
Aku semakin cemberut aku benci rambut panjang itu dan semakin benci setelah tahu apa alasannya bang Parlin setia dengan model rambut itu, ternyata dia meniru gaya rambut itu dia pertahankan demi seseorang dari masa lalunya dan ternyata itu orang yang ada kaitannya dengan perasaan yang selama ini dia jaga.
"Bang aku sebel sama Abang! masa lalu biarlah berlalu Bang! dan Aku lah masa depanmu sekarang, aku tidak suka dengan gaya rambut seperti ini Bang potong ya! walaupun Nita baik dia bukan jodoh Abang jadi sekarang Abang harus menghargai permintaanku, sudah cukup ya Bang gaya rambut panjangnya" ucapku merajuk pada bang Parlin.
Aku sengaja diam untuk mendengar apa jawaban bang Parlin tentang aku yang memintanya untuk memotong rambut, lama aku menunggu tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut bang Parlin, aku pun penasaran dan menoleh ke arahnya.
Ingin rasanya aku jedotkan kepalaku ke tembok ternyata sejak tadi aku bicara seorang diri, bang Parlin telah tertidur makanya dia diam tidak bersuara.
Aku pun menatap bang Parlin terutama bagian rambutnya sungguh aku semakin benci dengan gaya rambutnya yang seperti ini apalagi setelah mendengar alasannya, ide jahil pun datang, aku memutuskan untuk memotong rambut bang Parlin malam ini, biarkan saja dia marah setelah tahu rambut panjangnya hilang, aku terlanjur sakit hati.
Aku pun segera berdiri dan berjalan menuju meja rias aku ambil sebuah gunting dari laci dan segera kembali ke posisiku semula di sebelah bang Parlin.
Aku pun segera memotong rambut bang Parlin hingga rambut bagian belakangnya habis bang Parlin tidak kunjung terbangun juga, aku pun tersenyum puas.
"Selamat menikmati gaya rambut baru Bang," ucapku sambil ku bekap mulutku agar tawaku tak lepas hingga membuatnya terbangun.
Aku pun segera mengembalikan gunting ke tempat semula dan aku pun berbaring kembali di samping bang Parlin menutup mata dengan bahagia akhirnya aku berhasil melenyapkan rambut panjang jadul itu.
"Diiiiikkkkkk,"....
Aku pun terbangun dengan kaget saat mendengar teriakan bang Parlin dari arah kamar mandi, aku pun segera berlari mendekatinya dan segera mengetuk kamar mandi. Hari masih subuh tapi dia sudah main teriak teriak saja dikamar mandi pula.
"Ada apa Bang? apakah Abang baik baik saja?" tanyaku cemas.
Tidak lama pintu kamar mandi pun terbuka dan terlihat bang Parlin yang berdiri ditengah pintu memakai sarung, bertelanjang dada dan tangannya memegangi kepala bagian belakang.
"Ada apa Bang? apa Abang jatuh terpeleset?" tanyaku cemas karena melihat ekspresi bang Parlin yang terlihat sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Bukan Dik," ucapnya dengan wajah sedih.
"Lalu kenapa Bang?" tanyaku lagi.
"Ini Dik rambut Abang, rambut panjang abang hilang," jawabnya sedih.
Ya Allah sebegitu sayangkah bang Parlin pada rambutnya hingga dia terlihat sangat sedih dan sangat merasa kehilangan, atau jangan-jangan karena sayangnya pada orang yang memintanya bergaya rambut seperti itu jadi dia merasa sangat sedih? mengingat itu hatiku kembali terasa sesak.
"Dik kenapa rambutku kok bisa hilang tiba tiba padahal ini sudah dua puluh dua tahun aku menjaganya agar tetap seperti ini," ucap bang Parlin sambil memegangi kepala bagian belakang.
"Mungkin digigit tikus semalam Bang tikusnya gemas melihat gaya rambut Abang," jawabku asal.
