Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Perhiasan


__ADS_3

Bang Parlin pun naik panggung dengan santainya dan dia pun berbisik-bisik dengan para pemain alat musik di panggung, bang Parlin terlihat sangat pede.


Bang istrimu di sini sedang merasakan guncangan hati berdebar tak karuan takut dirimu jadi bahan tertawaan kenapa kamu di sana berdiri dengan santainya rasanya aku ingin menangis melihatmu dari bawah panggung.


Belum hilang rasa deg degan di hatiku lagi lagi aku dikejutkan dengan tingkah suami unikku, alunan musik melantun sepertinya aku tahu lagu apa ini tapi sungguh hatiku menolak percaya kalau suamiku bisa menyanyikan lagu ini.


Terdengar bang Parlin menyanyikan lagu I wannah grow old with you milik grup band terkenal Westlife, suaranya terdengar merdu dan pas dengan musik yang mengiringinya, sungguh aku sangat terkejut dengan kenyataan ini, suamiku yang datang ke pesta dengan pakaian adat Jawa tapi dengan fasih menyanyikan lagu barat rasanya sekali lagi aku seperti mendapat tamparan keras, sekarang aku sadar betul kata pepatah jangan melihat buku dari sampulnya itu memang benar benar nyata, suamiku yang berpenampilan kuno ternyata bisa menyanyikan lagu barat juga, bang kejutan apa lagi yang akan aku dapatkan, suami kuno ku kamu memang ajaib.


Setelah menyelesaikan lagunya aku lihat semua tamu yang hadir bertepuk tangan meriah sekali, dan aku pun mendengar beberapa tamu berbisik-bisik mereka kira suamiku akan menyanyikan lagu daerah yang tidak mereka mengerti dan akan membuat mereka bosan karena bang Parlin berpenampilan seperti dalang tapi ternyata mereka salah menduga bang Parlin malah menyanyikan lagu milik grup band Westlife Yang pernah booming di era tahun 2000. Para tamu memuji bang Parlin dan tanpa terasa air mataku pun jatuh karena terharu.


"Kamu dapat suami so sweet itu dari mana Sin? sungguh aku ingin memiliki satu yang seperti itu," ucap Rully salah satu temanku.


"Aku berkelana ke Madagaskar dan menemukan dia dan akhirnya aku bawa pulang dan kami menikah," jawabku asal.


Aku kesal dengan Rully enak saja dia pingin punya suami seperti bang Parlin itu tidak boleh dan tidak bisa karena bang Parlin limited edition dan hanya ada satu untuk aku saja tidak ada yang lain.


Rully pun terlihat kesal dengan jawabanku, bibir Rully maju dua senti karena kesal padaku tapi aku tidak perduli.


Aku pun mengajak bang Parlin untuk segera pulang, aku tidak mau lama lama di pesta ini karena aku yakin si Zubair dan temanku lainnya pasti masih punya banyak cara untuk mengerjai aku dan suamiku. Kami pun berpamitan dengan pemilik acara dan tidak lupa pamit juga pada teman teman yang lain.


Sebelum kami sampai di tempat parkir tanpa sengaja kami berpapasan dengan teman lamaku dia memakai perhiasan yang sangat banyak aku yang jarang sekali pakai perhiasan jujur aslinya pingin juga punya.


"Kenapa menatap gadis itu sampai gak berkedip Dik?" tanya bang Parlin yang sejak tadi memperhatikan tingkahku. Ya sejak tadi aku menatap iri pada si Anisa yang pakai perhiasan berjibun.

__ADS_1


"Itu Bang punya perhiasan seperti toko berjalan sepertinya enak ya," ucapku sambil masih menatap punggung Anisa yang meninggal kami.


"Adik pingin?" tanyanya.


