
Bang Parlin berdehem kemudian menatap kakak dan kakak iparku.
"Itu uang zakat mal kak bukan uang hibah," ucapnya.
"Iya Parlin uang zakat pun kami mau menerimanya, bukankah dalam agama menganjurkan kalau kita harus memberikan pada orang terdekat dahulu baru pada yang lain, toh aku adalah kakak iparmu jadi aku adalah orang terdekatmu," ucap kakakku semangat.
"Maaf ya Kak sebelumnya, apakah Kakak merasa kalian berhak sebagai penerima zakat?" ucap bang Parlin sambil menatap kedua kakakku itu, orang yang di tatap pun menundukkan kepalanya mungkin mereka sedang berfikir tentang apa yang di pertanyakan oleh suamiku.
"Kak maafkan aku bukannya aku sok pintar tapi tadi kakak kan sempat menyinggung tentang agama maka aku akan memberikan sedikit pengertian tentang orang yang berhak menerima zakat pada kakak, orang yang wajib dan berhak menerima zakat itu ada 8 yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, fisabilillah, riqab, Ibnu sabil, dan gharimin, apakah Kakak termasuk dalam salah satunya? dalam surat At-taubah ayat 60 sudah dijelaskan dengan gamblang," ucap bang Parlin.
Aku pun kagum dengan bang Parlin yang bisa menjelaskan pada saudara saudaraku bahwa sebenarnya mereka tidak berhak menerima zakat itu dengan bahasa dan landasan yang pasti jadi kedua kakakku akan mengerti dan tidak salah sangka pada kami.
Ah suami jadulku caranya menyampaikan penjelasan sudah seperti pak ustadz saja jadi kena mental itu kakak dan kakak iparku.
Aku melihat kakakku menundukkan kepalanya seperti sedang berpikir dengan apa yang di ucapkan oleh bang Parlin sedangkan kakak iparku entah aku yang salah melihat dan salah menafsirkan atau tidak tapi rasanya saat ini kakak ipar ku seperti sedang memendam kekesalan itu aku bisa melihat dari raut wajahnya.
"Maafkan aku Kak bukannya aku sok bijak dan sok pintar tapi aku cuma mengingatkan pada Kakak, marilah bergaya sesuai kantong, jika Kakak sudah meminta bagian warisan, dan ingin menjadi seorang penerima zakat saya rasa itu tidak layak Kak, masih banyak di luaran sana yang lebih berhak menerima, masih banyak orang yang lebih membutuhkan dari pada Kakak, syukuri apa yang ada Kak hidup akan terasa lebih bahagia dan berharga jangan hanya menuruti gaya hidup yang tidak ada habisnya itu akan membuat kita tidak tenang dan tersiksa," ucap Bang Parlin lagi.
__ADS_1
Kakak iparku yang mungkin sudah merasa kesal karena ucapan bang Parlin pun memilih untuk segera meninggalkan rumah kami.
"Saya permisi dulu," ucapnya berpamitan dan segera keluar dari rumah kami yang kemudian diikuti oleh Kakakku yang terlihat sedang tidak fokus mungkin dia sedang memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh bang Parlin.
"Maafkan saudara saudaraku Bang!" ucapku ketika kakak dan kakak iparku sudah pergi dari rumah kami.
"Tidak apa-apa Dik dengan begitu Abang kan bisa menjelaskan pada kedua kakakmu itu siapa sebenarnya yang berhak mendapatkan zakat jadi dilain hari dia tidak beranggapan kalau kita lebih memilih memberikan uang zakat itu pada orang lain tidak pada mereka yang termasuk orang dekat kita," ucap Bang Parlin sambil tersenyum.
"Kenapa sih Bang tidak kita berikan saja uang zakat itu pada Amil zakat atau panti asuhan jadi kita tidak perlu pusing pusing mencari orang yang benar-benar berhak menerima atau paling tidak kita bagi bagikan kebanyak orang jadi tidak pusing," ucapku.
"Pasti itu si Nita," ucapku sambil mencebikkan bibirku,"pantesan Abang selalu mengikuti cara itu," ucapku, setiap kali aku mengingat Nita ada rasa sakit di sudut hatiku.
"Bukan Dik! itu bukan Nita melainkan orang tua Nita yang seorang mandor dan dokter di kampung kami dulu," ucap Bang Parlin menjelaskan.
Aku pun mengangguk mengerti, aku selalu mendahulukan rasa cemburuku entah kenapa aku jadi sensitif dengan apapun yang ada kaitannya dengan Nita, sepertinya aku merasa kalau Nita memiliki tempat istimewa di hati suamiku.
"Dulu Abang di pesan sama orang yang membantu Abang jika Abang sukses harus membantu orang dengan cara seperti ini anggap saja sebagai zakat harta kita jadi bersih dan ada orang yang terbantu, dan orang yang mendapatkan bantuan dariku pun sering aku mengatakan pada mereka jika mereka sukses mereka juga harus membantu orang lain dengan cara yang sama aku lakukan jadi seperti nasehat berantai Dik, misalnya Abang membantu tiga orang dan tiga orang itu membantu tiga orang lagi dengan cara yang sama dan tiga orang membantu tiga orang lainnya dan begitu seterusnya pasti banyak yang terbantu Dik," ucap bang Parlin.
__ADS_1
Aku pun manggut-manggut sistem membantu orang lain yang sangat sederhana tapi berdampak sangat istimewa seandainya semua orang kaya berpikiran seperti ini mungkin tidak ada lagi tangisan anak yatim, janda-janda dan juga orang miskin karena kesusahan mencari biaya untuk melanjutkan hidup, setidaknya dengan uang itu bisa mereka gunakan untuk modal usaha yang nantinya bisa mereka jadikan lahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
"Mulia sekali hati ayah Nita ya Bang! dia punya gagasan dan ide yang sangat bagus aku jadi penasaran dan ingin bertemu dengan orang itu," ucapku.
"Sebenarnya bukan beliau Dik pencetus ide itu Dik! beliau juga dulu ada orang yang memberikan bantuan hingga sanggup untuk kuliah kedokteran dan setelah beliau sukses beliau membantu tiga orang dan salah satunya Abang," ucap bang Parlin menjelaskan.
"Seandainya semua orang kaya berpikiran seperti itu mungkin tidak akan ada orang yang kesusahan lagi di dunia ini ya Bang," ucapku.
"Iya Dik tapi Abang gagal tidak ada dari salah satu yang Abang bantu menerapkan cara yang sama, padahal orang yang Abang bantu sudah lumayan banyak, dan ada dari salah satu mereka sudah berhasil malah nikah tiga kali dengan dalih membantu janda padahal yang mereka nikahi adalah janda yang masih muda dan aku lihat pun janda janda itu tidak kekurangan padahal menolong janda sebenarnya tidak dengan harus menikahinya," ucap bang Parlin.
Aku pun jadi ingin menggoda suamiku ini saat mendengar ucapannya.
"Oh ya Bang jika suatu saat nanti Abang menjumpai seorang janda cantik dan dia benar benar membutuhkan bantuan apakah Abang juga akan membantunya dengan cara menikahinya?" ucapku sambil menampilkan wajah serius.
"Tidak lah Dik kan Abang sudah punya Adik yang sangat cantik dan bahenol," ucap bang Parlin.
Kami pun tertawa bersama mendengar apa yang bang Parlin ucapkan aku merasa sangat bahagia semoga saja bang Parlin bisa menepati ucapannya.
__ADS_1