Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Uang Titipan


__ADS_3

Hari-hariku terasa sangat bahagia,bang Parlin selalu memanjakanku, aku pun sekarang tidak diperbolehkan untuk terlalu capek bahkan dia mengerjakan semua pekerjaan rumah termasuk masak dan membersihkan rumah.


Bang Parlin ternyata pintar memasak, masakan bang Parlin lezat walaupun yang dia masak hanya sambal terasi dan daun ubi jalar direbus sebagai lalapan tidak lupa tahu tempe dan ikan asin tapi rasanya sangat lezat bahkan aku sampai nambah dua kali.


"Enak Dik?" tanya bang Parlin padaku saat memperhatikan aku yang makan dengan lahap.


"Enak sekali Bang! aku rasanya tidak bisa berhenti pingin nambah terus," ucapku sambil memasukkan sesuap nasi ke mulut.


"Habiskan saja Dik kalau kamu suka," ucap bang Parlin yang sudah menyelesaikan makannya.


Aku pun mengangguk penuh semangat entah kenapa sejak hamil aku semakin gemar makan makanan masakan bang Parlin, dan kini tubuhku semakin gemuk karena nafsu makan yang meningkat.


Disaat kami sedang menikmati waktu santai setelah makan tiba-tiba pintu rumah kami di ketuk seseorang bang Parlin pun segera membuka pintu.


"Mana Sinta, Lin?" ucap kakak pertamaku.


"Di dalam Kak, ayo masuk!" ucap bang Parlin mengajak masuk kakakku.


Aku yang sebelumnya berbaring santai di depan televisi pun akhirnya bangun dan menghampiri kakakku yang sudah lama sekali tidak bertemu.


"Kak apa kabar?" ucapku menyapa kakak pertamaku yang baru kembali dari kampung.


"Alhamdulillah Sin berkat saran dan bantuan Parlin aku bisa melunasi hutang-hutangku yang dulu, dan sekarang aku bisa membeli rumah di kota ini untuk investasi dan juga dikampung sana aku sudah bisa renovasi rumah yang aku tempati," Ucap kakakku bahagia.


"Syukurlah Kak kalau begitu aku juga ikut senang," ucapku sambil tersenyum.


"Aku datang kemari untuk mengucapkan terima kasih pada kalian seandainya dulu Parlin tidak memberikan saran itu padaku dan membantuku untuk modal mungkin saat ini aku masih sebagai satpam yang hutangnya di mana-mana," ucap Kakakku.


"Sudahlah Kak yang terpenting sekarang kakak sudah sukses aku ikut senang," ucap Parlin sambil tersenyum.


"Oh ya Lin aku mau mengembalikan modal yang kemarin pernah kamu pinjamkan, kemarin aku berbincang-bincang dengan bapak iseng-iseng aku tanyakan harga lahan yang kamu sediakan untukku dan saat ini aku sudah memiliki uang yang lumayan banyak jadi aku mau mengembalikan modal lahannya," ucap Kakakku sambil menyerahkan kresek hitam yang berisi uang.

__ADS_1


"Kak aku tidak meminjamkan lahan itu, aku memberikannya padamu jika sekarang kakak sudah merasa mampu maka berikan uang itu pada orang yang membutuhkan," ucap Parlin.


"Aku tidak pandai dan tidak faham tentang orang yang berhak menerima uang ini Parlin maka aku serahkan padamu tolong kamu salurkan uang ini pada orang yang seperti kriteria kamu maksud," ucap kakak pertamaku.


Aku yang melihat perubahan kakakku sangat bahagia, dia yang dulu terlilit hutang kini bisa mengeluarkan zakat untuk orang lain.


"Aku senang sekarang kakak telah berubah, kami akan menyalurkan uang ini untuk kakak," ucapku tidak ku sadari air mata bahagia mengalir di pipiku.


"Terima kasih Parlin dan Sinta, oh ya sudah berapa bulan usia kandunganmu, Sin?" tanya kakakku.


"Sudah delapan bulan kak," jawabku sambil mengelus perut.


"Sebentar lagi rumah ini akan ramai dengan suara anak kecil, aku jadi merindukan ayah dan ibu mengingat dulu bagaimana mereka merawat kita," ucap kakakku sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh.


"Idih Kakak masih cengeng seperti dulu," ucapku yang berhambur ke pelukan kakakku rasanya aku sangat bahagia melihat saudaraku yang hidupnya berubah lebih baik.