Aku pun heran kenapa hari ini bang Parlin perduli dengan tingkahku padahal biasanya dia hanya diam dan acuh tidak pernah serius jika ada yang mengatakan sesuatu setelah mereka yang mengatakan sesuatu itu menjauh dari kami baru dia bertanya tapi hari ini kenapa bang Parlin cerewet.


Aku pun segera menggandeng suamiku dan membawanya segera ke parkiran menjauhi dari tempat pesta Zubair.


"Aku heran Dik kenapa tadi kamu antusias banget melihat temanmu," ucap Bang Parlin.


"Sudah Bang lupakan saja tidak usah di pikirkan!" ucapku.


"Abang penasaran saja adik kok sampai ngiler gitu," ucap bang Parlin sambil tertawa.


"Begini Bang aku lihat Anisa pakai perhiasan kok seneng banget seperti kelihatan elegan dan gimana gitu," ucapku. Padahal pingin rasanya ngomong kalau aku pingin perhiasan juga bang tapi malu.


"Oh begitu ya," ujar suamiku.


Aku pun bernafas lega akhirnya penjelasanku di terima jadi aku tidak susah susah lagi mencari bahasa untuk menjabarkan kenapa tadi aku melihat Anisa sampai segitunya.


"Memangnya temanmu itu punya toko perhiasan ya Dik? atau pasar perhiasan gitu,":tanya bang Parlin.


"Gak juga Bang mungkin dia dari dulu suka ngoleksi perhiasan kali Bang secara dia orang kaya dan sekarang suaminya juga kaya," ucapku.

__ADS_1


"Apakah di kota ini kalau mau menunjukkan status ekonomi harus pakai perhiasan berlebihan seperti itu ya Dik ? apa gak takut di rampas orang?" tanya bang Parlin.


Aku pun sebenarnya sependapat sama bang parlin tapi sudahlah biarkan saja itu hak mereka dan lagian yang di pakai juga perhiasan beli pakai uang mereka sendiri gak minta sama kita.


"Sudahlah Bang ayo pulang tidak usah di pikirkan lagi," ucapku mengajak Bang Parlin melanjutkan perjalanan pulang.


"Tunggu dulu Dik! kita mampir ambil uang dulu ke ATM," ucap bang Parlin.


"Untuk apa Bang? uang belanja masih cukup dan kita tidak ada kebutuhan lainnya," jawab ku.


"Abang ingin beli perhiasan," jawab bang Parlin.


"Masa laki laki pakai perhiasan Bang ada ada saja, sudah ayo pulang," ucapku.


"Bukan untuk Abang lah Dik, ya untuk istri cantiknya Abang, biar gak ngeces lagi kalau lihat temannya pakai perhiasan," ucap bang parlin.


Aku pun refleks langsung memeluk bang Parlin karena saking gembira campur terharu seumur umur baru kali ini aku akan di belikan perhiasan selama ini aku tidak memakai perhiasan apapun kecuali anting dan cincin kawin ini.


"Ini termasuk kebutuhan atau kemauan Bang?" tanyaku pada bang Parlin.


"Kebutuhan Dik, Kan perhiasan selain kita pakai untuk perhiasan wanita juga bisa buat investasi dik, dan juga bisa buat gambaran status ekonomi kita bukannya pamer tapi setidaknya tidak ada orang yang menyepelekan kita, tapi kalau pakai yang jangan seperti temanmu itu juga kali," tutur bang Parlin.


Tanpa kusadari air mata ini jatuh, sungguh pria unikku ini hatinya selembut hello Kitty sungguh pengertian dan tidak perhitungan dengan sesuatu yang berhubungan dengan uang dalam hati aku berteriak.

__ADS_1


"Horrreeeee dapat perhiasan baru," sungguh senang tak terkira apa yang selama ini aku inginkan akhirnya terpenuhi. Sungguh gemes punya suami ndeso tapi kebaikannya ngalahi orang kota, bang adik makin cinta loh bang jangan sampai di embat pelakor ya bang kan dirimu limited edition.


__ADS_2