi kepala satpam dan itu pun masih di gaji orang tapi jika Kakak membuka usaha sendiri dalam lima tahun Kakak bisa menggaji orang," ucap bang Parlin lagi.
__ADS_1
"Ya Parlin benar yang kamu ucapkan itu, besok aku akan menjual rumah ku dan mengajak istriku untuk memulai hidup dengan usaha baru, aku yakin aku bisa melakukannya, terima kasih untuk semua ilmunya Parlin aku permisi dulu," ucap kakakku berpamitan.
Setelah kakakku pulang aku pun menatap takjub pada suamiku yang tidak pernah aku sangka dia bisa membuat kakak yang seorang keras kepala bisa menerima saran yang dia berikan.