"Tuh Kan kalian melupakan aku! apa bagi kalian aku ini tidak berarti," sebuah suara membuatku melepaskan pelukan pada kakakku.


Aku melihat ke arah suara ternyata kakak iparku yang saat ini berdiri tidak jauh dari kami sambil tersenyum manis.


"Maafkan kakak ya Sinta! selama ini kakak bersalah padamu," ucap Kakak iparku.


"Sudahlah kak kita ini saudara jadi wajar kalau kita melakukan kesalahan-kesalahan, aku sudah memaafkan kakak sejak dulu," ucapku sambil tersenyum.


"Terima kasih Sinta! kamu memang adik terbaik, Parlin terima kasih atas semuanya maafkan aku yang selama ini selalu merendahkanmu," ucap Kakak iparku.


"Tidak masalah Kak," jawab bang Parlin sambil tersenyum.


Aku menatap suami desoku itu ternyata dia sosok yang hebat, pria ini bisa membuat kakakku terlepas dari lilitan hutang, bahkan dia legowo memaafkan orang yang telah menghinanya.


Setelah kakakku dan istrinya pulang aku pun memeluk bang Parlin.

__ADS_1


"Eh kok peluk -peluk Dik! jangan mancing Abang loh itu perut sudah besar Abang gak tega kalau harus menimpanya," ucap bang Parlin sambil terkekeh.


"Ih apaan sih Bang, otak mesum amat! Makasih ya Bang! Abang sangat baik terhadap keluargaku," ucapku.


"Dik sesama umat manusia kita harus berusaha untuk bisa saling tolong menolong, apalagi itu keluarga kita pasti kita tidak tega melihat mereka kesusahan," ucap Bang Parlin.


"Memang suami desoku ini the best," ucapku sambil mengecup pipi bang Parlin.


"Tuh Kan mancing lagi," ucap Bang Parlin cemberut.


Aku pun tertawa melihat tingkah suamiku itu.


Ku langkahkan kakiku menuju dapur meninggalkan bang Parlin yang cemberut, aku sudah sangat merindukan dapurku ini karena selama hamil bang Parlin jarang sekali mengijinkanku untuk memasak.


Aku pun berniat untuk membuat kue kesukaan bang Parlin tapi tiba-tiba aku dengar seseorang kembali mengetuk pintuku, dan aku dengar bang Parlin berbicara dengan seseorang. Aku yang merasa penasaran pun bergegas melihatnya.


Aku melihat seseorang yang dulu pernah dibantu bang Parlin, janda beranak dua yang jualan sayur di ujung kompleks ini, ada perlu apa dia datang kemari. Karena penasaran aku pun bergegas menghampiri mereka.


"Dik ini ibu mau menitipkan uang untuk disalurkan pada orang yang membutuhkan seperti yang dulu kita lakukan pada ibu," ucap suamiku menjelaskan maksud kedatangan wanita ini.


"Kenapa ibu tidak menyalurkan sendiri pada orang yang ibu rasa membutuhkan?" tanyaku pada wanita itu.


"Begini Dik Sinta, ibu bingung mau memberikan pada siapa karena hanya sekali saudara dan tetangga yang datang pada ibu saat ibu sudah seperti ini dulu waktu ibu masih kesusahan tidak ada satu orang pun yang mau mendatangi ibu, kini mereka pada datang dan mengatakan mereka membutuhkan bantuan ibu daripada ibu bingung mau kasih ke siapa lebih baik ibu titipkan pada Dik Parlin saja yang lebih faham soal beginian," ucap wanita itu sambil tersenyum.


"Baiklah Bu kalau ibu mempercayai kami maka kami akan berusaha untuk menyalurkan pada orang yang tepat," jawab bang Parlin.


"Dik Parlin...dik Sinta terima kasih atas segala bantuan kalian tanpa bantuan kalian pasti saya tidak bisa seperti sekarang," ucap wanita itu.


"Sama -sama Bu! Anggap saja itu jalan tuhan untuk merubah kehidupan ibu," jawabku.


"Kalau begitu saya permisi ya Dik, kasihan anak-anak di rumah, semoga lancar sampai hari persalinan ya Dik Sinta," doa wanita itu.

__ADS_1


"Terima kasih doanya Bu," ucapku.


Setelah wanita itu pergi entah kenapa hatiku merasa bahagia, apakah begini rasanya bisa memberikan bantuan pada orang lain?


__ADS_2