"Tidak mungkin lah Dik," jawabnya sambil menatapku penuh kecurigaan.
Aku sebelumya tidak pernah ditatap seperti itu oleh bang Parlin pun merasa risi dan akhirnya aku memutuskan untuk mengakuinya.
"Baiklah Bang ...baik aku mengaku, aku yang memotong rambut Abang, aku cemburu Bang, demi seorang cewek Abang rela berpenampilan seperti itu sedangkan Abang aku memintamu untuk memotongnya pun tidak kamu hiraukan itu artinya Abang lebih sayang dan cinta sama wanita dari masa lalu Abang maka dari itu aku putuskan untuk memotongnya," ucapku dengan kesal.
Bang Parlin pun kembali masuk ke dalam kamar mandi tanpa berbicara sepatah kata lagi, aku bisa melihat dengan jelas bang Parlin saat ini sedang marah.
Baru kali ini aku lihat bang Parlin semarah itu, apakah dia sangat mencintai wanita itu hingga dia tidak begitu rela kalau rambut panjang itu aku potong.
Aku pun merasa bersalah dan akhirnya aku menyusulnya masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya tidak di kunci.
Aku lihat bang Parlin berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi sambil mengamati rambutnya.
"Maafkan Adik Bang! adik cemburu Abang sih membuat Adik cemburu masa rambut begitu di suruh motong gak di potong padahal itu aku istrimu Bang yang memintanya," ucapku sambil memeluk Bang Parlin dari belakang.
__ADS_1
"Butuh waktu yang sangat lama untuk menumbuhkan kembali rambut ini agar bisa seperti semula Dik," ucap Bang Parlin.
Aku pun kesal sama bang Parlin yang masih kukuh membela itu rambut gobel saking kesalnya akhirnya aku pun melepaskan pelukanku.
"Apa sih istimewanya rambut seperti itu Bang! cobalah lihat di kota ini bahkan di seluruh dunia ini hanya Abang yang bergaya rambut aneh seperti itu," ucapku kesal.
"Abang ini tipe orang yang menepati janji Dik, jika Abang sudah berjanji untuk menjaga rambut gaya seperti ini hingga si Nita kembali pasti aku akan tetap menjaganya Dik," ucap Bang Parlin.
"Iya Bang lalu sampai kapan Bang? aku sebal sama Abang," ucapku sambil mengerucutkan bibir.
"Jangan marah Dik ini soal janji bukan soal cinta," ucap bang Parlin.
"Dasar Abang alay...lebay," ucapku masih kesal.
Bang Parlin menatapku dengan heran.
"Apaan itu Dik?" tanya bang Parlin yang tidak paham dengan arti kata alay dan lebay.
"Au Ah gelap," kataku tak menghiraukan bang Parlin. Aku pun segera keluar meninggalkan bang Parlin sendirian di kamar mandi.
Aku sebal kok ya ada orang seperti bang Parlin, setia sama seseorang yang sampai sedetail itu bahkan rambut yang model kuno ketinggalan jaman pun dia pertahankan demi menepati janjinya.
Aku semakin penasaran seperti apa orang yang namanya Nita itu hingga bisa membuat suamiku setia tiada tara dengan gaya rambutnya.
Sampai siang pun bang Parlin masih setia memegangi kepala bagian belakangnya, aku pun merasa bersalah akhirnya aku pun memutuskan untuk minta maaf untuk ya kedua kalinya.
"Bang," panggilku pada Bang Parlin yang saat ini sedang duduk manis di teras sambil terus memegangi kepala bagian belakangnya.
__ADS_1
"Abang minta maaf Dik! Abang salah telah membuat Adik cemburu," ucap Bang Parlin mendahuluiku yang ingin meminta maaf.
"Iya Bang! Adik juga minta maaf ya Bang telah membuat rambut Abang hilang, nanti kita beli obat penumbuh rambut ya Bang biar cepat tumbuh seperti semula," ucapku membujuk bang Parlin.