Pemuda Pilihan Ayah

Pemuda Pilihan Ayah
Kekhawatiran Bang Parlin


__ADS_3

Aku pun semakin tidak tenang setelah membaca pesan di ponsel bang Parlin, aku teringat kalau salah satu temanku ada yang berasal dari Jawa aku pun segera menyalin pesan itu dan mengirimkan ke ponselku, setelah terkirim aku pun segera mengirimkan pesan itu pada Widya salah satu temanku yang berasal dari Jawa.


"Tolong jelaskan pada Wid apa arti pesan ini," tulisku pada pesan yang ku kirimkan pada Widya.


Tidak beberapa lama aku pun mendapat balasan dari Widya.


"Maksud pesan ini begini Sin "Kak si Jum sakit mungkin dia kangen sama kakak kalau kakak ada waktu pulanglah".


Ku baca balasan dari Widya dan itu semakin membuat hatiku tidak karuan.


Aku semakin penasaran siapa sebenarnya si Jum ini, apa hubungannya dengan bang Parlin. Aku menikah dengan bang Parlin serasa seperti membeli kucing dalam karung.


Aku tidak tahu bagaimana masa lalunya, ada cerita apa saja di balik kehidupannya dulu bahkan saudara saudaranya bang Parlin pun aku tidak tahu betul siapa namanya, aku menikah dengan bang Parlin karena menurut pada ayah saja.


Aku letakkan kembali ponsel bang Parlin pada tempatnya semula ketika aku dengar langkah kaki mendekat ke arahku.


Bukannya melihat ponselnya bang Parlin malah keluar kembali setelah mengambil korek api yang terletak di meja.


Aku yang sudah tidak tenang dengan pikiranku sendiri aku pun segera mengikutinya ke belakang rumah, bang Parlin terlihat sedang berniat untuk membakar sampah di belakang rumah.


Ketika dia menyadari aku sedang mengikutinya dia pun menoleh dan bertanya padaku.


"Ada apa Dik?" tanya bang Parlin.


"Apa gunanya ponsel Abang sih kalau tidak pernah di lihat siapa tahu ada yang penting," ucapku kesal.


"Siapa yang mau menghubungi aku Dik? toh ponsel itu yang tahu nomornya hanya beberapa orang," jawabnya santai.


"Nih lihat ada beberapa panggilan dan pesan masuk," ucapku sambil menyerahkan ponselnya yang tadi sempat aku ambil dan aku bawa saat mengikutinya.


"Makanya kalau punya ponsel itu sering sering di cek siapa tahu ada yang penting atau ada yang darurat, misalnya si Jum," ucapku kesal.


Bukannya membuka ponselnya bang Parlin malah menatapku dengan tatapan penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Ada apa dengan si Jum Dek? katakan padaku!" ucap bang Parlin dengan nada yang tidak pernah aku dengar, ada kekhawatiran yang berlebihan pada nada suaranya dan itu membuatku semakin kesal dan berpikir yang bukan-bukan, aku semakin yakin kalau si Jum ini adalah seseorang dari masa lalu bang Parlin.


"Lihat saja sendiri," ucap ku ketus.


"Tolong bukakan pesannya Dik! Abang tidak bisa membuka SMS," ucap bang Parlin sambil menyerahkan ponselnya padaku.


Ingin rasanya aku jedotkan kepalaku pada tembok yang ada di sampingku, sungguh suamiku ini keterlaluan masa membuka SMS saja tidak bisa atau dia cuma pura pura?.


Mau tidak mau akhirnya aku membukakan sms itu dan menyerahkan kembali pada suamiku untuk di baca, bibirku cemberut ketika melihat betapa seriusnya bang Parlin membaca pesan itu.


"Ya Allah Jum," ucap suamiku setelah membaca pesan itu, wajahnya pun terlihat sangat sedih.


"Abang harus pulang ke kampung Dik, tolong pesankan tiket bus," ucap bang Parlin padaku.


Pikiranku semakin semrawut melihat betapa khawatir dan tiba-tiba bang Parlin ingin pulang ke kampung.


"Aku ikut Bang," ucapku.


"Tidak usah Dik, kampung sangat jauh nanti kamu capek," jawab bang Parlin.


"Jangan Dik nanti kamu pasti tidak betah di sana banyak nyamuk," ucap bang Parlin lagi.


"Alasan! bilang saja kalau bang Parlin takut si Jum cemburu," ucapku semakin emosi karena sejak tadi bang Parlin melarangku ikut.


"Ya Dik si Jum itu cemburuan," jawab bang Parlin.


Ucapan bang Parlin semakin membuatku terbakar api cemburu, sepenting apakah si Jum ini sampai bang Parlin pun panik ketika mendengar dia sakit aku pun semakin bertekad untuk ikut dia pulang ke kampung tidak akan aku biarkan si Jum ini merebut perhatian suamiku karena aku sudah terlanjur jatuh cinta pada pria kuno ini.


"Sudahlah Dik cepat kamu pesankan tiketnya," perintah bang Parlin.


Dengan dongkol aku ambil ponsel suamiku dan aku cari nomor agen bus di sana, setelah mendapatkan nomornya aku pun menelepon dan ternyata tiket untuk hari ini sudah habis.


"Tidak ada tiket untuk hari ini Bang adanya untuk besok," ucapku.

__ADS_1


"Tidak bisa Dik harus dapat hari ini juga, cari di tempat lain Dik kalau tidak ada gunakan travel juga tidak apa apa yang penting aku bisa pulang hari ini juga," ucap suamiku.


Sungguh emosiku rasanya sudah mencapai ubun ubun sepenting apakah si Jum ini sampai suamiku ngeyel seperti ini.


"Si Jum oh Jum bertahan ya," gumam suamiku dengan penuh ke khawatiran.


"Travel pun sudah tidak ada Bang ada untuk besok," ucapku ketus.


"Apakah Adik tahu mobil rental beserta supirnya yang bisa di sewa sampai kampung?" tanya Bang Parlin masih kukuh ingin berangkat hari ini juga.


"Aku tahu tapi aku harus ikut," ucapku tidak kalah ngeyelnya.


"Baiklah cepat hubungi mobil itu semakin cepat semakin baik," ucap bang Parlin.


Aku pun segera menghubungi pihak rental kenalanku dan mereka pun masih bisa menyewakan supir dan mobil untuk kami gunakan ke kampung.


Sambil menunggu mobil itu datang aku pun bersiap-siap dan menyiapkan keperluan bang Parlin seperti baju ganti dan lainnya, ku lihat bang Parlin mondar-mandir tidak tenang dengan sesekali melihat keluar melihat apakah mobil itu sudah sampai atau belum.


Hatiku pun memanas melihat tingkah bang Parlin yang semakin tidak sedap aku pandang, aku semakin penasaran seperti apa wajah dan bentuk tubuh si Jum itu sehingga membuat suamiku kelimpungan ketika mendengar kabar kalau si Jum sedang sakit.


Kami pun mendengar deru mesin mobil dan bang Parlin pun segera melihat ke luar untuk memastikan kalau itu mobil yang kami pesan.


Setelah memastikan bahwa itu memang benar benar mobil yang kami pesan bang Parlin pun segera berteriak memanggilku untuk segera berangkat.


"Ayo Dik cepat aku takut terjadi sesuatu pada Si Jum," ucapnya sambil dia segera masuk terlebih dulu ke dalam mobil.


Aku pun berjalan dengan sedikit malas, ku seret koperku dengan enggan dan aku pun mengunci pintu dengan rasa malas dan lelet.


"Ayo Dik cepat! atau aku tinggal ini kamu," seru bang Parlin lagi yang terdengar tidak sabaran.


Aku pun semakin kesal ingin rasanya nanti kalau sudah bertemu yang namanya si Jum itu aku jambak dan aku tampar karena sudah membuat suamiku sepanik itu.


"Iya ...iya bawel amat sih! ini baru kunci pintu," jawabku ketus

__ADS_1


Setelah mengunci pintu aku pun segera berjalan mendekati mobil dengan kaki yang aku hentakan keras ke tanah karena saking kesalnya.


__ADS_2